HINDARILAH KECURANGAN DENGAN SADAR

Oleh Philip Kopeuw
Yogyakarta Rabu 26 September 2012 – Jam 17:59 wib

Artikel ini terinspirasi dari kasus yang sedang terjadi di lembaga pendidikan tempat saya bertugas sebagai dosen. Kasusnya adalah ada teman yang berstatus sedang tugas belajar tetapi kepangkatannya sudah golongan IIIc menurut issue yang berkembang. Menurut aturan, dosen yang berstatus sedang tugas belajar, tidak berhak mengusulkan kenaikan pangkat. Termasuk saya salah satunya, sampai hari ini masih berpangkat golongan IIIa. Teman yang di issue kan pangkat golongannya sudah IIIc ini adalah, dosen yang Tahun Mulai Tugas (TMT) nya masih jauh dibawah saya. Sedangkan ada teman-teman dosen yang sudah selesai tugas belajar dan sedang mengabdi atau sedang bertugas malah belum diurus kenaikan pangkat dan golongannya. Inilah yang menjadi pemicuh peledak emosi para dosen senior lainnya. Selain itu, ada dosen yang diberi penghargaan. Alasan diberikan penghargaan itu tidak jelas. Dari persoalan ini kemudian saya ingin menjadikannya sebuah refleksi untuk direnungkan. Hidup ini adalah pilihan. Itu artinya ada banyak opsi, kembali kepada kita mau memilih dan melakukan yang mana?

Ketika kita kanak-kanak mungkin dalam kita bermain dengan teman-teman ada yang berlaku curang. Misal dalam bermain petak umpet, bermain kelereng, main karet, main gambaran, atau permainan lainnya ada teman yang bermain tidak semestinya, supaya dia bisa menang, maka ketika kita tahu dia bermain dengan curang, kita akan katakan kamu mainnya curang. Apabila kecurangan itu tidak bisa diterima, kadang penyelesaianya dengan bertengkar atau berkelahi.

Pengalaman kita semasa sekolah, ketika menghadapi ujian. Ada teman-teman atau kita sendiri yang melakukan usaha sampingan yaitu menyiapkan contekan. Teman-teman lain sedang menerawang membuka file dalam otaknya, tapi teman-teman lain dengan gampangnya membuat contekan mencari jawaban. Sakit hati memang, ketika melihat nilai teman-teman penyontek lebih baik dari kita. Tapi sayangnya, nilai itu adalah hasil kecurangan. Kalau saat menyontek, tidak ketahuan, tidak ada masalah. Apa yang terjadi ketika sedang asyik ria menyontek kemudian ketahuan guru pengawas yang kejam? Pastikan, lembar kerja ujiannya atau hasil kerjanya akan diambil dan dibatalkan ujiannya. Itu berarti harus mendapat sanksi, bisa diberi peringatan, bisa juga ujian dalam bentuk lain atau bisa dikeluarkan dari sekolah tersebut. Memang tidak enak rasanya ketika kita sadar akan akibat yang ditimbulkan dari perbuatan curang itu. Mau menyesal atas perbuatan curang tersebut? Menyesal tidak akan bisa menghapus perbuatan curang itu? Konsekuensi dari permbuatan curang itu harus diterima dengan lapang dada, suka atau tidak suka.

Ketika saya kuliah, pada saat kami ujian, ada beberapa teman saya yang dikeluarkan dari aula tempat kami sedang ujian semester. Ketika diselidiki kenapa dikeluarkan? Rupanya mereka dikeluarkan dari ruang ujian itu karena ketahuan menyontek. Sanksinya berat, ujian mereka digagalkan, dan mereka harus mengulang mata kuliah itu tahun berikutnya. Padahal hanya tinggal ujian semester saja, ujian mid semester, makalah dan tugas-tugas lainnya sudah dikerjakan. Anda bisa bayangkan penyesalan mereka? Kecuranga itu bagaikan “Nila setitik merusak susu sebelanga”. Kerja keras mereka selama satu semester untuk mata kuliah tersebut, akhirnya jadi sia-sia. Kalau saja kedua teman saya tadi tidak curang saat ujian, mungkin mereka tidak perlu mengulang mata kuliah itu pada tahun berikutnya. Pasti tidak ada penyesalan yang berat itu. Walaupun demikian yang dialami oleh kedua rekan saya tersebut, saya juga perkirakan, saat ujian itu ada juga yang melakukan hal yang sama, untungnya mereka cepat kembali ke jalan yang baik dan benar. Sehingga tidak jadi melakukan kecurangan. Dengan tidak melakukan curang saat ujian, itu telah menyelamatkan teman-teman mahasiswa yang lainnya.

Ketika kita nonton sepak bola Liga Super Indonesia (LSI) selalu disarankan agar para pemain bermain dengan Fairplay. Itu berarti semua pemain harus bermain baik, tidak emosional, tidak bermain kasar, utamakan skill dan teknik yang unggul dalam mengola si kulit bundar dari kaki ke kaki. Kadang-kadang dalam sebuah putaran pertandingan terjadi keributan karena wasit yang memimpin atau hakim garis, dikatakan curang karena terlihat lebih memihak salah satu tim. Atau bisa, pemain tuan rumah terlihat bermain agak over atau kasar dan emosional terhadap lawannya. Ada juga pemain yang memanfaatkan situasi tertentu di daerah 16 secara curang untuk mendapatkan tendangan finalti. Dan masih banyak cara curang lain yang bisa dilakukan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu. Apabila kecurangan-kecurangan terus terjadi, dan jika tidak diterima oleh lawan, sporter atau team official maka akan berunjung pada protes dan kericuan, baik antara sporter dengan pemain, atau pemain dengan pemain, bahkan pemain bisa mengejar wasit di lapangan.

Di dalam dunia pekerjaan, untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) terjadi kecurangan dalam penyogokan agar bisa lulus seleksi, atau kadang syarat diterima jadi CPNS karena faktor kekeluargaan, dan bukan karena hasil tes seleksi murni sesuai dengan prediksi kompetensi. Sesudah itu, kadang antara satu dengan pegawai yang lain selalu ingin menjadi yang nomor satu. Sehingga dalam melaksanakan tugas, selalu berusaha menarik perhatian pimpinan. Segala cara diupayakan. Misalnya, salama saja harus pakai cium tangan pimpinan, selalu mencerikan keadaan teman sejawatnya kepada pimpinannya dan dalam kenaikan pangkat selalui berusaha agar bisa naik pangkat lebih dahulu dibanding senior atau teman seangkatannya. Sedangkan pimpinan dalam menempatkan stafnya, lebih mengutamakan keluarganya, ini akan menjadi “bom waktu” yang akan meledak pada saatnya.

Apalagi kalau kita masuk dalam “ranah politik”. Ranah politik menurut Gus Dur adalah lumbung yang sudah penuh dengan tikus. Lumbung yang sudah rusak karena dikuasai oleh tikus (politkus), tapi dihalalkan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Janji di obral, serangan-serangan dilontarkan agar menang. Hubungan kemanusiaan sementara dianggap tidak perlu. Masing-masing lawan politik unjuk kebolehan, dan mematikan lawan dengan menyebarkan virus kejelakan yang benar maupun yang dibuat-buat. Dalam politik, teman jadi lawan, lawan jadi teman, semuanya kelihatan abu-abu. Tim sukses, tidak loyal. Tim sukses memanfaatkan moment Pemilu Presiden, Gubernur dan Bupati serta Walikota. Maupun pemilihan anggota legislatif hanya untuk rupiah-rupiah semata. Masyarakat juga mulai pintar tapi juga curang. Ketika para calon pejabat melalui “tim sukses” turun ke masyarakat membagikan uang dengan harapan mendapatkan dukungan suara. Namun, apa kata masyarakat? “Ambil uangnya, pilihan tetap hati nurani” . Di sini bisa terlihat siapa yang mencoba curang, siapa yang curang dan siapa yang mencurangi?

Bantuan dari para calon pejabat, merambat hingga ke “ranah lembaga agama”. Agama bicara kebenaran, tapi para calon pejabat tetap saja menggandeng para rohaniawan, agar mungkin bisa memilihnya dalam pemilu nanti, sekaligus mengajak jemaatnya. Lembaga agama apapun, sebenarnya harus bebas dari jamahan politik ini. Ternyata “Uang Maha Kuasa”. Lihat saja, ketika musim PILKADA, PIL-LEG, gereja kebanjiran bantuan. Coba pikirkan, nasib proposal-proposal dari lembaga-lembaga agama yang bertumpuk-tumpuk di kantor-kantor pemerintahan. Tidak jelas nasib proposal-proposal itu. Kecurangan musim PILKADA mencurangi dan mengotori lembaga agama. Para rohaniawan juga, menurunkan harga dirinya cuma karena rupiah. Harusnya semua lembaga agama “netral”. Kita bisa bayangkan, akibat-akibat yang ditimbulkan dari kecurangan?

Memang semua orang berhak dan boleh berlomba-lomba untuk menjadi nomor satu, tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka layak dan pantas menjadi nomor satu. Sedangkan cara yang digunakan untuk menjadi nomor satu adalah dengan cara curang. Satu hal yang harus kita sadar bahwa setiap kita punya “talenta/kompetensi/bakat” yang Tuhan berikan. Cara-cara curang tidak akan menambah kebahagiaan dalam kehidupan kita. Ketika kita sadar, bahwa kita telah curang, penyesalan akan datang. Kita mungkin lupa, atau tidak tahu, bahwa “Setiap kita punya REJEKI/BERKAT” yang sudah Tuhan siapkan dan Tuhan akan berikan bila saat tiba. Kelemahan dan ketidakmampuan dalam diri kita Tuhan ijinkan agar kita sadari, lalu kita bangkit dengan membuat cara-cara baru agar kita bisa lebih berhasil lagi. Itulah yang dikatakan sebagai, pengalaman yang dijadikan pelajaran hidup.

Bersaing secara sehat, dengan memantaskan diri adalah jauh lebih bernilai, daripada memperoleh sesuatu dengan cara-cara yang curang, tetapi tidak layak dan tidaklah pantas untuk diri sendiri. Ketika orang lain curang kepada kita, apa yang anda rasakan atau pikirkan? Contoh-contoh yang dibahas di atas bisa saja adalah sebuah realita. Apa yang anda lakukan terhadap orang yang curang kepada anda? Saya yakin, kita tidak akan menyenangi lagi orang yang suka berlaku curang. Saya juga yakin, bisa saja kita tidak lagi berteman dengannya, bisa jadi kita tidak akan melibatkannya dalam pekerjaan dan kegiatan kita lainnya. Dan sebagainya. Artinya, orang yang berlaku curang, pada awalnya dia merasa beruntung dan enjoy saja. Tapi rupanya, rasa beruntung itu tidak bertahan lama, karena rasa beruntungnya akan segera berakhir dengan penyesalan yang sulit mendapatkan obatnya. Obatnya memang hanya berupa pengampunan dan penerimaan dari dan oleh orang-orang yang telah dicurangi. Kalaupun mereka member obatnya. Kenyataannya, obat pengampunan dan penerimaan yang diberikan selalu isinya palsu. Apakah curang membawa nikmat? No..No…No…CURANG artinya “nikmat membawa sengsara”. Orang yang berlaku curang, untuk memperbaiki hidupnya kadang bisa dibayarnya dengan mahal. Bisa jadi akibat kecurangannya, dia bisa menanggung seumur hidupnya.

Hindarilah kecurangan dengan sadar. Dalam arti, kita harus tahu betul baik atau buruknya suatu tindakan yang kita lakukan. Ada istilah, kita loloskan sesuatu lewat pintu belakang, atau mereka bermain di bawah tangan untuk mengol-kan sesuatu. Kenapa tidak lewat pintu depan saja? Kenapa tidak transparan saja sesuai aturan normatif? Cara-cara kotor Ini adalah indikasi permainan kecurangan. Misalnya, dalam mengurus kenaikan pangkat PNS, apakah sudah waktunya atau terlalu mendahului rekan pegawai yang lain, bagaimana aturannya sesuai aturan normatif. Hal terpenting dari konsep ini adalah mengajak kita untuk berpikir, mendeteksi sejak dini dan menyadari sejak awal akan adanya tindakan kecurangan. Tujuannya adalah agar kita tidak melakukan kecurangan. Sebenarnya kita punya peluang untuk itu, tetapi kita sudah berpikir dampaknya atau akibatnya setelah itu terjadi?

Tuhan sudah mengerjakan karya keselamatan bagi seluruh umat manusia. Kita pun harus menjaga keselamatan yang diberikan Cuma-Cuma kepada kita. Itu artinya Keselamatan diri kita ada ditangan kita sendiri. Menyadari ada indikasi tindakan ini dan itu curang dan akan berdampak buruk buat karir dan masa depan kita, lebih baik menghindari kecurangan tersebut. Bersama lebih baik dari pada seorang diri. Jangan takut untuk tidak diberkati Tuhan. Kita semua punya berkat masing-masing dari Tuhan. Kuncinya adalah pantaskan diri untuk maksud Tuhan itu. Perbuatan baik selalui berdampak baik. Perbuatan baik, tidak ada ruginya, karena selalu berbuah kebaikan. Jangan berbuat curang. Hindarilah kecurangan secara sadar sejak dini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: