JANGAN HANYA MIMPI AKU TRESNO YESUS

Oleh Philip Kopeuw
Yogyakarta Senin 24 September 2012 – Jam 22:30 wib

Mimpi beda dengan impian. Mimpi sering disebut bunga tidur, sedang impian adalah sebuah cita-cita, sesuatu yang diinginkan jadi realita disertai doa dan usaha kerja keras. Coba kita buat perbedaannya. Pertama mengenai mimpi. Misalnya suatu saat anda tertidur kemudian bermimpi bahwa anda sedang menyanyikan sebuah lagu dengan judul Aku Tresno (cinta) Yesus. Setelah terbangun, anda sadar bahwa itu adalah sebuah kisah yang baru saja anda ingat dari mimpi anda. Itu berarti anda tidak benar-benar menyanyikan lagu itu. Jangan-jangan dalam hidup anda juga tidak tahu lirik lagu itu ataupun bahkan anda tidak pernah menyanyikan lagu itu. Sedang sesuatu yang di-impikan itu bukan mimpi. Tapi itu sebuah usaha untuk bisa mengatakan kepada Sang Pencipta melalui mulut anda sendiri, melalui lagu, melalui doa, melalui kesaksian bahwa Aku Tresno (cinta) Yesus. Disini menjadi jelas perbedaannya antara mimpi dan impian.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah mimpi saya. Suatu sore tanggal 24 September 2012, setelah saya menggarap bagian draf konsep buku metodologi agama untuk jurusan Pendidikan Agama Kristen, Teologi dan Musik Gereja, karena kecapaian, sekitar jam 13.30 wib, saya tertidur. Dalam tidur itu, saya bermimpi. Anak saya Aldo, dari Sentani datang ke Yogyakarta, berhubung karena dia tidak bisa melanjutkan studi untuk pendidikan pilotnya karena ketidak mampuan kami orangtua dalam faktor biaya yang lebih kurang dibawah 600-jutaan. Saya menganjurkan Aldo untuk kursus musik yaitu saxsaphone. Sedang saya ikut khursus musik biola. Setelah kami dua mahir memainkan alat musik itu. Singkat cerita, kami dua mengisi acara di gereja untuk memuji Tuhan dengan alat musik yang baru kami berdua kuasai. Lagu yang kami mainkan dengan not baloknya ada “ Yesus Terlebih Besar, Yesus Terlebih Besar, di dalamku, di dalamku, Yesus terlebih besar, Yesus terlebih besar, di dalamku selama-lamanya”. Kami berdua bermain lagu itu dengan menggunakan biola dan saxsaphone. Saya memperhatikan, orang yang mendengar suara musik dan mengerti syairnya mereka mengeluarkan air mata karena mereka merasakan kasih sayang yang lebih besar. Setelah itu saya terbangun dari tidur, rupanya itu hanya mimpi, tetapi mata saya basa. Rupanya saya juga ikut menangis sungguhan dan bukan sekedar mimpi. Setelah itu saya lanjut tidur. Mimpi berlanjut, saya melihat kami akan ada ibadah di suatu gereja di Sentani, kursi di tata bentuk huruf “U” dan jumlahnya tidak banyak, kira-kira 50-an kursi. Nah, dalam ibadah itu, yang hadir rata-rata orang Sentani, dan semua hadirin adalah orang Papua. Hal yang lucu bagi saya adalah dalam ibadah itu saya menyanyikan lagu yang sama dengan cerita pada mimpi diatas. Namu lucunya lagi, syairnya pakai bahsa jawa: begini isi lagunya:

Yesus terlebih besar Aku Tresno (cinta) Yesus
Yesus terlebih besar Aku Tresno (cinta) Yesus
Di dalamku, di dalamku Tresno Yesus, selaminyo
Yesus terlebih besar Aku Tresno (cinta) Yesus
Yesus terlebih besar Aku Tresno (cinta) Yesus
Di dalamku selama-lamanya Tresno Yesus Selaminyo

Lagu ini aku nyanyikan berualang-ulang, sampai airmataku mengalir di pipi, karena aku sadar selama ini aku tidak mencintai Yesus sebenarnya. Makanya lagunya yang aku baru nyanyikan dalam syair yang lain adalah sebuah permohonan maaf kepada Tuhan bahwa “aku telah bohong” kepada Tuhan, akau telah bohong kepada diriku sendiri, aku telah bohong kepada orangtua dan saudara-saudaraku, aku telah bohong kepada orang lain, aku telah bohong kepada sesama umat Kristiani bahwa “aku tresno Yesus”. Padahal tidak sama sekali. Padahal lain dibibir, lain dihati dan tindakan. Dalam mimpi aku, menyanyi lagu tersebut tak henti-hentinya, sambil aku mengajak jemaat menyanyi dan merasakan kebenaran dalam hatinya. Kali ini juga, aku melihat semua jemaat ikut menyanyi dan menangis. Rupanya masih ada banyak orang yang tidak mampu mengatakan aku tresno Yesus, karena kenyataan dalam hidup mereka, tidak benar-benar tresno Yesus. Itu sebabnya ketika, aku mengajak semua menyanyikan lagu ini, tidak ada yang tidak bersedih, semuanya menangis, menangis dan menangis. Kami merasa rasa tidak layak mengatakan itu “Aku Tresno Yesus” sebab kami bohong kepada Tuhan dan diri kami sendiri.

Akhirnya saya terbangun dari tidur. Ingatan kisah dalam mimpi itu sangat jelas, sehingga saya menuangkan kisah mimpi itu menjadi tulisan ini. Saya juga bertanya kepada Tuhan, ada apa Tuhan, aku diberikan mimpi seperti ini. Aku juga sadar bahwa, selama lebih kurang enam bulan (April – September 2012) tidak memiliki kerinduan lagi untuk ke gereja. Walaupun demikian, aku selalu berdoa agar Tuhan dapat memberi kekuatan untuk aku dapat beribadah lagi. Memang benar selama ini “Aku tidak Tresno Yesus”. Aku sudah jauh, dan sangat jauh dari Tuhan. Terima kasih Tuhan, untuk mimpi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: