ASAL USUL KATA IFAR BESAR DI SENTANI

Posted in Penelitian on 21, 0, 05, 2015, AM, 12, 00, 32, Thu, 21 May 2015 00:12:32 +0000 by pilipus kopeuw

Oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Mercure Hotel Ancol, Kamis 21 Mei 2015 – Jam 07:07 wib

Kata Ifar Besar, khusus bagi orang yang belum tahu, Ifar Besar adalah salah satu kampung yang berada di wilayah Sentani Tengah. Kampung Ifar Besar sering disebut juga dengan nama Kampung Kabhetlouw. Jadi, kalau Anda mencari Kampung Kabhetlouw jangan bingung, sebab Kampung Kbahetlouw, nama atau sebutan lainnya juga adalah kampung “Ifar besar”, demikian sebaliknya bahwa Kampung Ifar Besar juga adalah Kampung Kabhetlouw.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah dari mana asal usul kata “Ifar Besar” ini? Sebab kata “ifar” tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia. Sampai hari ini banyak orang hanya menyebut kata Ifar Besar, Ifar Kecil dan Ifar Gunung tanpa mengetahui asal-usul kata tersebut. Oleh karena ini dalam buku keeping-keping kisah Sentani yang tercecer jilid – 3 ini mencoba mencari tahu tahu. Berikut penjelasan yang diperoleh mengenai asal-usul kata “Ifar Besar”.

Pertama, menurut masyarakat Dondai (Yonokhom), mereka menyebut kampung “Kabhetlouw” dengan “Yo ipar”. Artinya juga belum jelas.

Kedua, dari guru-guru Ambon yang saat itu bertugas sebagai guru Injil di Phulende (Khabhetlouw) seperti “Kakasinah” mereka memiliki postur tubuh yang tinggi besar, saat itu masyarakat memanggil mereka dengan “ipar yang besar” akhirnya panggilan itu berubah menjadi menunjukkan lokasi dimana guru-guru Inji ini tinggal. Misalnya kalau masyarakat berpapasan di jalan lalu ada yang bertanya: mau kemena? Kalau tujuannya mau ke Kabhetlouw, maka mereka menjawab kami mau ke kampung Ipar Besar.

Ketiga, menurut salah satu bule (orang barat) memberi penjelasan kepada bapak Arnold Yoku, bahwa kata Ifar Besar berasal dari bahasa Inggris yakni a far artinya sangat jauh.

Keempat, kata Ifar Besar adalah dari bahasa Inggris yakni “Big Fair” yang dibalik, Indonesianya artinya api besar. Asal-usul nama ifar Besar ini masih menjadi misteri. Ondoafi Ifar Besar dan Jajaran Koselo serta Dewan Adatnya pernah berencana untuk mengganti nama Ifar Besar dan Kabhetlouw, tetap ada juga yang tidak menyetujui, sebab dibalik sebuah nama tersimpan kisah. Inilah yang digali lagi, supaya kisah dibalik nama ini muncul sebagai suatu pengetahuan (ww Arnold Yoku, Nov 2014).Phulende

INJIL MASUK DI PHULENDE IFAR BESAR SENTANI

Posted in Penelitian on 21, 0, 05, 2015, AM, 12, 00, 26, Thu, 21 May 2015 00:02:26 +0000 by pilipus kopeuw

 oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd – Merccure Hotel Ancol Kamis 21 Mei 2015 – Jam 06:00 wit 

1. Injil Itu Kekuatan Allah (Roma 1: 16)

Ketika Ottow dan Geisler menginjakkan kaki di pulau Mansinam pada 5 Februari 1855 dalam misi pekabaran Injil di Tanah Papua yang dimulai dengan suatu doa “ Dengan nama Tuhan kami menginjak Tanah Papua ini”. Setelah 72 (tujuh puluh dua tahun) tahun. Pekabaran Injil di Tanah Papua, sejak tahun 1855 hingga pada tahun 1927, begitu lama pergumulan tentang pekabaran Injil yang dimulai dari Mansinam.

Karena Injil itu kekuatan Allah, setelah pergumulan 72 tahun dari pulau Mansinam, Injil merambat ke dataran Sentani dan pada tanggal 1 Mei 1972, Injil tiba atau masuk di Phulende oleh Guru Daud Pekade. Sungguh begitu berat pergumulan dalam pekabaran Injil di Tanah Papua karena dipengaruhi oleh letak geografis, adat istiadat, serta bahasa dan budaya yang beragam adalah faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam tugas misi pekabaran injil di Tanah Papua, sehingga I. S. Kijne mengatakan dalam syair lagu (Nyanyian Rohani 167: 4) sebagai berikut:

Di tengah pencobaan dan perjuangan

Dinantikannya sian zaman sejahtera

Sehingga dalam mata gemilanglah terang

Khayal yang jadi sungguh

Gereja yang menang

2. Membangun Rumah Ibadah

Setelah lebih kurang satu tahun menggumuli pekabaran Injil di pulau Ajau, maka atas kehendak Allah Gr. Daud Pekade berhasil memenangkan dan mempersatukan orang Sentani yang ada di pulau Ajau dan sekitarnya.

Pada tahun 1928, gereja pertama dibangun di Phulende dan semua orang yang ada di pulau Ajau dan sekitarnya mulai beribadah di Phulende.

Pada tahun 1930, dari Phulende mulai berkembang dan menyebar, serta membangun rumah ibadah atau gereja dan membentuk Jemaat, diantaranya:

  • Orang Ifale keluar dan membentuk Jemaat dan membangun gereja pada tahun 1949.
  • Orang Putali dan Sereh keluar membangun Jemaat dan membangun gereja masing-masing tahun 1960.
  • Orang-orang Hobong tetap beribadah bersama di Phulende dan pada tahun 1954 keluar dan membangun gereja sendiri.

3. Hasil Pelayanan Guru Daud Pekade

Sejak 5 (lima) tahun Injil masuk di Phulende di pulau Ajau, maka hasil dari pekabaran Injil, jelas Nampak ditengah-tengah kehidupan orang Sentani yang berada di pulau Ajau. Hal ini terlihat pada :

  • Adanya penyerahan diri dan pengakuan dosa (pembakaran hobatan atau phulo)
  • Rumah ibadah dibangun pada setiap kampung
  • Terdengar puji-pujian setiap malam dan juga terdengar orang dapat meniup suling dengan baik
  • Paduan suara dan juga kidung pujian di malam hari terdengar indah dan merdu.

Ketika Gr. Daud Pekade dipindahkan dan digantikan oleh guru-guru sekolah antara lain Guru Kakisina dan Guru Tulaseket di Kampung Putali serta guru lainnya.

Sebelum Gr. Daud Pekade meninggalkan Phulende, ia mengatakan bahwa kamu, orang-orang Sentani: “Dipilih untuk diselamatkan, akan tetapi kami harus mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu, dan kebenaran yang kamu percayai. Untuk itulah IA telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan, sehingga kamu memperoleh kemuliaan Yesus Kristus Tuhan kita (2 Tesalonika 2: 13 – 14).

GENERASI SENTANI: SADARLAH SEBELUM TERLAMBAT

Posted in Penelitian on 20, 0, 05, 2015, PM, 11, 23, 36, Wed, 20 May 2015 23:57:36 +0000 by pilipus kopeuw

Oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Mercure Hotel Ancol, Kamis 21 Mei 2015 – Jam 06:55 wib

 

Dibuat Untuk Hancur Dengan Sendirinya

Siapa yang peduli dengan generasi muda Sentani? Siapa juga yang peduli untuk keberlangsungan generasi penerus Sentani diatas tanah dan airnya Sentani? Slogam “phuyaka bhu khla rawali” (danau dan hutan di Sentani adalah sumber kehidupanku). Apakah sebuah slogam dengan kesadaran dan mengandung misi khusus? Atau hanya kalimat-kalimat kosong saja yang dengan mudah diucapkan dalam pidato, orasi kampanye, dinyanyikan bahkan dimuat dalam jejaring sosial? Tidak ada yang sungguh-sungguh berpikir tentang generasi Sentani ini selanjutnya seperti apa dan mau jadi apa kelak? Kalau tidak ada yang berpikir, itu artinya generasi Sentani ini sengaja tidak dipikirkan dan dibiarkan untuk hancur dengan sendirinya di atas tanah, air, dusun dan hutan yang dibanggakan. Malu aku sebagai generasi muda Sentani ditertawakan orang lain dan mengatakan “generasi muda Sentani bagaikan anak-anak ayam yang kehilangan induknya dan mati di atas lumbungnya sendiri”.

Pendidikan di Papua dan khusus di Jayapura hanya memberikan ijasah tanpa ketrampilan yang memadai bagi anak-anak asli Papua. Dinas pendidikan setempat belum mampu merancang model pendidikan yang sesuai bagi orang Sentani. Pendidikan kita sedang membentuk generasi muda menjadi orang lain dan bukan untuk menjadi orang Sentani. Perhatikan saja tenaga kerja baik di hotel, bengkel motor, bengkel mobil, pengusaha, toko-toko, kantor-kantor, tenaga satpam, cleaning service, tukang parkir, pedagang kaki lima, penguasa pasar-pasar, dan sebagainya lebih didominasi oleh orang lain. Padahal semua peluang dan lapangan pekerjaan itu ada di atas tanah dan wilayah Sentani. Anak-anak Sentani yang tamat dari sekolah-sekolah kejuruan pada kemana? Pulang kampung kah? Atau pergi bekerja di tempat lain? Atau cari malas kerja? Saya jadi heran dengan pendidikan kita, generasi ini disiapkan melalui pendidikan untuk menjadi apa? Apakah hanya mengejar nilai kelulusan sekolah lalu menganggur? Generasi Sentani kalau sudah sekolah kemudian menganggur, lantas sekolah tujuannya apa? Antara sudah sekolah dan tidak sekolah sama-sama menganggur, lebih baik tidak usah sekolah saja, dari pada buang-buang uang dan waktu saja.

Kalau begitu, ketika sekolah dulu anak-anak tidak menghargai perjuangan orang tua membiayai sekolahnya. Belum lagi masalah sekolah itu sendiri, seharusnya setiap sekolah menanamkan kompetensi atau ketrampilan-ketrampilan khusus bagi anak didiknya. Jadi, ketika tamat anak didiknya bisa langsung cari pekerjaan. Kalau anak-anak Sentani hanya sekolah-sekolah dan kuliah-kuliah dan kemudian tidak punya skill dan pemalas cari pekerjaan. Kenapa bisa demikian? Itu karena produk pendidikan itu sendiri. Kalau pendidikan kita menghasilkan lulusan yang langsung bekerja, maka bisa diprediksi masa depan mereka. Namun kenyataannya, pendidikan kita hanya menghasil lulusan-lulusan saja. Itu sama juga dengan membiarkan generasi Sentani ini untuk hancur dengan sendirinya.

Gereja harus semakin profesional dalam pelayanan kepada umat. Gereja harus mampu mengikuti perkembangan jaman. Sehingga dalam pelayanan-pelayanan rohani, umat bukan saja mengerti kebenaran dalam kita suci, tetapi bagaimana umat Tuhan mengetahui perkembangan dunia dan mampu menempatkan diri dengan baik. Apalah artinya bicara rohani terlalu tinggi-tinggi buat masyarakat, tetapi kenyataan dari dulu sampai sekarang orang Sentani semakin menjadi orang pinggiran. Gereja harus menjadi ujung tombak menyuarakan keadilan dan pemerataan, dan sebagainya. Gereja tidak boleh hidup dibawah tempurung gereja yang tidak mau tahu dengan perkembangan jaman dan tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh umat. Gereja juga jangan hanya mau digunakan sebagai kendaraan politik untuk kepentingan tertentu. Bagaimana perhatian dan pelayanan gereja terhadap generasi muda? Pengalaman dalam pelayanan menunjukkan, gereja kekurangan anak-anak muda sebagai penerus gereja. Pelayanan kepada pemuda dan remaja tidak ditangani secara khusus dan profesional. Jangan heran kalau banyak anak-anak muda meninggalkan gereja. Potensi anak-anak muda banyak, tetapi karena alasan tertentu bakat dan talenta tidak dimanfaatkan untuk menunjang pelayanan di gereja. Jika demikian, apakah gereja benar-benar peduli dengan generasi muda Sentani atau tidak sama sekali? Gereja juga mungkin telah berperan dalam membiarkan generasi Sentani untuk hancur dengan sendirinya.

Tokoh-tokoh adat, tidak memiliki kekuatan dalam memerintah kampungnya dengan baik. Karena ada kampung-kampung yang tidak bisa dipertahankan sehingga terpecah. Ondofolo menjadi dua, kepala suku menjadi banyak. Hubungan kekeluargaan dan kepentingan berperan. Sentani yang dulu aman, kini manusianya hidup dalam senyum dan tawa yang palsu. Tanah-tanah sebagai bukti kekuasaan dan jati diri mereka, kini telah terkikis semakin habis karena banyak yang dijual atas nama pembangunan dan kepentingan. Itu artinya, generasi Sentani dibuat oleh tokoh adat secara sadar atau tidak, untuk hancur dengan sendirinya. Mau dikemanakan generasi Sentani ini besok? Apakah masih ada program transmigrasi atau akan hidup dijalanan dan dikolong jembatan seperti orang-orang di kota besar lainnya. Mari kita bersama prihatin akan kondisi ini dan mencari solusinya dengan mulai membangun generasi emas Sentani.

Kita tidak tahu akan masa depan tetapi kita bisa siapkan masa depan mulai sekarang. Orang tua harus melaksanakan tugasbya dengan baik. Tugas orang tua, yakni melindungi anak-anak, memberi motivasi dan nasehat-nasehat terbaik, membiayai mereka untuk sekolah, mendukung mereka meraih masa depan mereka. Karena kita hidup di dunia kita dinilai dari apa yang kita lakukan. Jangan biarkan generasi Sentani hancur dengan sendirinya. Mari berjuanglah siapkan masa depan generasi muda Sentani. kenapa kita perlu jaga air, karena buat masa depan. Demikian juga kita perlu jaga generasi Sentani buat masa depan mereka yang lebih baik.

 Robeknya Integritas

Bukan hal yang sederhana bagi generasi muda, manakala lingkungan sosial, sumber informasi, tabiat manusia, pola relasi antarmanusia, fenomena kepemimpinan, budaya instan, dll, berisi dengan narasi kefasikan. Realisasi sosial semacam ini menambah kerumitan bagi generasi muda masa kini, mencari keteladanan. Robeknya integritas di segala lini dan strata kehidupan membuat pencarian generasi muda akan makna dan panggilan hidup terasa amat rabun, maya, dan subtil. Padahal, pokok ini, integritas dan karakter sangat diperlukan tengah fasiknya relasi sosial antar anak bangsa.

Di sinilah letak krusial bagaimana pendidikan, gereja, pemerintah dan adat dan para stakehorders, mendidik generasi  muda dengan nilai-nilai karakter dan integritas yang mumpuni. Dengan kolaborasi sumber dayanya, semua pihak menyiapkan generasi muda sebagai generasi emas, dengan aneka kapasitas diri melalui pelatihan, manajemen kepemimpinan, pendidikan yang memadai dan relevan dengan kontes budaya dan perubahan jaman. Menjadi generasi muda yang memiliki mental spiritual yang baik.

Apakah hati generasi tua dan generasi muda Sentani seperti batu yang sulit dipecahkan. Hati generasi Sentani sudah tawar dengan pengajaran yang sehat. Banyak orang lebih suka menjaring angin, menebar mimpi kosong di bawah matahari. Orang tidak mau mencatat hidupnya dalam kitab keabadian. Artinya, jika itu dipilih, ada harga yang harus dibayar. Mental instan yang melekat di generasi tua dan generasi muda Sentani, membuat semua berbau abadi, long proses, diterabas dengan mental instan. Mimpi generasi emas Sentani benar-benar di tubir kegalauan (William, 2011).

 Tradisi Itu Menakutkan

Kisah ini adalah goresan seorang anak Sentani yang sudah lama merantau di Banten ketika datang berlibur di Sentani. Demikian kisahnya : Suatu ketika aku baru 2 (dua) hari di Sentani, ah… pikirku mejeng dulu di depan toko Angkasa (sekarang bank Mandiri)…ingat masa lalu suka mejeng dan dengar lagu di situ. Lagi santai sambil makan pinang wow…nikmatnya! tapi beberapa saat kemudian aku didatangi bebrapa anak-anak tanggung….dengan kasar mereka pepetin aku dan mau merampas dompetku… dengan kasar mereka menarik tanganku…aku lawan dan aku bilang ” dik kita sama-sama orang Sentani. Aku tinggal di Flavouw… mereka nggak percaya yang satunya mau menampar aku… mereka mau malak aku…, dan aku benar-benar marah. Untung sekali ada orang yang mengenal aku lewat di situ, luputlah aku…

Begitulah respon awal dari orang teller karena minum minuman keras (beralkohol), nggak kenal mana saudara, mana teman… semuanya mau di palakin… lupa nilai-nilai kemanusiaan…hah..hah dasar pemabuk…!

Miras… benar-benar menghancurkan keakraban dan kekerabatan kita…Saudaraku Olaf Yoku meninggal kecelakaan karena mabuk.. mungkin masih banyak yang lain…, kematian itu sungguh sesuatu yang sia-sia. Yole fafa (anak-anak Kampung) gugur hanya karena MIRAS…, mungkin banyak lagi yang penyakitan. Mungkin juga banyak yang jadi pikun, dan juga ada yang jadi lemah daya ingatnya… atau juga lemah daya pikirnya….. wah banyak korban kalau mau di inventaris…
kita diam…? Ironis banget. Sampai kapan kita diam…? Apa sampai taruna-taruna Sentani (Phuyakha) habis di bantai MIRAS…..?
Lakukanlah sesuatu sebelum semua menjadi terlambat… Apalah artinya jika nasi sudah jadi bubur….?

Carol Ann Paul, seorang peneliti dari Wellesley College, Massachusetts, Amerika Serikat dan timnya mengungkap bahwa alkohol bisa menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan otak. bisa menyebabkan kelumpuhan yang permanen.

Volume otak manusia memang akan menyusut seiring dengan bertambahnya umur. Penyusutan itu kemudian mengakibatkan beberapa kelainan, misalnya demensia (kepikunan) serta gangguan kognitif yang lain (Oritz Yoku).

Kisah ini bukan saja memaluhkan, tetapi menjadi sebuah catatan penting untuk kita renungkan bersama. Akankah generasi muda Sentani akan berlaku demikian di atas tanahnya atau mereka tampil menjadi generasi yang mandiri di atas tanah asalnya, Sentani.

Apakah Orang Sentani Hanya Begini Saja?

Kata-kata ini hanya sebagian kutipan sebuah lagu rohani yang diubah-ubah sedikit, yakni : Begitu besar kasih Allah pada orang Sentani, diberkati anak cucu orang Sentani dimana-mana. Dia mengubah orang Sentani yang miskin dan menjadikan orang Sentani kaya. Dia merendahkan orang Sentani dan Dia juga sanggup meninggikan orang Sentani. Berbahagialah bagi orang Sentani yang percaya kepada sang penciptanya yakni, Allah. Namun untuk mewujudkan lagu ini bukan hanya sekedar dinyanyikan. Marilah Anda mengambil cermin, melihat perjalanan kehidupan, kebudayaan, dan kemajuan orang Sentani saat ini, seperti apakah orang Sentani saat ini? Bagaimana pemandangan di dalam cermin itu, apakah hanya orang Sentani saja atau ada orang lain yang bukan orang Sentani? Bagaimana orang Sentani di tengah jaman ini di atas tanah asal? Bagaimana nasib anak-anak Sentani saat ini? Bagaimana nasib dan masa depan anak-cucu orang Sentani kemudian? Bukalah mata Anda, gunakan pikiran Anda untuk berpikir dengan jernih, mari bertanya mau kemana generasi orang Sentani selanjutnya? Apakah orang Sentani hanya hidup begini-begini saja, hingga menjadi orang pinggiran di Danau Sentani atau Anda harus berbuat sesuatu untuk masa depan anak-cucu orang Sentani!

Lihatlah, di tengah lajunya perkembangan jaman banyak orang makin menggandrungi materialisme, citra diri, dan mental instan, budaya siku menyiku, pikir kuasa, pikir pintar, pikiran pendek, pikir diri, pikir suku, pikir marga. Padahal di dunia kerja dibutuhkan terobosan-terobosan. Manusia Sentani tidak bisa hidup seperti itu. Jika hal ini dibiarkan, maka orang Sentani akan tenggelam di Danau Sentani dan hanya akan tinggal cerita penyesalan. Generasi Sentani masa kini kemudian akan menyalahkan generasi sebelumnya. Sadarlah dan berpikir cepat, sebab kemajuan pesat sedang terjadi di Sentani. Orang Sentani sadar atau tidak, mereka tidak bisa menghindarkan diri dari kenyataan kemajuan itu. Wilayah Sentani sedang mengalami perubahan yang pesat dan cepat. Kemudian, bagaimana kesiapan orang Sentani terhadap perubahan itu? Bagaimana menyiapkan generasi Sentani menghadapi perubahan itu? Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi Sentani? Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh kaum intelektual dan cendikiawan orang Sentani untuk menyelamatkan generasi berikut mereka.

Salah satu dari sekian banyak terobosan adalah memposisikan diri sebagai bengkel memperbaiki visi dan kapasitas visi generasi emas. Kalau orang tua dan tokoh masyarakat, dan tokoh adat Sentani punya visi untuk menyelamatkan generasinya? Apa visinya? Sepertinya saya tidak pernah dengar? Itu berarti generasi Sentani sekarang ini adalah tanggungjawab Anda untuk berpikir bagaimana menyelamatkan generasi Sentani.

Buku ini hanyalah sebuah konsep untuk dipikirkan bersama. Bagaimana Anda dan saya, kita coba berpikir untuk membangun dan mempersiapkan suatu generasi Sentani yang saya sebut “Generasi Emas Sentani”. Generasi emas di sini yang dimaksud adalah sangat spesifik yakni generasi Sentani yang “energik, mandiri, multitalenta, aktif, dan spiritual . Bagaimana membangun budaya generasi emas? Bagaimana menciptakan generasi emas yang dapat membuat kemajuan? Bagaimana kita dapat mengubah kebudayaan dan mendorong kemajuan? Hanya melalui pendidikan kita dapat mengubah kebudayaan dan membuat kemajuan. Perlu diketahui bahwa pendidikan jauh lebih utama dibanding memenangi undian nasional. Sebab pendidikan akan membuka kemungkinan bagi setiap orang menuai sukses bagi diri mereka sendiri (Colin & Malcolm, 2001: 8).

Pendidikan akan mampu menciptakan generasi emas Sentani yang mampu menghadapi perubahan-perubahan jaman. Kecepatan dunia berubah menuntut dan mensyaratkan kemampuan belajar yang lebih cepat. Kompleksitas dunia yang terus meningkat juga menuntut kemampuan yang sesuai untuk menganalisis setiap situasi secara logis dan memecahkan masalah secara kreatif.

Pale yofa dalam status jejaring sosialnya menulis, sebagai berikut:

Ketika mendung tak juga usai

Hujan datang membasahi bumi

Ada pelangi yang menanti

Memberi asa di hati

Pengharapan semenjak masa mudaku

Di tangan-Mu masa depan dan cita-citaku

Ku taruh dalam tangan-Mu

Bukan karena yang aku lihat

Tapi apa yang aku percaya

Masa depan yang gemilang

Tetap menanti dalam janji-Mu

Cukuplah ya Tuhan kasih karunia-Mu

Di saat aku lemah di situ aku kuat

Karena kasih karunia-Mu

(sumber : status fb Pale Yofa, 3 Juli 2014)

Seorang sahabat anak Sentani, kemudian bertutur:

Terbangun dalam deru waktu,

ketika tiap nafas berpacu dalam lintasan hidup,

berlari mencakar masa untuk mimpi yang menuntut kenyataan,

seperti gambar dalam bingkai fana,

dengan sapuan yang terbatas.

Warna indah tertutup kelabu,

polos tertutup kemerahan,

kemudian biru datang membawa kesejukan,

lalu hijau datang membawa harapan,

lalu tertutup lagi dan lagi,

hingga paduan yang tidak kita pahami,

yang membawa senyum dibibir atau gelisah di dada.

Hingga kesadaran menampar kita.

Hidup tak bisa kita warnai sendiri. (Dicky Takandare).

Bicara mengenai usaha membangun generasi emas Sentani berarti hal utama atau hal terpenting yang harus dilakukan oleh pemerintah dan stakeholders yang ada, yakni upaya untuk mengedepankan pendidikan budi pekerti kepada generasi muda yang ada, karena jatuh bangunnya pembangunan sangat bergantung kepada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada di Sentani.

Sadarlah Sebelum Semuanya Terlambat

Sebelum semuanya terlambat, mari kita desain sebuah konsep tentang membangun generasi emas Sentani. kita tidak bisa menyangkal bahwa warna orang sentani seperti tidak kelihatan di kotanya. Sebab, di kota semua sektor bisnis atau usaha, baik dari kaki lima hingga usaha pertokoan berskala mall dan perhotelan dikuasa oleh orang lain.

Jalur-jalur strategis di kota Sentani sudah terjual untuk pengembangan jalan dan rumah toko (tokoh). Siapa yang punya tanah, siapa yang punya toko. Uang hasil penjualan tanah menguap begitu saja, tidak berubah jadi rumah toko atau usaha apapun. Ada kisah MOB yang sangat popular yakni “latihan lain main lain”.  Sederhana dan lucu tetapi dalam konteks ini akan menjadi ironis dan menyayat hati dengan rasa malu dan penyesalan. Bukan sebuah rahasia lagi, ketika tanah terjual uangnya selalu dipakai untuk foya-foya. Apakah karena uang tanah adalah jenis uang yang bersayap sehingga muda terbang. Konsep latihan lain main lain adalah ketika tanah mau dijual dan hendak dibayarkan ganti ruginya, bagi pihak penerima mereka sudah menyusun rencana yang tinggi, tetapi apa jadinya kemudian, rencana tinggal rencana. Latihan lain main lain.

Daerah kota akan sulit tertolong karena pengembangan “rukonisasi” terus deras mengalir ke berbagai sudut wilayah yang berpotensi dalam pengembangan kota dan infrastruktur. Klaim-mengklain lahan tanah diantara Ondofolo, kepala suku dan pemilik pribadi. Para-para adat, kantor polisi dan ruang pengadilan menjadi tempat penyelesaian persoalan-persoalan tanah adat.

Banyak anak-anak muda tamat sekolah SD, SMP, SMA atau yang sederajat, pulang kampung dan menjadi orang kampung yang datang ke kota. Hasil pendidikan tidak mengubah cara berpikir anak-anak Sentani untuk maju. Apalagi orang tua yang tidak memiliki beban dan filosofi tinggi tentang “anak-anak mereka yang harus menjadi sukses dan tidak boleh sama lagi dengan orang tuanya”. Anak-anak pulang kampung dan kawin tanpa menikah. Ketidakmampuan orang tua jadi alasan bagi anak-anak Sentani untuk tidak mau menggantungkan cita-citanya setinggi langit.

Perhatikan saja, banyak anak-anak Sentani yang sudah mendayung mencari ikan, jualan dan terus berjuang untuk menjadi orang sukses. Banyak orang tua yang dulu pernah dayung dari berbagai sudut kampung ke Yoka untuk mengantar kebutuhan anak-anaknya yang sekolah di Yoka. Ada banyak orang tua yang pernah berjuang ke Genyem untuk menengok anak gadisnya yang sekolah disana. Tapi kini kenapa, orang tua tidak peduli dengan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Kita perlu mengorbankan satu generasi yang saya sebut “generasi pejuang” yang terus berjuang untuk “kemerdekaan”. Kemerdekaan siapa? Kemerdekaan Sentani: orangnya, airnya, danaunya, tanahnya, dusunnya, ikannya, sagunya dan sebagainya. Dengan usaha-usaha dari generasi pejuang, kira berharap tercipta generasi merdeka, generasi merdeka inilah yang akan menjadi sebuah produk generasi Sentani baru. Itulah yang saya beri judul buku ini Membangun Generasi Emas Sentani”. Pepatah ini masih sangat relevan dengan harapan ini, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Memang semua kita merasa berat, sulit untuk membangun generasi emas sentani. kebanyakan kita hidup dalam kesulitan-kesulitan.

Memang benar, kesulitan tidak memilih orang. karena itu kesulitan melanda semua orang. Kesulitan menyerang semua generasi. Walau pun demikian, kita tidak hidup dialam penjajahan maupun alam perbudakan dimana hak-hak hidup, hak-hak untuk berusaha, hak-hak untuk berhasil dikekang. Tidak, saudara. Kita sudah hidup bebas di alam yang indah dan damai ini. Tetapi perlu kita ketahui dan pahami bahwa untuk bisa berhasil kita harus berusaha mengubah situasi yang kita hidupi sekarang.  Ingatlah bahwa kesulitan-kesulitan hidup dimaksudkan agar kita lebih baik, bukan untuk membuat kita lebih pahit.

Belum terlambat bagi kita. Sebab perkembangan biakan manusia, khususnya orang asli Sentani terus mengalami pertambahan dan kampung-kampung mulai terasa padat. Hal ini ditandai dengan pergeseran, perluasan dan perintisan kampung–kampung baru. Berarti ada generasi Sentani baru yang terus lahir dan lahir. Mau kemana generasi ini? Apakah hanya akan menjadi seperti generasi sekarang atau kita mau mereka menjadi generasi yang jauh lebih baik dari generasi saat ini.

Nilai Sebuah Gengsi

Kisah ini terjadi saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Waktu itu, saya bersama teman-teman pergi suatu tempat. Namun karena tidak punya kendaraan, baik sepeda maupun sepeda motor, saya jadi bergantung pada teman yang mau memberi tumpangan.

Ada seorang teman yang menawarkan untuk menjemput dan mengantar pulang agar saya bisa ikut bersama teman-teman. Ketika kami mau pulang, saya diminta menunggu sebentar karena hendak mengantar satu teman lain lebih dulu. Sebagai orang yang menumpang, saya rasa tahu diri dan bersedia menunggu. Namun, setelah saya tunggu hingga larut malam, ia tidak datang. Akhirnya, saya pulang sendiri dengan kesal. Keesokkan harinya di sekolah, saya menanyakan penyebab ia tidak menjemput saya lagi. Teman saya menjawab dengan terkejut, ternyata dia lupa. Meskipun ia sudah minta maaf, saya masih merasa sangat kesal dan diremehkan. Karena biasanya orang yang dilupakan adalah orang yang dianggap remeh atau kurang berharga, kalau seorang dianggap penting, ia tidak mungkin dilupakan. (Paulus, 2013: 39-40)

Generasi Yang Hilang (The Lost Generation)

Apa yang akan terjadi ketika generasi muda Sentani gagal dalam studi entah pada tingkat menengah entah pada tingkat tinggi. Memang dapat dikatakan masyarakat kehilangan daya manusia yang dibutuhkan, karena yang diharapkan sebagai calon daya manusia gagal.

Pejabat anak-anak asli Sentani yang mulai lengser dari kursi DPRD, menjadi masyarakat biasa kembali.

Anak-anak muda di dunia persepakbolaan, dayung dan volly mulai hilang tanpa ada generasi penerusnya.

Banyak anak-anak muda gagal mendapat pekerjaan sebagai PNS, anggota TNI, Polri, kemanakah mereka selanjutnya?

Apalagi mempertahan gensi dan malu melakukan pekerjaan apa saja demi mendapatkan uang yang halal.

Seni dan budaya Sentani yang tidak lagi dikembangkan dan tidak ada regenerasi. Apakah seni budaya Sentani hanya akan tinggal sebagai sejarah klasik saja?

Sistem pembayaran harta mas kawin dan harta kepala yang kemudian diganti dengan mata uang rupiah maupun dolar bahkan mungkin dengan emas dan berlian. Bagaimana dengan eksistensi jati diri suku Sentani yang mulai samar-samar?

Beberapa pertanyaan dan peryataan di atas hanyalah sebuah refleksi terhadap apakah kita tegah membiarkan generasi Sentani hilang di atas tanahnya sendiri? Jelas kita tidak mau!

Mari bersama maupun secara pribadi, kita bangkit untuk berjuang membangun generasi emas Sentani, supaya jangan sampai generasi ini hilang.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA KOMPETENSI PENELITI

Posted in Penelitian on 20, 0, 05, 2015, PM, 11, 23, 05, Wed, 20 May 2015 23:52:05 +0000 by pilipus kopeuw

Oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd  – Dosen STAKPN Sentani Jayapura PAPUA

Mercure Hotel Ancol, Kamis 21 Mei 2015 – Jam 06:50 wib

Sesungguhnya terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kompetensi peneliti. Secara garis besar terdapat dua aspek yang berpengaruh, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal menunjuk  pada dimensi dalam kedirian seseorang. Termasuk dalam aspek ini adalah motivasi. Motivasi adalah suatu tenaga atau faktor yang terdapat dalam diri manusia, yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya. Menurut Nolker dan Schoenfeldt (1988), motivasi ini merupakan struktur dari berbagai motif yang timbul pada diri seseorang.

Dalam garis besarnya, Nolker dan Schoenfeldt menyebut ada tiga jenis motif yang sama sekali berlainan, yang menyebabkan manusia bertindak dalam situasi tertentu. Motif-motif itu adalah: (1) Kebutuhan jasmani (misalnya: lapar, rasa sakit, seksualitas, dll); (2) Kesenangan naluri untuk melakukan sesuatu serta keinginan tahu; dan (3) Bentuk-bentuk perilaku yang dipelajari dan berorientasi pada sasaran.

Dari ketiga jenis motif ini, dalam konteks penelitian, motif kebutuhan jasmani dapat diabaikan, sebab kompetensi meneliti tidak ada sangkut pautnya dengan mobilitas dorongan biologis serta hubungan lurus antara rangsangan reaksi (stimulus-response). Kesenangan naluri untuk melakukan sesuatu serta keinginan tahu merupakan motivasi intrinsik. Sedang motif yang terarah kepada pencapaian sasaran (misalnya: melakukan penelitian untuk menyelesaikan studi sarjana, magister maupun doktor atau untuk kenaikan pangkat), disebut motif-motif ekstrinsik (Handoko, 1997).

Tujuan motivasi ini adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu hingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu (Purwanto, 1995).

Dalam kaitannya dengan mahasiswa, masalahnya adalah sejauhmana motivasi yang demikian telah dimiliki. Dan dengan mengikuti teori need achievement, maka motivasi yang demikian dapat ditumbuhkan melalui pendidikan maupun pelatihan lainnya.

Selain motivasi, faktor pengetahuan juga merupakan faktor internal penting. Pengetahuan menunjuk kepada penguasaan mahasiswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan teori-teori penelitian itu sendiri. Pengetahuan juga menunjuk kepada penguasaan teoritik atas suatu masalah. Teori adalah sekumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang menghadirkan suatu tinjauan secara sistematis atas fenomena dengan menunjukkan secara spesifik hubungan-hubungan antara variabel-variabel yang terkait dalam fenomena, dengan tujuan memberikan eksplanasi dan prediksi atas fenomena tersebut (Kerlinger, 1973).

Sehubungan dengan variabel dalam penelitian ini, maka penelitian difokuskan kepada aspek mengenai penguasaan teori yang relevan, penguasaan metode penelitian (desain, sampling, pendekatan, pengumpulan data), penguasaan analisis data, penguasaan implementasi penelitian dan penguasaan dalam menyelesaikan laporan penelitian. Menurut Yeyet (t.th) unsur kompetensi yang dibutuhkan untuk kegiatan penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Penguasaan ilmu/teori dalam bidangnya
  2. Penguasaan metodologi penelitian
  3. Kemampuan bahasa internasional
  4. Kemampuan mencari, mengumpulkan dan mengelola informasi
  5. Kemampuan menyusun proposal penelitian
  6. Ketrampilan melaksanakan ketrampilan
  7. Kemampuan mengola data hasil penelitian
  8. Kemampuan menyusun laporan penelitian
  9. Kemampuan menyusun laporan penelitian dan publikasi
  10. Kemampuan membina kerja sama

Selain itu, ada kompetensi peneliti kuantitatif dan kualitatif yang juga perlu diketahui, seperti dijelaskan oleh Sugiyono (2008: 27-28) sebagai berikut:

Kompetensi peneliti kuantitatif, yaitu:

  1. Memiliki wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang yang akan diteliti,
  2. Mampu melakukan analisis masalah secara akurat, sehingga dapat ditemukan masalah penelitian yang betul-betul masalah,
  3. Mampu menggunakan teori dengan tepat sehingga dapat digunakan untuk memperjelas masalah yang diteliti, dan merumuskan hipotesis penelitian,
  4. Memahami berbagai jenis metode penelitian kuantitatif, seperti metode survey, eksperimen, ex-post facto, evaluasi dan sejenisnya,
  5. Memahami teknik-teknik sampling, seperti probability sampling dam nonprobability sampling, dan mampu menghitung dan memilih jumlah sampel yang representatif dengan sampling error tertentu,
  6. Mampu menyusun instrumen untuk mengukur berbagai variabel yang diteliti, mampu menguji validitas dan reliabilitas instrumen,
  7. Mampu mengumpulkan data dengan kuesioner, maupun dengan wawancara dan observasi,
  8. Bila mengumpulkan data dilakukan oleh tim, maka harus mampu mengorganisasikan tim peneliti dengan baik,
  9. Mampu menyajikan data, menganalisis data secara kuantitatif untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis penelitian yang telah dirumuskan,
  10. Mampu memberikan interpretasi terhadap data hasil penelitian maupun hasil pengujian hipotesis,
  11. Mampu membuat laporan secara sistematis, dan menyampaikan hasil penelitian ke pihak-pihak terkait,
  12. Mampu membuat abstraksi hasil penelitian dan membuat artikel untuk dimuat dalam jurnal ilmiah.

Kompetensi peneliti kualitatif

  1. Mewakili wawasan yang luas dan mendalam tentang bidang yang akan diteliti,
  2. Mampu menciptakan rapport kepada setiap orang yang ada pada konteks social yang akan diteliti. Menciptakan rapport berarti mampu membangun hubungan yang akrab dengan setiap orang yang ada pada konteks soail,
  3. Memiliki kepekaan untuk melihat setiap gejala yang ada pada objek penelitian (konteks sosial),
  4. Mampu menggali sumber data dengan observasi partisipan, dan wawancara mendalam secara triangulasi, serta sumber-sumber lain,
  5. Mampu menganalisis data kualitatif secara induktif berkesinambungan mulai dari analisis deskriptif, domain, komponensial, dan tema cultural atau budaya,
  6. Mampu menguji kredibilitas, dependabilitas, konfirmabilitas, dan transferabilitas hasil penelitian,
  7. Mampu menghasilkan temuan pengetahuan, hipotesis atau ilmu baru,
  8. Mampu membuat laporan secara sistematis, jelas, lengkap dan rinci.

Berdasarkan uraian tentang kompetensi penelitian dan kompetensi peneliti di atas dikaitkan dengan peran mahasiswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran; dari mengungkap kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan; dari pembelajaran sebagai aktifitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan mahasiswa lain. Kompetensi penelitian dan peneliti bagi mahasiswa secara garis besar dapat disimpulkan sebagai berikut:  (1) Kompetensi dalam menguasai teori yang relevan; (2) Kompetensi dalam menguasai metode penelitian: desain, sampling, pendekatan dan pengumpulan data; (3) Kompetensi dalam menguasai cara menganalisa data, dan menginterpresentasi data; (4) Kompetensi dalam menguasai implementasi penelitian, dan (5) Kompetensi dalam menyusun laporan penelitian. Selanjutnya masing-masing kompetensi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Kompetensi Dalam Menguasai Teori Yang Relevan.

Kerangka teori juga merupakan bagian penting dalam tahap ini. Kerangka teori inilah yang menentukan paradigma, model dan hipotesis penelitian. Suatu teori dapat diterima dengan dua kriteria: (a) kriteria ideal, dan (b) kriteria pragmatis. Kriteria ideal mengemukakan bahwa suatu teori akan dapat diakui apabila memenuhi persyaratan berikut:

  1. Sekumpulan ide yang dikemukakan mempunyai hubungan logis dan konsisten
  2. Sekumpulan ide-ide yang dikemukakan harus harus mencakup seluruh variabel yang diperlukan untuk menerangkan fenomena yang dihadapi.
  3. Kumpulan ide-ide tersebut mengandung proposisi-proposisi dimana ide yang satu dengan yang lain tidak tumpang tindih.
  4. Kumpulan ide-ide tersebut dapat dites secara empiris.

Sedangkan kriteria pragmatis mengemukakan bahwa ide-ide dikatakan teori kalau ide tersebut memiliki:

  1. Asumsi dan paradigma
  2. Frame of reference, yakni kerangka berpikir yang mengidentifikasi aspek-aspek yang akan diuji secara empiris.
  3. Konsep-konsep, yakni abstraksi atau simbol sebagai ujud suatu ide.
  4. Variabel, yakni penjabaran konsep yang mengandung dimensi.
  5. Proposisi, yakni hubungan antara konsep
  6. Hubungan yang sistematis dan bersifat kausal di antara konsep-konsep dan proposisi-proposisi tersebut.
  1. Kompetensi Dalam Menguasai Metode Penelitian

Setelah pemilihan dan analisis masalah, langkah berikutnya adalah penentuan metodologi penelitian. Tahap ini, sering disebut pula dengan “strategi pemecahan masalah”; karena pada tahap ini, mempersoalkan “bagaimana” masalah-masalah penelitian tersebut hendak dipecahkan atau ditemukan jawabannya (Faisal, 1995: 31).

Dalam tahap ini, langkah prosedural yang dapat digunakan untuk mencapai sasaran dan tujuan proyek penelitian akan dibahas secara rinci. Karenanya, pada tahap ini pertanyaan-pertanyaan pokok yang perlu dijawab adalah: (a) cara pendekatan apa yang akan dipakai?; (b) metode apa yang akan dipakai?; dan (c) strategi apa yang kiranya paling efektif? (Suryabrata, 2002: 15).

Pendekatan merupakan jenis atau format penelitian yang akan digunakan: apakah studi kasus, ataukah survei, ataukah eksperimen; juga apakah untuk tujuan deskripsi, ataukah untuk tujuan eksplanasi; dan apakah unit studinya individu , ataukah unit studinya kelompok.

Metode menunjuk kepada cara dalam memperoleh data: apakah wawancara, angket, ataukah studi dokumenter. Strategi yang dimaksudkan adalah strategi analisis data, yaitu menunjuk kepada bagaimana data (yang hendak dikumpulkan) akan diolah, dianalisis, dan diinterpretasikan untuk menjawab masing-masing masalah dan hipotesis.

Di samping itu pembahasan tersebut juga harus memperhatikan kesesuaian antara tujuan, metode, dan sumber daya yang tersedia. Prosedur penelitian yang baku mungkin perlu disesuaikan untuk maksud-maksud khusus proyek. Peneliti perlu lebih banyak memberikan informasi khusus mengenai jenis-jenis pertanyaan sebagai berikut: unit-unit apa saja yang akan dikaji? Sifat apa dari unit tersebut  yang menarik minat? Jenis desain umum apa (studi kasus, studi observasi partisipan studi wawancara, eksperimen, dsb) yang diajukan? Apabila akibat-akibat perubahan dari satu atau lebih sifat sedang diselidiki, bagaimana alternatif yang mungkin diberikan untuk perubahan yang diamati tersebut akan ditangani?

Peneliti juga berkepentingan untuk merumuskan metode penarikan sampel yang akan digunakan, instrumen khusus apa (tes, skala, indeks) yang akan digunakan, bagaimana orang-orang yang akan mengumpulkan data akan dilatih, dan sebagainya. Pertanyaan penting lainnya, antara lain, prosedur apa yang akan digunakan dalam penyiapan data untuk analisis dan teknik analisis apa yang akan digunakan.

Hasil tahap pertama (pemilihan dan analisis masalah) dan hasil tahap kedua (penentuan metodologi penelitian), lazimnya dituangkan dalam desain atau rancangan penelitian; semacam “cetak biru” (blue print) suatu penelitian yang akan dilaksanakan.

Pada tahap pengumpulan data penelitian ini, data dikumpulkan sesuai dengan sumber, metode, dan instrumen pengumpulan data yang telah dinyatakan dalam tahap kedua. Dengan demikian, mengadakan wawancara (jika metode yang dipakai wawancara); atau mengobservasi suatu keadaan, suasana, peristiwa dan/atau tingkah laku (menggunakan metode observasi); atau menghimpun, memeriksa mencatat dokumen-dokumen yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan metode dokumen); atau menyebarkan dan menghimpun kembali angket yang disebarkan ke responden-responden yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan metode angket); atau menguji para pemberi perlakuan yang menjadi sumber data penelitian (menggunakan bahan tes); atau memberi perlakuan tertentu dan memeriksa/mengobservasi efek dari perlakuan tersebut.

  1. Kompetensi Dalam Menguasai Analisis Data

Setelah data dikumpulkan, selanjutnya perlu diikuti kegiatan pengolahan data. Pengolahan data mencakup kegiatan mengedit data dan mengkode data (Faisal, 1995: 51-52). mengedit data ialah kegiatan memeriksa data yang terkumpul; apakah sudah terisi secara sempurna atau tidak; yang belum lengkap atau belum benar cara pengisiannya, dapat disisihkan (tidak ikut dianalisis) atau menyempurnakannya dengan jalan melakukan pengumpulan data ulangan ke sumber-sumber data bersangkutan; apakah sudah jelas tulisannya untuk dibaca; apakah semua catatan dapat dipahami; apakah semua data sudah cukup konsisten; apakah data cukup seragan; apakah ada respons yang tidak sesuai.

Mengkode data berarti memberikan kode-kode tertentu kepada masing-masing kategori atau nilai dari setiap variabel yang dikumpulkan datanya. Malo dan Trisnoningtias (t.th) memberikan beberapa langkah yang harus dilakukan dalam mengkode data, dalam hal ini jika penelitian menggunakan instrumen kuesioner, yaitu: membaca jawaban dalam kuesioner secara cermat; memperhatikan jawaban yang diberikan responden; melihat pedoman buku kode sehubungan dengan jawaban yang diberikan; apabila pernyataan terbuka, pengkode perlu menafsirkan dulu jawaban responden untuk menentukan kode yang tepat; bila pengkodean mengalami kesulitan dalam menentukan kode yang tepat, tulis atau catat dulu dalam lembar tersendiri untuk kemudian menanyakan kepada supervisi atau pengawas. Jadi, apabila ditemukan jawaban itu lagi, untuk menghindari kesulitan dalam menentukan jawaban termasuk kode yang sama, pengkode perlu menulis dulu jawaban tersebut untuk kemudian dikategorikan jawaban lain-lain.

Setelah mengolah data, berikutnya adalah menganalisis dan menginterpretasikan data. Analisis data menunjuk kepada kegiatan mengorganisasi data dalam susunan-susunan tertentu di dalam rangka pengisterpretasian data; ditabulasi, sesuai dengan susunan sajian data yang dibutuhkan untuk menjawab masing-masing masalah dan/atau hipotesis penelitian; juga melakukan perhitungan-perhitungan tertentu sesuai dengan jenis pengolahan statistika yang digunakan di masing-masing masalah dan/atau hipotesis penelitian; dan akhirnya diinterpretasikan atau disimpulkan, baik untuk masing-masing masalah atau hipotesis penelitian maupun untuk keseluruhan masalah yang diteliti. Klasifikasi dalam analisis data antara lain: tabulasi data, penyimpulan data, analisis data untuk tujuan testing hipotesis analisis data untuk tujuan penarikan kesimpulan.

 

  1. Kompetensi Dalam Menguasai Implementasi Penelitian

Implementasi penelitian menunjuk kepada bagaimana mahasiswa sebagai peneliti dapat menguasai carpelaksanaan penelitian. Penelitian yang sistematis didasarkan pada metoda atau teknik penelitian. Implikasinya adalah setiap peneliti sebaiknya telah menjalani pelatihan ilmu sosial dan metodologi penelitian. Sepintas kilas, seseorang yang belum atau kurang mengenal metodologi penelitian sangat mungkin akan berpendapat bahwa diskusi profesional mengenai penelitian sulit dipahami. Salah satu yang paling penting dari pendidikan para ahli penelitian adalah penguasaan kecakapan-kecakapan yang diperlukan untuk melakukan penyelidikan ilmiah. Penelitian ilmiah melibatkan lebih dari sekedar pengembangan kecakapan-kecakapan teknis, yakni menggunakan prosedur-prosedur di dalam suatu konteks yang memungkinkan peneliti memilih strategi penelitian yang layak.

Menurut Suharsimi (2002: 20) terdapat 11 langkah penelitian, sebagai berikut:

  1. Memilih masalah
  2. Studi pendahuluan
  3. Merumuskan masalah
  4. Merumuskan anggapan dasar (Merumuskan hipotesis)
  5. Memilih pendekatan
  6. Menentukan variabel dan sumber data
  7. Menentukan dan menyusun instrumen
  8. Mengumpulkan data
  9. Analisa data
  10. Menarik kesimpulan
  11. Menulis laporan

Berdasarkan langkah-langkah penelitian diatas, langkah-langkah penelitian dibagi lagi ke dalam tiga kelompok kegiatan administratif. Pertama adalah langkah ke-1 sampai dengan ke-6 mengisi kegiatan pembuatan rancangan penelitian. Kedua adalah langkah ke-7 sampai dengan ke-10 merupakan pelaksanaan penelitian, dan ketiga adalah langkah terakhir sama dengan pembuatan laporan penelitian.

Berdasarkan penjelasan diatas tersebut berarti langkah menentukan variabel dan sumber data; menentukan dan menyusun instrumen; mengumpulkan data; analisa data dan menarik kesimpulan adalah empat langkah yang termasuk dalam kegiatan implementasi penelitian. Itu berarti salah satu kompetensi penelitian mahasiswa adalah penguasaan dalam pelaksanaan penelitian ini.

  1. Kompetensi Dalam Penyusunan Laporan Penelitian

Tahap terakhir adalah penyusunan laporan penelitian. Kegiatan penelitian menuntut agar hasilnya disusun, ditulis dalam bentuk laporan penelitian agar hasilnya diketahui orang lain, serta prosedurnya pun diketahui orang lain pula sehingga dapat mengecek kebenaran pekerjaan penelitian tersebut. Dalam tahap ini, prosedur, hasil dan simpulan penelitian disusun sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang berminat terhadap permasalahan penelitian. Untuk itu diperlukan suatu penyajian yang jelas dan ringkas tentang langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian itu. Dengan kata lain, penyusunan harus memperhatikan aspek komunikatif dari laporan tersebut, sehingga memungkinkan untuk mengkaji atau mengevaluasi kembali keseluruhan kegiatan pelaksanaan penelitian yang sekaligus amat menentukan tercapainya pemecahan masalah secara lebih benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Suryabrata, 1995). Dengan begitu, syarat keterbukaan ilmu pengetahuan dalam penelitian dapat dipenuhi.

Sehubungan dengan penyusunannya itu sendiri, bahwa langkah-langkah yang lain (selain penyusunan hasil penelitian) peneliti dapat meminta bantuan kepada pembantu-pembantu peneliti. Tetapi dalam memenuhi laporan, hal yang demikian tidak dapat dilakukan dan dengan demikian mensyaratkan keterlibatan penuh dari peneliti sendiri. Karena laporan penelitian dalam bentuk penulisan karya ilmiah merupakan kunci penting dari keseluruhan kegiatan penelitian. Dari sinilah kegiatan penelitian dapat dievaluasi atau dikaji dan diketahui secara pasti apakah penelitian tersebut telah berhasil dengan baik atau masih terdapat kelemahan-kelemahan di dalamnya.

Format laporan penelitian merupakan sistematika penulisan karya ilmiah yang terdiri dari: Bahan pendahuluan (halaman judul, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar); Bab I perdahuluan, Bab II Landasan teori, Bab III Metodologi penelitian, Bab IV Hasil dan pembahasan penelitian dan Bab V Kesimpulan dan Saran.

  1. Mata Kuliah Pembentukan Kompetensi

 

  1. Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Berdasarkan kurikulum tahun 1997 dan 2007 Mata Kuliah Metodologi Penelitian di Jurusan Pendidikan Agama Kristen dan Jurusan Teologi dengan bobot masing-masing 2 sks.

Mata kuliah Metodologi Penelitian bersifat teori untuk memberikan pemahaman tentang konsep Metodologi Penelitian secara umum. Dalam kurikulum 1997 (Ditjed Bimas Kristen, 1997: 39) mata kuliah metodologi penelitian memiliki tujuan umum pembelajaran yaitu mahasiswa memiliki kemampuan menyusun rancangan dan melakukan penelitian sesuai prinsip-prinsip ilmiah dengan metode kuantitatif atau kualitatif dalam bidang teologi maupun sosial lainnya yang terkait dengan bidang teologi untuk penulisan karya ilmiah (skripsi atau makalah). Sedangkan tujuan khusus pembelajarannya adalah agar mahasiswa dapat:

  1. Menjelaskan hakekat suatu penelitian ilmiah
  2. Menyebutkan prinsip-prinsip yang berlaku dalam penelitian ilmiah
  3. Memberikan gambaran secara rinci metode-metode dalam penelitian kuantitatif
  4. Menjelaskan prinsip-prinsip dan langkah-langkah penelitian kualitatif
  5. Menggambarkan perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif
  6. Menjelaskan langkah-langkah pokok penelitian kuantitatif
  7. Memberikan contoh teknik analisis dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif
  8. Membuat rancangan penelitian untuk penulisan skripsi
  9. Menjelaskan teknik-teknik penulisan karya ilmiah.

Untuk mencapai tujuan khusus pembelajaran mata kuliah metodologi penelitian maka mahasiswa harus diajarkan materi-materi yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pokok-pokok materi dalam perkuliahan metodologi penelitian tersebut, sebagai berikut:

  1. Hakikat dan tujuan metodologi penelitian ilmiah
  2. Prinsip-prinsip penelitian ilmiah
  3. Metode-metode penelitian kuantitatif
  4. Langkah-langkah penelitian kualitatif
  5. Perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif
  6. Langkah-langkah menyusun rancangan penelitian (merumuskan masalah, pembatasan masalah, tujuan, penyusunan kerangka teoretis, kerangka konsep, operasionalisasi konsep, hipotesis, teknik sampling, teknik pengumpulan data, pengolahan data, penafsiran data)
  7. Menganalisis data untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif
  8. Mengkaji pedoman penulisan karya ilmiah

Dengan mengikuti perkuliahan Metodologi Penelitian memberikan bekal kepada mahasiswa untuk melaksanakan penelitian dengan mengikuti kaidah dan prosedur penelitian dengan secara benar. Dalam kurikulum 2007, Metodologi penelitian termasuk mata kuliah keilmuan dan ketrampilan (MKK). Dalam kurikulum mata kuliah metodologi penelitian yang ada hanya pada program studi PAK, sedangkan pada program studi teologi tidak ada. Untuk program studi Musik Gereja ada kurikulum metodologi penelitian tetapi mengadopsi dari kurikulum 1997 jurusan teologi/kependetaan.

Kompetensi mata kuliah keilmuan dan ketrampilan (MKK) dari mata kuliah metodologi penelitian  untuk program studi PAK adalah (a) penguasaan ilmu kependidikan dan teologi secara mendasar; (b) ketrampilan berteologi secara kreatif dan mampu melakukan penelitian.  Standar kompetensi mata kuliah metodologi penelitian adalah “mahasiswa mampu menerapkan prinsip-prinsip penelitian dalam bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK). Substansi kajian dalam mata kuliah metodologi penelitian di PTTAK ini dalam kurikulum 2007 adalah (a) Berbagai metode penelitian ilmiah, (b) Desain penelitian, (c) Analisis data hasil penelitian, (d) Laporan penelitian.

Proses pembelajaran dalam mata kuliah ini adalah dengan inkuiri, curah pendapat, diskusi, peta konsep, pertanyaan efektif menggunakan sumber daya cetakan, membandingkan dan mensintesiskan informasi, mengamati aktif, peta akibat, keuntungan dan kerugian, pemainan peran. Sedangkan rancangan evaluasi proses pembelajarannya adalah secara tertulis, unjuk kerja, tes penampilan (performance), portofolio, penilaian diri dan penilaian sikap (Depag RI Ditjen Bimas Kristen, 2007: 32)

Kompetensi mata kuliah keilmuan dan ketrampilan (MKK) dari mata kuliah metodologi penelitian  untuk program studi Musik Gereja adalah mahasiswa memiliki kemampuan menyusun rancangan penelitian musikal sesuai dengan prinsip ilmiah dengan metode kualitatif, sehingga mampu menghasilkan karya ilmiah (Depag Ditjen Bimas Kristen, 2007: 40-41). Substansi kajian teori mata kuliah metodologi penelitian program studi musik gereja adalah:

  1. Membahas hakikat dan tujuan penelitian ilmiah
  2. Prinsip-prinsip penelitian ilmiah
  3. Metode penelitian kualitatif
  4. Langkah-langkah penelitian kuantitatif, langkah-langkah penelitian kualitatif
  5. Langkah-langkah menyusun proposal penelitian, analisis data penelitian kuantitatif dan kualitatif
  6. Mengkaji pedoman penulisan karya ilmiah

Dari uraian-uraian di atas mengenai isi kurikulum metodologi penelitian baik kurikulum 1997 maupun 2007, isi materi pokok atau substansi kajiannya sama termasuk sumber-sumber buku atau kepustakaan yang digunakan dan tidak ada perbedaan signifikan mengenai isi pokok materi yang dibahas untuk tiap program studi (PAK, Teologi dan Musik Gereja).

  1. Mata Kuliah Statistika

Mata kuliah statistika merupakan mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Kristen, Jurusan Teologi dan Jurusan Musik Gereja di PTTAK. Mata kuliah statistika ini meliputi mata kuliah statistika dasar dengan bobot 2 sks. Mata kuliah statistika dasar memberikan pemahaman tentang konsep statistika deskriptif dan aplikasinya dalam penelitian. Sedangkan mata kuliah statistika lanjut memberikan konsep statistika inferensial dan aplikasinya dalam penilaian hasil belajar dan penelitian pendidikan.

Dalam kurikulum 2007 program studi teologi kependetaan (Ditjen Bimas Kristen, 2007: 44) tentang mata kuliah pengantar statistika dengan bobot 2 sks untuk program studi teologi kependetaan dengan standar kompetensinya sebagai berikut: “Mahasiswa mampu mengidentifikasikan pengertian, peranan, manfaat, tujuan statistika dan dapat membaca laporan statistika untuk memperoleh manfaatnya”. Untuk mencapai kompetensi tersebut maka disusunlah substansi kajian teorinya sebagai berikut:

  1. Pengertian peranan, manfaat dan tujuan statistika
  2. Data statistika
  3. Populasi dan sampel
  4. Pengumpulan data
  5. Pengolahan data
  6. Penyajian data
  7. Distribusi frekwensi dan grafik
  8. Simpangan, Dispersi dan Variasi
  9. Distribusi sampling
  10. Pengujian dan validitas (Ditjen Bimas Kristen, 2007: 14)

Dengan adanya mata kuliah statistika sangat membantu mahasiswa dalam bidang penelitian sebagaimana dikemukakan oleh Agus Irianto (1988: 2) bahwa statistika adalah sekumpulan cara maupun aturan-aturan yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan (analisis), penarikan kesimpulan atas dasar data-data yang berbentuk angka dengan menggunakan suatu asumsi-asumsi tertentu.

Sedangkan Supranto (1986: 4) mendefinisikan statistika dalam dua arti yaitu:

  1. Dalam arti sempit, statistika berarti data ringkasan berbentuk angka (kuantitatif)
  2. Dalam arti luas, statistika berarti suatu ilmu yang mempelajari dara pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis data serta cara pengambilan kesimpulan secara umum berdasarkan hasil penelitian yang tidak menyeluruh.

Berdasarkan pada kedua pengertian diatas menunjukkan bahwa statistika berarti ringkasan berbentuk data angka, dan juga merupakan suatu ilmu yang mempelajari secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistika yaitu pengumpulan data angka, pengolahan data, pengambilan kesimpulan dan melakukan suatu prediksi secara ilmiah atas dasar data angka.

Selanjutnya Guilford yang dikutip oleh Koesno Probohandojo (1989: 2) mengemukakan bahwa statistika memberikan peranan penting dalam penelitian yaitu:

  1. Statistika memberikan gambaran yang paling eksak yang mengenai data penelitian.
  2. Statistika memaksa kita untuk berpikir secara pasti karena semua kesimpilan berdasarkan data kuantitatif.
  3. Statistika memungkinkan kita untuk membuat kesimpulan yang berarti menurut peraturan yang berlaku.
  4. Statistika memungkinkan kita untuk membuat ramalan tentang sesuatu yang akan terjadi berdasarkan data yang kita kumpulkan dan kita analisis.

Dari uraian tersebut di atas, menunjukkan bahwa statistika memiliki arti yang sangat penting bagi mahasiswa dalam membantu di bidang penelitian.

MIMPI MEMILIKI GENERASI EMAS SENTANI

Posted in Penelitian on 20, 0, 05, 2015, PM, 11, 23, 41, Wed, 20 May 2015 23:44:41 +0000 by pilipus kopeuw

Olen Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd – Mercure Hotel Ancol, Kamis 21 Mei 2015 – Jam 06:41 wib

Ketika melihat beberapa daftar nama tokoh-tokoh penting Papua khususnya dari kalangan anak-anak asli Sentani seperti:

  • Seorang tokoh agama bernama Albert Yocku sebagai Ketua Sinode GKI di Tanah Papua;
  • Seorang aktivis dan pejuang Papua bernama Theys Hiyo Eluay sebagai pemimpin Papua merdeka dan juga Ketua Presidium Dewan Papua;
  • Sebagai politisi dan negarawan tercatat dua nama saja yakni Barnabas Suebu, SH dan Drs. Jhon Ibo, MM
  • Sebagai olah ragawan yang tercatat hanya di dunia persepakbolaan saja yakni: Festus Yom, Rully Nere, Herman Pulalo, Alex Pulalo, Gerald Pangkali, Ronald Pangkali, David Lali, dan Yohan Ibo.

Belum ada orang-orang Sentani yang terkenal sebagai ahli dan akademisi; anak-anak yang berprestasi di tingkat nasional dan internasional (seperti: juara olimpiade matamatika dan fisika); juga belum ada orang Sentani yang menjadi selebritis, pengacara terkenal, , Jenderal, arsitek, dokter, pilot dan sebagainya.

Nama-nama yang  tertera di atas sebagian sudah purna tugas dan yang lain akan segera menyusul. Selain itu, terjadi kekosongan nama-nama marga Sentani menghiasi berbagai bidang kerja atau profesi hingga terkenal dalam skala atau ranah nasional. Oleh karena itu, penulisan buku ini merupakan bagian dari hasil perenungan yang kemudian diwujudkan dalam konsep berpikir sederhana yang kemudian disajikan secara khusus buat generasi penerus Sentani. Melalui deskripsi demi deskripsi, penulis mencoba membuka wawasan berpikir, memberi pencerahan, mengkritisi kondisi masyarakat Sentani, menunjukkan peluang, memberi gambaran kondisi aktual masyarakat Sentani masa lalu, masa kini, dan gambaran masa yang akan datang. Berangkat dari situasi itu, maka kita perlu membangun suatu generasi baru Sentani yang Enerjik, Multitalenta, Aktif dan Spiritual. Inilah sebuah konsep cita-cita dan impian untuk membangun dan memiliki generasi EMAS Sentani.

 Makna Pengaman Golden Gate

Pada permulaan pembangunan jembatan golden gate di San Fransisco, tidak ada alat pengaman yang dipasang sehingga 23 orang jatuh ke bawah mengalami kematian. Mengingat bahaya bertambahnya jumlah korban yang celaka akhirnya dipasang sebuah jaring yang sangat besar yang harganya kira-kira 100.000 dolar.

Setelah jaring dipasang setidak-tidaknya ada 10 orang jatuh ke dalam jaring dan mereka selamat. Suatu hal yang sangat menarik ialah adanya kenyataan bahwa hasil kerja mereka 25% lebih cepat ketika keamanan terjamin. Jelas bahwa bila kita mempunyai keyakinan tentang keselamatan kita pelayanan kita akan lebih efektif (Jakub, 1986: 20).

Golden Gate dalam tulisan ini adalah jembatan untuk mengantarkan pada pembangunan generasi emas Sentani. Jembatan menuju generasi emas sedang dibangun. Di mana-mana, gedung bertingkat yang sedang dibangun, selalu ada jaring-jaring pengaman, supaya para pekerja jangan ada yang jatuh. Artinya, jembatan golden gate untuk generasi Sentani yang kita bangun bersama-sama ini bisa terselesaikan atau tergapai nanti. Itu sebabnya, butuh banyak jaring pengaman. Kalau dalam pembangunan fisik jembatan golden gate butuh jaring besar, dalam pembangunan generasi emas Sentani juga kita butuh jaring. Apa jaring besar itu? Jaring besar itu adalah gambaran orang tua, pemerintah, tokoh adat, stakeholders yang bisa memberi pengamanan bagi generasi muda Sentani (Indonesia) melewati jembatan emas menuju ke masa depan yang cemerlang. Pola-pola pendidikan lama, pola-pola pikiran dan tindakan orang tua yang salah diperbaiki, agar generasi muda, anak bangsa dapat dibentuk untuk menjadi generasi penerus yang handal di segala bidang. Semua yang termasuk sebagai jaring pengaman tadi, harus melaksanakan fungsi, peran dan tanggungjawabnya dengan semaksimal mungkin, agar tujuan membangun dan membentuk generasi emas Sentani (Indonesia) dapat terwujud dan bukan sekedar isapan jempol belaka.

 Sentani adalah Pintu Gerbang Timur Untuk Perubahan

Sentani adalah pintu gerbang timur Papua dan juga Indonesia. Jalur penerbangan keluar dan masuk daerah Papua, hanya Sentani menjadi pintu utama.

Dalam versi Alkitab, konon ada kisah di Israel terdapat dua belas pintu gerbang dan sebelas pintu gerbang sudah terbuka. Dan ada satu pintu gerbang yang belum dibuka yaitu pintu gerbang timur. Di pintu timur itu ada tiga pintu gerbang. Pintu bagian timur itu dinamakan pintu gerbang emas atau Golden Gate. Pintu gerbang emas ini akan dibuka ketika akan datang kembali sang juru selamat. Itu sebabnya pintu gerbang emas itu masih tertutup hingga saat ini. Ketika pintu ini terbuka sang juru selamat sudah datang. Persoalannya adalah apakah umat ketebusannya di Israel atau di seluruh dunia sudah siap untuk dijemput masuk ke sorga atau belum siap? Konon menurut penafsiran dan perkembangan dari cerita tersebut, Papua masuk dalam bagian wilayah garis pintu timur tersebut.

Apa hubungan Sentani sebagai pintu gerbang timur dan Sentani adalah pintu gerbang emas? Masyarakat asli pemilik wilayah Sentani harus menyiapkan diri sebaik mungkin, dalam menghadapi dan menerima perubahan. Sentani sebagai pintu gerbang timur karena Bandar udara terbesar berskala Internasional adalah bandara Sentani. sebelum ke Jayapura, Sentani menjadi tempat untuk dilalui. Sadar atau tidak, rumah tokoh tumbuh kembang semakin banyak, hotel tumbuh semakin banyak, agen perjalanan semakin banyak, dunia usaha semakin berkembang pesat, tenaga kerja dibutuhkan semakin banyak. Akan ada banyak orang, banyak turis, banyak kebudayaan, banyak perkembangan teknologi akan masuk melalui Bandar Udara Sentani. apakah orang sentani dan generasi mudanya sudah menyiapkan diri untuk menjemput perubahan tersebut? Bagaimana orang sentani harus siap untuk perubahan itu. Siapa yang harus siapa dan siap dalam hal apa? Siap dalam segala hal. Dalam pembahasan buku ini, lebih fokus kepada kesiapan sumber daya manusia, dan kesiapan skill sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu. Agar supaya ketika perubahan dan persaingan terjadi dan melanda setiap generasi Sentani, mereka telah siap untuk turut terlibat dan menjadi pelaku perubahan di dalamnya.

Ingat, Sentani adalah pintu gerbang timur untuk perubahan di Papua. Jangan sampai SDM generasi Sentani dan masyarakat tidak siap, maka Anda akan bersedih karena ketidaksiapan diri Anda. Untuk itu, generasi muda Sentani harus sekolah dengan benar, dan mempersiapkan diri dengan baik melalui pendidikan formal dan non formal. Sebab bagi anak-anak muda Sentani untuk mendapatkan pekerjaan adalah hal yang sulit dan penuh kompetitif.

Contohnya saja untuk menjadi security (Satpam) di bandara Sentani saja tidak mudah. Ada banyak proses dan prosedur yang harus dilalui untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai security. Belum lagi harus bersedia mengikuti diklat berkaitan dengan tugas dan ketrampilan yang harus dipahami dan dikuasai. Untuk mendapatkan pekerjaan menjadi porter di bandara Sentani juga tidak gampang. Belum lagi bekerja sebagai portif butuh kelincahan untuk mendapatkan orderan jasa angkut dari kedatangan dan keberangkat. Ini kita masih berbicara tentang kerja kasar, belum membahas tentang pekerjaan yang butuh skill tinggi dan biaya-biaya lainnya.

Generasi muda Sentani sejak dini harus sudah menyadari tentang hal ini, bahwa Sentani merupakan pintu gerbang timur dan juga merupakan pintu gerbang perubahan demi perubahan. Dengan kesadaran tersebut dapat membantu generasi muda Sentani untuk dapat melihat peluang, sehingga dapat menyiapkan diri untuk menjadi pelaku dalam perubahan tersebut.

Kesedihan Yang Bermanfaat

Apakah kesedihan bermanfaat? Bagaimanakah kesedihan yang yang bermanfaat? Hidup ini untuk bahagia, tidak ada niat Tuhan yang lain kecuali memuliakan kita. Ingat itu! Bersedilah sebentar, tetapi segeralah lakukan yang baik dan penting untuk pendewasaan diri Anda. Bersedihlah sebentar dan lakukan yang terbaik untuk kenaikan pangkat Anda. Bersedihlah sebentar tapi segera lakukan yang terbaik untuk anda didengarkan bahkan oleh pemimpin Anda.

Bersedih itu wajar, semua orang akan mengalami. Yang menjadikan kita hebat adalah yang kita lakukan karena bersedih. Banyak orang kurang menilai dirinya karena masalah, ada orang yang hebat karena ada masalah. Choice, pilih yang mana? Apakah masalah itu menjadikan Anda lemah? Atau menjadikan Anda kuat bahkan pedang ‘katana’ Jepang untuk menjadi kuat, menerima pukulan bahkan ribuan kali pada saat dia dipanaskan. So, mengapa Anda, generasi muda Sentani mengharapkan kehidupan yang mudah? (Mario Teguh, 17/8/2014).

Jangan bersedih dengan situasi kondisi Anda saat ini. Bagian ini menegaskan tentang kesedihan yang bermanfaat. Mari Anda rubah cara berpikir, lalu mencoba untuk bangkit untuk menjadi generasi muda Sentani yang berhasil. Ada  banyak hal yang mungkin Anda merasa tidak berpihak kepada Anda, tetapi kesedihan itu bermanfaat.

Keberhasilan Adalah Tanggungjawab Pribadi

 Keberhasilan adalah tanggungjawab pribadi, bukan tanggungjawab sosial. Banyak orang belum menyadari apa itu sukses? Sukses adalah menjadi orang baik. Banyak orang kaya dari mencuri, dia berhasil mengumpulkan uang, tapi gagal jadi orang baik. Pangkatnya tinggi, kedudukannya besar, tapi palsu tidak jujur, dia gagal jadi orang baik.

Jadi, tugas kita itu jadi orang baik yang berilmu, orang baik yang berpangkat tinggi, orang baik bagi kebaikan sesama, memulai segala sesuatu dari jadi orang baik. Apa yang Anda butuhkan untuk menjadi orang baik? Apakah lingkungan? Menjadi orang baik karena dukungan lingkungan? Banyak orang menyalahkan lingkungan. Bukan dari mana Anda berasal, tapi kemana Anda menuju.

Kalau seorang ayah tidak mendukung anaknya untuk sukses, apakah anaknya bisa sukses? Kalau seorang Ayah tidak mendukung anaknya untuk sukses, bolehkah anaknya untuk sukses? Boleh, karena sukses itu hak. Hak untuk jadi baik, tidak ada seseorang pun yang bisa mencegah Tuhan untuk memuliakan seseorang. Tidak, bahkan masyarakat, tidak, bahkan siapa pun.

Setiap orang adalah pemeran dalam kehidupan ini, dan yang tinggi adalah yang memerankannya dengan baik. Berarti mari kita mainkan peran kita sebaik-baiknya. Waktu kita jadi anak buah, kita jadi anak buah yang atasannya tidak bisa jauh, I need you. Maka jadilah penasehat bagi diri sendiri. Sehingga Anda menjadi dua pengejawantaan dari dua peran yaitu pelindung dan penasehat (Mario Teguh, 17/8/2014). Walau pun kita menjadi anak, jadilah anak yang baik, yang mendapat perhatian orang tua, pemerintah dan masyarakat karena memang anda pantas mendapatkannya karena kebaikan, dan kepantasan yang melekat pada Anda.

 Kuatnya Sebongkah Harapan

Ada seorang pengusaha yang cukup berhasil. Ketika sang suami sakit, satu persatu pabrik mereka jual. Harta mereka terkuras untuk biaya pengobatan. Hingga mereka harus berpindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana. Sang suami pun telah tiada.

Beberapa tahun kemudian rumah makan pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil di sebelah pasar. Setalah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang istri dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota. Cucunya sudah beberapa. Orang pun masih mengenal masa lalunya yang berlimpah. Namun, ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli.

Ada pembeli yang bertanya, “Wahai Ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?”

Ibu itu menjawab, “Harapan, Nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Kerena harapanlah kita menanam pohon, meski kita tahu tak akan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia.

Harapan itu selalu ada, harapan yang membuat kita maju melangkah ke depan. Harapan yang membuat kita selalu memotivasi untuk bisa lebih baik dari hari kemarin. Maka selalu pupuklah mimpi, dan harapan beserta doa dan ikthiar, semoga apa yang kita impikan akan terwujud, meski ujian berkali datang menghadang (Deassy, 2014: 117-178).

Tinggalkan semua keluhan, milikilah harapan. Dengan memiliki harapan, lihat kisah di atas, sekalipun dalam masa kejayaan menjadi hancur karena persoalan yang tidak bisa dihindari. Namun karena adanya harapan, mereka tetap bertahan, untuk bisa berjalan naik lagi dan menjadi sukses.

Siapa bilang Sentani tidak bisa baik, siapa bilang orang Sentani tidak bisa maju, siapa bilang orang Sentani tidak bisa bangun generasi emas Sentani seperti yang dihimbau oleh Menteri Pendidikan Nasional pada tahun 2012 lalu? Semua orang Sentani pasti memiliki harapan agar suatu saat anak-anak mereka menjadi anak-anak yang berhasil. Sekarang mencari ikan, menokok sagu, dan berkebun, itu perjuangan demi perjuangan yang di dalamnya ada doa, harapan dan terus bekerja untuk mewujudkan harapan. Keringat yang menetes, ada tanda ada harapan untuk perubahan. Percayalah suatu saat harapan-harapan seluruh masyarakat Sentani, harapan orang tua kita, harapan generasi muda Sentani akan menjadi kenyataan.

Benih Tumbuh pada Tanah yang Tepat

Sebagai orang Kristen, Kitab Suci juga mengajarkan banyak hal tentang menghasilkan sesuatu. Kita akan berbuah apabila kita mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Manusia yang baik adalah berbuah.

Siapa yang ditanam, siapa yang menabur, siapakah tanah itu. Tanah itu adalah tempat dimana generasi muda Sentani hidup, yakni keluarga, marga, suku, kampung, pemerintah dan gereja. Kita ingin menanam benih dengan nama “benih generasi emas Sentani’. Konsep membangun generasi emas ini kita mau tanam dalam hati generasi muda Sentani. Apakah anak-anak muda Sentani mau jadi generasi emas Sentani atau tidak? Hal ini akan tergantung pada sejauhmana dan bagaimana buku ini bisa ditangkap maksud dan tujuannya.

Buku ini hanya sebuah konsep membangun generasi Emas Sentani. Manusia akan berkembang ketika pikirannya diisi dengan pengetahuan. Pengetahuan itu kemudian akan mengubah cara berpikirnya. Selanjutnya, dengan pemikiran yang baru mereka akan melangkah untuk melakukan apa yang bisa dilakukan untuk mewujudnyatakan apa yang dipikirkan. Itu sebabnnya, buku ini wajib dibaca oleh semua orang, terlebih khusus orang Sentani dan generasi mudanya. Ketika konsep membangun generasi emas Sentani, yang merupakan benih unggulan itu jatuh ke dalam pikiran orang-orang yang tepat, yakinlah proses untuk membangun generasi emas akan terwujud.

 Bermimpi Sentani Memiliki Generasi Emas

Ketergantungan kita kepada orang lain dan intervensi orang lain, akan sangat membelenggu kita dalam melakukan lompatan jauh ke depan guna perbaikan diri dan perbaikan generasi Sentani untuk menjadi “generasi emas” yang dimaksudkan dalam buku ini.

Walaupun semua manusia memiliki masalah, mereka butuh pertolongan untuk mengatasi masalah. Kalau motto dari kantor penggadaian adalah “mengatasi masalah tanpa masalah”. Kenyataannya toh, masalah tetap ada yakni, pengembalian pinjaman harus disetor, jika tidak maka barang-barang yang digadaikan itu dapat dilelang sesuai dengan batas waktu (time limit) yang ditentukan.

Memiliki mimpi membangun generasi emas Sentani tidak butuh biaya, tetapi untuk merealisasikan mimpi, butuh biaya dan kerja keras. Berapa besar biaya menggapai  mimpi itu, terletak pada berapa besar mimpi yang mau kita raih. Contoh dalam hidup saya, ayah saya adalah seorang guru agama SD dan ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi keluarga kami sangat susah. Apalagi untuk biaya sekolah. Kami ada lima bersaudara. Dulu, kami harus membantu ibu untuk jualan, adik saya harus membawa es lilin jualan di sekolahnya. Saya harus kondektur, menjadi pembantu di rumah orang, dan kerja bangunan. Kerja-kerja itu kami lakukan hanya untuk mendapatkan rupiah dan makanan. Kesulitan hidup ini menjadi pelajaran yang sangat berarti dalam membangun impian. Kemudian, dengan modal nekat saya harus berangkat ke tanah rantau (Solo-Jawa Tengah). Selesaikan pendidikan sarjana. Syukur tamat dan bisa lolos seleksi jadi PNS tahun 2000. Cita-cita baru muncul untuk melanjutkan kuliah program magister dan juga program Doktor bahkan ingin jadi Profesor. Pendidikan S2 prodi penelitian dan evaluasi Pendidikan saya selesai di Universitas Negeri Yogyakarta (2004-2008). Tamat paling terlambat dari semua rekan seangkatan. Padahal seharusnya selesai 2 tahun, ternyata saya selesaikan 3 tahun 10 bulan. Kemudian, Saya diminta oleh pimpinan STAKPN Sentani untuk langsung lanjutkan pendidikan S3 pada program studi yang sama yakni Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

Dalam perjuangan menyelesaikan disertasi, saya bermimpi “membangun Generasi Emas Sentani” saya tahu, mimpi ini tidak semudah membalikan telapan tangan. Sebab saya sendiri saja masih kuliah program doktor dan belum selesai bahkan terancam di droup out (DO). Kisah perjuangan saya untuk mewujudkan pribadi sebagai salah satu generasi emas Sentani butuh perjuangan yang berat dan ada harga yang harus dibayar untuk bisa menyelesaikan program doktor.

Saya terbatas dalam banyak hal, tetapi sebagai anak asli Sentani, saya sadar kita perlu “Membangun generasi EMAS Sentani”. saya telah memulainya melalui tulisan dan perjuangan saya secara pribadi untuk menamatkan program doktor segera. Di dalam buku ini juga saya akan menyajikan beberapa nama “generasi Emas Sentani” salah satunya adalah putra kami yang akan menjadi “pilot”.

Mimpi membangun generasi emas Sentani bukan isapan jempol belaka. Mari buka mata, mari bangun setiap pribadi, ubah cara berpikir, mari bangun impian, miliki cita-cita yang tinggi, ingat kalimat ini di dunia ini tidak ada yang pasti, itu berarti apa pun itu sangat mungkin bagi Anda dan saya. Oleh karena itu jangan takut, yakinlah “Anda Bisa, Anda Bisa, dan Anda Bisa”. Gantilah dengan kata “saya bisa, saya bisa dan saya bisa”. Ucapkan itu berulang-ulang dan dengarkan Sendiri suara Anda. Bangkitlah, dan berjuanglah. Semangat!

Ketika generasi Emas Sentani terwujud, ada sebuah kebahagiaan tersendiri, karena orang lain tidak lagi dapat memandang Anda rendah atau pun Anda hina, atas keberhasilan dan kesuksesan yang Anda capai. Jadi, kalau begitu tunggu apa lagi? Milikilah mimpi membangun generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia.

Masalah Membuat Orang Kreatif

Ketika tahun 2002-2008, para pengamen di Yogyakarta masih menggunakan alat musik ukulele dan gitar. Baik di lampu merah, di sepanjang jalan malioboro, maupun para pengamen yang keliling door to door. Hal yang menarik adalah para pengamen ini terus mengadakan inovasi diri dan semakin kreatif lagi. Para pengamen yang tadinya pakai ukulele dan gitar kita beralih dalam bentuk group dengan sajian musik yang lebih menarik, aktraktif dan profesional. Dulunya mendengarkan para pengamen, terasa membosankan. Sekarang justru jadi tontonan sejenak beberapa detik menunggu lampu hijau di pertigaan dan perempatan jalan. Kisah ini hanya ingin menegaskan bahwa masalah, tantangan dan kesulitan apa pun mampu membuat orang lebih kreatif.

Di wilayah Jakarta, walaupun sudah ada banyak orang tinggal di wilayah kumuh, tetapi mereka terus berjuang melakukan pekerjaan apa saja, agar menghasilkan uang secara halal. Kesulitan hidup membuat orang berpikir, apa yang bisa dikerjakan dan bisa menghasilkan uang. Para pemulung mengumpulkan sampah, botol plastik, narik becak, narik bajai, menjadi tukang parkir, menjadi tukang ojek, menjadi pemikul barang di pasar, semua pekerjaan menjadi pilihan hidup untuk dilakoni demi untuk mendapatkan sesuap nasi.

Kita tahu bahwa Sentani tidak seperti dulu lagi yang mayoritas masyarakat atau penghuninya adalah orang-orang asli Sentani. Bandar udara Internasional Sentani dan pelabuhan laut Port Numbay telah menjadi pintu masuknya berbagai perubahan, berbagai kebudayaan, dan berbagai suku-bangsa (etnis). Peluang mencari kerja menjadi sempit dan kompetitif. Wilayah-wilayah strategis untuk usaha penduduk asli, kini dikuasai oleh orang lain (non-Sentani/non-Papua).

Orang asli Sentani semakin terpinggirkan (termarginalkan) dari pusat kota Sentani. Lahan-lahan tanah di perkotaan terjual untuk pembangunan rukonisasi, dan perumahanisasi. Wilayah kota Sentani bukan lagi milik orang Sentani. Wilayah Kota Sentani telah berkembang begitu cepat dan menuju kota besar.

Ruko-ruko dan perumahan-perumahan menjadi milik orang lain, sedangkan pemandangan ironis terlihat orang Sentani berjejer dengan masyarakat Papua lainnya dengan berjualan di depan ruko dan pertigaan jalan. Kadang-kadang lahan jualan di depan ruko jadi pertengkaran dan masalah antar sesama warga Papua. Situasi menjadi terbalik siapa yang orang asli Sentani (Papua) dan siapa yang pendatang.

Keadaan hidup yang semakin sulit akan mengakibatkan orang Sentani (Papua) mulai berpikir dengan baik, merenungi nasibnya dan akan memulai mencari solusi untuk melakukan terobosan. Suatu saat ada pekerjaan-pekerjaan yang mungkin selama ini belum dilirik oleh orang Papua, nantinya akan dilirik. Masalah demi masalah yang timbul akibat kemajuan kota Sentani ini akan membuat orang Sentani (Papua) lebih kreatif. Apakah orang Sentani mau menunggu hidup semakin sulit baru mulai kreatif atau mulai sadar sekarang dan mencoba kreatif menciptakan lapangan pekerjaan sendiri?

Tidak ada uang, emas, berlian atau makanan yang jatuh dari langit seperti dulu Allah memberi makan kepada bangsa Israel ketika keluar dari perbudakan. Itu artinya, setiap orang harus bergerak secara kreatif untuk menghasilkan rupiah demi rupiah, mengumpulkan sedikit demi sedikit, akhirnya suatu waktu membuat hidupnya lebih baik dan sukses.

 Peran Generasi Muda Dalam Perubahan Bangsa

Pemuda memiliki energi dan potensial. Hanya disayangkan, kenapa energi yang ada itu menguap begitu saja dengan berbagai kegiatan yang kurang terarah. Sebab kegiatan pemuda hanya menonjol di bidang olahraga dan kesenian saja sebagai pemborosan tenaga.

Mempersoalkan generasi muda dan masa depan Sentani, suatu pembahasan tentang generasi muda atau angkatan muda masa kini bagi sosok masyarakat, bangsa dan negara yang hidup di era kemerdekaan, di masa pembangunan, bagaimana menatap masa keadilan, dan kemakmuran di masa mendatang mengajukan banyak pemikiran mengenai berbagai masalah yang dihadapi, masyarakat bangsa dan negaranya saat ini demi kepentingan hari depan yang lebih baik.

Berbekalkan pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dari bangku pendidikan dan lingkungan sekelilingnya, banyak gagasan dan pikiran mereka bersifat kritis terhadap realitas kehidupan sekarang. Koreksi diri pun muncul di kalangan generasi muda, selain kritik terhadap generasi tua yang memimpin masyarakat, bangsa dan negara Indonesia sekarang ini.

Citra sebagai pemberang, pemberontak, pendobrak dan penerobos kebekuan keadaan melekat pada diri angkatan muda. Kita telah dididik dengan pendidikan Indonesia, sejarah bangsa Indonesia mencatat momen-momen penting keterlibatan angkatan muda – pemuda dan mahasiswa – dalam persoalan politik. Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta oleh pemuda-pemuda di Rengasdengklok menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945; tumpahnya darah arek-arek Surabaya 10 November 1945; demostrasi pemuda-pelajar-mahasiswa 1965/1966 di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia menuntut pembubaran Gestapu/PKI; gelombang protes mahasiswa 1974 dan 1978; gelombang protes tahun 1998 yang memintah Presiden Soeharto mundur terjadi reformasi; sampai pda tahun 2014, muncul Joko Widodo sebagai calon presiden RI dari kalangan masyarakat biasa; semua kejadian politik tersebut tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan angkatan muda.

Keberhasil dan kegagalan, keterlibatan generasi muda itu yang perlu dipersoalkan. Sebab penilaian yang subyektif  dan obyektif bisa muncul, tergantung dari mana sudut pandang  itu diarahkan. Buku ini membahas tentang bagaimana “membangun generasi emas Sentani”. penting sekali memberi wawasan bahwa generasi muda punya peran yang besar untuk kemajuan dan perubahan bangsa ini. Itu artinya generasi muda Sentani punya andil besar bagi bangsa Indonesia, bagi provinsi Papua, bagi Kabupaten Jayapura, bagi Distrik dan Kampung mereka masing-masing di pesisir danau, pulau-pulau dan daratan wilayah Sentani.

Katakan “nanti”

Ketika melihat orang lain lebih sukses, generasi muda yang ingin maju pasti akan berkata dalam hatinya “nanti” suatu saat saya seperti dia atau nanti suatu saat saya akan lebih dari dia. Mungkin sekarang Anda sebagai bawahan, diperintah dimarahi oleh atasan, katakan dalam hati “nanti” suatu saya akan akan jadi pemimpin dan akan lebih baik darimu. Kalau ada atasan yang semena-mena kepada Anda, katakan dalam hati “nanti” tiga tahun kemudian pangkat kita sama, bahkan mungkin dia akan jadi anak buah Anda.

Doa orang yang teraniaya itu manjur. Sabarlah, setiap orang memulai perjalanan dari direndahkan supaya dia ikhlas rendah. Banyak orang tidak ikhlas rendah. Contohnya, bersaing dengan atasan, itu bahaya sekali. Atasan itu bukan untuk disaingi tapi untuk diangkat, kalau dia tidak bisa pergi dari situ Anda tidak bisa naik. Jadi anak buah itu berbakti, supaya dia cepat naik. Satu lagi, atasan yang merendahkan anak buah hati-hati, sebab tujuan semua anak buah adalah mengalahkan atasannya atau nyalib atasan.  Maka itu berhati-hatilah, karena orang yang berhati-hati masih dihormati muridnya, atau bawahannya atau orang lain, karena kepemimpinannya dihormati. Banyak orang karena pangkatnya tinggi berhak untuk kasar. Ini salah dan harus lebih berhati-hati.

 Membangun Generasi Emas Sentani Melalui 8 Kecerdasan

Bagian ini sengaja dimasukkan supaya generasi muda Sentani mengetahui berbagai jenis kecerdasan yang diberikan Tuhan pada setiap orang, termasuk dirinya sendiri. Hal ini terbukti melalui penelitian telah ditemukan berbagai kecerdasan dalam diri manusia. Dengan mengetahui kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki manusia, diharapkan generasi muda Sentani sejak dini mengenal potensi diri dan kecerdasan pribadi yang ada pada dirinya. Dengan demikian, dalam pengembangan diri, setiap generasi muda Sentani lebih terarah dan fokus, sehingga untuk mewujudkan impian dan cita-cita bukan isapan jempol tetapi suatu yang sangat mungkin dan penuh kepastian

Garner dalam bukunya “Frame of Mind” secara meyakinkan menawarkan penglihatan dan cara pandang alternatif terhadap kompetensi intelektual manusia. Dan ia kemudian mengemukakan secara garis besar 8  jenis kecerdasan, yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan logic-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik-tubuh, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan natural. Penjelasannya sebagai berikut.

Kecerdasan Linguistik (Bahasa). Kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Penulis, Jurnalis, penyair, orator, dan pelawak adalah contoh nyata orang-orang yang memiliki kecerdasan linguistik.

Kecerdasan Logic-Matematis. Kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Ini adalah jenis-jenis ketrampilan yang sangat dikembangkan pada diri para insinyur, ilmuan, ekonom, akuntan, detektif, dan para anggota profesi hukum.

Kecerdasan visual-Spasial. Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Membayangkan berbagai hal pada mata pikiran anda. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain para arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer dan perencana strategis. Anda menggunakan kecerdasan ini ketika memiliki citarasa arah, ketika Anda berlayar atau mengambar.

Kecerdasan Musikal. Kemampuan mengubah atau menciptakan musik, dapat bernyanyi dengan baik atau memahami dan mengapresiasi musik, serta menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki oleh para musisi, komposer, dan perekayasa rekaman. Tetapi kebanyakan kita memiliki kecerdasan musical dasar yang dapat dikembangkan. Bayangkan proses belajar sangat terbantu jika kita mengggunakan suatu ritme atau sejenis sajak bermusik.

Kecerdasan Kinestetik-Tubuh. Kemampuan menggunakan tubuh Anda secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini jelas diperlihatkan untuk mengejar prestasi atletik, seni seperti menari dan acting, atau dalam bidang bangunan dan konstruksi, anda dapat memasukan ketrampilan membedah dalam kategori ini, tetapi banyak orang yang secara fisik berbakat-bagus melakukan sesuatu dengan tangan mereka-tidak mengenal bahwa bentuk kecerdasan ini sama nilainya bagi yang lain.

Kecerdasan Interpersonal (Sosial). Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki oleh para guru yang baik, fasilitator, penyembuh, politisi, pemuka agama, dan waralaba.

Kecerdasan Intrapersonal. Kemampuan menganilisis diri dan merenungkan diri – mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal-benar diri sendiri. Kecerdasan ini ini biasanya dimiliki oleh para filosof, penyuluh, pembimbing, dan banyak penampil puncak dalam setiap bidang.

Kecerdasan Naturalis. Kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilihan-pemilihan runtut dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif, misalnya untuk berburu, bertani atau melakukan penelitian biologi. Para petani, para ahli tumbuhan (botanis), konservasi, biologi, lingkungan, semuanya memperlihatkan aspek-aspek kecerdasan ini (Colin & Malcolm, 2012: 59-61).

Ada godaan juga Garner ingin menambahkan yang ke-9 adalah kecerdasan Spriritual. Bagaimana dengan kecerdasan spiritual? Garner berkata dia belum menyepakati kecerdasan tersebut, namun dia sangat tertarik untuk lebih memahami apa yang dimaksud spiritualitas dan individu-individu spiritual. Garner menambahkan: Apakah terbukti tepat untuk menambahkan “spiritualitas” pada daftar kecerdasan atau tidak, kapasitas manusia yang satu ini pantas untuk didiskusikan dan dikaji dalam lingkaran-lingkaran psikologi inti.

Delapan atau Sembilan kecerdasan ini dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda Sentani untuk menilai diri sendiri tentang kecerdasan apa yang dia sudah miliki. Dengan demikian dalam pengembangan diri selanjutnya lebih terarah, lebih mudah dan lebih cepat untuk menjadi seorang profesional pada pilihan profesinya. Kadang hasrat orang ingin tahu ini dan itu. Mereka sangat mudah terpengaruh dengan orang lain. Namun dengan pengenalan akan kecerdasan yang dimilikinya, maka akan mempermudah pengembangan akan potensi-potensi kecerdasaan lainnya. Dengan demikian, akan sangat menolong setiap pribadi muda dalam pengembangan karir dan profesi.

Kalau generas muda Sentani tidak mengenal kecerdasaannya dengan tepat, dia akan jadi seperti orang yang kelihatan tahu banyak hal, tetapi sebenarnya dia hanya tahu sedikit atau hanya tahu kulitnya saja, isinya tidak tahu. Tujuan mengenal kecerdasan, adalah supaya bisa tahu sedikit tetapi banyak dan mendalam.

 Berkembanglah Melampaui Semua Yang Mungkin

Anak Sentani yang mau menjadi pribadi yang berbeda harus bisa berkembang melampaui semua yang mungkin. Seringkali kita menyerah sebelum waktunya, kalau saja kita berusaha sedikit lebih keras, pasti akan ada hasilnya.

Ketika mengikuti seminar tentang pelaksanaan Festival Danau Sentani, yang diselenggarakan oleh Jayapura Community Facebook (JFC) tahun 2010, Drs. Jhon Ibo, MM menceritakan kisah perjuangannya untuk melampaui semua yang mungkin. Kisahnya itu saya beri judul “Mencari ikan menggapai impian”. Sejak muda, Jhon Ibo berjuang untuk sekolah sampai menyelesaikan kuliah dengan kerja kerasnya mencari  dan menjual ikan. Pagi, Jhon muda mencari ikan, jual di pasar dan pergi kuliah di Universitas Cenderawasih. Itu yang ia lakoni dalam perjuangan mencari ikan menggapai impian hingga menamatkannya. Kemudian terjun ke dunia politik, mulai dari kader Golkar hingga menjadi Ketua Golkar tingkat provinsi, lalu berturut-turut menjadi anggota DPR Papua, bahkan menjabat sebagai Ketua DPR Papua beberapa kali. Wktu saya ketemu beliau katanya, jangan lihat saya yang sekarang ini sebagai Ketua DPR Papua, lihatlah bagaimana perjuangan saya dulu hingga menjadi seperti sekarang ini. Kalau saja kerikil-kerikil di sepanjang jalan Sentani – Abe bisa bicara, mereka akan menceritakan semangatku dan perjuanganku di waktu aku muda dulu. Jhon Ibo kini masih eksis di dunia politik, dan namanya di kancah politik Papua cukup tenar dan dikagumi. Beliau juga seorang antropolog, karena buku-buku saya yang saya tulis banyak terinspirasi dari bahan-bahan seminar beliau. Anak-anak Sentani, khususnya generasi muda masa kini harus belajar hal-hal baik dari para pendahulu, berkembanglah melampaui semua yang mungkin.

Saya teringat anak kami yang kedua bernama Aldo Septian Kopeuw, kelahiran 1994, sejak SD kelas VI saya merekam videonya, ia menceritakan cita-citanya yaitu ingin menjadi pilot pesawat terbang. Saya dan istri memang sudah biasa mengajarkan anak-anak untuk berpikir melampaui semua yang mungkin. Setelah lulus dari SMA BOPKRI 2 di Yogyakarta Jurusan Bahasa, Aldo tetap berfokus pada cita-citanya untuk menjadi pilot. Dia juga menyiapkan diri dengan latihan silmulator pesawat. Tahun 2013, Pemerintah Provinsi Papua membuka penerimaan taruna penerbang. Aldo pun ikut seleksi, namun tidak lolos. Kami tetap memberi motivasi, dan semangat kepadanya dan mengatakan mungkin tahun 2013 ini bukan waktunya (keberhasilan yang tertunda).  Kami mencari solusi lain agar anak kami tetap fokus untuk terjun ke dunia dirgantara dengan mengupayakan Aldo berangkat ke Jakarta dan mengikuti pendidikan dan pelatihan di Merpati Training Center (MTC) Kemayoran Jakarta.  Setelah menempuh teori, kemudian praktek di Maskapai Merpati Makasar, tapi karena Merpati bangkrut Aldo kembali ke Yogyakarta.

Tahun 2014, Pemeritah Provinsi Papua kembali membuka seleksi penerimaan calon taruna penerbang, kami mengusahakan ia kembali Jayapura dan mengikuti seleksi. Setelah mengikuti seleksi tahapan-demi tahapan, Aldo lolos seleksi dalam kelompok taruna penerbang pada nomor urut rangking II, waktu itu hanya 11 (sebelas) anak saja dari 19 yang lolos untuk taruna penerbang. Sejak tanggal 3 Agustus 2014, ia dan teman-temannya sudah berada di Sekolah Tinggi Penerbang Indonesia (STPI) Curug Tanggerang.

Seorang motivator yang sangat terkenal dalam acara Golden Way di MetroTV, mengatakan “bahwa di dunia ini tidak ada yang pasti, berarti apa pun mungkin. Dua kisah ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Sentani untuk mulai membangun dirinya dengan impian, bagaimana mereka nantinya setelah 10-20 tahun mendatang. Pesannya adalah berkembanglah melampaui semua yang mungkin. Kalau saja kita mau bekerja lebih keras dan lebih yakin lagi, semua pekerjaan akan terselesaikan dengan baik bahkan kita bisa berkembang lebih jauh dari yang mungkin bisa kita capai (Anton, 2010: 186-187).

Demi Masa Depan

Teringat kembali perjuangan anak-anak Sentani yang studi di Kota Solo dan Yogyakarta antara tahun 1994 – 2002, ada banyak kisah sedih yang mewarnai perjalanan perjuangan studi anak-anak Sentani di kedua kota ini. Saya dengan beberapa anak Sentani lain di Kota Solo yakni Ros Pangkatana, Jimmy Pangkatana, Odhi Marwery, Ronny Kopeuw, Oka Suebu, Elsa Suebu, anak kami Alan Kopeuw dan Aldo Kopeuw sedangkan di Yogyakarta ada Barnabas ondi, Hengky Felle, Paulus Ondi, Jefry Yoku, Jimmy Maloali, Jimmy Suebu, Billy Ondi, George Ibo, Gustaf Dike, Yansen Daimoi, Robert Felle, Adolf Deda, Boy Yoku, Ian Monim, Viktor Puraro, dan James Yoku dan juga ada beberapa anak-anak peranakan Sentani.

Saya banyak mendengar jerih juang dan kisah-kisah sedih anak-anak Sentani di Kota Solo dan Jogja, dari jaman kiriman uang via wesel, dan telegram dan kantor pos, masa itu belum ada handphone, semua serba lambat hingga cara cepat via ATM. Perjuangan hidup untuk masa depan tetap dijalani, walau hanya dengan makan pepaya muda dan garam menjadi makanan penawar rasa lapar. Kadang-kadang buah-buahan di halaman tetangga dan tanaman di kebun orang jadi penghilang rasa lapar. Utang di warung-warung sekitar kos-kosan dan kampus menumpuk dan menumpuk, bahkan belum lunas hingga wisuda usai dan pulang kampung. Semua dilakoni dengan terpaksa, dengan membuang perasaan malu, dan membangun muka tebal seperti tembok, dengan prinsip yang penting dipercaya, hidup dan studi terus berlanjut hingga menamatkan kuliah.

Itulah sedikit kisah perjuangan anak-anak Sentani di Kota Solo dan Jogja. Demi masa depan dan cita-cita, anak-anak ini meninggalkan Sentani. Mereka tinggalkan phuyaka phu (Papua), Pergi ke rantau menuntut ilmu. Walau bapa dan mama tak mampu, Namun mereka tetap pergi menuntut ilmu. Demi masa depan mereka tinggalkan  yang mereka cintai. Saat mereka memohon, Bapa dan mama untuk kirim uang, jawabnya kita berdoa, Karena bapa dan mama tak mampu, Namun anak-anak Sentani tetap sabar menanti jawabannya. Mereka percaya, doa bapa, mama, dan saudara menyertai mereka.

Kadang mereka tak makan, perut mereka kosong pergi mengikuti kuliah. Indeks prestasi dibawah dua koma, itu bukan karena mereka bodoh, tetapi antara lapar dan menerima pelajaran sesuatu yang berat. Dalam IPK yang rendah pemerintah menolak proposal dan berkas-berkas mereka walau hanya sekedar meminta bantuan dana pendidikn. Dalam kondisi seperti itu, mereka teringat akan tanah Papua penuh susu dan madu. Namun karena demi masa depan mereka, duka dan lara dijalani. Menuntut ilmu di negeri orang dengan susah payah…aduh kasihan sekali. Tapi mereka….terus berdoa, dan terus berjuang. Walau daya tak ada, mereka harus berusaha memetik bintang alias cita-cita. Waktu terus berjalan, tak mereka rasa tahun-tahun telah berlalu. Mereka katakan, Aku  rindu ingin pulang ke negeriku, puyakha phu (Tanah Papua). Sebagian besar sudah pulang ke Papua. Nama-nama anak Sentani di atas, hampir sebagian besar telah berhasil.

Dari kisah perjuangan anak-anak Sentani inilah muncul inspirasi membuat sebuah lagu berirama keroncong ciptaan saya sendiri dengan judul “demi masa depan”. Berikut syairnya:

Demi Masa Depanku

Ciptaan: Pilipus Kopeuw – 10 Januari 2011

 

Ku tinggalkan Tanahku Papua (Phyakha Bhu)

Pergi  menuntut ilmu di tanah rantau

Walau ku tak berdaya dan  tak mampu

Namun aku tetap pergi memetik bintang

Demi masa depan semua  yang kucintai

 

Kadang lapar dahaga… duka lara kujalani

Teringat akan tanahku Papua penuh susu dan madu

Tak ku … rasakan tahun-tahun tlah berlalu

Hingga asa dan cita-citaku … akan ku raih

Demi masa depan semua yang ku sayangi

Aku telah menghabiskan separuh hidupku

Tapi aku….tetap berdoa, dan berjuang

Aku  rindu ingin pulang dan membangun …

Tanahku Papua/Phuyakha Bhu

ISU ATAU NYATA TENTANG ROPHALO DI SENTANI

Posted in Penelitian on 20, 0, 05, 2015, PM, 11, 23, 09, Wed, 20 May 2015 23:37:09 +0000 by pilipus kopeuw

oleh Pilipus Kopeuw, S.Th, M.Pd

Mercure Hotel Ancor, Kamis 21 Mei 2015 – Jam 06:34 wib

1. Ro Phallo Manusia Ajaib

Pada abad ke XIX (19) di wilayah danau Sentani hadir sesosok manusia yang aneh. Dia adalah Ro Phallo. Oleh orang-orang Sentani karena badannya putih dan pakaiannya juga putih. Menurut pandangan orang Sentani bahwa dia seperti burung bangau, karena badannya dan pakaiannya putih.

Ro Phallo artinya ro adalah laki-laki­, Phallo adalah orang yang mirip atau identik dengan burung bangau. Ro Phallo disebut-sebut oleh orang Sentani sebagai manusia ajaib karena saat itu Ro Phallo dapat:

  • Berjalan di atas air dari satu kampung ke kampung lain. misalnya dari pulau Ajau ke Kampung Putali terus ke Kampung Atamali dan ke Kampung Simporo.
  • Mengangkat sejumlah batang kayu untuk rumah dari hutan ke pante. Peristiwa itu terjadi di Kampung Ayapo pada saat orang-orang sedang ke hutan untuk mengambil kayu untuk rumah Ondoafi.
  • Menghidupkan ikan yang mati terapung dan dilepas kembali ke danau.
  • Menghidupkan seorang anak perempuan yang mati tenggelam, karena air danau naik. Hal ini dibuat di Kampung Yoboi.
  • Dan tanda-tanda ajaib lainnya.

Berita tentang Ro Phallo disebarluaskan oleh orang-orang Sentani dari kampung ke kampung tentang hal-hal yang aneh terjadi di mata orang-orang Sentani.

Ro Phallo ini berjalan di atas air dari kampung ke kampung untuk melihat-lihat keadaan kehidupan orang Sentani, mulai dari Kampung Yoka hingga ke Kampung Yakonde.

Tanda-tanda ajaib itu disebut “mujizat” seperti yang dibuat oleh Yesus di wilayah Kapernaum. Perbuatan Ro Phallo ini menjadi ancaman keras bagi kekuatan magic atau ilmu hitam yang dimiliki oleh orang-orang Sentani, yang dikenal dengan sebutan Erahena atau Mai phulo aere, yang dianggap sebagai dasar kekuatan.

Kuasa magic atau ilmu hitam yang dimiliki orang Sentani tidak sama dengan apa yang dibuat oleh Ro Phallo dimata orang-orang Sentani seperti;

  • Berjalan di atas air. Ro Phallo tidak menggunakan bantuan sesuatu untuk berjalan di atas air, atas bantuan seekor buaya atau sekelompok buaya yang dipanggil sesuai dengan bahasa ilmu yang dimiliki untuk orang tertentu.
  • Bagi orang Sentani tidak mampu mengangkat sejumlah batang kayu. Namun hanya membuat kayu-kayu itu ringan dan dapat diangkat oleh sekelompok orang. sementara Ro Phallo tidak, ia mengangkat sejumlah kayu secara langsung dalam jumlah yang banyak.

Hal yang lebih mengancam atau menantang kekuatan magic yang dimiliki orang-orang Sentani adalah menghidupkan orang mati. Pada waktu Ro Phallo ini tiba di Kampung Yoboi dari Kampung Yauphea (tanggal bulan dan tahun tidak disampaikan).

Pada saat Tzunami Danau, air naik dan rumah-rumah di Kampung Yoboi tenggelam, ada anak perempuan jatuh dan mati tenggelam. Ro Phallo ini tiba di kampung Yoboi dan menuju ke rumah duka, dia melihat anak itu dan memegang tangan anak itu, lalu anak itu hidup.

Setelah anak itu hidup Ro Phallo minta diantar ke pulau Ajau, di tengah danau ia melihat ikan yang mati terapung, lalu Ro Phallo minta agar mendekat ke ikan itu. Setelah dipegang ikan itu dan dinaikkan ke dalam perahu, maka ikan itu hidup kembali dan ia minta kepada para pendayung perahu agar ikan itu dilepaskan ke danau.

Semua yang ada di atas perahu itu menjadi heran dan berkata “siapa sebenarnya orang ini?” Karena anak yang meninggal dihidupkan dan ikan yang busuk terapung bisa hidup kembali? Sungguh Dia ini benar-benar orang ajaib.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui dimana dan kemana Ro Pallo itu pergi. Seakan-akan dia menghilang dari antara orang Sentani hanya ada satu kesan bahwa “Ro Phallo telah membuka mata kami untuk melihat hal yang baru, yaitu kehidupan baru, karena tidak ada orang yang meninggal itu hidup.

Dengan memberi hidup bagi anak yang meninggal itu di Kampung Yoboi dan melepas ikan yang mati ke danau dan tanda-tanda heran lainnya, membuka pandangan baru bagi orang Sentani, bahwa kuasa kegelapan yang dimilikinya tidak mampu menjamin hidup yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu ditinggalkan dan menerima hidup dalam peradaban baru yang membawa keluar dari kegelapan kepada terang.

2. Sang Pembaptis

Pada tahun 1900-an setelah Ro Phallo menghilang dating seorang laki-laki berkulit hitam rambut keriting, orang menyebut dia adalah “Famai”. Famai berasal dari satu kampung di belakang gunung Cycloops namanya Kampung Ormu, karena ada hubungan dengan orang Nendali (Netar). Famai turun dari Ormu dan tinggal di Kampung Nendali dengan tujuan khusus yakni, Misi penyelamatan orang Sentani yang adalah saudaranya sendiri. Famai memulai tugas mulia ini dari Kampung Nendali menyebar ke pulau Asei, Ayapo dan ke pulau Ajau. Tugas dalam misi Famai adalah:

  • Mengajar hukum Tuhan
  • Mengajarkan untuk membaca Alkitab
  • Mengajarkan Doa Bapa Kami
  • Melakukan pembaptisan
  • Mematahkan busur panah
  • Membakar hobatan (phulo – ilmu gaib)

Dasar mengajar Hukum Tuhan, karena ada kata yang menyatakan “Jangan membunuh”. Famai mengambil kata ini sebagai dasar untuk mendamaikan orang Sentani dari kejahatan perang suku. Sebab, akibat perang suku ini banyak orang menjadi korban.

Keadaan itu didukung oleh perbuatan Ro Phallo, akhirnya banyak orang menerima dan bersedia untuk belajar dari Famai tentang:

  • Hukum Tuhan
  • Pengakuan Iman Rasuli
  • Membaca Alkitab
  • Belajar Doa Bapa Kami

Ketika dilakukan baptisan masal, terlebih dahulu mengucapkan “Aku percaya akan Allah Bapa… “ setelah itu kehidupan orang-orang Sentani perlahan-lahan mulai berubah ibarat awan hitam terpecahkan oleh Sinas matahari dan bagaikan kabut terangkat angin.

Dalam baptisan masal ini, orang-orang Youphea (Yahim), Yobeh, Sereh dan Ifale secara bersama-sama menerima baptisan dari Famai di pulau Yobeh dan sebelumnya mengucapkan “Aku percaya…., secara bersama-sama lalu turun menyelam di air.

Dengan melakukan pembaptisan di pulau Yobeh, maka saat dan waktu itu Tabir Kegelapan telah terbuka dan terang Kristus menerangi bagi kehidupan orang Sentani khususnya bagi orang Youphea (Yahim) yang akan memasuki peradaban hidup baru. (Catatan ini dari Tulisan Yuil Pangkali).

KONSEP GENERASI EMAS

Posted in Penelitian on 20, 0, 05, 2015, PM, 11, 23, 22, Wed, 20 May 2015 23:30:22 +0000 by pilipus kopeuw

oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Ancol, Kamis 22 Mei 2015 – Ja, 06:27 wib

Dari Harapan Hingga Ke Penerapan

Ide membangun generasi emas sering dibicarakan dalam berbagai peristiwa. Ada yang dalam rangka  hari pendidikan nasional, ada yang dalam bentuk sambutan, seminar-seminar nasional di kota Metropolitan Jakarta dan di kalangan praktisi pendidikan. Tetapi itu hanya sebatas wacana-wacana dan harapan di dalam sebuah ruangan sumbang pikiran dan harapan. Membangun generasi emas adalah sebuah konsep penerapan untuk menyiapkan suatu generasi penerus bangsa Indonesia pada 100 tahun emas Indonesia merdeka 1945 – 2045.

Sebenarnya harapan-harapan dan cita-cita dalam pidato, sambutan, seminar dan diskusi itu baik, namun yang disayangkan adalah konsep brilian membangun generasi emas Indonesia hanya untuk para peserta yang mengikuti dan mendengarkan saja? Dalam harapan dari kegiatan itu tentang membangun generasi emas Indonesia adalah sebuah karya nyata dan bukanlah sekedar membahas konsep dan pesan dalam untuk membangun generasi emas Indonesia. Kalaupun membangun generasi emas itu diimplementasikan, sejauhmana yang sudah diwujudnyatakankan.

Kita pasti sangat setuju dengan konsep membangun generasi emas Indonesia, tetapi generasi emas Indonesia yang mana? Apakah hanya yang di Pulau Jawa saja? Bagaimana dengan membangun generasi emas di daerah-daerah lain? Hal ini belum tentu bisa dijawab di dalamnya setelah pidato Menteri Pendidikan, sambutan ketua Partai Golkar maupun dalam seminar dan diskusi dengan para peserta seminar. Sebab membangun generasi emas adalah sebuah konsep penerapan dan perlu realisasi. Untuk itu, sejauhmana konsep membangun generasi emas dimasukkan ke dalam kurikulum terbaru 2013 dan dalam terapan model pembelajaran pada pendidikan formal pada semua jenjang pendidikan, dari PAUD hingga Perguruan Tinggi maupun pada peningkatan melalui pendidikan non formal.

Berdasarkan cita-cita membangun generasi emas Indonesia di atas, memberi beban dan tanggungjawab tersendiri sebagai praktisi pendidikan untuk turut serta berusaha bersama dengan pemerintah untuk membangun generasi emas Sentani di Papua untuk indonesia. Hal yang dapat dilakukan adalah memberikan pencerahan dengan menulis sebuah konsep dan motivasi kepada generasi muda dan orang Sentani untuk membangun generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia. Kita sadar, bahwa kalau kita menunggu hingga konsep membangun generasi emas dari pusat pemerintahan republik Indonesia tiba di lingkungan masyarakat Sentani, itu membutuhkan waktu dan tidak jelas kapan dapat direalisasikan. Itu sebabnya, dengan memiliki beban tersendiri untuk membangun secara khusus generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia, maka buku ini coba digarap untuk langsung disajikan kepada masyarakat Sentani secara umum dan secara khusus kepada generasi muda Sentani. Dengan harapan, ketika buku ini sampai kepada anak-anak Sentani atau siapapun, mereka dapat membaca buku ini dan menangkap maksud dari membangun generasi emas Indonesia dalam konteks generasi emas Sentani. Dengan demikian, generasi muda Sentani bisa memposisikan diri sesegera mungkin dengan baik dalam menyiapkan diri sebagai generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia dalam berbagai hal yang akan disajikan dalam buku ini.

Dalam membangun generasi emas Sentani adalah untuk mewujudkan kehidupan menuju sebuah kesuksesan yang hakiki. Untuk itu, maka setiap orang Sentani, khususnya generasi mudanya pasti memiliki jalan dan langkah sendiri. Pertanyaannya adalah siapakah yang sebenarnya yang paling menentukan langkah dan arah kehidupan seseorang tersebut? Tentu jawabannya, yakni diri Anda sendiri (personal), orang Sentani dan para generasi mudanya. Selanjutnya bagaimana orang Sentani dan generasi mudanya menentukan arah dan langkah mereka supaya proses yang mereka jalani mengalir menuju kesuksesan tersebut bisa laksana air yang mengalir dari hulu menuju hilir tanpa banyak terdapat noice (hambatan, gangguan). Sudah barang tentu perlu diatur; perlu mendapat suntikan pencerahan; spirit dan motivasi, sehingga kehidupan generasi muda Sentani dan masyarakatnya menjadi bergairah dalam mencapai sebuah hilir kesuksesan tersebut.

Generasi muda Sentani juga perlu mengetahui apa itu generasi emas yang sedang digemakan oleh pemerintah pusat yakni melalui Menteri Pendidikan untuk generasi bangsa ini dalam menuju usia kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-100 tahun.

Bangsa Indonesia butuh generasi emas, Provinsi Papua dan Papua Barat perlu membangun generasi emas, lebih-lebih lagi masyarakat Sentani sangat butuh suatu generasi emas. Generasi emas adalah generasi yang bersemangat, energik, mandiri, multitalenta, memiliki spiritual yang baik dan cerdas. Kita butuh generasi yang punya semangat kebangsaan, dan bisa mengubah tata negara, tata daerah, tata wilayah bahkan tata kampung, hingga kepada tata masyarakatnya, tata adat sekalipun, agar kekurangan-kekurangan yang ada menjadi lebih maju, baik dan benar. Kita mau generasi muda kita ini menjadi penerus dan pemimpin bangsa, daerah, dan kampung mereka masing-masing.

Buku membangun generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia ini sebagai langkah mengukir sejarah baru di bumi khena mbai umbai Kabupaten Jayapura Papua dalam mengisi kemerdekaan menuju 100 tahun Indonesia merdeka. Penulis bukan penentu dan pembuat kebijakan. Walau hanya sebagai penulis tetap ingin berkontribusi memberi konsep pemikiran, dan motivasi bagi kebijakan melalui tulisan kepada pemerintah Papua, Kabupaten Jayapura dan lebih khusus kepada generasi muda Sentani. Kalau pun pemerintah Provinsi Papua maupun Kabupaten Jayapura belum segera membuat kebijakan untuk membangun generasi emas Sentani, paling tidak melalui buku ini telah mencoba memberi konsep bagaimana membangun generasi emas Sentani dan menjadikan sejarah baru di bumi khena mbai umbai yang lebih baik.

Ada harapan kecil bagi orang-orang  Sentani agar dapat membaca buku ini untuk kita bersama membangun cita-cita besar. Ketika masyarakat dan generasi muda Sentani membaca buku ini, yakni ada harapan untuk bersama-sama membijaki, menasehati, memotivasi dan mendidik anak-anak, rumah tangga, pendidikan, seni budaya, dunia bisnis, dunia olahraga di  kalangan orang Sentani dengan membangun bersama generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia. Kalau masyarakat Sentani telah lebih dahulu membaca buku ini, berarti mereka mungkin tidak perlu lagi menunggu pemerintah turun tangan baru mereka membangun generasi emas Sentani. Kunci utama membangun generasi emas Sentani ada di tangan orang Sentani sendiri.

Menyiapkan Generasi Emas Indonesia

Setiap kita memperingati hari-hari bersejarah, menjadi penting untuk merenungkan kembali (refleksi) makna yang dikandungnya. Baik dari perspektif kekinian untuk aktualisasi makna maupun dari perspektif kenantian untuk antisipasi masa depan.

Kita semua meyakini bahwa pendidikan adalah sistem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan. Dalam kaitan itulah refleksi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini dilakukan. Yaitu, mempertajam peran pendidikan dalam menyiapkan generasi yang cerdas, yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi dengan tetap memegang teguh harkat dan martabat, baik sebagai individu maupun bangsa.

Salah satu refleksi tersebut, sejak 2010 sampai 2035, kita memiliki populasi usia produktif yang sangat luar biasa besarnya. Jumlah itu pun akan menurun setelah 2035. Meskipun, kita sering tidak menyadari hal tersebut, bahkan mengabaikannya. Padahal, inilah kesempatan emas untuk menyiapkan generasi emas yang akan menjadikan bangsa dan negara Indonesia sebagai negara maju dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri. Sekaligus, menyiapkan 100 tahun Indonesia merdeka (2045) serta sebagai khidmat, tanda bakti, dan terima kasih kepada para pejuang serta pendiri bangsa.

Masa 30-an tahun tersebut tidaklah lama, kalau kita berbicara tentang generasi dan nasib bangsa. Karena itu, saatnya sekarang ini kita harus segera melakukan investasi besar-besaran di bidang sumber daya manusia. Kalau tidak, siap-siaplah kita akan menjadi bangsa yang merugi, bahkan bisa bangkrut.

Peran dan Kebijakan Sistemis

Populasi usia produktif tersebut akan menjadi bonus demografi (demographic dividend) manakala berkualitas. Sebaliknya, hal tersebut akan menjadi bencana demografi (demographic disaster) manakala kualitasnya tidak memadai. Kualitas itu lazimnya diukur dengan indeks pembangunan manusia atau IPM (human development index) yang terdiri atas tiga indeks. Yaitu, pendidikan, kesehatan, dan pendapatan. Yang menarik, studi oleh berbagai lembaga internasional, termasuk Global Competitiveness Report (2010-2011), menunjukkan bahwa lamanya wajib belajar memiliki korelasi positif terhadap peningkatan pendapatan per kapita, daya saing, indeks pendidikan, dan IPM secara keseluruhan.

Korelasi positif tersebut ditandai oleh koefisien korelasi (r). Semakin tinggi nilai r-nya, berarti hubungannya semakin kuat. Koefisien korelasi (r) wajib belajar terhadap peningkatan pendapatan sebesar 0,93; terhadap daya saing 0,96; terhadap pendidikan 0,97; dan nilai koefisien korelasi wajib belajar terhadap IPM secara keseluruhan (total) mencapai 0,99. Mengapa nilai r terhadap IPM justru paling besar (0,99)? Itu menandakan bahwa wajib belajar (baca: pendidikan) memiliki faktor multiplikasi terhadap faktor lainnya. Artinya, pendidikan yang baik memiliki kontribusi yang sangat kuat terhadap peningkatan kualitas kesehatan dan pendapatan per kapita.

Atas dasar itulah, dalam mempersiapkan generasi emas tersebut, harus disiapkan kebijakan sistemis yang memungkinkan seluruh anak bangsa bisa memasuki dan menikmati pendidikan. Kita ibaratkan pendidikan adalah elevator sosial yang mampu memobilisasi secara vertikal menuju status sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan peradaban setinggi mungkin. Karena itu, sekali lagi, kita harus menyiapkan layanan pendidikan yang bisa diakses seluruh warga bangsa. Itulah filosofi pendidikan untuk semua (education for all: EfA).

Yang telah dan sedang dilakukan Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan adalah menyiapkan kebijakan sistemis yang memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal secara masif (utuh dan padat). Mulai gerakan nasional pendidikan anak usia dini (PAUD), penuntasan dan peningkatan kualitas pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) melalui bantuan operasional sekolah (BOS), serta gerakan nasional rehabilitasi ruang kelas.

Juga, pada 2012 ini, Kemendikbud melakukan rintisan pendidikan menengah universal (PMU). Dengan kebijakan PMU, diharapkan pada 2020 angka partisipasi kasar (APK) sekolah menengah mencapai 97,5 persen. Tanpa kebijakan itu, APK baru dicapai pada 2040. Kita ingin pada 2020 anak-anak Indonesia minimal lulus sekolah menengah.

Tidak hanya itu, perluasan akses ke perguruan tinggi juga disiapkan melalui peningkatan daya tampung, bantuan operasional untuk perguruan tinggi (BOPT), pendirian perguruan tinggi negeri di daerah perbatasan, serta memberikan afirmasi akses secara khusus kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi tapi berkemampuan akademis berupa beasiswa Bidik Misi. Yaitu, pembebasan seluruh biaya pendidikan dan pemberian biaya hidup (living cost).

Afirmasi akses kita perkuat melalui UU Pendidikan Tinggi yang sekarang sedang dibahas. Yakni, perguruan tinggi negeri harus menerima minimal 20 persen mahasiswa dari keluarga tidak mampu secara ekonomi, namun berkemampuan secara akademis, pada setiap penerimaan mahasiswa baru. Afirmasi akses tersebut selama ini diamanatkan melalui PP No 66 Tahun 2010. Mudah-mudahan, UU PT tersebut disahkan sebelum Agustus 2012.

Dengan kebijakan sistemis tersebut, diharapkan hambatan-hambatan akses karena sosial-ekonomi atau kewilayahan (geografis) ke dunia pendidikan, termasuk ke perguruan tinggi, dapat diatasi. Dengan demikian, seluruh anak bangsa memiliki kesempatan emas untuk memasuki elevator sosial (pendidikan) menuju zaman keemasan Indonesia.

Usaha Tiada Henti

Memang harus kita sadari, bahwa persoalan dunia pendidikan memang tidak akan pernah selesai. Menteri Pendidikan mengatakan selalu mengatakan, jika persoalan dunia pendidikan bisa diselesaikan, sudah sejak lama negara-negara maju tidak memiliki lagi Menteri Pendidikan.

Yang disampaikan di atas adalah masalah akses yang harus diikuti peningkatan kualitas. Di sinilah pentingnya dunia pendidikan harus terus-menerus meningkatkan kualitas akademis dan kemuliaan dalam interaksi sosialnya serta menjadi pelopor dalam melahirkan pemimpin bangsa. Dengan demikian, pendidikan akan melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan komprehensif, termasuk teknis dan kecerdasan sosial, bukan generasi yang mengidap kecacatan sosial (socio idiot) dan kecacatan teknis (technical idiot).

Pada titik temu ini, pendidikan juga harus bisa membangun pola pikir (mindset) positif-optimistis dan landasan akademis yang kukuh sekaligus secara paralel menyiapkan kemampuan dan keterampilan teknis (technical skill ) yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan dan persoalan. Modalitas tersebut kita harapkan bisa mengantarkan generasi yang cerdas, yaitu generasi yang memiliki pola pikir solutif-nondestruktif, cost effectiveness (biaya sosial, politik, dan ekonomi) dalam menyelesaikan berbagai tantangan dan persoalan, serta selalu berpegang pada pentingnya menjunjung tinggi harkat dan martabat. Menyiapkan generasi yang cerdas merupakan langkah awal dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945.

Membangun Peradaban

Kita semua menyadari, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mobilitas barang maupun non barang (termasuk peradaban) sangatlah tinggi. Karena itu, sangat wajar dan dimungkinkan terjadinya dominasi peradaban tertentu atau konvergensi peradaban, bahkan bisa jadi benturan antar peradaban (seperti tesis Samuel Huntington).

Pada kemungkinan kedua inilah, yaitu konvergensi peradaban, kita harus mempersiapkan diri. Dunia pendidikan harus mampu membangun peradaban khas Indonesia untuk memberikan kontribusi dalam membangun peradaban baru dunia. Ibarat warna cahaya putih yang kalau diurai terdiri atas beberapa spektrum cahaya, salah satu spektrum itulah spektrum khas peradaban Indonesia.

Sebagai bangsa besar, dengan modalitas yang sangat luar biasa, baik sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya kultural, maupun pengalaman dan kesempatan, sudah saatnya kita kepakkan sayap Garuda kita, lambang negara kita. Bangsa ini telah bersepakat menjadikan burung Garuda, burung yang gagah dan perkasa yang mampu terbang jauh dan tinggi melanglang angkasa, sebagai lambang negara kita, bukan burung cipret atau emprit (Budi Santoso, 2012).

Konsep Generasi Emas menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka

Apakah sebenarnya generasi emas? Dan bagaimana konsep generasi emas tersebut? Kita perlu terlebih dahulu mengetahui sehingga memahami, agar supaya ketika buku ini dibaca, akan dimengerti dengan baik dan tepat.  Ada dua pengertian tentang generasi emas. Pertama, generasi emas berkaitan dengan bagaimana keadaan generasi Indonesia pada menuju usia bangsa Indonesia yang ke 100 pada tahun 2045. Kedua adalah generasi emas dalam perjabaran kata. Bagian kedua ini akan dibahas kemudian.

Dalam sambutan Menteri Pendidikan dalam HUT Pendidikan Nasional tahun 2012, beliau mengatakan bahwa refleksi pendidikan yang harus dilakukan adalah mempertajam peran pendidikan dalam menyiapkan generasi yang cerdas, yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi dengan tetap memegang teguh harkat dan martabat, baik sebagai individu maupun bangsa (Budi, 2012).

Populasi usia produktif tersebut akan menjadi bonus demografi (demographic dividend) manakala berkualitas. Sebaliknya, hal tersebut akan menjadi bencana demografi (demographic disaster) manakala kualitasnya tidak memadai. Kualitas itu lazimnya diukur dengan indeks pembangunan manusia atau IPM (human development index) yang terdiri atas tiga indeks. Yaitu, pendidikan, kesehatan, dan pendapatan.

Dalam mempersiapkan generasi emas tersebut, harus disiapkan kebijakan sistemis yang memungkinkan seluruh anak bangsa bisa memasuki dan menikmati pendidikan. Kita ibaratkan pendidikan adalah elevator sosial yang mampu memobilisasi secara vertikal menuju status sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan peradaban setinggi mungkin. Karena itu, sekali lagi, kita harus menyiapkan layanan pendidikan yang bisa diakses seluruh warga bangsa. Itulah filosofi pendidikan untuk semua.

Afirmasi akses kita perkuat melalui UU Pendidikan Tinggi yang sekarang sedang dibahas. Yakni, perguruan tinggi negeri harus menerima minimal 20 persen mahasiswa dari keluarga tidak mampu secara ekonomi, namun berkemampuan secara akademis, pada setiap penerimaan mahasiswa baru. Afirmasi akses tersebut selama ini diamanatkan melalui PP No 66 Tahun 2010. Dengan kebijakan sistemis tersebut, diharapkan hambatan-hambatan akses karena sosial-ekonomi atau kewilayahan (geografis) ke dunia pendidikan, termasuk ke perguruan tinggi, dapat diatasi. Dengan demikian, seluruh anak bangsa memiliki kesempatan emas untuk memasuki elevator sosial (pendidikan) menuju zaman keemasan Indonesia

Konsep Generasi Emas Dalam Penjabaran Kata EMAS

Bagian kedua adalah pengertian generasi emas dalam arti penjabaran kata EMAS. Generasi EMAS adalah generasi Energik, Multitalenta, Aktif dan Spiritual. Jadi, Membangun generasi EMAS Sentani (Indonesia) adalah sebuah produk generasi baru yang Energik, Multitalenta, Aktif dan Spiritual. Generasi yang cerdas (smart), generasi yang siap bersaing diera modern, globaliasi dan penuh kompetitif. Mereka siap pakai dalam bidang kerja apapun. Bukan hanya siap bersaing di tingkat kabupaten Jayapura tetapi juga pada tingkat nasional dan internasional. Kalau bisa suatu saat ada anak Sentani yang menjadi menteri atau staf khusus kepresidenan. Kalau bisa ada banyak anak Sentani juga yang kerja di luar daerah dan luar negeri. Konsep generasi E-M-A-S tersebut dapat dijelaskan penjabarannya sebagai berikut.

Generasi Energik

Energik artinya penuh energi atau bersemangat. Mari kita pelajari segala rahasia di balik semangat. Semangat bisa melahirkan rasa optimis. Seseorang yang memiliki semangat akan mempunyai kekuatan mengarahkan aktivitasnya dan hidupnya. Misalnya, rahasia kebugaran adalah selalu berusaha untuk tetap semangat dalam bekerja. Semangat adalah sesuatu yang menular. Orang yang memiliki semangat akan mampu mengubah atmosfer lingkungan di mana dia berada. Generasi muda yang bersemangat akan menciptakan lingkungan menjadi lebih menyenangkan. Tanpa semangat, semua orang tidak bisa mencapai sesuatu yang besar (Fathul, 2012: 142).

Krisis, kesulitan, kekecewaan, dan masalah pribadi kadang kala dapat memudarkan semangat yang kemudian mengakibatkan hilangnya gairah untuk beraktivitas. Generasi muda, mulai hari ini harus semangat…semangat dan semangat..dengan ekspresi yang benar-benar bersemangat dan tidak loyo sedikit pun.

Generasi muda harus selalu menunjukkan bahwa ia sehat dan bugar. Ini berarti bahwa generasi muda siap lahir batin untuk melakukan aktivitas dan tugasnya secara baik. Generasi muda harus bersemangat menghadapi apapun. Itu sebabnya, Anda sebagai generasi muda salah satunya, harus mengatur jadwal olahraga setiap pagi untuk menjaga kesehatan Anda.

Selain olahraga secara rutin Anda juga perlu mencari hiburan untuk menyegarkan pikiran dan menambah energi Anda. Seperti mendengarkan lagu, nonton film motivasi atau ilmu pengetahuan, baca buku,  jalan-jalan, dll. Bagaimana pun ketika Anda terlihat energik, maka hal itu akan mempengaruhi terhadap kondisi di mana Anda beraktivitas, seperti belajar, kuliah, bekerja, di tempat latihan, di bengkel kerja, dan dimana saja. Dengan kondisi tubuh yang bersemangat, anda dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik, prestasi juga akan meningkat, selalu fit dalam melakukan berbagai kegiatan karena terlihat energik.

Generasi Multitalenta

Multitalenta bisa digambarkan juga dengan Multiple Intelegence. Tetapi multiple Intelegence sifatnya lebih umum, terdiri dari kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Seluruh aspek kecerdasan tersebut ada pada setiap individu tanpa terkecuali.

Multitalenta, sifatnya lebih spesifik pada bidang tertentu misalnya menari, menyanyi, sepak bola. Belum tentu semua individu memilikinya. Kecerdasan multiple intelegence maupun multitalenta akan berkembang secara optimal melalui stimulasi yang bisa diberikan sejak dini.

Generasi Masa Depan atau generasi emas yang kita mau bangun ini harud mengenali kecerdasan dan talentanya. Buah hati atau anak-anak adalah asset masa depan bangsa dan negera. Agar generasi muda Sentani mampu survive di dunia yang penuh kompetisi, mereka harus mengantongi berbagai bekal, yakni kecerdasan dan talenta. Kecerdasan dan talenta adalah syaratnya.

Sering kita mendengar ada anak berbakat multitalenta. Pelajaran di bidang ilmu pengetahuan alamnya baik, tetapi di bidang ilmu pengetahuan sosialnya juga baik. Matematikanya bagus, biologinya juga bagus. Ilmu sejarahnya bagus, ilmu geografinya juga bagus. Menggambarnya istimewa, ikut main drama juga istimewa. Kita juga sering mendengar ada artis ibu kota serba bisa. Bisa main senetron dan terkenal, bisa menyanyi dan masuk dapur studio rekaman, bisa menjadi presenter dan nampak lincah, cerdas dan komunikatif.

Bila kita cermati, sesungguhnya beberapa prestasi unggul tersebut merupakan buah suatu kinerja atas banyak variabel yang turut mewarnai atas tercapainya dan terwujudnya prestasi puncak tersebut (multitalenta). Variabel yang dimaksudkan adalah aspek natural, aspek nurtural dan aspek lingkungan. Aspek natural adalah aspek alami yang berupa bakat bawaan sejak seseorang dilahirkan dan bisa juga disebut sebagai potensi inherent dari orang tersebut. Sedangkan aspek nurtural adalah pengasuhan yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya. Pengasuhan tersebut bisa berasal dari kedua orang tuanya, guru-gurunya selama ia bersekolah, teman-teman dekatnya, para tetangganya dan seterusnya. Aspek nutural bisa berupa lingkungkan pendidikan formal disekolah, bisa lingkungan pendidikan informal di rumah dan bisa juga lingkungan pendidikan non formal di lembaga-lembaga khursus atau lembaga-lembaga pelatihan.

Pendek kata aspek nutural ini berupa interaksi pergaulan antar manusia.  Aspek lingkungan adalah aspek eksternal dimana anak tersebut berada. Aspek lingkungan bisa berupa adat-istiadat, norma yang tumbuh di masyarakat, tontonan yang ada di dalam tv, berita-berita yang ada dalam media elektronik maupun media cetak, dll. Aspek lingkungan juga bisa berupa kondisi geografis, misalnya di daerah tropis, daerah pegunungan, daerah pantai, dll. Kesemuanya itu akan mempengaruhi proses pembelajaran secara keseluruhan dari seorang anak. Proses itu akan terinternalisasi oleh diri seseorang yang disebut multitalenta itu.

Multitalenta adalah sebuah potensi kemampuan yang memiliki kesediaan yang tinggi untuk menerima stimulus berupa apapun. Ia mudah menerima rangsangan dan mudah beradaptasi untuk situasi apapun. Potensi utamanya manjadi manusia yang generik, serba bisa. Kelemahannya adalah tidak fokus, maka anak seperti itu harus mendapat arahan yang proporsional dan menurut skala prioritas yang dibutuhkan (pada zamannya, pada dunianya).

Pada tes deteksi dermatoglyphics multiple intelligence disebut berbakat multitalenta adalah bila grafik hasil dari tesnya adalah rata semuanya. Semua grafik distribusi multiple intelligence-nya adalah sama tingginya atau sama rendahnya, pendek kata rata semuanya.

Multitalenta artinya banyak bakat. Jangan berhenti belajar, namun tak perlu mempelajari semuanya. Kenali apa kekuatan Anda untuk menjadi seorang ahli, agar Anda mampu menuntaskan pekerjaan dengan hasil yang baik. Anda akan merasa kesenangan jika Anda mampu menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya. Mempelajari semua hal memang baik untuk menambah wawasan dan kebijakan. Namun jika Anda tidak punya keahlian yang menjadi keunikan diri Anda, maka Anda takkan tahu apa yang ingin Anda kerjakan dengan baik. Hanya karena Anda Ahli, Anda akan menetapkan standar yang tinggi. Sedangkan standar tinggi adalah salah satu kualitas dari seseorang yang berprestasi.

Dalam delapan kecerdasan, menujukkan bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan-kecerdasan khusus. Dan hal itu perlu dikenali dalam diri Anda, apa kecerdasan yang Anda miliki. Ketika anda mengintropeksi diri dan menemukan kecerdasan yang Anda miliki, Anda bisa mengembangkannya secara maksimal. Jangan kuatir, kalau Anda memiliki beberapa kecerdasan. Jangan diabaikan dari kehidupan Anda. Kecerdasan itu dapat digunakan jika Anda memiliki waktu dan kesempatan. Orang bisa karena biasa. Jika kecerdasan-kecerdasan lain yang Anda miliki digunakan dan terus-menerus diasa, Anda akan memiliki beberapa kecerdasan baru.

Demikian halnya dengan talenta atau bakat. Kalau hanya punya satu talenta saja, maka Anda harus bisa belajar lagi untuk menguasai dan memiliki talenta yang lain. Sebab dalam bagian “M” ini bicara mengenal generasi Emas yang memiliki multitalenta atau banyak talenta. Ada yang punya talenta menyanyi, main musik, menulis, olahraga, seni tari, seni ukir, seni pahat, dan sebagainya. Jangan katakan talenta Anda tidak ada apa-apanya.  Pernah lihat orang cacat main gitar, atau piano, penari balet dengan satu lengan, dan satu kaki. Dengan keterbatasan mereka semangat berlatih dan berlatih sehingga bisa menguasai suatu bakat dan talenta secara profesional.

Generasi multitalenta adalah generasi yang terus mengembangkan diri dengan menguasai dan memiliki berbagai talenta, baik talenta yang sudah ada, maupun talenta dan bakat baru yang secara sengaja dipelajari melalui khursus dan latihan. Generasi banyak bakat mereka akan terus berkreasi dan berkreasi. Mereka tidak akan menjadi generasi muda yang mati dan pasif. Mereka akan menciptakan hal-hal spektakuler. Acara-acara di TV Nasional dan Swasta telah menyelenggarakan acara Indonesia Mencari Bakat, Indonesia Idol, Indonesia Idol Junior, The Rising Star, AFI, Mama mia, KDI, dll. Siapa tahu dengan bakat-bakat yang dimiliki dapat menghentar anak-anak Sentani yang punya banyak bakat-bakat khusus menjadi seleberitis di kota metropolitan dan hal-hal itu ada di depan mata kita semua.

Itu berarti, sangat mungkin bagi Anda yang memiliki talenta dan bakat khusus yang profesional, untuk go nasional maupun go internasional dan bisa menjadi orang terkenal. Seorang selebritis legendaris bernama Iwan Fals pernah berkata ‘walaupun Anda punya banyak talenta, kembangkan salah satu saja yang mungkin bisa membuat Anda cepat terkenal, dan itu yang sudah saya (Iwan Fals) lakukan.’

Di dalam Kitab Suci orang Kristen yakni Alkitab yaitu dalam Perjanjian Baru yaitu Injil Matius pasal 25 ayat 14 sampai 30 dan Injil Lukas pasal 19 ayat 12 sampai 27 dengan perikop “perumpamaan tentang talenta”. Di kisahkan bahwa ada tiga anak muda diberikan talenta; anak muda pertama diberikan satu talenta; anak muda kedua diberikan dua talenta, anak muda ketiga diberikan lima talenta. Masing-masing talenta ini harus dikembangkan. Hasilnya adalah anak muda yang menerima satu talenta dia tidak mengembangkan, malah menguburnya. Anak muda yang menerima dua talenta dia mengembangkannya menjadi empat talenta; dan yang menerima lima talenta dia mengembangkannya menjadi sepuluh talenta. Hasil yang diperoleh oleh ketiga anak muda ini adalah bahwa anak muda yang tidak mengembangkan talenta dia diusir dan tidak pernah ikut menikmati bahagia tuannya, sedangkan anak muda yang punya talenta lebih banyak (multitalenta) dan bisa mengembangkannya dengan baik mendapatkan pujian dari tuannya,  bahkan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar lagi, mereka juga mendapat penghargaan-penghargaan karena prestasi dari talenta-talenta yang terus di kembangkan.

Jadi, menjadi generasi emas dalam hal generasi multitalenta, berarti generasi muda yang dituntut memiliki banyak bakat atau telenta. Kemudian talenta-talenta itu dikembangkan untuk menjadi talenta profesional sehingga dapat bermanfaat bagi generasi muda itu sendiri, seperti penjelasan di atas.

Dapatkah Anda bayangkan, jika generasi muda Sentani memiliki multitalenta, dan talenta-talenta tersebut memberi hasil dalam karir apapun dan juga dalam memberi incame (pendapatan). Dengan mengembangkan bakat dan talenta, tidak menutup kemungkinan juga, bahwa ada anak-anak Sentani yang dapat mengharumkan nama Sentani, nama Kabupaten Jayapura, nama Papua dan nama Indonesia.

Generasi Aktif

Aktif berarti giat (bekerja, berusaha). Di sekitar kita ada banyak contoh kegiatan, tentang kata “aktif”. Misalnya: seseorang terlihat aktif sekali dalam kegiatan sosial, mahasiswa yang aktif dalam proses belajar mengajar, siswa yang aktif belajar, orang-orang yang aktif di dunia bisnis, dan sebagainya. Bagaimana dengan generasi yang aktif? Kata aktif disini lebih kepada memiliki inisiatif dan proaktif.   Insiatif dan proaktif ini adalah suatu kompetensi. Generasi yang aktif berlawanan dengan generasi yang pasif. Menurut Sudarmanto (2009: 106) bahwa kata aktif adalah kemampuan individu untuk mengambil tindakan tanpa harus diperintah, mengerjakan sesuatu melebihi dari yang dipersyaratkan pekerjaan, menemukan atau menciptakan kesempatan-kesempatan baru.

Aktif juga bisa berarti lakukan apa yang Anda sukai. Ini akan menumbuhkan semangat dan kesenangan dalam setiap pekerjaan. Anda akan temukan bahwa keberhasilan bukan sesuatu yang ada di depan sana, namun berjalan seiring dengan apa yang Anda kerjakan.

Generasi aktif bukan dalam satu bidang saja, tetapi dalam segala bidang. Generasi aktif adalah generasi yang siap pakai. Anda mungkin kenal dengan benda elektronik yakni “speaker aktif”. Speaker aktif ini tidak perlu banyak alat-alat pendukung. Cukup dicok dan diaktifkan (on), kabel penghubung dipasang di tape, VCD, HP, dll, maka Anda langsung sudah bisa menikmati suara indah musik yang dihasilkannya. Kalau speaker pasif, berarti Anda harus mencari peralatan pendukung seperti mixer dan power, agar supaya bisa berfungsi untuk menghasilkan suara atau bunyi.

Semua orang berguna, kalau aktif. Tidak ada orang yang tidak berguna. Itu artinya, kalau generasi muda Sentani (Indonesia) mau bergerak mereka bisa saja melakukan hal-hal positif yang berguna bagi dirinya, bagi orang lain, bagi masyarakat luas, bagi gereja, dan sebagainya. Seringkali kita mendengar banyak harapan kepada generasi muda, bahwa generasi muda adalah generasi penerus bangsa, generasi muda adalah tulang punggung gereja, generasi muda adalah harapan keluarga, marga, suku dan kampungnya. Kalau generasi mudanya tidak pernah aktif dalam berbagai kegiatan, apakah harapan-harapan ini dapat terwujud? Itu mustahil terwujud, karena harapan itu tinggal kenangan dan cita-cita hampa tanpa realitas.

Generasi muda yang aktif, masa depannya cerah, sedangkan generasi yang pasif masa depannya abu-abu atau tidak jelas. Generasi muda yang aktif, langkahnya akan terus dituntun yang Maha Kuasa pada suatu kepercayaan pada pekerjaan khusus. Sebab orang yang aktif pada pekerjaan khusus, bisa jadi ahli di bidang tersebut dan bahkan muda sekali mendapat jabatan untuk membidangi pekerjaan yang dianggap itu adalah kemampuannya atau kompetensinya. Artinya, ketika generasi muda aktif, bisa dilihat bakat-bakat yang dimilikinya sehingga untuk pengembangan diri dan karir lebih mudah. Oleh karena itu jadilah generasi mudah yang aktif, bukan generasi muda yang pasif.  Menyesallah hari, sebelum semua terlambat dan menyesal kemudian, maka pilihlah menjadi generasi muda yang aktif.

Generasi Spiritual

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2005; 1087) spiritual adalah berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani atau batin); sedangkan spiritualisasi berarti pembentukkan jiwa atau penjiwaan.  Menurut Simon Can (2010: 14) bahwa “Secara fenomenologis, spiritualitas dapat dijelaskan sebagai cara hidup yang muncul dari struktur dua komponen dasar: roh dan kata. Komponen “roh” terdiri dari realitas pengalaman dan bersifat non-rasional, yang seringkali diungkapkan dalam pengertian transenden – yang kudus” atau yang “nyata”. Komponen “kata” adalah pembentukkan konsep yang rasional tentang pengalaman yang transenden, yang diungkap dalam formulasi atau dogma teologis”. Pengky Andu (2009: 90) mengatakan bahwa “dunia memberikan sukses materi, sukses kedudukan, tetapi dunia tidak pernah berbicara bagaimana memiliki roh yang sukses. Roh yang sukses berarti memiliki pikiran dan hati yang sukses. Kalau roh gagal, maka selesailah hidup ini”.

Spiritual lebih berkaitan pengalaman keagamaan baik agama Kristen maupun agama lainnya. Spiritualitas Kristen Protestan secara pribadi lebih dinamis. Penekanan yang berbeda-beda dalam paham Protestan menghasilkan pengalaman rohani yang berbeda pula. Beberapa menawarkan bentuk spiritualitas yang berfokus pada pengalaman pribadi gengan Allah; yang lain menekankan kehidupan bersama sebagai suatu kesatuan. Beberapa lebih antusias (berapi-api), yang lain lebih sacramental. Sekalipun orang Kristen berbeda dalam ungkapan dinamika kehidupan rohani batiniah mereka secara lahiriah, kita tetap dapat mengatakan adanya satu spiritualitas Kristen yang didasarkan pada pengalaman orang Kristen dengan Allah melalui Yesus Kristus. Sebab orang Kristen, paling tidak dalam prinsip, dipersatukan disekitar pernyataan iman yang bersifat ekumenis.

Berdasarkan penjelasan di atas, bagaimana konsep generasi yang memiliki spiritual? Kita tidak belajar teologi dalam penjelasan ini, tetapi lebih kepada pemahaman dan penerapan. Spiritual adalah hal rohani, masalah refleksi dan penerapan nilai-nilai ajaran agama atau doktrin keagamaan dalam pribadi seorang muda.  Kalau Anda adalah seorang Kristen bagaimana Anda memahami dan menerapkan prinsip dan norma-norma agama Kristen dalam diri Anda.

Generasi spiritual disini menunjukkan kepada generasi muda Sentani yang memiliki kualitas kehidupan rohani yang baik. Generasi muda Sentani yang taat beragama, taat beribadah, taat berdoa, taat menjalankan ajaran-ajaran agama dengan baik dalam hidup. Selain itu generasi spiritual adalah generasi muda yang aktif dalam bidang keagamaan. Artinya, generasi muda yang menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang agama, mereka tidak melibatan dirinya pada minum mabuk, narkotika, seks bebas, dan hal-hal buruk lainnya. Kecintaan mereka juga pada hal-hal spiritual atau rohani.

Ketika anak-anak muda Sentani memiliki spiritual yang baik, maka akan terbentuk suatu masyarakat Sentani yang aman dan damai. Ketika anak-anak Sentani memiliki spiritual yang baik, di dalam pergaulan sosial,  dalam menghadapi tantangan dan kesulitan, mereka akan ingat bahwa masih ada tangan Sang Maha Kuasa yang dapat menolong mereka. Hal generasi spiritual ini tidak bisa muncul dan terjadi begitu saja tanpa ada campur tangan dan kerja keras dari para tokoh agama. Khususnya dalam hal ini lembaga gereja yang di dalamnya ada para pelayan jemaat, dan para gembala sidang serta semua majelis gerejanya yang ada. Lebih khusus kepada unsure-unsur gereja yang terlibat langsung dengan pelayanan terhadap generasi muda. Spiritual generasi muda harus ditanamkan dan dibangun dengan baik, sehingga menjadi gaya hidup mereka. Hal spiritual bagi generasi muda bukan sekedar mengisi knowledge (kognitif atau pengetahuan) saja, tetapi menyangkut perubahan sikap dan ketrampilan keagamaan yang telah dikuasai seperti dapat berdoa, perilaku yang baik, mampu hidup sesuai dengan norma agama Kristen dan lain sebagainya.

Satukan dukungan untuk membangun generasi emas Sentani dalam hal spiritual mereka. Generasi muda dengan spiritual yang baik, maka spiritual yang baik itu akan menjaganya, menopangnya, membimbingnya pada jalan-jalan menuju masa depan yang baik. Generasi muda dengan modal spiritual yang baik, akan mampu menjaga dirinya dengan baik dari segala pengaruh buruk yang ada disekitarnya. Mata hati generasi muda semakin pekah dan akan mampu menilai mana yang benar dan mana yang salah. Dengan kondisi spiritual yang baik, yakni rohnya (rohani) baik, pasti pikirannya akan baik, dengan demikian apa yang akan keluar dari mulutnya dalam bentuk kata-kata yang menjadi kalimat, pasti akan baik dan damai di pendengaran siapapun.

Generasi muda yang spiritual otomatis memiliki sopan santun yang tinggi. Mereka tahu menghargai orang. mereka akan menyegani orang lain, dan juga akan disegani orang. sebab tidak banyak anak muda memilih untuk memiliki spiritual yang baik. Namun dalam catatan uraian diatas tentang membangun generasi emas sentani, di dalamnya salah satunya adalah generasi spiritual. Itu artinya, untuk membangun generasi emas, spiritualnya menjadi satu dari empat penting tersebut. Empat hal itu perlu diingat dan dicamkan baik, yaitu E-M-A-S (Enerjik, Multitallenta, Aktif dan Spiritual). Spirirtual menjadi salah satu modal penting dan mendasar dalam membangun generasi emas.

Memandirikan Generasi Emas Indonesia

Sejak ditegaskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, M. Nuh pada Mei 2012, pada momen Hari Pendidikian Nasional, bahwa menjelang 100 tahun Indonesia Merdeka, pada 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demograsi (demographic dividen). Jumlah penduduk usia produktif, akan mendominasi jumlah penduduk Indonesia. Penduduk Indonesia usia muda lebih banyak dibandingkan dengan usia tua. Usia 0-9 tahun sebesar 45 juta, pada tahun 2045 akan berusia 35-45 tahun dan Usia 10-19 tahun berjumlah 43 juta jiwa, pada tahun 2045 akan berusia 45-54 tahun. Menurut Mndikbud, M. Nuh, usia tersebut merupakan generasi emas Indonesia.

Untuk bisa memanfaatkan bonus demograsi menjadi asset nasional, maka kunci strategisnya adalah masalah pendidikan. Terutama pendidikan berbasis kemandirian bangsa. Hal ini diungkap oleh pendiri Kelompok Belajar Qaryah Tayyibah, Salatiga, Ahmad Bahruddin, waktu menyampaikan presentasi dalam Seminar Nasional bertajuk “Merajut Generasi Emas Indonesia” yang digelar oleh Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (15/06) di Auditorium UMK.

“Generasi emas adalah generasi mandiri. Jadi pendidikan yang diberikan juga harus berbasis lokalitas,” ujar Bahruddin menyarankan. Sumber daya lokal dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ia mengaku prihatin dengan kondisi Indonesia yang limpahan sumber daya alamnya rusak oleh eksploitasi yang dilakukan perusahaan asing.

Komunitas belajar Qaryah Tayyibah misalnya, dalam pembelajaran mereka memanfaatkan sumberdaya lokal. Meski begitu, teknologi modern juga tidak ditinggalkan sebagai media berkarya. Melalui pendidikan berbasis lokal dan kemandirian dalam pembelajaran, tambah Bahruddin, secara otomatis akan terbentuk komunitas belajar, masyarakat pembelajar. Bahkan, dalam jangka lebih panjang akan terwujud masyarakat yang cerdas. Senada dengan Burhanuddin, Prof. Dr. Ki Suprijoko, M.Pd. (Ketua Pendidikan dan Kebudayaan Majlis Luhur Taman Siswa Yogyakarta) menunjukkan tokoh lokal sebagai inspirator dalam pendidikan, misalnya Ki Hajar Dewantoro. Mempersiapkan generasi emas tentunya tidak terlepas dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Konsep pendidikan anak sebenarnya telah dikembangkan oleh KH Dewantoro pada 1922 melalui Taman Indria. Pembelajan dilakukan dengan cara bermain (dolanan). “Pemikiran dan praktik pendidikan yang dijalankan tokoh pendidikan nasional tersebut perlu ditiru untuk mewujudkan gagasan Generasi Emas Indonesia,” ujar Suprijoko.

Merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantoro, kemajuan pendidikan, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab pendidikan. Ada tiga pusat pendidikan sebagaimana dikenal dalam konsep Trisentra, yakni keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat. “Peran keluarga dan masyarakat inilah yang perlu dimaksimalkan,” katanya.
Sementara itu, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. (Kepala Badan Standar Pendidikan Nasional/BSNP) berpendapat bawah untuk mewujudkan generasi emas mendatang, paradigma pendidikan juga harus diubah. “Bukan teaching tapi learning, guru bukan hanya mengajar akan tetapi mampu membangkitkan siswa untuk belajar mandiri,” tutur Prof Mungin.

Aktivitas mendidik, oleh Prof Mungin diartikan sebagai seni agar siswa dapat menikmati pembelajaran yang dihadapi. Ia khawatir dengan paradigma yang muncul pada sebagian oknum guru. Pasalnya, guru yang seharusnya dimaknai sebagai mendidik akan tetapi dipahami sebagai sekadar profesi.

“Tidak sedikit pendidik karbitan, karena seleksinya saja sekadar kognitif bukan kepribadian. Namun begitu, tidak sedikit pula guru yang baik dan pantas menjadi teladan,” katanya.

Gagasan Generasi Emas muncul lantaran kondisi jumlah penduduk Indonesia yang lebih banyak dibandingkan usia tua. Pasalnya, saat ini terdapat 88 juta penduduk Indonesia usia 0-19 tahun. Hal ini disebut sebagai demography bonus atau demography deviden. Sehingga 100 tahun kebangkitan nasional, pada 2045, generasi muda Indonesia diharapkan mampu bersaing secara global. (Hoery/Farih-Info Muria, 2012)

Membentuk Generasi Muda Yang Unggul

Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan,” begitulah kalimat sarat makna yang pernah dilontarkan oleh Franklin D. Roosevelt, seorang mantan presiden Amerika Serikat yang ke-32. Frank begitu dia disapa, menggambarkan bahwa betapa pentingnya membangun dan mempersiapkan generasi muda untuk menjawab tantangan dimasa depan. Hal demikian ini dikatakan karena pada dasarnya, generasi muda memiliki pemikiran yang kritis, idealis dan mempunyai daya kreatifitas yang tinggi. Inilah yang menyebabkan para pemimpin diseluruh dunia menyebut generasi muda sebagai harapan bangsa, dan akan menentukan nasib bangsa itu sendiri.

Sejarah Indonesia pernah mencatat peran penting generasi muda sejak masa pergerakan dulu, banyak sekali hasil dari pemikiran pemuda yang menjadi tolak ukur perjuangan untuk melawan kolonialisme. Budi Utomo misalnya, organisasi bentukan Dr. Soetomo ini menjadi motor pergerakan para pemuda untuk merebut kemerdekaan, menjadi organisasi yang mengajarkan nasionalisme, yang sampai saat ini dikenal sebagai awal dari kebangkitan Indonesia.

Generasi muda juga punya andil besar bagi kemerdekaan bangsa kita, dalam literatur sejarah yang dipelajari, kemerdekaan Indonesia tidak akan lepas dari peristiwa penting yang bernama Peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ‘penculikan’ yang dilakukan para tokoh muda terhadap kedua tokoh PPKI, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ini, terjadi karena adanya silang pendapat antara golongan muda dan golongan tua mengenai waktu dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan. Dimana saat itu, golongan pemuda menginginkan agar segera diadakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan menginginkan agar kemerdekaan itu sebagai hasil dari perjuangan bangsa Indonesia.

Ya, bagitu penting peran pemuda bagi kemerdekaan, sampai ada anekdot seperti ini, “Tidak akan ada kemerdekaan tanpa peristiwa rengasdengklok, tanpa pemuda!” Sekarang ini, sebagai generasi muda, kita dituntut untuk memiliki pemikiran yang luas terhadap masalah-masalah yang sedang terjadi di Indonesia, kita harus mempunyai gagasan dan solusi untuk menghadapinya. Masalah-masalah seperti kemiskinan, pelanggaran hukum, HAM, ras dan terpenting adalah masalah korupsi. Korupsi bukan lagi menjadi tanggungjawab penegak hukum, tapi sudah menjadi agenda penting bagi kita untuk ikut memberantasnya. Sudah sepantasnya sebagai calon pemimpin bangsa, kita ikut menegakan hukum di negeri tercinta ini.

Kemudian, Sebagai pemuda yang hidup di bangsa yang besar, kita juga dituntut untuk memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang menjadi ruh bangsa. Kita harus senantiasa mencintai bangsa kita sendiri, memiliki semangat kebangsaan yang tinggi dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Hal-hal kecil seperti menggunakan produk asli Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan hidup, menyukai budaya lokal, atau melakukan hal-hal positif yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat atau bangsa dan negara juga bagian dari implementasi kedua paham tersebut. Salah satu yang terpenting untuk meningkatkan jiwa nasionalisme itu adalah, dengan kita mengenal, mempelajari dan menghargai sejarah bangsa Indonesia. Kita harus tahu perjuangan para pahlawan terdahulu yang telah memerdekakan Indonesia, yang telah mengubah nasib bangsa kita dari negara jajahan menjadi negara yang berdaulat.

Melalui pendidikan, kita juga diharapkan menjadi generasi muda yang cerdas, kreatif dan inovatif. Untuk merealisasikannya, pemerintah banyak melakukan kebijakan dalam pendidikan. Salah satunya yang dirasa paling banyak manfaatnya adalah program wajib belajar 9 tahun. Dengan adanya program ini, setidaknya banyak anak yang mampu secara akademik namun tidak mampu secara ekonomi bisa mendapatkan pendidikan yang sama. Bahkan sejak tahun 2010, pemerintah mulai mencanangkan program beasiswa bidikmisi bagi calon mahasiswa berprestasi yang kurang mampu. Hal demikian ini, dimaksudkan agar pendidikan dapat membentuk generasi yang unggul, karena tak jarang, orang-orang yang kurang mampulah yang nantinya akan menjadi orang besar dan membawa perubahan.

Cerdas dan kreatif, berarti juga kita harus peka terhadap hal-hal baru, harus memiliki imajinasi dan mampu berkarya dalam bidang apapun. Kita didorong untuk mengembangkan ide dan gagasan kita, agar bangsa kita menjadi bangsa yang maju pemikiran. Jangan hanya mampu mencontoh budaya luar, yang nyatanya tidak sesuai dengan budaya yang berlaku di negara kita. Sebagai contoh, apabila kita tidak cerdas dan selektif terhadap hal-hal baru yang ditawarkan oleh dunia, kita akan melihat banyak pemuda yang mulai kehilangan jati diri bangsanya, mulai radikal, dan menganggap kesenangan adalah segalanya, sehingga yang dikatakan pemuda sebagai “harapan bangsa” itu hanya sebuah celoteh semata.

Itulah tuntutan yang akan membentuk generasi muda yang unggul, yaitu generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan (Etnies, 2013).

Emas dan Perubahan Kehidupan

Emas adalah permata yang mahal harganya. Nilainya terus menerus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Ketika seseorang memakai emas, perasaannya juga beda, penampilannya berbeda ketika tidak memakai emas. Memakai emas selalu membuat perubahan dalam diri pemakai khususnya pemilik emas itu. Semakin banyak emas yang dimiliki oleh seseorang, orang itu statusnya akan semakin meningkat. Sebab emas sudah masuk dalam kategori benda berharga dan bernilai tinggi. Emas dapat dipakai sebagai jaminan. Emas dapat membuat perubahan.

Ketika bangsa Indonesia mengimpikan dan memperjuangkan membangun generasi emas, dengan harapan suatu saat bangsa Indonesia tidak dianggap remeh oleh dunia luar. Demikian juga dengan orang Sentani, ketika konsep membangun generasi emas Sentani terwujud, orang lain tidak lagi menganggap remeh orang Sentani. Generasi emas adalah generasi yang membuat perubahan dan merubah keadaan dan harga diri bangsa Indonesia semakin berharga di mata dunia.

Ballarat adalah sebuah desa di Melbourne Australia. Ballarat adalah sebuah desa yang sepih. Wilayah pedesaan ini jarang dikunjungi orang. Tetapi begitu “emas” ditemukan di  Poverty Point pada 21 Agustus 1851, Ballarat menjadi kota yang booming. Penemuan ini yang dikenal dengan Victoria Gold Rush. Ballarat, wilayah pedesaan yang jarang dikunjungi orang, tiba-tiba saja didatangi 10.000 pendatang dari berbagai penjuru dunia. Di tempat inilah penambangan emas pertama di Australia didirikan pada tahun 1851. Status Ballarat dari desa berubah jadi kota. Ballarat terus mengalami perubahan dan perkembangan yang luar biasa, hingga kini menjadi tempat wisata mendulang emas. Intinya dari kisah ini adalah ketika tidak ada emas, Ballarat adalah sebuah desa yang sepih dan pola kehidupannya biasa-biasa saja. Namun ketika, ditemukan “emas” atau ada emas di desa ini, perubahan besar terjadi. Perubahan itu masih berpengaruh hingga saat ini. Kita bisa katakan bahwa dimana ditemukan emas, disitu ada perubahan kehidupan yang lebih baik dibanding sebelumnya (Xavier, 2011).