FILM DAN BUDAYA MASYARAKAT

Oleh Pilipus Kopeuw
Yahim Jumat 27 Mei 2011 – Jam 01:15 wib

Film adalah bagian dari kehidupan modern dan tersedia dalam berbagai wujud. Film bukan saja menyajikan pengalaman yang mengasyikan melainkan juga pengalaman hidup sehari-hari yang dikemas secara menarik dan dengan memasukan beragam budaya ke dalam film tersebut (Sumarno, 1996: 22).

Film yang pada mulanya dikenal hanya sebagai alat hiburan, lambat laun berkembang juga sebagai media pendidikan, informasi dan sebagai media ekspresi, maka lahirlah film dalam berbagai tema dan bentuk, dari yang kolosal hingga sukses komersial. Sampai kepada film jelek yang mendapat caci-maki dan film yang membawa misi pendidikan dan yang berbau propaganda, dan film yang tidak boleh beredar karena mengandung kritik sosial dan kritik kekuasaan. Bahkan film seakan telah menjadi nafas kehidupan bagi masyarakat, sehingga tiada hari tanpa film. Tetapi yang terpenting adalah telah muncul reaksi dan apresiasi dari masyarakat yang mulai selektif dan kritis terhadap tontonan.

Film dalam negeri telah hanyut dengan adopsi budaya asing, baik dari cara bicara, tingkah dan tata cara busana, sehingga tidak sedikit film dalam negeri yang dikatakan sebagai film asa jadi dan asal laris karena tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.
Hal itu menjadi kegagalan komunikasi, karena sering menimbulkan kesalafahaman, kerugian bahkan malapetaka. Resiko tersebut tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat lembaga, komunitas dan bahkan negara (Mulyana, 2004: 1).

Komunikasi adalah suatu fenomena yang rumit, apalagi bila para pelakunya berasal dari budaya yang berbeda. Dalam ungkapan lain, respon terhadap suatu pesan bisa bervariasi, mulai dari pesan terbuka (overa) yang disadari, hingga respon biologis (indeks atau gejala) yang tidak disadari. Oleh karena itu, pesan yang disampaikan dalam film kadang tidak tepat sasaran, jelas bahwa banyak komunikasi yang tidak kita sengaja, sebenarnya berdampak penting bagi diri sendiri dan orang lain, khususnya ketika kita berkomunikasi dengan orang lain (Mulyasa, 2004: 5).

Oleh karena asuhan budaya ini, setiap individu akan …. suatu penafsiran khas budayanya yang nanti dianggap paling normal. Ketika ia menghadapi suatu realitas budaya yang baru. Tidak ada jawaban yang mutlak ketika kita berinteraksi dengan budaya lain, meskipun terkadang kita merasa bahwa cara budaya kita adalah yang paling alami.

Pengaruh budaya asing yang jelas berbeda dengan budaya timur. Pengertian makna film pun makin menjauh. Masyarakat menyaksikan film tersebut, namun penuh dengan kritikan pedas. Karena tampilan pada layar yang tidak sesuai dengan pribadi bangsa Indonesia. Situasi ini menambah penderitaan film Indonesia, terputus dalam persaingannya (Sirait, 1999: 53).

Sementara peran budaya sangat besar dalam kehidupan kita. Apa yang kita bicarakan, bagaimana membicarakannya, apa yang kita lihat, perhatikan, atau abaikan, bagaimana kita berpikir, dan apa yang kita pikirkan, dipengaruhi oleh budaya kita. Seperti dikatakan Goodman, manusia telah berkembang hingga ke titik yang memungkinkan, budaya menggantikan naluri dalam menentukan setiap pikiran dan tindakan kita. Termasuk cara kita berkomunikasi adalah hasil dari apa yang diajarkan dalam budaya kita (Mulyasa, 2004: 16).

Ketika film masih merupakan tontonan utama, kita katakan tiada hari tanpa film, tetapi sekarang setelah TV masuk ke rumah-rumah, kita katakan tiada jam tanpa TV. Kalau dulu orang pergi ke bioskop lazim berdua-duaan, tapi kini orang seisi rumah boleh menonton TV secara beramai-ramai dan dengan tingkah laku sebenarnya dan sebebas-bebasnya.

Film masa depan adalah film produk budaya dari masyarakat yang kritis dan selektif. Kita tidak mau lagi mengkondisikan masyarakat hanya sebagai obyek atau hanya sebagai masyarakat konsumerisme, tetapi haruslah menjadi masyarakat yang mampu menolak yang jelek dan memilih yang baik.

Sebelum film masa depan menjadi kenyataan, hendaklah tradisi bersikap kritis dan berani menyampaikan pendapat atas semua sendi-sendi kehidupan. Mulai dibina dan dibiasakan, demikian juga atas tontotan yang tidak menguntungkan, terutama tontonan bagi anak-anak sebagai generasi penerus haruslah dipikirkan dan diprogram benar-benar (Sirait, 1999: 56).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: