KEBANGKITAN KRISTUS YESUS MEMBUKA PIKIRAN KITA

Oleh Philip Kopeuw

Yogyakarta, Minggu 22 April 2012 – Jam 08:00 wib

 

Paskah  sudah lewat atau belum? Paskah adalah hari pertama dari kebangkitan Kristus Yesus.  Itu artinya, Paskah kita rayakan setiap minggu. Khotbah kali ini didasari dari dalam kitab Kisah Para Rasul 3:18b-19; 1 Yohanes 3:1-7 dan Lukas 24:35b-48.

Kita punya pengalaman tentang “ketakutan”. Orang yang fobia takut dengan ketinggian. Ada orang yang punya rasa ketakutan mau datang ke rumah calon mertua yang kejam, dia antisipasi dengan membawa makanan kesukaan calon mertuanya. Ketakutan dapat membuat orang mempersiapkan diri dengan baik.

Hobbi orang Indonesia adalah nonton layar tancap dengan sajian film-film horror, yang diperankan oleh Zusanna sebagai sundel-bolongnya. Biasanya anak-anak berangkat dari rumah dengan semangat untuk nonton film di layar tancap, tetapi setelah nonton film horor tersebut mereka pulang dengan rasa ketakutan. Ketakutan terhadap setan, gondoruwo (pohon beringin) itu adalah ketakutan yang membuat manusia menjadi bodoh. Misalnya, manusia laki maupun perempuan, semakin tua mereka takut dapat jodoh. Kadang-kadang kalau ada yang mau menikah dengan mereka langsung diterima. Bulan April ini adalah bulan “Ujian Nasional” siswa, guru, dan orang tua pada ketakutan, maka diselenggarakan doa massal, siara ke taman makam, dan usaha illegal lainnya dalam melakukan dosa bersama supaya lulus ujian nasionalnya. Takut membuat manusia bodoh. Ketakutan membuat kita tidak lagi berpikir sehat.  Di dalam bagian Alkitan di atas dapat dilihat bahwa Ketakutan itu asalnya dari dalam diri murid-murid Yesus sendiri. Padahal berulang-kali Yesus sampaikan kepada murid-muridNya bahwa ia akan mati dan pada hari yang ketiga akan bangkit dari antara orang mati. Demikian halnya dengan kita, ketakutan yang kita alami asalnya adalah dari dalam diri kita sendiri. Ketakutan membuat pikiran kita beku. Ketakutan menghalangi hidup kita untuk berkarya. Ketakutan juga seringkali sengaja disebarkan. Jemaat juga kadang-kadang ditakuti di dalam gereja tentang perpuluhan, dan hari kiamat.

Iman adalah kebebasan karena TUHAN telah memerdekan umat manusia. Kedatangan dan kehadiran Yesus di tengah-tengah murid-muridNya membebaskan  dan menghadirkan damai sejahtera. Syalom dari Yesus bukan sekedar salam, tetapi salam yang membebaskan murid-muridNya. Sebab salam dari Yesus dilanjutkan dengan tindakan membebaskan murid-muridNya dari rasa ketakutan.

Yesus minta makan kepada murid-muridNya karena pada waktu itu ada keyakinan tentang adanya setan. Itu sebabnya, Yesus ingin menunjukkan kepada murid-muridNya bahwa Dia bukan setan. Setan tidak dapat disentuh atau dirabah, setan juga tidak dapat makan seperti manusia. Yesus mau menunjukan kepada mereka bahwa Dia adalah manusia dan bukan setan. Hal ini dilakukan Yesus untuk membuka pikiran murid-muridNya. Yesus membuka pikiran kita. Dari sini kita memahami bahwa akal juga ternyata penting.

Otak manusia sangat penting. Menurut survey, otak orang Indonesia sangat laku di jula ke luar negeri karena masih original. Masih original karena jarang digunakan. Perlu ada keseimbangan antara akal dengan iman. Akal bicara tentang kreativitas. Iman bicara tentang refleksi. Iman berusaha untuk mengerti. Pengertian yang lebih baik dalam membangkitkan iman yang lebih kuat (Anselmus). Beriman juga harus kritis. Iman yang sehat memberi pengertian yang sehat.

Adakah orang Kristen di zaman ini, adakah gereja di zaman ini, adakah Anda dan saya dapat menjadi saksi kebangkitan Kristus Yesus bagi zaman ini? Itu pertanyaan pokok. Kita tidak pernah melihat Yesus dan kebangkitan-Nya tetapi itu tidak berarti kita tidak bisa menjadi saksi kebangkitan-Nya. Menjadi saksi secara harafiah dari peristiwa kebangkitan memang bukan anugerah bagi kita yang hidup sekitar 2000 tahun sesudah peristiwa Yesus. Namun menjadi saksi dari peristiwa kebangkitan dapat juga dikerjakan dalam penghayatan dan pengalaman religious justru karena Tuhan hadir sepanjang zaman sehingga peristiwa Yesus menjadi peristiwa bagi kita. Dalam rangka ini, Lukas 24 tentang perjumpaan Yesus dengan para murid dapat menjadi pemamdu spiritual bagi kita yang rindu mengalami Tuhan yang dan kemudian menyaksikan pengalaman dengan Tuhan yang bangkit itu kepada seluruh dunia kita lewat spiritualitas kita sehari-hari.

Kehadiran Yesus menakutkan bagi para murid. Dalam pandangan para murid, Yesus sudah tidak sama dengan mereka yesus itu sudah bukan manusia lagi tetapi hantu. Ucapan “Damai Sejahtera…” menjadi sapaan penting dalam kebangkitan Yesus. Damai Sejahtera : Eirene: secara langsung dapat diartikan “kamu satu dengan aku, kamu di dalam hatiku menjadi satu dengan hidupku”. Sapaan ‘damai sejahtera’ menjadi sapaan pembuka untuk mengubah ketakutan para murid. Yesus ingin membuka mata para murid seperti perjalanan sebelumnya dengan Kleopas ke Emaus. Tangan dan kaki bekas luka penyaliban masih terlihat, bahkan Yesus minta ikan untuk dimakan. Semua bagian ini untuk menegaskan bahwa Yesus bangkit secara fisik dalam tubuh dan darah. Kebangkitan mengubah para pengikut Yesus. Kebangkitan Yesus membuka selubung yang selama beberap minggu menutup hati dan pikiran para murid. Ketika selubung itu terbuka mereka menjadi saksi atas kebangkitan-Nya (ay 48).

Menjadi saksi bukan secara dogma apa yang Anda tahu, tetapi mengalami perjumpaan dengan Kristus Yesus dalam perjalanan iman, seperti yang pernah dialami para murid. Pengalaman religious dengan Tuhan  yang bangkit tidak akan dapat dipadamkan dengan kerumitan dalil dam perdebatan tiada henti mengenai ini dan itu. Bukannya sekali lagi perdebatan apologetic dan polemic tidak berguna, namun pengalaman keterbukaan batin yang mungkin tidak dapat disajikan dalam argumentasi yang runtut dan sistematis jauh lebih kaya. Sebab di dalamnya terkandung perjumpaan dengan IA yang mengajar dan mengubah kelambanan hati menjadi kobaran, ada persekutuan rasuli dengan IA yang mau bersama kita makan (ay. 42).

Kebangkitan Yesus menjadi damai sejahtera bagi setiap saksi Kristus yang sampai hari ini melayani. Damai sejahtera itu juga yang harus terus kita bawa ketika memberitakan kebangkitan Yesus, bukan perang atau memaksa orang untuk mengerti Yesus yang bangkit. Damai sejahtera Yesus mendamaikan kita dengan Allah dan sesame menjadi inti kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus lebih dari peristiwa sejarah tetapi damai bagi dunia dan manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: