SAYA, DIA, ANDA ATAU KITA YANG DIA PUNGUT DARI SAMPAH

Oleh Philip Kopeuw

0327 – Yogyakarta, Minggu 00:51 wib

 

Bicara sampah, dunia ini penuh dengan sampah. Di sini ada sampah, di sana pun ada sampah, bahkan dimana-mana ada sampah Di Jawa pada umumnya, pemandangan tentang pengumpul sampah sudah tidak asing dan telah menjadi suatu profesi pengumpul sampah. Pengumpul sampah kadang melakoni tugas pencurian jika ada kesempatan. Itu sebabnya, jangan heran kalau baca tulisan “Pemulung dilarang masuk”. Pemulung adalah sebutan bagi para pemungut sampah. Bukan sembarang sampah. Pemulung sampah tahu persis, jenis-jenis sampah yang masih bisa ditukar dengan rupiah. Kadang sampah dapat di daur ulang menjadi asesoris atau barang-barang yang indah dan unik dengan nilai harga jual yang bervariatif.

Bicara sampah berarti kita bicara barang-barang yang dibuang dan tidak terpakai. Mungkin kita pernah dengar istilah “orang pinggiran; masyarakat kumuh; orang miskin; perkampungan orang kusta; kompleks pengemis, kompleks pelacuran; kelompok punk; pengamen-pengamen; banci-banci taman, banci lampu merah; perkampungan pemulung, pemabuk, pengangguran rese dan sebagainya. Kadang mereka-mereka ini dapat di kategorikan sebagai “orang-orang sampah”. Sampah berarti barang2 yang sudah dibuang yang dianggap tidak berarti. Kelompok masyarakat ini juga kadang dianggap”sampah” tidak berarti, tidak bernilai. Kadang mereka ditertawakan, kadang mereka dilecehkan, kadang mereka dihina dan sebagainya. Padahal nilai kita sama dihadapan Tuhan. Titel terakhir kita sama-sama Almahuma atau Almarhum. Datang tidak bawa apa-apa, pergi juga tidak bawa apa-apa. Tetapi, Akibat dari kerasnya perjuangan hidup yang penuh kompetitif, mengakibatkan banyak orang yang kalah dalam perjuangan, mereka tersisi dan terbuang bagaikan sampah. Hidup tak mau, matipun segan. Ingin hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Akibatnya, banyak diantara kita, hidup mereka bagaikan sampah.

Tahun 2011 sekitar bulan juni, saya coba melerai suami istri yang bertengkar. Tetapi suami istri yang hatinya sudah jauh dan telinganya sudah seperti tuli  itu berteriak-teriak. Kalimat yang sempat saya dengar dari mulut istrinya adalah “dia (suaminya) saya pungut dari sampah, supaya jadi baik. Saya pungut Anda (suaminya) dari sampah, kenapa kamu (suaminya) tidak menghargai maksud baik saya itu”. Ternyata suaminya dahulu ada seorang pemabuk berat. Mungkin waktu itu suaminya punya motto: “Tiada hari tanpa mabuk”. Di pandangan sang istri ini, suaminya adalah sampah, tetapi karena dia cinta dan punya hati untuk mau merubah suaminya. Ibarat sampah yang mau didaur ulang sehingga menjadi sesuatu yang baik dan berguna. Dalam pertengkaran ini, Nampak bahwa sampah itu masih tetap sampah. Kalau saja, saya menempatkan diri pada posisi suaminya, betapa sakitnya hatiku disebut sebagai “Sampah”. Mungkin pikiran istrinya, sampah harus turut sama pemulung, mau dijadikan apa, itu suka-suka pemulung. Tapi beda dengan suami yang dianggap sampah oleh istrinya, ia punya perasaan, ia adalah manusia, punya pikiran, punya jiwa, punya kehendak bebas dan sebagainya. Mungkinkah si istri berharap dengan mengambil suaminya dari “sampah” supaya suaminya itu menjadi penurut dan taat kepadanya selalu?

Anak-anak muda dalam berpacaran ingin mendapat kekasih yang masih perawan dan perjaka. Kadang yang sudah tidak perawan dan tidak perjaka dianggap tidak suci, kotor sama seperti sampah. Mereka ingin mencari kekasih yang masih bersih, bukan barang bekas pakai. Jaman dulu, masih banyak kemungkinan pemuda-pemudi untuk mendapatkan kekasih yang masih perawan maupun masih perjaka. Namun pada masa kini, untuk mendapatkan yang masih perawan atau perjaka sangat sulit. Kenapa sangat sulit? Sekarang ini, anak SD saja sudah tahu pacaran, apalagi yang SMP, SMA dan yang kuliah? Gambar-gambar porno dapat dengan mudah diakses lewat HP. Namun harapan saya, masih ada pemuda-pemudi yang menjaga kesuciannya. Menjaga kesucian ibarat emas. Mau ditaruh dimana saja tetap emas, tidak mudah terpengaruh dengan suara-suara napsu birahi si iblis yang selalu menggoda. Keperawanan dan keperjakaan itu seharusnya menjadi “Kado” yang berharga bagi istri atau suami. Saya juga tidak mau mendengar, kalau anak-anak mudah banyak yang sudah dianggap kotor seperti sampah. Biasanya, kalau muda-mudi sudah kotor dan dianggap seperti sampah, masa lalu yang kotor itu akan mempengaruhi kehidupannya kelak.

Di Yogyakarta, saya bertemu dengan seorang bapak dan rekan-rekannya, beliau curhat kepada saya tentang istrinya yang sedang punya Pria Idaman Lain (PIL). Bapak ini diabaikan oleh istrinya, ia sudah tidak dihargai lagi. Padahal bapak ini sangat mencintai istrinya. Entah alasan apa, istrinya sudah beralih ke pelukan lelaki lain. Bapak ini dianggap tidak ada apa-apanya, sama seperti sampah yang tidak berarti. Kata temanya: kamu kawin lagi saja, tidak sedih. Cari pelacur aja dan jadikan istri. Alasannya adalah bahwa Bapak ini kawin dengan perempuan baik-baik saja, istrinya lari pergi kawin dengan laki-laki lain. Kalau begitu kamu kawin saja dengan pelacur supaya dia bisa berhenti jadi pelacur dan jadi istrimu. Sebuah saran yang lucuh dalam pendengaran saya. Ibarat sampah yang mau di daur ulang menjadi lebih baik lagi.

Di dalam Alkitab, ada kisah tentang “Perempuan Samaria yang bertemu siang hari dengan Yesus di sumur Yakub”. Oleh orang Yahudi, menganggap orang Samaria adalah sampah. Saya membayangkan, ketika kita dianggap sampah oleh orang lain, pasti kita merasa minder dan menarik diri dari pergaulan orang-orang yang menganggap kita sampah. Hati kita pasti sakit, pikiran kita pasti tidak tenang, kita penuh dengan tekanan, ruang gerak menjadi sempit, aktifitas menjadi mati, dan putus harapan. Hal yang sama dirasakan perempuan Samaria, sehingga ia datang siang hari saat sunyi, tidak ada orang di sumur itu supaya ia dapat mengambil air. Wanita Samaria ini berbicara juga tentang laki-laki Samaria. Semua orang Samaria dianggap sampah. Hal yang luar biasanya adalah Yesus peduli dengan orang-orang yang dianggap sampah oleh orang lain.

Ketika saya membaca aebuah Artiket tentang “Tanah Moni” ada kalimat yang menyayat hati saya. Kalimat itu tertulis: “Burung cenderawasih lebih berharga dari pada orang Papua” dan “Alam Papua lebih berharga dari pada orang Papua” itu bahasa Bos-Bos di Jakarta. Orang Papua dianggap tidak ada apa-apanya. Itu berarti kita dianggap sampah. Ooh sakit sekali hati ini membaca kalimat itu. Belum lagi menyimak artikel tentang kekayaan pendapat  PT Freeport Indonesia pertahun yang Trilyunan, tapi hanya 1% (sampah) saja yang berikan buat masyarakat Adat di Komoro dan Amugme. Sedih dan sakit hati ini, kita yang punya hak, tetapi dianggap dan dinilai senilai dengan sampah.

Dalam Alkitab juga ada kisah tentang orang kusta. Orang kusta dianggap sampah oleh masyarakat. Saya dengar di kota Sorong juga ada tempat khusus bagi orang kusta. Orang kusta sudah dibagi dalam beberapa kategori. Ada yang bisa disentuh dan tidak boleh disentuh. Ada boleh diajak bicara dan ada yang tidak boleh diajak bicara. Mereka di tempatkan jauh dari perkampungan dan diberi lebel pengenal “Kampung kusta”. Sepuluh orang kusta datang kepada Yesus, mereka semua disembuhkan. Hanya satu orang saja yang datang menunjukkan dirinya bahwa ia telah Sembuh dari kustanya.

Mungkin Anda ingat juga kisah seorang pelacur yang ketangkap pada saat rasia, kemudian digiring untuk dilempari dengan batu supaya mati. Namun apa yang terjadi, ketika mereka membawanya kepada Yesus. Apa kata Yesus? Siapa diantara kamu yang tidak berdosa, silahkan dia yang pertama kali memulai melemparkan batu kepada perempuan ini. ternyata tidak ada satupun yang punya nyali untuk melemparkan batu kepada perempuan ini. Luar biasanya, Yesus hanya bilang kepada pelacur ini: pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi. Perempuan pelacur ini dianggap sampah. Sehingga dapat dengan mudah dihakimi. Bagaimana kalau yang dibawa kepada Yesus adalah laki-laki pelacur, kemudian yang menyeretnya adalah perempuan-perempuan. Apa jawab Yesus? Pasti sama, yakni: siapa yang tidak berbuat dosa silahkan melempar batu lebih dulu kepada lelaki ini.

Seorang pemabuk berat datang kepada Pdt Benny Hinn di kamar hotelnya dan meminta supaya beliau mendoakannya. Sudara tahu, apa jawaban Benny Hinn? Ia tidak mau mendoakannya. Pemabuk yang dianggap sampah ini pergi dengan berlinang air mata. Akhir suatu saat. Tercipta sebuah syair lagu dari sang pemabuk ini yakni : Tak tersembunyi…kuasa Allah…Kalau orang lain di tolong…saya (pemabuk) juga…tanganNYA terbuka menunggulah…tak tersembunyi…kuasa Allah.

Kadang melihat banyaknya persoalan hidup itu, saya juga pernah merasa sebagai sampah di tempat tugas, kadang saya merasa sebagai sampah di pandangan orang-orang dekat saya, dikalangan pelayanan di gereja, di tengah masyarakat adat, di tengah sebuah kelompok dan komunitas. Satu yang menjadi kesimpulannya adalah “Yesus –lah yang dengan rela memungut saya, dia, Anda dan kita semua dari sampah”. Kita hanya bisa bilang TUHAN YESUS TERIMA KASIH BANYAK KARENA KAU TLAH MENGANGKATKU DARI SAMPAH.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: