ADAKAH ORANG SENTANI DAN ONDOFOLO-KHOSE SALING MENDOAKAN?

Oleh Philip Kopeuw

0303 – Flavouw Minggu 6 Mei 2012 – Jam 20:07 wip

 Saat saya memikirkan beratnya tanggung jawab yang dipundak para Ondofolo dan Khoselo dari segi adat dan budaya, serta kesulitan kehidupan yang dialami oleh masyarakat asli Sentani karena akibat dari perubahan saman yang begitu cepat dan penuh kompetitif, maka muncullah beberapa pertanyaan, antara lain: apakah masyarakat asli sentani selalu berdoa untuk eksisnya pemerintahan dan kepemimpinan Ondofolo dan khoselonya? Apakah para Ondofolo dan Khoselo selalu berdoa untuk peningkatan taraf hidup masyarakat asli Sentani? Apakah Ondofolo dan Khoselo serta masyarakat menyadari krisis yang sedang melanda Sentani? Apakah ada kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan dan kemiskinan?

 Seorang Ondofolo membawahi 5 khoselo (kepala suku), dan 25 akhona (kepala keret). Setiap kepala suku memiliki 5 akhona/kepala keret. Dahulu tugas pemerintahan Ondofolo dan Khose agak mudah karena semua rakyat selalu membawa upeti ke rumah mereka. Sehingga selalu ada persediaan makan dan harta benda lainnya. Masuknya budaya baru telah merusak dan merubah budaya Sentani.  Akibatnya saat ini, masyarakat tidak lagi membawa upeti kepada Ondofolo dan Khose. Masyarakat Sentani lupa, atau sengaja melupakan atau tidak tahu tentang pentingnya pemberian upeti kepada Ondofolo dan Khose, jawaban atas pentanyaan ini butuh riset khusus untuk menjawabnya. Menjabat sebagai Ondofolo dan Khoselo, untuk masa kini bukanlah hal yang mudah untuk menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin adat maupun kepala suku. Ondofolo dan Khose di seantero Sentani telah kehilangan sumber pendapatan akibat masuknya budaya baru yang telah menggesar aturan-aturan adat. Masyarakat Sentani masa kini tidak lagi membawa upeti kerumah Ondofolo dan Khose. Saat ini para Ondofolo dan Khose mencari nafkah sendiri bagi kehidupannya.

 Selain itu yang menjadi ironis lagi adalah bahwa hampir di setiap kampung ada gereja dan rumah-rumah ibadah lain. Tetapi apakah tokoh-tokoh agama menyadari kondisi para Ondofolo dan Khose yang sudah kehilangan hak upeti karena masyarakat adat kini mengalihkan upeti ke gereja berupa persepuluhan, korban ucapan syukur dan persembahan lainnya? Apakah mereka juga tekun mendoakan kesejahteraan Ondofolo dan Khesenya? Bagaimana perhatian dan kerja sama gereja dengan Ondofolo dan Khose? Apakah warga gereja juga punya kesadaran yang sama? Terlebih lagi mereka yang sebagai bagian dari masyarakat  adat dibawah pemerintahan Onfodolo dan Khose? Saya pikir gereja dan agama lain di Sentani tidak pernah dan jarang mendoakan para Ondofolo dan Khose. Apalagi memikirkan kesejahteraan Ondofolo dan Khose? Kenapa demikian? Karena kehadiran gereja saat ini tidak memahami betul dilemma yang sedang dihadapi oleh para Ondofolo dan Khose. Gereja hanya sibuk dan berputar-putar masalah spiritual dan tidak mengimbangi dengan hal-hal yang rasional serta berhubungan dengat adat istiadat. Di sisi ini gereja gagal memikirkan dan memperhatikan kondisi kritis yang sedang dialami oleh para Ondofolo dan Khose di se-antero Sentani.

 Salah satu hal yang menyebabkan masayarakat adat tidak mendoakan Ondofolo dan Khose menurut pemikiran dan analisa saya adalah karena lunturnya loyalitas masayarakat adat kepada para Ondofolo dan Khose. Masyarakat adat Sentani lebih mementingkan kepentingan individu di banding kepentingan kesejateraan Ondofolo dan Khose di kampungnya. Beberapa tahun terakhir ini, beberapa kampung di Sentani mudah diserang, dibakar, dikejar oleh orang dari dari daerah lain. Orang Sentani yang banyak itu tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka melarikan diri dan mencari perlindungan dan keselamatan pribadi. Di belahan Sentani lain, kasus ini hanya menjadi buah bibir. Contoh kasus. Orang Yahim pernah di serang oleh orang-orang pegunungan; Kampung Yoka pernah dibakar oleh orang pegunungan, Rumah Ondoafi Doyo Bambar pernah di bakar oleh orang pegunungan; Ondoafi Ifar Besar pernah diincar oleh orang tak dikenal untuk dibunuh, akhirnya rumahnya di jaga oleh polisi; dan masih banyak kasus lain yang belum terdata yang dilakukan oleh orang luar yang melecehkan harkat dan martabat orang Sentani.

 Kalau saja masyarakat adat Sentani memiliki loyalitas yang tinggi terhadap Ondofolo dan Khose, saya sangat yakin kita akan bangga berperang dan kita akan sangat bangga mati sebagai orang Sentani karena loyalitas itu. Siapa bilang orang Sentani tidak tahu berperang? Hanya orang-orang yang tidak tahu yang berani berkata demikian. Kita perlu tahu dan camkan baik-baik dan ceritakan kepada anak cucu-cici kita bahwa orang Sentani sangat ahli dalam berperang. (baca : cara berperang suku Sentani). Intinya adalah sebelum berperang ada upacara perang dan target. Mottonya dalam berperang adalah “na phe ya emale, na phe ya memale”. Motto ini sekarang terpampang di depan Brigader Infantri Bataliyon 751 Sentani Jayapura Papua. Arti dari pada motto itu adalah Pergi utuh, pulang utuh, target tuntas, kemenangan di tangan.

 Paling tidak catatan ini dapat menjadi sebuah renungan saja untuk semua orang Sentani di Seluruh jagad ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: