MAKALAH TERSTRUKTUR DAFTAR SELEKSI CALON KPU

MAKALAH TERSTRUKTUR

 

 

 

KEPEMIMPINAN – INTEGRITAS – INDEPENDENSI

DAN

KOMPETENSI KEPEMILUAN

 

 

 

 

Oleh:

Pilipus Maurits Kopeuw, M.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makalah Terstruktur ini Diajukan Sebagai Bukti Pemenuhan Salah Satu Syarat

Seleksi Calon Anggota KPU Kabupaten Jayapura

Periode Tahun 2013 – 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

Mewakili Unsur Akademisi

di Kabupaten Jayapura

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia yang dilimpahkan sehingga salah satu persyaratan untuk mengikuti seleksi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jayapura Periode 2013-2018  ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah terstruktur ini bertujuan sebagai salah satu bagian penilaian pengetahuan dan kompetensi calon pelamar untuk untuk menduduki kursi KPU.

Dalam kesempatan ini, selaku pelamar seleksi anggota KPU ingin menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada, Panitia Seleksi dan Pegawai Sekertariat Kantor KPU Kabupaten Jayapura yang sudah memberi kesempatan kepada kami untuk ikut dalam seleksi penyaringan Anggota KPU Kabupaten Jayapura periode 2013-2018. Semoga semua amal baiknya, dalam pekerjaan selama pelaksanaan Seleksi ini dibalas oleh yang Maha Kuasa.

              

Sentani, 7 Juni 2013

Pilipus M. Kopeuw, M.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

TEMA : KEPEMIMPINAN

Oleh Pilipus Maurits Kopeuw, M.Pd

Sentani, Jumat 7 Juni 2013

 

Petunjuk : Jawab pertanyaan masing-masing tema maksimal dalam 2  halaman kertas kwarto A4 spasi 1.

  1. Jika diberi Skor 1 s/d 100, berapa Anda menilah kemampuan kepemimpinan Anda? Mengapa?
  2. Deskripsikan pengalaman apa yang bisa membuktikan kualitas dan karakter kepemimpinan Anda?

 

 

TEMA : INTEGRITAS

Oleh Pilipus Maurits Kopeuw, M.Pd

Sentani, Jumat 7 Juni 2013

 

Petunjuk : Jawab pertanyaan masing-masing tema maksimal dalam 2  halaman kertas kwarto A4 spasi 1.

  1. Jika diberi Skor 1 s/d 100, berapa Anda menilai tingkat integritas Anda? Mengapa?
  2. Deskripsikan pengalaman apa yang bisa membuktikan derajad integritas Anda?

 

 

TEMA : INDEPENDENSI

Oleh Pilipus Maurits Kopeuw, M.Pd

Sentani, Jumat 7 Juni 2013

 

Petunjuk : Jawab pertanyaan masing-masing tema maksimal dalam 2  halaman kertas kwarto A4 spasi 1.

  1. Jika diberi Skor 1 s/d 100, berapa Anda menilai tingkat independensi Anda?
  2. Deskripsikan pengalaman apa yang bisa membuktikan derajad independensi Anda?
  3. Bagaimana sikap Anda ketika terdapat kepentingan partai politik tertentu meminta kepentingannya diakomodasi dan jika tidak diakomodasi akan terjadi keguncangan politik yang besar?

 

 

 

TEMA : KOMPETENSI KEPEMILUAN

Oleh Pilipus Maurits Kopeuw, M.Pd

Sentani, Jumat 7 Juni 2013

 

Petunjuk : Jawab pertanyaan masing-masing tema maksimal dalam 2  halaman kertas kwarto A4 spasi 1.

  1. Mengapa pemilu itu penting dalam Negara demokrasi?
  2. Jelaskan hubungan antara sIstem pemilu, system kepartaian, dan system pemerintahan?
  3. Jelaskan siklus/tahapan penyelenggaraan pemilu?
  4. Apa yang Anda lakukan untuk menciptakan pemilu yang berkualitas?

 

 

1. KEPEMIMPINAN

 

Saya menilai kepemimpinan saya 70.

Mengapa? Karena saya memiliki banyak pengalaman yang dapat menjadi indikasi penilaian kualitas dan kompetensi yang saya miliki tentang kepemimpinan. Pengalaman-pengalaman itu telah mengajarkan saya bahwa menjadi pemimpin bisa karena dua faktor, yaitu faktor keturunan dan faktor pembentukan (dididik). Dalam memberikan penilaian 70 terhadap kemampuan kepemimpinan saya berdasarkan pada beberapa alasan mendasar sebagai berikut:

Pertama, pemimpin bisa karena faktor keturunan seperti Raja, kepala Adat maupun kepala suku. Saya sendiri adalah seorang kepala suku Nelem sejak  3 April 2001. Suku Nelem adalah salah satu suku dari suku-suku yang ada  di Masyarakat adat Kampung Ifar Besar (Khabetlouw), yaitu suku Iyphu, suku Nelem, suku Wafi, suku Pualo, suku Phulende, suku Aluwakha dan suku Rakhelebei. Saya sebagai anak sulung dari salah satu kepala suku. Itu berarti tongkat estafet kepemimpinan suku kami, secara tidak langsung juga sudah melekat di bahu saya. Hal itu nampak, ketika ayah saya meninggal, maka saya dipilih dan dilantik sebagai kepala suku. Kepala suku adalah seorang pemimpin. Kepemimpinan lebih berbicara tentang cara memimpin. Sebagai kepala suku termuda di kampung kami, saya perlu belajar banyak hal. Sedikit demi sedikit saya sudah belajar melaksanakan tugas sebagai kepala suku. Kepemimpinan saya sebagai kepala suku itu adalah karena faktor keturunan bukan karena di gebleng atau dididik untuk menjadi pemimpin.

Kedua, menjadi pemimpin bisa karena faktor pembentukan. Ketika saya dipilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Intheos di Solo Jawa Tengah (1995-1997), mau tidak mau, suka tidak suka, lingkungan organisasi mahasiswa itu, membentuk saya menjadi pemimpin. Hal lainnya adalah ketika saya dipilih menjadi ketua komisi pemuda Gereja Bethel Indonesia jemaat Keluarga Allah di Walikukun Kabupaten Ngawi Jawa Timur (1995-1998), saya belajar menjalankan tugas sebagai pemimpin. Juga keterlibatan saya dalam berbagai kepanitiaan, baik di perguruan tinggi maupun di gereja.  Menjadi ketua Tim sukses pemilihan Ketua di lembaga Pendidikan Tinggi Agama Negeri (2012-2013). Bahkan keterlibatan saya dalam membantu tugas-tugas yang harus dilakukan oleh pimpinan lembaga pendidikan tinggi, membawa saya belajar banyak hal tentang pemimpin dan kepemimpinan. Secara tidak langsung semua jabatan dan tugas tersebut mengajarkan kepada saya apa itu kepemimpinan. Di Daerah istimewah Yogyakarta, saya mendirikan Persekutuan Pelajar dan Mahasiswa   Sentani (PPMS-2005). Kemudian tahun 2012 kami resmikan menjadi Ikatan pelajar Mahasiswa (IPMA) Khena Mbai Umbai Yogyakarta, saya duduk sebagai sesepuh sampai sekarang. Di daerah Istimewah Yogyakarta dari tahun 2008 – 2013 saya menjadi salah satu sesepuh bagi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) Daerah Istimewah Yogyakarta. Pengalaman-pengalaman yang saya uraikan ini, kiranya bisa menjadi indikasi maupun bahan analisis tentang nilai “kepemimpinan” terhadap diri saya yang sudah saya berikan diatas.

Ketiga, kemampuan kepemimpinan saya dilihat dari sisi tugas dan pekerjaan saya sebagai dosen dan tingkat pendidikan saya yang sedang dalam tahap penyelesaian program Doktor penelitian dan evaluasi pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Sebagai dosen, saya mengajar mata kuliah administrasi gereja, administrasi pendidikan, metodologi penelitian, evaluasi pendidikan, statistika. Sebagai dosen saya juga sering sebagai penguji skripsi. Saya juga memiliki hobbi sebagai penulis, dan sudah banyak tulisan yang saya hasilkan baik dalam bentuk artikel, jurnal dan hasil penelitian. Dari sisi tingkat pendidikan, saya sudah menyelesaikan teori dan saat ini sedang dalam tahap penulisan disertasi (Program Doktor/S3). Dari tempat tugas di STAKPN Sentani, kemapuan profesional saya adalah sebagai dosen peneliti. Saya memiliki kemampuan untuk membuat sebuah konsep, makalah, jurnal, penelitian, saya juga selalu berbicara dan bekerja selalui sistematis sesuai aturan. Memang tingkat pendidikan bukan jaminan untuk menjadi pemimpin, tetapi kadang tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang besar ketika terlihat pertanggungjawaban kualitas gelar yang disandang. Semakin tinggi tingkat pendidikan, berarti semakin tinggi tingkat kemampuan kepemimpinannya. Harga diri dan kelayakan serta kepantasan selalu meliriknya. Jangan heran, kalau mereka yang bergelar “Magister atau Doktor” menduduki posisi-posisi penting di birokrasi pemerintah maupun di lembaga pendidikan. Kemampuan saya sudah teruji dilingkungan kerja, dan masyarakat sebagai calon pemimpin saat ini yang siap pakai.

Keempat, pengalaman kepemimpinan saya di bidang kerohanian. saya sering membantu para pendeta dalam memperlancar tugas-tugas mereka sebagai pemimpin umat di beberapa gereja lokal, baik di Jawa Timur, di Jawa Tengah,  di Daerah istimewah Yogyakarta maupun di sentani. Saya menemukan bahwa ada banyak pemimpin gereja yang perlu dibekali dengan pemahaman bagaimana memeneg gereja dan pelayanan yang ada. Saya memiliki beberapa pengalaman kepemimpinan, seperti pengalaman menjadi ketua komisi pemuda;  Pernah juga menjadi guru bagi anak-anak sekolah minggu (Sunday school) di gereja; Sering diutus mengikuti seminar, worshop, pendidikan dan latihan kepemimpinan gereja.

Kelima, saya sudah biasa memimpin rapat, dalam memimpin rapat selalu memperhatikan waktu, agenda rapat, dan selalu sistematis, serta selalu pada tujuan rapat dengan mengeksekusi keputusan-keputusan berdasarkan musyawarah mufakat, dengan memperhatikan alasan-alasan prinsip yang mendekati kebenaran demi kepentingan bersama.

Keenam adalah dukungan teori kepemimpinan mengenai kemampuan kepemimpinan saya. Bagaimana definisi kepemimpinan? Definisi kepemimpinan adalah “ketepatan seorang pemimpin dalam melakukan tanggapan terhadap gejala-gejala yang terjadi sebagai dampak dari hasil interaksi dinamis antara visi, nilai, dan dorongan bertindak dalam menghadapi peluang dan tantangan yang terjadi di dalam atau di luar kehidupan. Kalau bicara mengenai kepemimpinan berarti bicara soal jabatan. Prinsip jabatan ada tiga, yaitu dihargai, mampu dan dapat dipercaya. Seseorang dipilih menjadi pemimpin dihargai dan pantas menjadi pemimpin. Seorang dipilih menjadi pemimpin karena dinilai dan menilai dirinya punya kemampuan sebagai pemimpin dan seseorang menjadi pemimpin karena dia dapat dipercaya sebagai pemimpin. Berdasarkan formula dari kepemimpinan diatas, maka dalam memasuki dan menghadapi arus globalisasi yang penuh tantangan dan daya saing, peranan seorang pemimpin berkembang memiliki kemampuan untuk: (1) Memberdayakan dan mengendalikan proses manajemen: (2) Memberdayakan dan mengendalikan unsur-unsur manajemen dan pembinaan sumber daya manusia dan seluruh energy organisasi; (3) Perencanaan strategik, dan (4) Analisis informasi dalam rangka memberikan kepuasan pelanggan (costumer focus and satisfaction), dan keberhasilan organisasi (business result). Dan menurut saya, teori kepemimpinan yang singkat ini sudah sering saya praktekan dalam tugas-tugas seperti yang sudah diuraikan diatas.

 

2. INTEGRITAS

 

Saya menilai tingkat integritas saya 90.

Mengapa? Pertama, saya selalu melakukan tindakan berdasarkan norma, hukum dan aturan yang berlaku umum maupun khusus. Saya tidak suka melakukan kecurangan, perampasan hak orang, atau tidak suka cara-cara yang tidak adil. Saya lebih suka bicara aturan dan hal-hal yang ilmiah dan masuk akal serta tidak merugikan orang lain.

Kedua, membangun harga diri yang lebih unggul adalah jauh lebih penting bagi hidup dan masa depan saya. Sebab harga diri akan sangat menentukan kualitas dan kelayakan pekerjaan dan nilai kepantasan saya untuk dihargai. Seseorang dikatakan mempunyai integritas apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan dan prinsip yang dipegangnya. Integritas juga adalah suatu konsep yang menunjukkan konsistensi antara tindakan dan nilai prinsip. Orang yang punya integritas memiliki konsep yang utuh dan jelas dalam tindakan.

Ketiga, belajar dari keteladanan sangat penting daripada kata-kata bijaksana yang tidak sesuai dengan tindakan. Artinya, saya hanya bisa menyampaikan apa yang saya bisa/sudah saya lakukan dan yang saya ketahui, selebihnya saya selalu katakan tidak bisa atau tidak tahu.  Dalam prinsip hidup saya dalam hal ini adalah jangan katakan apa yang orang lain katakan kepadamu, tetapi katakanlah apa yang kamu tahu. Maksudnya, ketika orang lain ingin buktinya, saya bisa tunjukan atau jelaskan karena saya tahu.

Keempat, dalam membuat suatu keputusan, selalu melalui pertimbangan dan menilai untuk rugi dari sebuah keputusan yang berdampak kepada orang banyak. Selalu berupaya untuk meminimalisir dampaknya.  

Kelima, dalam menyelesaikan sebuah persoalan selalu menempuh jalur netral dan formil serta lebih mengedepankan aturan-aturan prinsip. Sehingga untuk menemukan kesalahan saya sangat sulit. Sebab saya lebih memilih posisi aman bekerja sesuai aturan. Artinya, saya selalu mencari aturan-aturan yang bisa digunakan sebagai dasar pijakan dalam menyelesaikan atau memenangkan suatu persoalan dengan dasar hukum yang tidak jelih dilihat oleh orang lain.

Keenam, saya sangat membenci kolusi korupsi dan nepotisme. Logikanya adalah kalau itu terjadi, berarti mereka akan hidup dalam alam “haram”. Hal itu jelas, tidak mendatangkan sesuatu yang baik bagi pelakunya. Kebenaran kalau ditutup-tutupi tidak apa, jika suatu saat diketahui ternyata hal yang ditutup-tutupi itu adalah benar, itu tidak apa-apa. Tetapi bagaimana dengan KKN yang ditutup-tutupi  kemudian suatu saat terbongkar. Mereka pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Ketujuh, dalam tugas dan pekerjaan saya, selalu mengutamakan kesejahteraan banyak orang. Melihat persoalan secara netral sesuai dengan pokok persoalan, tidak mencapur adukan perasaan, hubungan keluarga dan sebagainya sebagai pengganggu dalam penyelesaian persoalan.

Kedelapan, Keberanian saya dalam menerima tanggungjawab, selalu diikuti dengan kesadaran bahwa saya memiliki kemampuan, kadang juga terpaksa menerima tanggungjawab itu untuk memperkuat integritas saya, dan saya ingin menunjukkan kemampuan saya kepada banyak orang. Kenyataannya, memang saya menjadi pribadi yang sangat dibutuhkan dalam hal integritas  dan juga kepemimpinan.

Kesembilan, dengan banyaknya wawasan dan pengalaman kerja, saya menjadi seorang yang tidak mudah percaya orang, apalagi bila berbicara pekerjaan dalam birokrasi maupun lembaga dan institusi. Saya selalu menuntut konsistensi pekerjaan dengan aturan.

Kesepuluh, ketika saya mulai menjadi salah satu pemikir dari pimpinan perguruan tinggi, saya melihat bahwa dalam hal integritas, rupanya juga menyangkut menjaga rahasia negera. Artinya, ada hal yang bisa diketahui oleh publik dan ada hal yang khusus (rahasia), yang tidak perlu buat publik.

Keduabelas, saya selalu memainkan peran oposisi, senang memberikan kritik dan evaluasi terhadap banyak hal. Selain itu, sebagai seorang penulis, saya juga sudah biasa mendapat kritik dan masukan dari para pembaca. Dari kondisi ini, mental, kepribadian saya dalam menghadapi kritik, tekanan dan berbagai pertanyaaan dari berbagai tipe orang dengan berbagai cara mereka. Hal ini telah membentuk saya menjadi seseorang yang bisa menempatkan diri dengan baik dalam menghadap berbagai macam orang dengan gayanya masing-masing, dengan cara yang ilmiah dan masuk akal juga memperhatikan hal etika dan sopan santun dalam berbicara dan menanggapi berbagai hal.

Bicara integritas berarti tidak memiliki kesetiaan yang terbagi-bagi, tidak berpura-pura dan munafik. Orang dengan integritas adalah manusia yang utuh. Mereka dapat diidentifikasi oleh pemikiran tunggal mereka. Orang dengan integritas tidak menyembunyikan sesuatu dan tidak gentar terhadap apapun juga. Hidup mereka seperti buku yang terbuka. Intergritas pribadi adalah sesuatu yang dihasilkan dari dalam diri, maka kekuatan di luar diri bisa saja tidak memiliki integritas. Sering sekali realitas kehidupan sosial, politik, ekonomi selalu mempersembahkan integritas yang sangat miskin dan lemah. Dampaknya, integritas pribadi yang kuat harus menjadi sangat bermoral dan berkualitas tinggi. Untuk itu, saya memberanikan diri agar dapat mengalahkan tantangan dari realitas integritas diluar diri, yang lemah dan tak berdaya.

Pengalaman yang membuktikan derajat integritas saya adalah dalam setiap aktifitas yang saya lakukan, baik sebagai pribadi, kepala keluarga, kepala suku, pimpinan organisasi, dalam tim kerja, maupun dalam pekerjaan pada tatanan adat dan masyarakat. Mulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Saya selalu berkomitmen, bahwa apa yang saya bicarakan kepada orang lain harus sesuai dengan bukti yang ada pada diri saya, dimana serta kapanpun dan bersama siapapun.  Semua kegiatan saya dalam keluarga, tempat kerja, pelayanan di gereja, dalam masyarakat suku saya, dan kegiatan lainnya, selalu saya usahakan mengatur waktu dengan baik supaya semua yang direncanakan maupun yang tak terduga, dapat dilaksanakan dengan baik. Tipikal saya sebagai anak asli Kabupaten Jayapura sudah mulai saya ubah, karena saya belajar bagaimana cara etika berbicara yang lebih baik, sopan, tidak terlalu cepat, lembut, tetapi kongkrit, komprehensip, jelas dan tegas.   Hubungan saya yang baik dengan orang lain, baik dalam keluarga, rekan sejawat, umat Tuhan di gereja, masyarakat suku yang saya pimpin, masyarakat sekitar, cukup memberikan apresiasi baik terhadap kinerja dan integritas saya selama ini. Hal itu terjadi karena mereka bisa menilai integritas saya bersama mereka, dan dari hasil-hasil kerja dengan mereka.

 

 

 

3. INDEPENDENSI

 

Saya menilai tingkat independensi saya 95

Mengapa? Karena menurut saya independensi seseorang berkorelasi dengan tingkat pengetahuan dan rasa percaya dirinya. Independensi adalah suatu keadaan atau posisi dimana kita tidak terikat dengan pihak manapun. Artinya keberadaan kita adalah mandiri. tidak mengusung kepentingan pihak tertentu atau organisasi tertentu. Contoh independensi dapat kita lihat pada organisasi-organisasi tertentu dimana keberadaannya adalah merdeka tanpa diboncengi kepentingan tertentu. Dalam konteks lain, independensi juga merupakan hak kita sebagai manusia, yang memiliki hak bebas dan merdeka tanpa ditekan oleh orang lain. Tentu saja dalam pelaksanaannya yang disebut independen juga ada batasan-batasannya. Karena suatu lembaga atau organisasi juga tidak dapat eksis tanpa adanya dukungan dari pihak lain.

Seseorang yang memiliki kepercayaan diri tidak akan mudah diintervensi. Dengan mengajukan diri mengikuti seleksi calon Anggota Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jayapura saya memiliki kepercayaan diri. Apalagi melihat pelaksanaan tugas KPU berdasarkan Undang-Undang dan peraturan-peraturan saya merasa yakin bahwa saya mampu menjadi manusia independen, pada saat saya menjabat anggota Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jayapura.

Pengalaman yang membuktikan derajat independensi saya yaitu, pada aktivitas saya sehari-hari. Pertama, dilingkungan pekerjaan saya sebagai dosen di STAKPN Sentani. Sejak menjadi Dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS), saya selalu bekerja sesuai aturan dan garis komando. Saya tunduk kepada atasan, tetapi tetap menjaga dan menjunjung keadilan dan kebersamaan. Selain itu, sejak saya jadi PNS. Saya selalu berdiri independen dalam posisi sebagai bagian dari kontrol sosial (oposisi) di tempat kerja. Saya tidak suka dengan prinsip “asal bapa suka (ABS)”. saya mengutamakan profesionalitas dan proporsional dalam bekerja. Dalam hal apapun, saya selalu berbicara netral dari kaca mata aturan dan juga ilmiah. Itu sebabnya, rekan sejawat yang bekerja tidak sesuai selalu gelisah dengan kehadiran saya. Saya suka mengkritik kinerja secara langsung maupun melalui tulisan. Karena saya memiliki Blog sendiri dengan nama “Black Eagle”. Banyak tulisan saya, hasil-hasil pikiran saya yang saya tulis, yang kemudian di masukan dalam Blog. Secara pribadi dalam pekerjaan, saya selalu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya atau sesuai norma yang ada.

Kedua, dalam pelaksanaan tugas saya sebagai kepala suku sejak 3 April 2001, prinsip-prinsip yang ada di tempat kerja saya terapkan dalam tugas saya sebagai kepala suku. Kalau ada hal-hal yang saya tidak tahu, maka saya akan bertanya dulu kepada para tua-tua adat sebelum saya membuat keputusan. Saya tidak pernah merampas hak tanah, dan hak-hak dalam pembayaran Maskawin dan pembayaran harta kepala menurut adat Suku Sentani. Saya menghormati hak-hak orang dan juga menjaga hak saya. Fungsi koordinasi dan kerjasama saya jalankan dengan baik dengan menggunakan semua sarana yang ada dan terjangkau.

Ketiga, sejak saya mulai kuliah saya coba membangun kepercayaan diri dengan berdiri diatas kemampuan saya sendiri. Sambil belajar dari kelebihan orang lain supaya saya bisa menjadi lebih baik lagi seperti mereka atau lebih. Ketika saya bercita-cita untuk meraih gelar akademik yang lebih tinggi ada banyak hinaan atau kata-kata negatif yang saya dapatkan dari teman dan keluarga dekat. Hal itu saya abaikan, sehingga sekarang ini saya sudah menyelesaikan pendidikan program “Magister” tahun 2008. Kemudian saat ini, saya sudah menyelesaikan tahap akhir penulisan “disertasi” program Doktor di Universitas Negeri Yogyakarta.

Keempat, dalam membantu tugas-tugas pekerjaan Pendeta, Gembala Sidang, di gereja saya selalu mengutamakan kepentingan banyak orang. Dengan cara memberikan masukan-masukan yang baik untuk peningkatan kualitas manajemen gereja, kepemimpinan, pengelolaan program gereja, dan berbagai pelayanan lainnya. Karena pengalaman pelayanan saya di Jawa Timur dan Jawa Tengah cukup banyak, sehingga dapat digunakan untuk membantu para pendeta dan gereja-gereja lokal yang ada di Sentani ini. Saya sudah ditawarkan beberapa kali baik waktu masih pelayanan di luar Papua mapun di Papua untuk menjadi Pendeta, tetapi saya menolak. Saya lebih memilih sebagai mentor (pendamping) saja.

Kelima, pengalaman waktu menjadi anggota Tim Sukses salah satu Caleg di Kota Yogyakarta tahun 2009. Ada banyak intervensi dari golongan garis keras di Yogyakarta untuk mengagalkan kerja Tim Kami, tetapi saya tetap berpegang pada hak warga Negara yang sama, baik di Papua maupun di seluruh wilayah Indonesia lainnya untuk mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Calon kami ditolak oleh KPU kota Yogyakarta, tetapi kami terus berusaha hingga nama caleg yang kami usung lolos.  Kami juga diperhambat oleh KPU Daerah Istimewah Yogyakarta pada saat pelaksanaan Pemilu 9 April 2009. Kami terus berjuang tanpa menyerah, walaupun caleg kami tidak berhasil mendapatkan kursi DPRD Kota Yogyakarta.

Keenam, ketika saya bertugas sebagai petugas KPPS pada TPS 05 Flavouw Sentani, ada banyak pemilih yang saya batalkan hak pilihnya dan saya suruh langsung pergi jauh dari TPS kami. Masalahnya adalah nama di undangan lain, dan orang yang datang bawah undangan untuk coblos lain. Selain itu,  ada orang datang menanyakan ada undangan kosong, saya memberi peringatan saja untuk bekerja cari sesuap nasi dengan cara yang baik.

Ketujuh, pengalaman saya ketika menjadi Ketua Tim Sukses Pemilihan Ketua STAKPN Sentani 2012-2013, saya mendapatkan ancaman dari pihak lawan, tetapi tetap berjuang berusaha dengan rekan-rekan. Sebab kami bekerja sesuai aturan. Sampai kami bertemu dengan Sekjen Bimas Kristen di Jakarta, Sekjen Kementerian Agama di Jakarta dan Anggota Komisi IX DPR-RI Bapak Diaz Gwijangge. Dan Hasilnya adalah calon Ketua yang kami perjuangkan saat ini menjabat pengganti Sementara Ketua STAKPN Sentani, menuju pemilihan Ketua definitif.

Kedelapan, menjaga independensi maka saya adalah seseorang yang senang dikritik dan senang belajar. Dalam melaksanakan suatu tugas baru, biasanya saya akan proaktif untuk mempelajari aturan dan cara kerjanya. Kalau tidak atau belum faham/jelas saya akan bertanya kepada yang lebih tahu. Dengan demikian, dalam bekerja saya akan lebih cepat menyesuaikan diri.

Sikap saya ketika terdapat kepentingan partai politik tertentu meminta kepentingannya diakomodasi dan jika tidak akan terjadi kegoncangan politik yang besar “Hanya Satu”, yaitu melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi dan kewenangan saya mengikuti perundang-undangan yang berlaku. Sebab, semua petugas baik dari KPU, PPD dan KPPS semua ada dalam perlindungan keamanan dan hukum. Kalau saja saya bekerja salah, mengakomodir partai atau goncangan tertentu, tentu bisa dipastikan akan terjadi goncangan politik lebih besar lagi. Melihat tugas KPU yang independen, itu saja sudah cukup jelas untuk tidak boleh mengakomodir kepentingan partai politik dalam bentuk apapun, sehingga tidak mengorbankan kepentingan rakyat.

 4. KOMPETENSI KEPEMILUAN

 

Kompetensi kepemiluan adalah kecakapan dan kemampuan mengenal penyelenggaraan pemilu.

 

Penting Pemilu Dalam Negara Demokrasi. Negara demokrasi mengutamakan kepentingan umum dari pada pribadi. Artinya demokrasi merupakan bentuk pemerintahan dimana formulasi kebijakan, secara langsung atau tidak ditentukan oleh suara mayoritas warga yang memiliki hak suara melalui wadah pemilihan. Demokrasi bicara soal kehendak rakyat. Demokrasi juga bisa sebagai kebaikan bersama. Jadi pemerintahan demokratis adalah menciptakan kebaikan bersama yang ditetapkan  melalui kontrak politik. Bicara demokrasi berarti berhubungan dengan pemilihan umum.

Dalam sebuah Negara demokrasi, Pemilihan Umum (pemilu) merupakan salah satu pilar utama dari sebuah akumulasi kehendak rakyat. Pemilu sekaligus merupakan prosedur demokrasi untuk memilih pemimpin. Diyakini pada sebagian besar masyarakat beradab di muka bumi ini, pemilu adalah mekanisme pergantian kekuasaan (suksesi) yang paling aman, bila dibanding dengan cara-cara lain. Sudah barang pasti bila dikatakan, Pemilu merupakan pilar utama dari sebuah demokrasi. Melalui pemilu rakyat memilih wakilnya, selanjutnya para wakil rakyat ini diserahi mandat kedaulatan rakyat untuk mengurusi negara ini. Melalui pemilu rakyat menunjukkan kedaulatannya dalam memilih pemimpin seperti Presiden dan Wakil Presiden. Melalui pemilu lokal yang disebut Pilkada, rakyat juga menunjukkan kedaulatannya untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati atau Walikota dan Wakil Walikota.

 

Hubungan Antara Sistem Pemilu, Sistem Kepartaian, Dan Sistem Pemerintahan. Pertama hubungan antara Sistem Pemilu dengan Sistem Kepartaian adalah bahwa sistem pemilu kita selalu mengakomodir sistem kepartaian yang berlaku. Sehingga tidak ada partai yang lebih berhak di Negara ini daripada partai yang lain. Dalam arti setiap partai memiliki hak yang sama untuk terdaftar sebagai peserta pemilu.

Kedua hubungan antara sistem pemilu dan sistem pemerintahan adalah agar hasil pilihan rakyat melalui pemilu dapat turut mengawasi jalannya roda pemerintahan  dengan baik. Pemerintah tidak bisa menjalankan tugasnya semena-mena tanpa ada pengawasan para wakil rakyat yang telah dipilih melalui pemilu.

Ketiga, hubungan antara sistem politik dan sistem pemerintahan adalah bahwa seluruh partai dan wakil-wakil rakyatnya turut serta dalam mengatur pemerintahan. Artinya buka hanya satu atau dua partai saja yang diakui negara untuk mengatur pemeritahan, tetapi semua partai yang mendapatkan kursi di legislatif berhak dan turut serta dalam mengawasi jalannya pemerintah.

Keempat adalah hubungan antara sistem pemilu, sistem politik dan sistem pemerintahan dengan memperhatikan penjelasan di atas maka akan sangat jelas bahwa pemilu memberikan kebebasan untuk semua partai dalam memperebutkan kursi suara, dan akhirnya para calon legislatif, Kepala Negara, dan Kepala Daerah yang terpilih merekalah yang akan memimpin dan mengawasi pemerintahan. Jika tidak ada ketiganya, Indonesia bukanlah Negara demokrasi.

 

Siklus atau Tahapan Penyelenggaraan Pemilu. Siklus atau tahapan penyelenggaraan pemilu dengan Tugas KPU secara Administratif maupun keputusannya sesuai dengan UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu, sebagai berikut: (1) Pendaftaran pemilih. KPU bekerja sama dengan BPS. Menyusun Daftar Pemilih Tetap (DPT); (2) Perdaftaran Partai Politik. Sesuai dengan UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik. Pendaftaran dan verifikasi peserta pemilu; (3) Pemetaan daerah pemilihan; (4)Penetapan jumlah kursi DPRD setiap daerah otonom; (5) Penyalonan DPR/DPRD/DPD. Tahapan pencalonan bagi mereka yang mau maju di ajang pemilihan legislatif; (6) Pengadaan dan distribusi logistik pemilu; (7) Penataan penyelenggaraan kampanye atau Masa Kampanye; (8) Penetapan tempat pemungutan suara (TPS); (9) Tahap pemungutan dan perhitungan suara; (10) Penetapan calon terpilih; (11) Penentuan sistematika dan publikasi hasil pemilu; dan (12) Evaluasi penyelenggaraan Pemilu usai dilangsungknya Pemilu.

 

Konsep Saya Untuk Menciptakan Pemilu Yang Berkualitas. Perlu peningkatan SDM Komisi Pemilihan Umum. Sebagai penyelenggara Pemilu, KPU beserta perangkat yang dimiliki sampai tingkat bawah yakni kelompok KPPS menjadi sangat penting untuk meningkatkan kualitas pemahamannya.  Bahkan peran KPPS menjadi sangat penting dan menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemilu. Sengketa pemilu tentang perolehan suara sering dan akan terjadi ketika para petugas di KPPS tidak memiliki kemampuan teknis dalam menjalankan tugas rekapan perolehan suara di TPS.

Perlu juga peningkatan kualitas peserta pemilu perlu ditingkatkan, mulai dari tim kampanye sampai ke saksi. Kerja saksi harus dibuat seefektif mungkin dari tingkat KPPS hingga KPU. Agar tidak perlu melebar persoalannya  hingga ke MA atau MK. Partai politik jangan hanya digunakan sebagai kendaraan yang mengkotak-kotakan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus diberikan pendidikan politik, agar tidak mudah terprovokasi.

Perlu memperkuat kelembagaan Bawaslu/Panwaslu. Pertama, selama ini posisi Panwaslu menjadi tidak maksimal akibat terbatasnya waktu dalam melakukan pengawasan. Kedua, persoalan netralitas Panwaslu/Bawaslu. Ketiga, kelemahan panwaslu selama ini terletak pada ketidakmampuannya menindaklanjuti pelanggaran yang dilaporkan masyarakat

Perlu pendidikan politik masyarakat. Salah satu wujud partisipasi politik masyarakat dapat dilihat dari kesadaran untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu mendatang. Ada dua faktor yang menyebabkan masyarakat tidak menggunakan hak pilihnya, yaitu pertama, kesalahan administrasi/sistem yang ada, misalnya terkait penyusunan DPT; Kedua, kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilih karena menganggap calon-calon yang ditawarkan tidak menjanjikan perubahan. Tapi yang porsinya lebih besar adalah hal pertama. Oleh karena itu sosialisasi secara kontinyu harus dilakukan semua pihak, agar partisipasi pemilih, selain terukur dengan jelas kuantitasnya tetapi juga terdongkrak kualitasnya.

About these ads

4 Tanggapan to “MAKALAH TERSTRUKTUR DAFTAR SELEKSI CALON KPU”

  1. makasih ya pak tulisannya sebagai bahan referensi dan pembelajaran

  2. ….izin copast ya Pak…makalah bermanfaat sekali sebagai referensi….terimaksih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: