HATIKU RUMAHKU

Oleh Philip Kopeuw
Yogyakarta Selasa 21 Agustus 2012 – Jam 15:49 wib

Hari minggu kemarin saya datang ibadah, dalam ibadah pemimpin pujian (songleader) menceritakan sebuah kisah tanpa judul, ada sepasang suami-istri, akan berpergian ke Negara lain dalam waktu yang cukup lama. Kemudian rumahnya mereka dititipkan kepada tetangganya, untuk tolong di jaga dan dirawat.

Tiga bulan kemudian kemudian rumah itu isinya porak-poranda dan berantakan. Setahun sudah berlalu, suami-istri ini balik, setelah membuka pintu rumah, batapa kagetnya mereka. Rumah yang tadinya ketika di titipkan kepada tetangga, sudah dirapihkan semua. Dengan harapan tetangganya dapat merawatnya juga dengan baik. Ternyata sudah berantakan dan rusak dimana-mana.

Akhirnya tetangga itu cerita, bahwa tiga bulan kemudian setelah suami-istri ini berangkat, ada sekelompok anak muda yang meminta ijin untuk membuat acara syukuran lulusan di dalam rumah itu. Tetangga ini mengijinkan. Sejak itu rumah ini menjadi berantakan sampai saat ini.

Maknanya apa dengan “hatiku rumahku”? Hati kita ada rumah kita, jangan pernah percayakan hati kita kepada hal-hal yang tidak baik. Hokum tabor tuai juga berlaku dalam hatiku rumahku. Apa yang ditabur dihati, dituai dalam tindakan. Pada awalnya dengan coba-coba, tetapi akhirnya terjerumus. Pada awalnya hanya ingin tetapi akhirnya melakukan dosa. Banyak diantara kita yang ikut ibadah dan pelayanan dengan rajin tetapi apa juga yang sering kita perbuat? Jika kita mau jujur pada diri sendiri tentang perbuatan kita. Jika satu per satu kita balik lembar kehidupan ini, ternyata kita sering terjatuh dan terjatuh lagi dalam dosa-dosa. Apakah itu dosa melalui perkataan, pikiran maupun perbuatan. Hati kita sedang dikelilingi oleh tamu-tamu yang ingin segera masuk. Tamu itu ada yang dan ada juga yang tidak baik. Untuk itu kita butuh pengawal di depan pintu hati, supaya tidak sembarangan tamu boleh masuk. Mengapa kita bisa jatuh di dalam dosa, karena kita salah mempercayakan hati atau rumah kita kepada hal yang salah. Kita salah mengijinkan orang untuk masuk. Kita salah menentukan gaya hidup. Kisah diatas bisa menjadi perenungan secara harafiah maupun secara spiritual yang rasional.

Walaupun demikian, untungnya Tuhan selalu mengulurkan tangan untuk menolong kita. Beruntung lagi kita masih hidup dan mencoba sedikit demi sedikit, setahap demi setahap untuk memperbaiki hati. Kita semua pingin supaya tidak jatuh jauh lebih dalam lagi dalam dosa, sehingga sering kita berteriak dalam hati Tuhan tolonglah kami. Jangan dosa kami menjadi penghalang berkatMU untuk kami. Hatiku rumahku, jika hatiku baik, rumahku baik, semuanya baik, sehingga tidak ada kesempatan untuk yang tidak baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: