MEMBANGUN JIWA BISNIS PADA PEMUDA-PEMUDI SENTANI

Oleh Philip Kopeuw

Cupuwatu 2 Kalasan Sleman Yogyakarta, Sabtu 26 Mei 2012 – Jam 07:49 wib

 Melihat perkembangan dan perubahan zaman yang begitu cepat tanpa kompromi, timbullah sebuah keprihatinan khusus buat pemuda-pemudi Sentani. Berdasarkan pengalaman, kondisi riil dan pengamatan, kita jujur bahwa dunia kerja dan bisnis apapun didominasi oleh pemuda-pemudi non-Sentani. Contoh kongkrit: Yang jualan CD di pinggir jalan, pedagang bakso, es cream (es ting-ting), tukang ojek, pemilik/penjaga konter pulsa dan Hand Phone, karyawan toko besar maupun kecil, karyawan tour and travel, sopir taxi maupun sopir rental car. Pemuda-pemudi sentani lebih kepada konsumtif dan tidak produktif.  Ini bukan saja terjadi di Sentani, tapi hampir di Papua pada umumnya. Saya rasa perlu menulis ini sekedar membuka wacana renungan dengan harapan mudah-mudahan generasi muda Sentani sadar dan bangkit untuk melangkah membangun jiwa kerja keras dan mau berbisnis seperti anak-anak muda dari non-Papua.

Ketika saya berada di beberapa daerah seperti Solo, Ngawi, Yogyakarta, Jakarta dan Makasar, hal yang menyentuh hati saya adalah ketika melihat anak-anak muda terjun dalam dunia bisnis. Banyak dari anak-anak muda yang berjuang berkerja apa saja untuk mendapatkan uang. Mulai dari pedagang keliling, penjual di pasar, penjual dipinggir jalan, dari pekerjaan yang baik sampai yang tidak baik mereka lakoni demi mendapat uang. Ada cita-cita yang dibangun dari usaha-usaha kecil untuk meraih sesuatu yang besar. Beberapa minggu lalu di salah satu TV dalam acara Hitam Putih disajikan kisah orang-orang muda yang sukses. Yang menarik bagi saya ada seorang anak muda usia 19 Tahun tetapi sudah punya usaha sendiri. Dari situ saya ingat perkataan Mario Teguh yakni “di dunia ini tidak ada yang pasti. Itu berarti apapun mungkin.” Itu juga yang sudah terjadi dibeberapa kalangan anak muda yang sukses.

Ketika tertunda kuliah saya di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tahun 2011-2012, saya kembali ke Sentani, Sempat saya ketemu dengan Ketua KNPI Kabupaten Jayapura, di Kantor DPRD Kabupaten Jayapura. Dalam percakapan kami, Franklin Wahey, S.Sos selaku Ketua KNPI mengatakan bahwa mereka punya program untuk pemuda  yaitu “memanusiakan manusia”.  Memikirkan program tersebut, Saya pikir topik ini bisa menjadi masukan atau home work untuk KPNI Kabupaten Jayapura. Kira-kira bagaimana caranya kita coba membangun jiwa bisnis pada pemuda-pemudi kabupaten Jayapura. Hal ini perlu menjadi perhatian para pembuat kebijakan (para anggota legislatif).

Kita perlu akui bahwa “isi otak, budaya, kerja keras, jiwa bisnis, hidup untuk mencari kekayaan, hidup untuk diri sendiri” adalah hal-hal yang sangat-sangat berbeda antara orang Sentani dengan orang non Sentani. Kita mungkin hanya memikirkan kekinian atau hari ini makan apa, urusan besok dipikirkan besok. Perhatikan orang non-Sentani mereka terlihat nyata lebih sukses dibanding orang sentani yang menyebut diri sebagai “Tuan Tanah”. Kalau sedikit menyinggung, kita punya tanah tapi hidup susah. Sedangkan para pendatang tidak punya tanah tapi toh, mereka bisa punya uang banyak, bisa cepat bekerja apa-saja. Dan sebagainya. Kalau sejenak kita rehat dan berpikir…berarti ada yang salah (missing) dalam diri kita sebagai orang Sentani. Sampai-sampai orang pendatang mengatakan “kasihan orang Sentani bagaikan anak ayam mati diatas lumbung padi.” Artinya daerah Sentani kaya dengan sumber pekerjaan. Apa saja mungkin dikerjakan dan menghasilkan uang. Namun kenapa hal itu tidak dilakukan dan ada pembiaran terhadap orang non Sentani lebih menguasai dunia kerja dan bisnis?

Beberapa tahun lalu, PEMDA Kabupaten Jayapura pernah mengirim bebera pemudi dan ibu-ibu muda untuk mengikuti pelatihan masak dan kerajinan tangan. Demikian juga dari pemberdayaan wanita mengirim Ibu-Ibu untuk pelatihan kerajinan tanga di Sleman. Hasilnya tidak Nampak di lapangan, bagaimana follow up nya. Seperti kegiatan tersebut hanya program-program asal jadi tanpa pendampingan untuk menjadikan peserta pelatihan mandiri dan sukses.

Saya ingin mengajak kita semua untuk memikirkan bagaimana membangun jiwa kerja dan bisnis pada pemuda-pemudi Sentani. Yang saya kawatirkan adalah “kita akan jadi penontong dan tidak mungkin jadi tuan di negeru sendiri.”

FDS adalah ajang penting dalam mengangkat dan melestarikan budaya Sentani. Sebagai generasi muda apa yang bisa kita kerjakan pada momen ini? Apakah tetap jadi penonton atau memanfaatkan kesempatan ini untuk meraut keuntungan melalui suatu usaha yang relevan?

Saya pernah menulis sebuah artikel dengan tulisan membangun bisnis arang kayu di Sentani. Saya pernah bicarakan hal ini dengan Kepala Distrik Ebhungfauw Ibu Martha Pangkali dan Kepala Kampung Babrongko.  Tapi semua hanya sebatas diskusi tanpa implementasi, padahal peluang usaha kalau dijalankan pasarnya sangat luas.

Tulisan ini hanya sebuah renungan. Keputusan ada ditangan para pembuat kebijakan dan pihak terkait baik PEMDA maupun KNPI Kabupaten Jayapura tetapi juga kepada pemuda-pemudi sentani. Apakah kita akan tetap berada dalam kondisi tidur yang berkepanjangan ataukah saat ini kita mau bangkit dan merubah sejarah di atas tanah Sentani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: