ONDOFOLO DAN KHOSE ADALAH RAJA – RAJA DI SENTANI

Oleh Philip Kopeuw

Yogyakarta Jumat 20 April 2012 – Jam 07:45 wib

 

Pada tahun 2000-an saya pernah mengikuti suatu pertemuan “Akbar” khusus bagi para Ondofolo dan Khose seluruh Sentani di Hotel Sentani Indah. Pada waktu itu sebagai pembicara adalah Drs. Jhon Ibo, MM. selain membahas tentang “Otonomi Khusus yang mengarah kepada kemerdekaan Papua”, saya juga sempat mengingat sebuah penjelasan tentang pemerintahan adat Sentani. Dalam penjelasan itu, dikatakan bahwa masyarakat adat Sentani memiliki sistem atau struktur pemerintahannya sendiri. Sistem atau struktur pemerintahan adat Sentani sebagai berikut: Pucuk pimpinan adalah Ondofolo. Ondofolo membawahi 5 (lima) Khose (Kepala Suku). Setiap Khose membawahi 5 (lima) Akhona (kepala keret). Setiap kepala keret membawahi kelompoknya masing-masing. Ondofolo tidak dibawah perintah siapa-siapa lagi. Itu berarti Sang Penguasa di atas Ondofolo hanya Sang Pencipta.

Pemerintahan adat Sentani bersifat kerajaan. Karena untuk pergantian “Tahta” Ondofolo dan Khose itu berdasarkan garis keturunan ayah (patrilineal) atau bersifat hirarki. Misalnya, kalau Ondofolo meninggal dunia berarti anak laki-lakinya yang tertua akan diangkat dan dilantik menjadi Ondofolo. Begitu juga untuk Khose atau Akhona. Jika seorang Khose atau Akhona meninggal dunia, maka anak laki-laki yang tertua secara otomatis akan diangkat dan dilantik menggantikan posisi itu. Pergantian ini merupakan suatu sistem warisan. Di bagian daerah atau Negara lain, sistem pemerintahan keondofoloan ini lebih di kenal dengan sistem kerajaan. Seperti kerajaan Tidore, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Goa, Kerajaan Jepang, Inggris, Belanda, dan lainnya. Jadi Jabatan Ondofolo dan Khose sebenarnya adalah jabatan “Raja”. Artinya Ondofolo adalah seorang Raja. Demikian juga Khose adalah seorang Raja.

Suatu wilayah yang dipimpin oleh raja atau ratu yang rakyatnya patuh dan tunduk pada perintah dan aturan kerajaan, itulah kerajaan. Ciri-ciri sebuah kerajaan: (1) bentuk pemerintahan di kepalai oleh raja; (2) tanda-tanda kebesaran raja adalah payung dan tahta; (3) martabat (kedudukan) raja setelah nenek dan kakek berpulang dipegang oleh ayahanda; (4) wilayah kekuasaan seorang raja, wilayah-wilayah tanahnya berbatasan dengan siapa  saja sangat jelas; (5) sifat sebagai raja: jika tiada diketahui tujuh perkara, tiada sempurna tanpa rajanya; (6) menjadi raja: naik tahta menjadi raja.

Pemerintahan dalam masyarakat Asia sebelum pengaruh Barat muncul disandarkan kepada sistem beraja. Dalam sistem ini masyarakat memberikan kesetiaan yang tidak berbalah bahagi kepada raja. Kedudukan raja amat dihormati dan menjadi suatu keramat kepada rakyatnya. Dalam menilai dan mengkaji sistem ini dapat dinilai melalui konsep raja dari sudut pandang rakyat.

Melalui konsep yang dipegang, rakyat melihat raja mereka sebagai individu yang lain daripada manusia yang lain. Rakyat melihat raja mereka sebagai individu yang penuh keramat dan kesaktian. Raja mempunyai kuasa yang tiada tandingan dengan manusia lain. Keadaan seperti ini dapat dijelaskan melalui konsep ketuhanan atau kekuasaan ketuhanan yang ada pada raja. Dengan kata lain, penghormatan rakyat kepada rajanya bergantung pada kekuasaan ketuhanan yang ada pada raja itu. Dengan kepercayaan bahwa raja itu, sama adalah tuhan, anak tuhan, mempunyai kuasa tuhan atau individu lindungan tuhan, raja menjadi objek sama ada untuk disembah atau menurut segala arahan atau titahnya. Melawan atau cubaan memberontak menjadi satu kesalahan besar dan boleh menyebabkan mereka yang berkelakuan seperti itu disumpah atau dimurkainya.

Kemurkaan raja ini dianggap sebagai kemurkaan tuhan dan individu yang melanggar kepercayaan ini akan mendapat kecelakaan. Kepercayaan seperti ini telah meletakkan raja dalam situasi yang selesa dan senantiasa mendapat kepatuhan daripada rakyat (Yoho).

Namun apa yang terjadi saat ini, jaman telah membuat generasi muda asli Sentani kehilangan figure raja. Generasi muda tidak lagi menhargai para Ondofolo –Khose. Ondofolo-Khose saat ini dianggap biasa, sama dengan masyarakat lain. Apa yang salah disini? Mengapa hal ini bisa terjadi? Adakah generasi muda Sentani bisa mengembalikan posisi Ondofolo-Khose sebagai Raja di Sentani? Kita tunggu saja perubahan selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: