EVALUASI ROGRAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

ABSTRAKSI

Penjaminan mutu Perguruan Tinggi merupakan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, perguruan tinggi wajib mengelola lembaganya untuk menghasilkan mahasiswa yang cerdas, terampil, beradab, dan berbudaya. Pendidikan tidak hanya berupaya meningkatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menghasilkan ilmuan dan cendikiawan yang memiliki keimanan, ketaqwaan, dan kepribadian. Tuntutan untuk menghadirkan perguruan tinggi yang memiliki standar mutu Internasional merupakan kebutuhan yang mendesak. Oleh karena itu, penyelenggaraan perguruan tinggi perlu merumuskan visi, misi, statuta, organisasi dan tata kerja, rencana strategi, agar dapat menjaga kesinambungan dan penjaminan mutu lulusannya. Relevansi lulusan dan mutu pendidikan adalah persoalan kebutuhan masa kini dan masa mendatang, dan selayaknya dipandang sebagai masalah nasional. Menurut Yahya Umar (HEPI, 2005:2) :

Sistem pendidikan Indonesia ini cenderung terlihat lebih berorientasi dan terfokus pada pendidikan dan prosesnya. Input pendidikan seperti sarana prasarana, dan kurikulumnya beserta prosesnya, memang sangat penting bagi keberhasilan seseorang dalam belajar, tetapi hal ini tidak saja cukup. Karena itu untuk memperbaiki keadaan di atas, sistem pendidikan di Indonesia sekarang sudah harus mulai di fokuskan pada pengendalian kualitas mutu lulusannya.

 

A. EVALUASI PROGRAM.

 

1. Pengertian Evaluasi Program.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari kita telah melakukan apa yang disebut evaluasi. Seseorang membuat rencana dan dievaluasi hasilnya. Dari hasil evaluasi diketahui apakah tujuan yang ditetapkan tercapai atau tidak berdasarkan kriteria tertentu. Suchman (Suharsimi dan Cepi, 2004:1) memandang ”evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuannya.” Berkaitan dengan evaluasi pendidikan menurut Ralph Tyler bahwa definisi ”evaluasi ialah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai (Farida, 2003:3).” Secara implisit pendapat tersebut menyatakan bahwa yang digunakan untuk menentukan standar penilaian dalam pendidikan harus ada aspek yang dinilai.

Penelitian evaluasi program ini mengarah pada peningkatan mutu pendidikan Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri dan relevansi lulusannya. Jadi penelitian evaluasi program ini akan menggunakan fungsi evaluasi formatif, karena program masih atau sedang berjalan. Evaluasi formatif yaitu evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan data pada waktu program peningkatan mutu pendidikan di STAKPN Sentani sedang berlangsung. Data hasil evaluasi ini digunakan untuk membentuk dan memodifikasi program kegiatan selanjutnya. Fungsi evaluasi formatif ini dipakai untuk perbaikan dan pengembangan program yang sedang berjalan. Barangkali programnya perlu dimodifikasi, orang-orang yang melaksanakan program perlu masukan guna perbaikan, atau hasilnya yang belum baik. Dengan demikian, evaluasi ini akan membantu pengembangan, perbaikan implementasi kebutuhan suatu program, pertanggungjawaban, seleksi motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari individu yang terlibat.

Dengan memahami beberapa pendapat tersebut di atas, selanjutnya dapat kita tarik kesimpulan bahwa, tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan data, informasi serta gambaran tentang suatu program. Mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan akhir yang akan digunakan untuk bahan penyusunan keputusan. Itu berarti, semua data diambil, data yang dimaksud diambil dari data perencanaan awal sampai pelaksanaannya.

Pada dasarnya tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh data yang akurat dan objektif tentang pelaksanaan program. Informasi tersebut dapat mengenai dampak, atau hasil yang dicapai, proses, efisiensi atau pemanfaatan pendayagunaan sumber daya. Pemanfaatan hasil dapat tertuju kepada program itu sendiri untuk dilanjutkan. Di samping itu, hal ini dapat digunakan untuk kepentingan pertanggungjawaban administratif kepada penyandang dana atau untuk publikasi keberhasilan program, guna memperoleh simpati, perhatian dan pengakuan luas dari masyarakat serta tokoh-tokoh yang berpengaruh terhadap kelangsungan program.

Adapun standar dalam menilai evaluasi menurut Daniel Stufflebeam (Farida, 2000:3) yaitu ; ”(a) utility (bermanfaat dan praktis), (b) accuracy (secara teknik tepat), (c) feasibility (realistik dan teliti), (d) propriety (dilakukan dengan legal dan etik).” Ini hanyalah kriteria umum. Sebenarnya evaluasi yang baik adalah yang memberi dampak yang positif pada perkembangan program.

Evaluasi merupakan bagian penting dari suatu sistem. Selain definisi yang sudah disebutkan di atas, Worthen dan Sanders (1981:19) memberikan definisi tentang evaluasi sebagai berikut :

Evaluation is the determination of the worth of a thing. If includes obtaining information for use in judging in the worth of a program, product, procedure, or objective or the potention utility of alternative approaches, designed to attain specified objectives.

 

Secara implisit dalam pengertian ini terkadang adanya kriteria yang digunakan untuk menentukan nilai (worth) dan adanya hal yang dinilai. Dengan kata lain, evaluasi merupakan pencarian suatu yang berharga dari sesuatu. Termasuk di dalamnya mencari informasi yang bermanfaat untuk menilai keberadaan suatu program, yang diproduksi, mempunyai prosedur, tujuan atau alternatif pendekatan program dan digunakan untuk mencapai tujuan program yang telah ditentukan.

Jadi evaluasi merupakan kegiatan pemberian nilai atas suatu fenomena di dalamnya terkandung pertimbangan nilai (value judgment) tertentu. Evaluator dapat menetapkan tujuan utama evaluasi. Apakah akan menjajagi atau mengukur efektifitas program atau efesiensi  atau mungkin pada prosesnya seperti yang diungkapkan oleh Kaufman dan Thomas (1980:4) bahwa ”evaluation is a process used to assess the quality of what is going on.”

Dalam melakukan evaluasi, evaluator sebaiknya terlebih dahulu menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan. Penentuan langkah-langkah evaluasi diperlukan dengan tujuan bahwa hasil evaluasi yang diperoleh dapat akurat, sehingga dalam menentukan kebijakan selanjutnya dapat tepat.

Menurut Brinkerhoff (1991:1) proses evaluasi umum dibagi menjadi 7 (tujuh) langkah yaitu ; “(a) focusing the evaluation, (b) designing the evaluation, (c) collection information,  (d) analyzing and interpreting information, (e) reporting information, (f) managing information, and, (g) evaluating evaluation.”

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, tujuan evaluasinya adalah untuk mendapatkan data secara jelas tentang pelaksanaan program peningkatan mutu dan relevansi lulusan STAKPN Sentani. Selanjutnya, hasil evaluasi itu dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dalam pengambilan keputusan oleh yang berkepentingan yaitu ketua STAKPN Sentani, Pemerintah Daerah Provinsi Papua, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama Republik Indonesia.

 

b. Program.

 

Program merupakan acuan kegiatan yang disusun dan dilaksanakan oleh suatu lembaga. Oleh karena itu, lembaga yang diberikan kepercayaan melaksanakan program selalu berhati-hati dalam melaksanakannya, sehingga tidak terjadi ketimpangan. Kata program sering kita bicarakan dan ucapkan, namun kita juga perlu mengetahui apa definisi dari program ? Menurut Joan L. Herman (Farida, 2000:9) ”program ialah segala sesuatu yang coba dilakukan seseorang dengan harapan akan mendatangkan hasil atau pengaruh.”  Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2005:291) ”program adalah kegiatan yang direncanakan secara seksama.” Bisa kita simpulkan bahwa program merupakan kumpulan kegiatan-kegiatan nyata, sistematis, dan terpadu yang dilakukan oleh perorangan, satu instansi, beberapa instansi, atau pun dalam rangka kerja sama masyarakat atau yang merupakan pastisipasi aktif masyarakat guna mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.

Itu berarti, pelaksanaan program atau aktivitas merupakan segala sesuatu yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah atau lembaga non pemerintah dalam rangka merealisasikan program kerja operasionalnya. Aktivitas merupakan cerminan strategi kongkret organisasi untuk diimplementasikan dengan sebaik-baiknya dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran.  Aktivitas menjadi jantung keseharian organisasi dan menjadikan organisasi tetap hidup. Tanpa penentuan aktivitas yang jelas akan mengakibatkan banyak tenaga yang tidak terpakai.

Dalam konteks pelaksanaan program, kriteria yang dimaksud adalah kriteria keberhasilan pelaksanaan program dan hal yang dapat dinilai, dapat berupa dampak atau hasil yang dicapai atau prosesnya itu sendiri. Ada beberapa konsep yang terkandung dalam pernyataan ini, yaitu efektivitas yang merupakan rasio antara input-nya dan konsep efisien yang merupakan taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan out put melalui suatu proses.

 

c. Evaluasi Program.

 

”Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program (Suharsimi, 2005:290).” Sebetulnya yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah keingintahuan penyusun program untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum. Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa, evaluasi program pada dasarnya adalah proses pengumpulan data atau memberikan gambaran atau informasi tentang seberapa tinggi tingkat keberhasilan suatu kegiatan atau program yang direncanakan. Selanjutnya informasi tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, serta berfungsi sebagai pengontrol pelaksanaan program, agar dapat diketahui tindaklanjut dari pelaksanaan program tersebut.

Hasil evaluasi program dapat dipergunakan untuk menentukan nilai atau tingkat keberhasilan suatu program dilihat dari efektivitas maupun efisiensinya. Evaluasi program dilakukan untuk mempertimbangkan apakah program dilanjutkan, dimodifikasi atau dihentikan. Pada evaluasi program menuntut adanya kriteria tertentu untuk menentukan mutu kegiatan yang sedang berlangsung.

Adapun langkah-langkah evaluasi program meliputi ; memfokuskan apa yang dievaluasi, termasuk juga dalam hal penentukan tujuan evaluasi. Mendesain evaluasi meliputi model evaluasi dan pengembangan instrumen evaluasi, mengumpulkan data, dan menyusun laporan evaluasi.

 

2. Tujuan dan Sasaran Evaluasi Program.

 

Setiap kegiatan pasti mempunyai tujuan. Demikian juga dengan evaluasi program. Di sini akan dibedakan antara tujuan program dan sasaran program dalam dua (2) contoh berikut. Pertama, kegiatan membaca. Tujuan kegiatan atau program ini adalah untuk menangkap isi bacaan, sedangkan tujuan evaluasi program adalah untuk mengetahui apakah pembaca dapat menangkap isi bacaan yang dibaca. Kedua, program usaha kesehatan sekolah (UKS). Tujuan program adalah untuk mengatasi masalah kesehatan siswa dan personal lain di sekolah yang bersangkutan. Sedangkan tujuan evaluasi programnya adalah untuk mengumpulkan informasi tentang tertanganinya masalah kesehatan di sekolah antara lain untuk mengetahui apakah layanan yang diberikan oleh UKS memuaskan bagi siswa dan personel sekolah lainnya.

Berdasarkan contoh di atas, kita mendapat gambaran yang jelas bahwa tujuan evaluasi program adalah upaya untuk mengukur ketercapaian program, yaitu mengukur dan menilai sejauh mana sebuah kebijakan dapat terimplementasikan. Menurut suharsimi (2004:13) ”ada dua macam tujuan evaluasi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan pada program secara keseluruhan, sedangkan tujuan khusus diarahkan pada masing-masing komponen. Agar dapat melakukan tugasnya, evaluator program dituntut untuk mampu mengenali komponen-komponen programnya.”

Sasaran evaluasi program sangat berkaitan dengan tujuan umum dan tujuan khusus. Sasaran evaluasi program lebih mengarah pada tujuan program dan kondisi harapan setiap komponen programnya. Oleh karena itu, evaluator perlu mengenal program dengan baik, terutama komponen-komponennya, karena yang menjadi sasaran evaluasi program bukan hanya program secara keseluruhan, tetapi juga mengarah pada tujuan dari komponen-komponen atau bagian program.

 

3. Jenis Evaluasi Program.

 

Evaluasi program mempunyai makna dan ruang lingkup yang lebih luas. Evaluasi program itu sendiri terdiri dari beberapa jenis, yang mana masing-masing jenis memiliki tujuan dan sasaran yang berbeda. Banyak ragam atau jenis evaluasi yang dipakai sebagai strategi atau pedoman kerja pelaksanaan evaluasi program. Hamalik (2003:212) mengemukakan bahwa model atau jenis evaluasi program tersebut adalah :

a.       Evaluasi perencanaan dan pengembangan. Sasaran utamanya adalah memberikan bantuan kepada penyusun program dengan cara menyediakan informasi yang diperlukan dalam rangka mendesain suatu program. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk meramalkan implementasi program dan kemungkinan tercapai tidaknya program di kemudian hari.

b.       Evaluasi monitoring dilakukan dengan tujuan untuk memeriksa apakah program mencapai sasaran efektif. Apakah hal-hal dan kegiatan yang telah didesain secara spesifik dalam program itu terlaksana sebagaimana mestinya. Kenyataan tidak jarang program justru tidak mencapai sasaran, karena apa yang telah didesain dalam program tidak dapat dilaksanakan dengan berbagai alasan seperti pengadaan personil, fasilitas, perlengkapan, biaya, dan faktor-faktor penyebab lainnya.

c.       Evaluasi dampak, bertujuan menilai seberapa jauh program dapat memberikan pengaruh tertentu pada sasaran yang telah ditetapkan, apakh program berdampak positif atau justru sebaliknya. Dampak tersebut diukur berdasarkan kriteria-kriteria keberhasilan, sehingga program tersebut perlu di spesifikasi agar dapat diamati dan diukur setelah program itu dilaksanakan.

d.       Evaluasi efisiensi, dimaksud untuk menilai berapa besar tingkat efisiensi suatu program. Apakah program mampu memberikan keuntungan memadai ditinjau dari segi biaya yang dikeluarkan, tenaga yang digunakan dan waktu yang terpakai.

e.       Evaluasi program komprehensip, yaitu dampak menyeluruh terhadap program yang meliputi ; implementasi program, dampak atau pengaruh setelah program dilaksanakan dan tingkat efisiensi program.

Jenis program dibedakan menjadi tiga. Pertama adalah program pemrosesan yaitu program yang kegiatan pokoknya mengubah bahan mentah (input) yang diolah menjadi hasil proses atau keluaran (output). Kedua adalah program layanan. Program layanan adalah sebuah kesatuan kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu, sehingga merasa puas sesuai dengan tujuan program. Ketiga adalah program umum, tidak seperti pada jenis pemrosesan dan layanan yang dengan jelas dapat dikenali jenisnya karena masukan (input) yang diolah menjadi keluaran (output), dan pada program layanan ada ”raja” yang dilayani. Pada program jenis ketiga justru tidak tampak  yang menjadi ciri utamanya.

Evaluasi terhadap pelaksanaan program peningkatan mutu dan relevansi lulusan STAKPN Sentani termasuk dalam penelitian evaluasi komprehensip. Tujuan evaluasi ini adalah untuk memperoleh informasi yang akurat tentang program peningkatan mutu pendidikan di STAKPN Sentani dan kelancaran pelaksanaannya, dan pada gilirannya bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh relevansinya dengan perencanaan program dan relevansinya dengan lulusan yang diharapkan setelah program dilaksanakan.

Penelitian evaluasi terhadap program peningkatan mutu dan relevansi lulusan STAKPN Sentani menggunakan metode penelitian deskriptif. Secara harafiah penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. ”Dilihat dari tujuan penelitian deskriptif, yaitu membuat pencandraan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu (Suryabrata, 2001:18).” Suharsimi Arikunto (2003:310) menambahkan bahwa ”penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu tetapi hanya menggambarkan ”apa adanya” tentang suatu variabel gejala atau keadaan.” Kondisi ini hanya bersifat temporer dan hanya seputar kondisi pada saat penelitian berlangsung. Kemudian tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada saaat penelitian itu. Dimana data yang dikumpulkan itu kemudian ditafsirkan.

Deskripsi itu merupakan langkah-langkah representatif objektif tentang gejala-gejala yang terdapat dalam penelitian. Penelitian deskriptif di maksudkan untuk melakukan pengukuran secara cermat terhadap fenomena tertentu, dimana peneliti mengembangkan konsep dan menghimpun fakta, tetapi tidak akan melakukan uji hipotesis. Penelitian deskriptif akan bermakna atau berarti bila temuannya dapat digunakan sebagai alat untuk memajuhkan suatu tujuan tertentu, dalam hal ini memperbaiki pelaksanaan program peningkatan mutu pendidikan di STAKPN Sentani.

 

4. Model Evaluasi Program.

Model evaluasi adalah model desain evaluasi yang dibuat oleh ahli-ahli atau pakar-pakar evaluasi, yang biasanya model evaluasi itu dinamakan sama dengan pembuatnya. Model-model evaluasi ini dianggap model standar Oleh karena itu, dapat digunakan oleh evaluator sesuai dengan tujuan evaluasinya. Kaufman dan Thomas (Suharsimi, 2004:24) membedakan model evaluasi menjadi delapan, yaitu :

1.       Goal Oriented Evaluation Model dikembangkan oleh Tyler.

2.       Goal Free Evaluation Model dikembangkan oleh Scriven.

3.       Formative SumativeEvaluation Model dikembangkan oleh Scriven.

4.       Countinance Evaluation Model dikembangkan oleh Stake.

5.       Responsive Evaluation Model dikembangkan oleh Stake.

6.       CSE-NCLA Evaluation Model menekankan pada kapan evaluasi dilakukan.

7.       CIPP Evaluation Model dikembangkan oleh Stufflebeam.

8.       Discrepancy Evaluation Model  yang dikembangkan oleh Provus.

 

 

Berdasarkan uraian tentang delapan model evaluasi dan tiga jenis program di atas, evaluasi program peningkatan mutu dan relevansi lulusan STAKPN menggunakan model evaluasi CIPP dan jenis program pemrosesan, karena evaluasi yang paling tepat bagi jenis program pemrosesan adalah model evaluasi context, input, process and product (CIPP).

 

Deskripsi dari model CIPP sebagai berikut :

1.       Evaluasi context. Menurut Stufflebeam, evaluasi konteks dimaksudkan untuk mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan beberapa objek, untuk mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh kegiatan program, tujuan pengembangan manakah yang paling mudah dicapai. Adapun bagian yang akan dievaluasi sebagai konteks program berupa gambaran umum STAKPN Sentani, yaitu berhubungan dengan keadaan lembaga, dosen, tenaga administratif dan sarana prasarana pendidikannya.

2.       Evaluasi input dimaksudkan untuk mengetahui sumber dan strategi. Apakah strategi yang digunakan oleh program sesuai dengan pencapaian tujuan peningkatan mutu tersebut merupakan strategi resmi atau baku, strategi peningkatan mutu yang manakah yang sudah ada sebelumnya dan sudah cocok untuk pencapaian yang lalu, prosedur dan jadwal khusus manakah yang dipergunakan untuk melaksanakan strategi tersebut, apakah yang dapat dikatakan sebagai ciri khusus dari kegiatan yang dilaksanakan di dalam program dan apa pula akibat yang ditimbulkannya.

3.       Evaluasi process meliputi koleksi data yang telah ditentukan atau di rancang dan diterapkan dalam praktek dan operasional seperti bagaimana menata lembaga, meningkatkan mutu dosen, bagaimana meningkatkan mutu tenaga administratif, serta bagaimana pengadaan sarana dan prasarana pendidikan yang ada di STAKPN sentani sehingga relevan dengan lulusan yang akan dihasilkan. Melihat dan mencatat kejadian-kejadian yang muncul selama program peningkatan mutu pendidikan berlangsung dari waktu ke waktu, untuk menemukan kekurangan dan kelebihan termasuk faktor penunjang serta faktor penghambat program jika di kaitkan dengan produk yang di telah dihasilkan.

4.       Evaluasi produk berfungsi untuk mengukur, menginterpretasi dan menilai pencapaian dari suatu program, analisa nilai kesuksesan program, menaksir pencapaian berdasarkan standar yang digunakan, menentukan apakan program akan diteruskan, diberhentikan atau diperbaiki.

 

B. Peningkatan Mutu Pendidikan STAKPN Sentani

Pendidikan Tinggi bertujuan ; (1) menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian. (2) mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kehidupan nasional (pasal 2 ayat 1 PP Nomor 60 Tahun 1999).

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka mutu pendidikan dan lulusan harus di perbaiki. Perbaikan mutu lulusan hanya dapat terjadi jika di dahului perbaikan mutu pendidikan di lingkungan STAKPN Sentani. Itulah sebab pengemban harus terus-menerus meningkatkan konsolidasi dan memperbaiki mutu pendidikan pada STAKPN Sentani.

Penjaminan mutu pendidikan di perguruan tinggi adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga stakeholders yakni mahasiswa, orang tua, dunia kerja, pemerintah, dosen, tenaga penunjang pendidikan dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan.

Dalam hal ini, diadakan kegiatan pemantauan, evaluasi dan koreksi untuk menyempurnakan dan atau untuk peningkatan mutu secara kontinu dan sistematis terhadap berbagai aspek penyelenggaraan sekolah tinggi, dalam rangka pencapaian standar yang telah ditetapkan sebelumnya dalam visi, misi dan tujuan pendidikan tinggi kepada semua pihak baik internal, eksternal, pengelola, lembaga terkait, organisasi profesi dan masyarakat pengguna.

Mutu Sekolah Tinggi adalah pencapaian tujuan pendidikan dan kompentensi lulusan yang telah ditetapkan oleh institusi pendidikan di dalam rencana strategisnya atau telah sesuainya antara tujuan pendidikan yang dilaksanakan dengan standar akademik yang telah ditentukannya. Hal ini berangkat dari konsep penjaminan mutu, bahwa di perguruan tinggi dinyatakan bermutu apabila Sekolah Tinggi mempunyai kemampuan untuk menetapkan dan mewujudkan visi melalui misi yang diemban dan kemampuan memenuhi kebutuhan stakeholders yang meliputi kebutuhan masyarakat (sociaty needs, dunia kerja (industrial needs) dan profesi (professional needs).

Sekolah Tinggi dalam sistem pendidikan tinggi dimana  pun juga, makin lama makin dituntut pertanggungjawaban atau akuntabilitasnya. Tuntutan pemerintah dan masyarakat mengenai akuntabilitas setiap sekolah tinggi memang wajar, karena sekolah tinggi tidak mungkin melaksanakan fungsinya tanpa adanya aliran sumber daya dari masyarakat. Upaya untuk menetapkan mutu suatu hasil selalu sukar, karena adanya pihak yang menghasilkan dan pihak yang menggunakan hasil. Kedua pihak tersebut dapat saja mengacu pada atribut yang berbeda, serta bertolak dari standar dan pola evaluasi yang berbeda pula. Upaya menetapkan mutu kinerja dan atau hasil sekolah tinggi menjadi lebih sukar karena kebanyakan pihak berkepentingan seperti, pimpinan perguruan tinggi, staf administratif, mahasiswa, orang tua, pemerintah, pengguna hasil lulusan sekolah tinggi pada umumnya.

Pimpinan Sekolah Tinggi yang pada titik akhirnya bertanggungjawab mengenai kinerja Sekolah Tinggi, harus menyadari hal tersebut. Karena itu, harus mengacu pada asas peningkatan mutu yang berkelanjutan. Untuk dapat mengungkap kinerja, hasil, dan dampak sekolah tinggi secara periodik dan teratur harus diadakan evaluasi.

Evaluasi tersebut ditujukan terhadap tujuan dan sasaran, persyaratan ambang yaitu segala sesuatu yang menjadi persyaratan ketercapaian tujuan, masukan yakni segala bentuk sumber daya yang di perlukan untuk mencapai tujuan, dan keluaran yakni hasil dan dampak.

Tujuan utama dari pelaksanaan program ini adalah peningkatan mutu pendidikan pada Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Burere Sentani dengan penataan kelembagaan, meningkatkan mutu dosen, tenaga administratif dan pengadaan sarana prasarana. Untuk itu terlebih dahulu dibahas konsep tentang peningkatan mutu pendidikan.

Mutu adalah konsep umum, kemudian coba dikaitkan dengan konsep yang ingin dijelaskan yakni peningkatan mutu Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri Sentani.

 

1. Pengertian Mutu.

Untuk mendapatkan pemahaman tentang mutu pendidikan, berikut dikutip berbagai pengertian mutu dari berbagai sumber. Mutu dalam bahasa Indonesia disebut kualitas. Kualitas berasal dari bahasa Inggris quality. Quality dalam berbagai kamus mempunyai arti, tiga diantaranya (1) suatu sifat atau atribut yang khas dan membuat berbeda, (2) standar tertinggi sifat kebaikan dan (3) memiliki sifat kebaikan tertinggi (Daulat Purnomo Tampubolon, 2001:106). Dalam kamus besar bahasa Indonesia, ”mutu atau kualitas diartikan (ukuran) baik buruk suatu benda, kadar, taraf atau derajad (KUBI, 1994:667).”

Pendapat lain mengatakan bahwa ”kualitas sebagai kondisi tentang produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pemakai” (Sutarto, 2000:9). Jarome S Arcaro (1995:55) menyatakan bahwa ”quality is a structured process for improving the out put produced.”

Dalam konteks mutu pendidikan tinggi Abdul Halim ( 2001:121) menyatakan “mutu pendidikan perguruan tinggi dapat dipahami sebagai kesesuaian sifat produknya dengan kebutuhan mahasiswa atau pelanggan primer dan dunia kerja atau pelanggan tersier.” Mutu didefinisikan oleh Crosby sebagai paduan sifat-sifat produk, yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan langsung atau tak langsung, baik kebutuhan yang dinyatakan (tersurat) maupun yang tersirat, masa kini dan masa depan (Tampubolon, 2001). Dengan demikian, mutu terpadu meliputi berbagai aspek yang meliputi berbagai aspek yang terjadi dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan atau dihasilkan oleh organisasi jasa. (http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0505/26/0801.htm).

Dalam penelitian ini difokuskan pada penelitian program peningkatan mutu STAKPN Sentani yang di batasi pada peningkatan penataan lembaga, peningkatan mutu dosen, tenaga administratif, dan pengadaan sarana prasarana serta mutu lulusan yang relevan dengan tujuan peningkatan mutu STAKPN.

 

2. Penataan Kelembagaan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 377 tahun 2000 tentang STATUTA STAKPN Sentani memuat juga tentang susunan organisasi dan tata kerja dalam BAB IV Bagian Kesatu tentang susunan Organisasi pasal 11 yang berbunyi :

Susunan Organisasi STAKPN Sentani terdiri dari:

1.       Ketua dan Pembantu Ketua;

2.       Senat STAKPN;

3.       Jurusan;

4.       Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat;

5.       Kelompok dosen;

6.       Bagian Administrasi : Akademik, Kemahasiswaan dan Umum;

7.       Unsur Penunjang Akademik meliputi:

a. Unit Perpustakaan;

b. Unit Komputer;

c. Unit Laboratorium/Studio;

 

 

3. Peningkatan Mutu Dosen.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi Bab IX  mengenai Tenaga Kependidikan pasal 101 ayat 1-6 berbunyi :

(1)     Tenaga kependidikan di perguruan tinggi terdiri atas dosen dan tenaga penunjang akdemik.

(2)     Dosen adalah seorang yang berdasarkan pendidikan dan keahliannya diangkat oleh penyelenggara perguruan tinggi yang bersangkutan.

(3)     Dosen dapat merupakan dosen biasa, dosen luar biasa, dan dosen tamu

(4)     Dosen biasa adalah dosen yang diangkat dan ditempatkan sebagai tenaga tetap pada perguruan tinggi yang bersangkutan.

(5)     Dosen luar biasa adalah dosen yang bukan tenaga tetap pada perguruan tinggi yang bersangkutan.

(6)     Dosen tamu adalah seorang yang diundang untuk mengajar pada perguruan tinggi selama jangka waktu tertentu.

 

Pasal 102 ayat (1) jenjang jabatan akademik dosen pada dasarnya terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala,  dan guru besar. Ayat (2) wewenang dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian jabatan akademik diatur sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 107 ayat (1) tenaga penunjang akademik terdiri atas peneliti, pengemban di bidang pendidikan, pustakawan, pranata komputer, laboran, dan teknisi sumber belajar. Ayat (2) persyaratan, tata cara pengangkatan dan wewenang tenaga penunjang diatur oleh penyelenggara perguruan tinggi dengan berpedoman pada perundang-undangan yang berlaku.

Dosen merupakan salah satu komponen yang penting dalam suksesnya suatu sekolah tinggi. Dengan meningkatnya jumlah mahasiswa yang mendaftar dan yang terdaftar ke sekolah tinggi tentunya diperlukan penambahan jumlah dosen. Umumnya dosen di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani belum memiliki jabatan fungsional dosen dan masih sebagai staf administrasi. Rata-rata dosen yang bertugas di STAKPN Sentani adalah tamatan Sarjana Teologia jurusan Kependetaan dan Pendidikan Agama Kristen, dan belum memiliki pengalaman mengajar dan baru dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan.

Pengelolaan sekolah tinggi sering mendapat keluhan dari mahasiswa mengenai mutu dosen yang mengajarnya, sehingga pengelola perlu melakukan kendali mutu dosen yang sudah ada maupun dosen yang baru akan diterima. Kepuasan mahasiswa dapat dipenuhi jika pihak sekolah tinggi dapat menghasilkan produk bermutu, dimana salah satunya adalah dosennya harus bermutu. Untuk menghasilkan dosen yang bermutu diperlukan perbaikan mutu dosen yang berkelanjutan secara konsisten oleh pimpinan, dosen dan tenaga administratif itu sendiri sesuai dengan konsep pengendalian mutu terpadu.

Semua pihak perlu menyadari bahwa suatu produk bermutu, tidak dapat dihasilkan oleh satu atau beberapa pihak saja, tetapi semua pihak harus bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hal ini dapat tercapai, jika pimpinan punya keinginan dan kemauan yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki secara terus menerus mutu dosen yang ada, dan semua tenaga administrastif yang mendukung untuk tercapainya keinginan ini. Para dosen menyadari bahwa peningkatan mutu ini akhirnya adalah untuk kebaikan dosen itu sendiri.

Beberapa hal penting mengenai tugas dan tanggung jawab seorang dosen, persyaratan untuk menjadi dosen yang bermutu, cara mengevaluasi mutu dosen, peran yang dilakukan oleh pimpinan, tenaga administrasi dan dosen itu sendiri dalam rangka perbaikan berkelanjutan dari pada mutu dosen. Untuk meningkatkan secara berkelanjutan mutu dosen di sekolah tinggi, ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan oleh pimpinan, dosen dan tenaga administrasi untuk mewujudkan keinginan ini. Wujud keinginan ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

 

a. Peranan Dosen.

1) Dosen harus selalu berusaha meningkatkan pengetahuannya dengan cara membaca buku, melihat di internet, menulis di jurnal, melakukan penelitian, dan mengikuti seminar.

2) Dosen perlu meningkatkan pengetahuannya dengan cara mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

3) Dosen harus mengikuti perkembangan teknologi informasi sehingga dapat menggunakan internet untuk meningkatkan pengetahuannya dan diharapkan dapat membuat homepage secara sederhana untuk menaruh bahan ajar yang dapat diakses oleh seluruh mahasiswa.

4) Dosen harus selalu menyadari tanggung jawabnya yaitu membantu mahasiswa untuk menjadi yang terbaik dengan cara menguasai content dan metoda serta menyiapkan materi pelajaran dengan sebaik-baiknya.

5) Dosen perlu mempunyai jenjang fungsional dosen karena hal itu akan memacuh seorang dosen untuk selalu meningkatkan pengetahuannya dengan melakukan penelitian dan menulis jurnal.

 

b. Peranan Pimpinan.

1)       Pimpinan selalu mengingatkan pada setiap kesempatan pentingnya peningkatan mutu yang berkelanjutan.Pimpinan dapat memberikan beasiswa bagi dosen yang ingin meningkatkan pengetahuannya ke jenjang yang lebih tinggi dan dana yang cukup bagi dosen yang ingin melakukan penelitian.

2)       Pimpinan selalu mengingatkan kepada dosen untuk mengambil jenjang fungsional dosen.Pimpinan menyediakan tempat khusus di lengkapi dengan komputer dan printer dimana dosen dapat menggunakan internet untuk meningkatkan pengetahuannya.

3)       Pimpinan menyediakan akses gratis untuk menyediakan modem dari rumah di luar pulsa telepon.

4)       Pimpinan sering mengadakan seminar dan pelatihan kepada dosen.

5)       Pimpinan perlu mengadakan dialog dengan dosen untuk secara bersama mencari solusi terhadap permasalahan yang ada dalam meningkatkan mutu dosen.

6)       Pimpinan perlu memikirkan untuk membuat buku sendiri sebagai bahan ajar dengan pertimbangan bahwa bahan ajar yang disampaikan seorang dosen biasanya berasal dari berbagai sumber yang hasilnya mungkin lebih baik dari buku yang dijual di toko buku.

Dalam Organisasi Tata Kerja STAKPN Sentani bagian enam tentang kelompok dosen pasal 16 berbunyi :

Kelompok dosen mempunyai tugas melakukan pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan bidang keahlian atau ilmunya serta memberikan bimbingan kepada mahasiswa dalam rangka pengembangan penalaran, minat dan kepribadian mahasiswa.

 

Peningkatan berkelanjutan mutu dosen merupakan tugas dan tanggung jawab semua pihak sesuai dengan konsep pengendalian mutu terpadu. Seorang dosen harus selalu bertanya kepada diri sendiri, apakah sudah melakukan yang terbaik dalam proses belajar mengajar ini. Apabila semua pihak menyadari tugas dan tanggung jawabnya, diharapkan visi dan misi sekolah tinggi dapat tercapai.

Menurut Prof. Dr. Ir. Boma Wikan Tyoso, Msc, (http://www.library.ohio edu/indopubs/1997/12/18/0042.mtml) sebenarnya mutu dosen atau tenaga edukatif pada perguruan tinggi, sangat menentukan keberhasilan proses tansformasi. Bisa dibayangkan kalau dosen tidak memiliki kompetensi yang cukup, lulusan yang dihasilkan tentunya tidak akan memenuhi harapan, termasuk harapan kalangan industri yang memerlukan tenaga kerja perguruan tinggi. Upaya peningkatan mutu perguruan tinggi itu bisa dianalisis melalui berbagai variabel.

Selain tentang dosen di perguruan tinggi, juga masih harus didukung oleh infra struktur dan fasilitas penunjang lainnya. Tingkat latar akademik di kalangan tenaga edukatif pada perguruan tinggi memang cukup banyak hambatannya. Di antaranya adalah keterbatasan waktu di kalangan dosen itu sendiri sebagai akibat belum tercukupinya kebutuhan ekonomi mereka, serta minat dosen itu sendiri terhadap perkembangan ilmu dan pengetahuan melalui berbagai kegiatan ilmiah termasuk seminar nasional atau internasional, berlangganan jurnal ilmiah nasional dan internasional, serta rendahnya kualitas berbahasa inggris di kalangan dosen itu sendiri. Oleh karena itu, jika kita ingin meningkatkan kualitas di sekolah tinggi, tidak bisa tidak, mutu dosen harus mendapatkan perhatian yang besar pula.

Peningkatan relevansi dan mutu pendidikan membutuhkan dosen yang mempunyai kompetensi dan kualifikasi tinggi. Akan tetapi kenyataan kualifikasi para dosen yang mengajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia masih tergolong rendah. Data di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Depertemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menunjukkan dari total dosen di perguruan tinggi negeri (PTN) mereka yang berpendidikan pascasarjana baru sekitar 50 persen. Sementara dosen di perguruan tinggi swasta (PTS) tercatat hanya sekitar 30 persen yang berpendidikan pascasarjana. Sayangnya, upaya peningkatan kualitas dosen sering terhalang oleh kemampuan berbahasa asing, usia lanjut, dana, dan terbatasnya lembaga penyelenggara program pascasarjana yang bermutu (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0206/28/dikbud/kual09-.htm).

Sumber daya manusia dosen memiliki posisi yang vital dalam membentuk image mutu lulusan maupun mutu lembaga secara umum. Posisi itu diperkuat dengan fakta bahwa dosen memiliki otoritas dalam proses akademik dan malahan lebih tinggi dari profesi serupa di lembaga pendidikan di bawahnya. Pengembangan tampaknya menjadi kebutuhan nyata bagi usaha perbaikan kinerja sumber daya dosen melalui proses sistematis konsep pengembangan, maka produktifitas dapat diharapkan. Dosen menjadi parameter penting dalam proses pengendalian kelembagaan perguruan tinggi. Jenjang kepangkatan dan pendidikan dosen dijadikan pedoman pokok, di samping berasio kelulusan dalam mekanisme akreditasi. Dengan demikian, memikirkan upaya peningkatan mutu dosen harus menjadi obsesi pengelola perguruan tinggi.

Walau ukuran mutu dosen bersifat relatif, akan tetapi pada dasarnya mutu dosen dapat dilihat dari produktifitas melaksanakan tridharma perguruan tinggi yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Secara normatif ketiga hal itu pada umumnya dapat dilihat dalam jenjang pendidikan dan jabatan fungsional. Untuk melihat kedua hal itu, baiklah kita teropong bagaimana kondisi objektif sumber daya dosen.

Contoh kasus, suatu sekolah tinggi memiliki sepuluh orang dosen setiap jurusan, dilihat dari kuantum jumlah dosen tetap, sudah cukup untuk menjalankan kegiatan akademik. Hal ini dapat dielaborasi (dilakukan secara teliti) dengan asumsi setiap dosen membina mata kuliah sebanyak 8 SKS. 4 SKS lainnya untuk bidang lainnya, atau tiga mata kuliah untuk satu semester. Maka dalam satu tahun setiap dosen memiliki tugas mengajar 16 SKS atau 6 mata kuliah. Dengan jumlah rerata setiap jurusan memiliki beban studi 160 SKS atau 60 mata kuliah. Maka yang dibutuhkan oleh setiap jurusan hanya 10 orang dosen saja. Dengan catatan bahwa proses rekrutmen dosen benar dan dosen yang ada terdistribusi dengan baik.

Berdasarkan contoh di atas, perlu juga ditetapkan rasio mahasiswa dan dosen. Angka 10 itu kemungkinan belum final, karena hal yang penting adalah dosen-dosen itu memiliki kewenangan akademik, baik dilihat dari jenjang pendidikan maupun jabatan fungsional, sehingga dosen yang ada dapat berfungsi secara optimal. Kewenangan profesi ditentukan oleh kedua parameter mutu dosen tersebut, walaupun dalam praktek keadaan tersebut dapat di atasi dengan kehadiran dosen luar biasa. Namun masalah ini perlu disikapi serius.

Berdasarkan kondisi itu, maka konsep pengembangan dosen menjadi lebih relevan dibicarakan. Konsep pengembangan melihat aspek kualitatif lebih penting dari pada aspek kuantitatif. Dengan demikian, permasalahan pengembangan dosen adalah terletak pada upaya pemberdayaan komponen dosen, sehingga memiliki kontribusi optimal terhadap penciptaan mutu proses dan hasil akademik.

 

d. Bentuk Pengembangan bagi Dosen.

Pertama adalah pengembangan kompetensi, berhubungan dengan peningkatan kemampuan : menguasai bahan, mengelola program pembelajaran, memilih dan menggunakan media dan sumber belajar, menguasai landasan kependidikan, mengelola kelas, mengelola interaksi pembelajaran, melaksanakan fungsi dan proses bimbingan dan penyuluhan, menilai prestasi hasil pembelajaran, menyelenggarakan administrasi, memahami prinsip dan menafsirkan hasil penelitian untuk pembelajaran, mengembangkan pengetahuan dengan metoda ilmiah, mempublikasikan dan menerapkan pengetahuan, dan mengembangkan diri.

Upaya yang dapat dilakukan untuk itu, antara lain : asistensi (assistenship), pertemuan dosen (lectures confrences), seminar (seminars), bimbingan diskusi (guided discussions), lokakarya, program instruksional (programmed instructions), tugas khusus (special assignment), pelatihan (coaching), proyek penelitian (research project), khusus (courses), dan lain sebagainya.

Kedua adalah pengembangan disiplin kerja, diarahkan pada konsistensi individu dalam memahami, menghayati, melaksanakan, dan memasyarakatkan ketentuan, perilaku dalam sistem kelembagaan. Pensosialisasian berbagai ketentuan atau aturan mengenai disiplin harus dilakukan. Ketentuan yang tidak diketahui sering menyebabkan pelanggaran atas disiplin kerja dosen. Misalnya beban tugas dalam bentuk satuan kredit semester (SKS) dalam prakteknya belum banyak dipahami oleh pimpinan maupun dosen. Sering dipertanyakan, bila tidak datang ke kampus karena mengadakan bimbingan skripsi di rumah, apakah termasuk pelanggaran disiplin ? atau membimbing skripsi harus di kampus ? bila ya, harus ada fasilitas yang memadai untuk terjadinya interaksi yang baik dalam proses bimbingan itu.

Ketiga adalah mengembangkan semangat kerja, memiliki karakter yang berlainan dengan pengembangan disiplin kerja. Semangat kerja berkaitan dengan ketulusan hati karena adanya kepuasaan kerja sebagai akibat terpenuhinya kebutuhan dasar dari pekerjaan yang dilakukan. Kehadiran, kelemahan, antusiasme, kerjasama merupakan indikator-indikator penting untuk mengukur semangat kerja.

Keempat adalah pengembangan karir dan kesejahteraan, pengembangan ini sangat dibutuhkan usaha-usaha pengembangan sebelumnya. Pengembangan ini memiliki fungsi pemeliharaan atas upaya-upaya yang dilakukan dalam pengembangan-pengembangan sebelumnya. Harus diakui bahwa penghargaan berupa kesejahteraan untuk profesi mengajar umumnya, khususnya dosen, masih belum menggembirakan. Pengembangan karir dosen dapat dilakukan melalui jalur pendidikan lewat pascasarjana atau kenaikan jabatan fungsional. Dosen perguruan tinggi negeri (PTN) sangat beruntung karena untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana atau pun untuk melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat dalam rangka peraihan angka kumulatif guna syarat kenaikan pangkat, disediakan dana lewat anggaran perguruan tinggi dari APBN, APBD ataupun pinjaman luar negeri.

 

e. Tugas Dosen.

Peranan dosen sudah dikemukakan diatas, mendasari dan mengarahkan tugas-tugas dosen di perguruan tinggi, antara lain sebagai berikut :

(1) Tugas Dosen dalam pendidikan dan Pengajaran.

a)       Memberi kuliah, termasuk memberi dan memeriksa ujian, makalah dan skripsi.

b)       Memberi kuliah dan mempersiapkan bahan-bahan kuliah.

c)       Membantu memeriksa makalah dan skripsi.

d)       Menjadi sponsor atau ko-sponsor dalam menyusun makalah dan skripsi.

e)       Memimpin dan mengelola laboratorium dan studio.

f)         Memimpin dan membimbing praktek di laboratorium atau praktek kependidikan, bengkel kerja dan praktek lapangan.

g)       Memberikan laporan praktek.

h)       Memberikan laporan responsi.

i)         Memberikan bimbingan  dan pengajaran remedial.

j)         Mengembangkan bahan pengajaran.

k)       Melaksanakan kegiatan data sering dan pencakokan dosen.

l)         Bertugas pada penguji pada ujian akhir.

m)     Membina kegiatan kemahasiswaan dibidang akademik dan kemahasiswaan.

n)       Mengembangkan bahan pengajaran.

o)       Menyampaikan orasi ilmiah.

p)       Membimbing dosen yang lebih rendah jabatan fungsionalnya.

q)       Menduduki jabatan pimpinan perguruan tinggi.

r)        Dan lain-lain.

 

(2) Tugas Dosen dalam Penelitian.

Kegiatan penelitian yang harus dilakukan oleh dosen meliputi :

a)       Mengadakan penelitian ilmiah atau menghasilkan karya ilmiah.

b)       Membimbing penelitian bagi mahasiswa dalam persiapan skripsi.

c)       Berpartisipasi dalam seminar dan berbagai kegiatan ilmiah lainnya.

d)       Membimbing penelitian untuk lebih menjurus pada spesialisasi dan pembuatan laporan ilmiah.

e)       Menerjemahkan atau menyadur buku ilmiah

f)         Mengedit atau menyuting karya ilmiah.

g)       Membuat rancangan dan karya teknologi, rancangan dan karya seni monumental atau seni pertunjukan atau karya sastra.

Hal meningkatkan kemampuan penelitian di kalangan dosen dipandang penting terhadap peningkatan citra, sekaligus eksistensi sekolah tinggi bahkan perguruan tinggi pada umumnya ke depan. Pasalnya melalui hasil karya berupa penelitian dosen, bisa memperlihatkan sejauh mana kualitas suatu perguruan tinggi, khususnya sekolah tinggi. Dosen harus mampu meningkatkan kemampuan penelitian agar bisa melakukan kerja sama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah setempat, untuk meningkatkan dan mengembangkan sekolah tinggi bersangkutan. Artinya dosen bukan hanya bisa minta bantuan, tetapi juga bisa menawarkan kerja sama berupa penelitian, apabila sudah mempunyai sumber daya manusia dosen yang mampu melakukan penelitian.

Mutu suatu lembaga pendidikan tinggi tidak tergantung oleh kemegahan gedung, fasilitas fisik, dan atau mahalnya biaya. Melainkan mutu sebuah perguruan tinggi sangat tergantung kepada mutu dosen, sarana prasarana pendukung, penanganan administrasi yang profesional dan dibuktikan dengan prestasi, kualitas dan kreatifitas sivitas akademikanya di antara sivitas akademika perguruan tinggi lain. Selain itu, iklim akademis yang partisipatif, terbuka, transparan, dan bertanggungjawab menjadi salah satu ciri bermutunya sebuah lembaga sekolah tinggi.

 

(3) Kegiatan Pengabdian Kepada Lembaga Perguruan Tinggi dan Pengabdian

      Kepada Masyarakat.

  1. Pembinaan institusional dan kader ilmiah.
  2. Turut menentukan kebijaksanaan dalam kerangka induk akademik.
  3. Pemegang otoritas dalam spesialisasinya.
  4. Merencanakan dan melaksanakan pembentukan serta pembinaan kader.
  5. Memberi pelayanan kepada masyarakat atau kegiatan lain yang menunjang pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan.
  6. Membuat atau menulis karya pengabdian kepada masyarakat.
  7. Memberi latihan/penyuluhan/penataran/ceramah pada masyarakat.
  8. Melaksanakan pengembangan hasil pendidikan dan penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (Keputusan bersama Mendiknas dan Kepala Badan Kepagawaian Negara).

 

4. Peningkatan Mutu Tenaga Administrasi.

Berdasarkan Organisasi dan Tata Kerja STAKPN Sentani bagian ke tujuh, bagian administrasi akademik, kemahasiswaan dan umum pasal 20 menjelaskan bahwa tenaga administrasi terdiri atas :

1)       Subbagian akademik dan kemahasiswaan mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana dan program kerja, registrasi dan her registrasi mahasiswa, administrasi pendidikan dan pengajaran, administrasi penelitian dan pengabdian pada masyarakat, serta penilaian prestasi dan penyusunan laporan.

2)       Sebagian kepegawaian dan keuangan mempunyai tugas melakukan pengelolaan urusan kepegawaian dan keuangan.

3)       Subbagian umum mempunyai tugas melakukan pengelolaan urusan perlengkapan, kerumahtanggaan, publikasi, hubungan masyarakat, ketatausahaan, penilaian prestasi dan proses penyelenggaraan kegiatan serta penyusunan laporan.

Kemampuan tenaga administrasi atau pengelola sekolah tinggi belum bisa mengikuti peningkatan kemampuan tenaga akademik. Tidak heran kalau kualitas pelayanan pendidikan seperti laboratorium belum dapat dilakukan secara optimal. Minimnya kemampuan ini, juga dialami oleh tenaga administrasi, terutama dibidang perencanaan, manajemen pengelolaan, dan pemanfaatan sumber daya serta monitoring dan hasil.

Upaya praktek peningkatan kualitas sekolah tinggi tidaklah mudah, bukan hanya berkenaan dengan masalah makro, tetapi juga masalah-masalah mikro. Salah satu usaha mikro dalam usaha meningkatkan kualitas sekolah tinggi adalah pembaruan manajemen. Kualitas manajemen sekolah tinggi pada tingkat mikro akan menentukan dalam tercapainya kualitas produk sekolah tinggi.

Dalam kaitannya dengan pembaruan manajemen pendidikan bagi STAKPN diperlukan upaya atau langkah strategis dalam manajemen pendidikannya. Selain diperlukan langkah-langkah strategis dalam pengelolaan pendidikan, upaya strategis diperlukan juga dalam pengelolaan sumber daya manusia. Mengingat bahwa semua sistem persekolahan, terlepas dari apa dan bagaimana ukuran, model, dan pola organisasinya, dalam praktek kegiatannya tetap memerlukan keterlibatan aktif seluruh personel, termasuk tenaga administrasi. Untuk itu proses manajemen personel perlu disesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman yang terus-menerus mengalami perubahan. Sebagai konsekwensinya, manajemen yang tepat dan stratejik mengenai fungsionalisasi personel mutlak diperlukan setiap organisasi dalam era kehidupan masyarakat modern.

Dalam sistem pendidikan pada sekolah tinggi terdapat personel yang tugasnya tidak langsung menangani proses pengajaran, tetapi mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap kelancaran proses belajar. Personel tersebut antara lain tenaga kerja di bidang pelayanan administrasi yang selanjutnya di sebut tenaga administratif. Kebijakan dan nilai sebagai standar pengorganisasian tenaga administratif sangat tergantung pada manajemen strategi yang dilakukan lembaga STAKPN Sentani. Saat ini manajemen strategi STAKPN Sentani baru pada tahap pengembangan layanan administrasi dan pengembangan kualitas tenaganya. Adapun Peranan Tenaga Administrasi adalah ;

1)       Menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan materi pelajaran.

2)       Membantu dosen dalam mengurus jenjang jabatan dosen.

3)       Menyebarkan informasi tentang adanya seminar atau pelatihan.

4)       Memberi pelatihan dasar kepada dosen mengenai penggunaan internet dan cara penggunaan search engine untuk penelusuran pustaka.

5)       Memberi pelatihan dasar mengenai pembuatan homepage sederhana dengan microsoft frontpage.

6)       Memberikan fasilitas bagi dosen untuk menggunakan internet di kampus.

7)       Mengusulkan buku-buku baru dan jurnal atau majalah di perpustakaan bekerja sama dengan dosen.

Keberadaan tenaga administrasi harus dapat dimanfaatkan secara optimal, artinya harus dibagi dalam tugas masing-masing. Pengorganisasian tenaga administrasi harus memperhatikan hal-hal yang strategis serta pula memperhatikan aspek-aspek yang semestinya dilakukan. Dengan demikian, kinerja serta kualitas layanannya bermutu tinggi.

 

5. Pembangunan dan Pengadaan Sarana dan Prasarana.

Dalam Undang-Undang sistem pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 bab XII mengenai sarana dan prasarana pendidikan, ayat (1) berbunyi, setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik. Dalam ayat (2)  berbunyi, ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan pada semua satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Persyaratan minimal tentang sarana adalah perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya. Persyaratan minimal tentang prasarana adalah ruang kuliah/kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah raga, tempat beribadah, tempat bermain, dan tempat berkreasi.

Dalam Peraturan Pemerintah RI nomor 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi bab XI tentang sarana dan prasarana pasal 113 ayat (1-3) berbunyi :

1.       Pengelolaan sarana dan prasarana yang diperoleh dengan dana yang berasal dari pemerintah diselenggarakan berdasarkan ketentuan yang berlaku bagi pengelola kekayaan milik negara.

2.       Pengelolaan sarana prasarana yang diperoleh dengan dana yang berasal dari masyarakat dan pihak luar negeri yang di luar penggunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara diatur dengan ketentuan yang ditetapkan pimpinan perguruan tinggi dengan persetujuan senat perguruan tinggi yang bersangkutan.

3.       Tata cara pendayagunaan sarana dan prasarana untuk memperoleh dana guna menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi perguruan tinggin yang bersangkutan

 

Dalam STATUTA STAKPN bagian kedua sarana dan prasarana pasal 73 adalah :

1)       Sarana dan prasarana di dalam kampus meliputi :

a.       Gedung dan ruang kuliah

b.       Laboratorium, bengkel (workshop), gedung olah raga dan lapangan olahraga.

c.       Pusat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, perpustakaan dan sistem informasi.

d.       Kantor pimpinan, kantor administrasi, gedung arsip, gedung perlengkapan, aula, pusat kegiatan mahasiswa, ruang kerja dosen, ruang sidang, ruang rapat dan ruang kebaktian.

e.       Tempat ibadah, kafetaria, klinik, bank, kantor pos, wisma tamu, asrama, dan rumah jabatan.

f.         Koridor (gang/lorong sempit/lorong beratap/penghubung antar gedung/jalan sebagai pintu untuk keluar masuk), jalan, tempat parkir, taman dan lapangan upacara.

2)       Gedung ruang kuliah dilengkapi dengan berbagai sarana belajar sehingga memungkinkan perkuliahan atau penataran dapat berlangsung dengan layak.

3)       Ruang kuliah terdiri atas beberapa ukuran berbeda sehingga dapat menampung ukuran kelas kecil, sedang, dan besar.

4)       Gedung dan ruang kuliah tertentu digunakan bersama-sama oleh semua jurusan atau program studi, dan lainnya digunakan oleh jurusan atau program studi tertentu.

5)       Pengaturan penggunaan gedung dan ruang kuliah, ditetapkan oleh ketua dengan persetujuan senat.

6)       Sarana STAKPN Sentani dilengkapi dengan peralatan kerja dan meubilair yang sesuai dengan keperluan ruangan yang bersangkutan.

7)       Semua mahasiswa berdasarkan keperluan kuliah mereka dan semua dosen peneliti berdasarkan keperluan penelitian, tenaga penunjang akademik dan tenaga administrasi, dapat menggunakan sarana dan prasarana STAKPN.

 

Selanjutnya dalam pasal 74 adalah :

1)       Perpustakaan dilengkapi dengan bahan pustaka berupa : buku, majalah, peta, tabel, film slide, rekaman, perangkat lunak komputer, dan berbagai bahan lain yang biasa tersedia di perpustakaan. Perpustakaan juga dilengkapi dengan berbagai alat pengunjung yang digunakan untuk mengelola dan merawat bahan pustaka dan kepustakaan.

2)       Perpustakaan melaksanakan pinjaman-meminjam bahan pustaka antara institut dan lembaga lainnya.

3)       Sivitas akademika dapat meminjam bahan pustaka menurut ketentuan yang berlaku. Peminat di luar sivitas akademika STAKPN dapat meminjam bahan pustaka dengan ijin kepala perpustakaan.

Selanjutnya dalam implementasinya, tergantung kepada pimpinan STAKPN Sentani bagaimana mengembangkannya lebih lajut berdasarkan kebutuhan.

 

C. METODOLOGI PENELITIAN

 

Penelitian ini akan dilaksanakan di Sekolah Tinggi Agama Kristen Prostestan Negeri Sentani Jayapura Papua.  Waktu penelitian September 2006 – Januari 2007. Sesuai dengan tujuan penelitian, jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian evaluasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan didukung dengan pendekatan kualitatif. 

 

D. HASIL PENELITIAN.

Penelitian evaluasi ini menggunakan model CIPP (Context, Input, Proses, Product) yang di buat oleh Stuflebeam.

 

a. Komponen Konteks.

Evaluasi context sangat penting dan berguna pada tahap awal pengembangan program.  Suatu program akan terlaksana dan memberikan hasil dengan baik apabila berada pada lingkungan/kondisi yang sesuai. Adapun beberapa penumuan adalah :

  1. Kebutuhan penataan kelembagaan yaitu ; pertama, ada beberapa jabatan baik struktural maupun fungsional yang perlu segera diisi. Kedua, Senat STAKPN Sentani belum jelas keberadaannya. Ketiga, dengan bertambahnya Jurusan Musik Gereja, Teologi dan kelas khusus, maka di butuhkan penambahan pegawai baik dosen maupun tenaga administrasi.
  2. Kebutuhan peningkatan kualitas dosen yaitu, pertama, karena tingkat pendidikan dosen semua masih Strata satu(S1)maka perlu di tingkatkan melalui studi lanjut program magisten maupun Doktor. Kedua,  perlu pendidikan dan pelatihan pelatihan yang berkaitan dengan tugas dan peranan dosen. Ketiga perlu pengetahuan yang lebih tentang metodologi penelitian guna meningkatkan kemampuan melakukan penelitian. Keempat, perlu segera diusulkan untuk memperoleh jabatan fungsional dosennya. Kelima, perlu kesempatan untuk mengembangkan keilmuannya melalui seminar ilmiah.
  3. kebutuhan peningkatan kualitas tenaga administrasi yaitu, pertama, karena keterbatasan skill, maka perlu ada pelatihan yang sesuai dengan bidang tugas. Kedua, perlu mengikuti kursus-kursus yang menunjang bidang tugasnya. Ketiga, perlu pelatihan dan pendidikan penjenjangan.
  4. kebutuhan pembangunan dan pengadaan sarana prasarana yaitu, pertama, pembangunan gedung kuliah dan kantor masing-masing jurusan, rektorat, laboratorium bahasa, komputer dan musik, tempat parkir, perpustakan. Kedua, pengadaan sarana dan prasarana pendidikan.

 

b. Komponen Input

Dalam penelitian ini evaluasi input dilakukan pada aspek: Kesiapan lembaga, Kesiapan dosen dan kesiapanan administrasi,dan ketersediaan dana untuk pembangunan sarana  prasarana.

1.       Kesiapan penataan lembaga yaitu; pertama, para calon pejabatnya sudah disiapkan dan sudah diusulkan ke Dirjen Bimas Kristen Departeman Agama RI di Jakarta. Kedua, dengan melihat kebutuhan akan tenaga sarjana teologi dan musik gereja, maka Ketua STAKPN Sentani sedang mempersiapkan pembukaan kedua jurusan tersebut. Ketiga, karena itu telah di usulkan ke Depag RI Jakarta jumlah pegawai dan formasi yang akan di terima. Keempat sudah ada langkah dan persiapan untuk membentuk senat melalui penataan pejabat.

2.       Kesiapan peningkatan mutu dosen yaitu: pertama, pada umumnya dosen siap untuk studi lanjut program Magister dan Doktor. Kedua, dosen siap mengikuti pelatihan dosen bidang studi, penataran metodologi penelitian, prajabatan. Ketiga, dosen siap mengajar mata kuliah sesuai kompetensinya.

3.       Kesiapan peningkatan mutu tenaga administrasi yaitu; pertama tenaga administrasi siap untuk mengikuti pelatihan sesuai dengan bidang studi. Kedua, ada pegawai yang siap ikut pelatihan olah data. Ketiga kesiapan dalam mengusulkan berkas.

4.       Kesiapan dana untuk pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana yaitu semuanya bersumber dari APBN.

 

C. Komponen Proses

Evaluasi process dilakukan untuk memberikan informasi tentang sejauh mana proses kegiatan telah terlaksana. Berbagai aktifitas selama penyelenggaraan program dipantau keterlaksanaannya sehingga dapat diperoleh data menyangkut keberhasilan proses pelaksanaan program.

1.       Partisipasi Pimpinan STAKPN Sentani antara lain; pertama, telah memilih dan mengusul nama-nama calon pejabat struktural dan fungsional. Kedua, telah membuka jurusan musik gereja dan teologi. Ketiga, telah membentuk panitian penerimaan CPNS setiap tahun. Keempat, sedang berupaya agar Senat STAKPN segera terbentuk.

2.       Partisipasi dosen antara lain; pertama, sudah ada yang studi lanjut program Magisten dan Doktor. Kedua, telah mengikuti pendidikan dan pelatihan dosen bidang studi, pembuatan SAP dan GBPP. Ketiga, telah mengikuti penataran metodologi penelitian. Keempat, sebagian besar sudah mengajar sesuai kompetensinya. Kelima, dosen yang sudah memasukan usulan angka kredit untuk memperoleh fungsional dosennya saat ini sedang diproses di Jakarta.

3.       Partisipasi tenaga administrasi antara lain; pertama, mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan bidang tugas. Kedua, sudah mengikuti Diklat prajabatan. Ketiga, sudah mengusulkan penyesuaian pangkat.

4.       Pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana antara lain; pertama sedang di bangun gedung Aula utama, Rektorat, gedung Teologia dan Musik gereja tahap I. kedua, tersu diadakan penambahan sarana prasarana baik untuk Jurusan maupun tenaga administrasi.

 

d. Komponen Produk

 

Evaluasi product dilakukan untuk menilai hasil peningkatan yang sudah tercapai. Untuk mengetahui hasil peningkatan mutu yang di capai, dilakukan evaluasi terhadap program yang sudah terlaksana.

 

1. Peningkatan Penataan Lembaga.

 

a. Penempatan pejabat struktural dan fungsional.

No

 

NAMA JABATAN

LAMA/

STATUS

BARU/

STATUS

A

FUNGSIONAL

1. Ketua

2. Pembantu Ketua I

3. Pembantu Ketua II

4. Pembantu Ketua III

5. Ka. Unit UPPM

6. Ka. Unit Perpustakaan

7. Ka. Unit Komputer

8. Ka Unit Laboratorium

9. Dosen

10. Ketua-ketua Jurusan

11. Sekertaris Jurusan

12. Bendahara Rutin

13.Bendahara Gaji

 

Plh

Plh

Plh

Plh

Plh

Plh

Plh

Plh

Pegawai TU

Plh

Plh

Plh

Plh

 

Definitif

Definitif

Plh

Plh

Definitif

Definitif

Plh

-

Sebagian Definitif

Definitif

Definitif

Definitif

Definitif

 

B

 

STRUKTURAL

1. Kabag. AAKU

2. Kasubbag. AK

3. Kasubbag Kepeg & Keu

 

 

Plh

Plh

Plh

 

 

Definitif

Definitif

Definitif

     Sumber wawancara: 22 Januari 2007

 

b. Pembentukan Senat STAKPN Sentani sampai hari ini belum terlaksana.

c. Pengembangan Jurusan Teologia dan Musik Gereja.

No

Jurusan

Tahun di Buka

1

PAK (S1 dan D3)

2000

2

Musik Gereja (S1)

2003

3

Teologi (S1)

2003

 

Ada pengembangan kelas transfer bagi pengawai di lingkungan departemen agama kabupaten dan kodya  Jayapura di Padang bulan, dan Di Kabupaten Serui

 

 

 

 

 

 

 

d. Peningkatan Jumlah PNS STAKPN Sentani Tiap Tahun

TAHUN

JUMLAH

DOSEN

JUMLAH

TENAGA ADM.

2000

21

8

2001

6

1

2002

1

4

2003

9

6

2004

-

-

2005

6

9

2006

4

2

JUMLAH

47

30

 

2. Peningkatan Mutu Dosen

a. Tingkat pendidikan.

TAHUN

SEDANG

STUDI S2

TAMAT S2

SEDANG

STUDI 3

2000

2

-

-

2001

-

-

-

2002

3

-

-

2003

10

-

-

2004

2

1

-

2005

2

4

1

2006

5

6

2

2007

5

-

-

JUMLAH

29

11

3

 

b. Peningkatan dalam melaksanakan Tugas pengajaran yaitu masih belum sepenuhnya sesuai dengan kompetensi, di akibatkan banyak dosen yang sedang studi lanjut sehingga terjadi penumpukan mata kuliah yang tidak sesuai dengan kompetensinya.

c. Peningkatan mengikuti prajabatan dari total pegawai yang berjumlah 77 orang, yang telah mengikuti prajabatan berjumlah 71 orang atau sekitar 92 % dan yang belum mengikuti prajabatan 6 orang atau sekitar 8%.

d. Peningkatan melaksanakan penelitian, dari 47 dosen baru 4 orang yang ikut terlibat dalam jaringan penelitian tingkat Nasional. Sedangkan bagi dosen, belum ada yang melakukan penelitian. Padahal sudah setiap tahu STAKPN Sentani menyelenggarakan Penataran Metodologi Penelitian. In akibat dari tidak berfungsinya UPPM sehingga kegiatan penelitian tidak berjalan.

e. Peningkatan dalam memperoleh jabatan fungsional dosen. Telah dilakukan dua kali pengiriman berkas-berkas pengusulan angka kredit untuk memperoleh jabatan fungsional dosen. Dosen yang sudah mengusulkan sebanyak  17 orang. Yang sudah menerima SK fungsional baru 14 orang.

3. Peningkatan Mutu Tenaga Administrasi.

4. Peningkatan Sarana dan prasarana.

a. Terbangun Aula serba guna

b. Terbangun gedung Rektoral

c. Terbangun gedung kuliah jurusan teologia

d. Sedang dibangun gedung kuliah musik gereja tahap I

e. Pengadaan motor 8 unit. 3 untuk masing-masing Ketua Jurusan, 1 untuk Kabbag kepegawaian dan keuangan, 1 untuk Pembantu Ketua I, 1 untuk pembantu Ketua III, 1 untuk kepala unit perpustakaan, 1 untuk Kabbag Akademik Administrasi Kemahasiswaan dan Umum.

f. Pengadaan Mobil 3 unit, Masing-masing untuk Ketua, Pembantu Ketua I dan II.

g. Pengadaan Unit komputer untuk Jurusan Musik Gereja dan Teologi dan sarana penunjang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto Suharsimi. (1988). Penilaian program pendidikan. Jakarta : Ditjen Dikti proyek pengembangan lembaga pendidikan tenaga kependidikan.

 

———————–. (2003). Manajemen penelitian. Jakarta Rineka Cipta

 

———————– dan Safrudin Cepi. (2004). Evaluasi program pendidikan pedoman teoritis praktis bagi praktisi pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

 

———————–. (2005). Dasar-dasar evaluasi pendidikan edisi revisi. Jakarta : Bumi Aksara.

 

Brinkerhoff, Robert O et. Al. (1990). Program evaluation : A practitioner’s guide for trainer and education. Sourcebook & casebook. Boston : Kluwe-Nijhoff publishing.

 

Depdiknas. (2003). Pedoman penjaminan mutu (quality assurance)pendidikan tinggi. Jakarta : Ditjen Dikti Direktorat pembinaan akademik dan kemahasiswaan.

 

Yusuf Farida. (2000). Evaluasi program. Jakarta : Rineka Cipta.

 

Hardjono Notodiharjo. (1990). Pendidikan tinggi dan tenaga kerja tingkat tinggi di Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia

 

Hamalik, Oemar. (2003). Manajemen belajar di perguruan tinggi. Bandung : Sinar Baru Algesindo.

 

Kaufman, Roger & Thomas, Susan. (1980). Evaluation without fear.New York : New view point A Devision of Franklin Watts.

 

Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 370 tahun 2000 tentang Organisasi dan Tata Kerja STAKPN Sentani Jayapura Papua.

 

—————————————— Nomor 377  tahun 2000 tentang STATUTA Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri Sentani Jayapura Papua.

 

Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 61409/MPK/KP/1999 dan Nomor 181 tahun 1999 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional dosen dan angka kreditnya.

 

Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 38/KEP/MK.WASPAN/8/1999 tentang jabatan fungsional dosen dan angka kreditnya.

 

Muhadjir, H. Noeng. (2000). Kebijakan dan perencanaan sosial pembangunan sumber daya manusia, telaa cross discipliner. Yogyakarta : Rake Sarasin.

 

 

Oxenham, John. (1984). Education versus qualification. New York : David Mckay co. Inc.

 

Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi.

 

———————————–14 tahun 2005 tentang guru dan dosen

 

Saiffudin Azwar. (1997). Validitas dan reliabilitas instrument. Yogyakarta : Pustaka pelajar.

 

Sumadi Suryabrata. (2002). Metodologi penelitian. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

 

Suroso dkk. (2004). Pendidikan investasi masa depan 40 tahun Universitas Negeri Yogyakarta. Jakarta : pancadasatra Citra Sejati.

 

Tilaar, H.A.R. (1998). Manajemen pendidikan nasional, kajian pendidikan masa depan.  Bandung : Remaja Rosdakarya.

 

Tim HEPI, (2005). Rekayasa system penilaian dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Yogyakarta : HEPI

 

Tim Redaksi Nuansa Aulia. (2006). Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional. Bandung : Nuansa Aulia

 

Worthen, B & Sander J.R. (1981). Education evaluation : Theory and practice. Ohio : Charles A Jones publishing company Wrthington.

 

___________________

(Pilipus Kopeuw, Dosen STAKPN Sentani, Mahasiswa S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta dan Juga Sebagai Sesepuh & Anggota Dewan Penasehat Organisasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Jayapura Raya  Yogyakarta)

Papua :Jl. Padang Pasir No.7 Flavouw Sentani Jayapura Papua

Jogja : Jl. Matahari Gg.Wader No.16 rt.02/rw.01 Cupuwatu 2 Purwomartani Kalasan Sleman

e-mail : hiyakhe_xl@yahoo.com

web : http://pealtwo.wordpress.com

 

2 Tanggapan to “EVALUASI ROGRAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN”

  1. mantab.. sa semangat baca kk pu blog.. :) coba kah ada 100 saja orang papua macam begini.. tetap.. kk ko berangkat.. =))

  2. sangat membantu dan menambah wawasan tentang apa itu evaluasi dari sisilain yang telah diketahui

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: