GEMPA BUMI DI SENTANI MEMBELAH KAMPUNG ATAMALI MENJADI DUA

Oleh Philip Kopeuw

0275 – Flavouw Sentani, Rabu 7 Maret 2012 – Jam 00:44

 Kita masih ingat bencana alam yakni gempa bumi yang mengakibatkan Tsunami di Aceh 26 Desember 2004, telah menelan korban ribuan jiwa. Gempa bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 juga menghancurkan daerah bantul dan lainnya. Begitu juga gempa bumi yang melanda Jepang pada tanggal 11 maret 2011  pukul 14;46 waktu setempat dengan kekuatan 8,9 skala richter waktu setempat itu berada pada kedalaman 24 km di bawah laut sekitar 130 km timur Sendai, Pulau Honshu, atau 373 km dari Tokyo dan mengakibat Tsunami yang menelan korban jiwa serta kerusakan yang hebat yang juga menyebabkan bocornya pusat nuklir, sehingga terjadi radiasi nuklir. Kejadian-kejadian gempa bumi bukan saja terjadi di luar Papua saja tetapi juga pernah terjadi di Sentani.

Sebagaimana diketahui indonesia mirip dengan Jepang yang terletak pada daerah rawan gempa bumi, tercatat dari sejak tahun 2004 sampai 2010:

  • 2004, Gempa Nabire 26-November dan Gempa + Tsunami Aceh 26-desember
  • 2005, Gempa Nias
  • 2006, Gempa Yogya 27-mei dan Gempa + Tsunami Pangandaran 17-juli
  • 2007, Gempa Sumbar, 6-maret dan Gempa Bengkulu 12-september
  • 2008: tanpa gempa dan bencana
  • 2009, Gempa Tasikmalaya, 2-sep dan Gempa Padang 30-september
  • 2010, Gempa + Tsunami Mentawai 25-oktober

Di sentani, kira-kira sekitar tahun 1970 pernah terjadi gempa bumi. Sumber penyebab gempanya tidak jelas. Gempa bumi ini terjadi dua kali. Gempa bumi yang pertama, menurut cerita Pendeta Jimmy Kabey, saat terjadi gempa bumi tersebut, goncangannya mengakibatkan kampung Atamali di Sentani terbela menjadi dua, yakni dari utara ke selatan. Saat gempa itu terjadi, orang-orang di kampung Atamali berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri masing-masing, bahkan ada yang sudah naik di atas perahu untuk menyelamatkan diri mereka.  Setelah beberapa saat kemudian, masyarakat kampung Atamali melihat bahwa kampung mereka sudah terbelah menjadi dua bagian. Lebar belahannya tidak jelas, tetapi katanya setelah gempa tersebut air danau sentani mengalir masuk melalui belahan itu, baik dari sebelah utara maupun selatan. Katanya ada anak-anak yang sempat mandi-mandi di dalam belahan yang sudah terisi air tersebut. Namun karena rasa tidak nyaman, kemudian anak-anak yang mandi dalam belahan air tersebut diminta oleh orang-orang tua mereka untuk keluar dari belahan tersebut.

Beberapa saat kemudian terjadi lagi gempa susulan kedua yang mengoncangkan kampung Atamali. Masyarakat kampung Atamali kembali berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Pada gempa susulan kedua ini, belahan tadi pada gempa pertama kembali tertutup. Untung saja, saat itu sudah tidak ada anak-anak yang mandi dan berenang pada belahan tersebut. Jikalau masih ada yang berenang, dapat dibayangkan bahwa mereka terkubur hidup-hidup dalam belahan yang kembali menyatu.

Saya merasa, peristiwa ini sangat penting untuk kita ketahui dan dapat dimasukan sebagai catatan sejarah peristiwa gempa bumi yang berdampak di wilayah Danau Sentani. Mungkin diantara kita ada yang belum pernah atau sudah pernah mendengar tentang kisah ini. Melalui sedikit catatan ini, barangkali ada rekan-rekan yang dapat menyambung menyempurnakan kebenaran tulisan ini.

 

SUMBER :

Informasi ini saya dengar dari Pendeta Jimmy Kabey. Beliau adalah gembala sidang dari Gereja Pentakosta di Indonesia Jemaat Maranatha Dunlop Sentani, Jayapura Papua. Senin 6 Maret 2012 – Jam 23:12 wit Di rumah Pastori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: