KONSEP IMPULSE BUYING BAGI MANAJEMEN PERGURUAN TINGGI TEOLOGI

Oleh Philip Kopeuw
Yogyakarta, Selasa 24 Juli 2012 – jam 11:47 wib

Perhatikan hal yang berhubungan dengan impulse buying. Apa yang dimaksud dengan impulse buying? Impulse buying kalau mau diuraikan adalah sama dengan perilaku seorang ibu yang sedang belanja di supermarket. Ia sebelum berangkat ke supermarket selalu mencatat apa yang akan dibelinya. Namun ketika tiba di supermarket, ia melihat display produk yang begitu menarik. Selain memberikan hadiah, produk itu juga mendapatkan potongan untuk pembelian jumlah tertentu. Pada catatan si ibu produk itu tidak ada, tetapi ibu tersebut akhirnya membeli karena tertarik dengan display dan berbagai iming-iming yang diberikan jika membeli produk itu. Nah, pembelian yang dilakukan ibu ini tentu saja diluar catatan dalam arti tidak direncanakan sebelumnya.

Perusahaan bersa sekarang memanfaatkan situasi ini dengan metode merchandising. Merchadising adalah strategi penataan produk di rak yang dilakukan oleh SPG agar produknya menimbulkan pembelian tak terencana. Nah, jika dihubungkan dengan ketertarikan lulusan SMA dan sederajad yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi teologi, sekarang ini posisi ketertarikan lulusan SMA dan sederajad untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi teologi sudah amat memprihatinkan. Perguruan tinggi ternama baik negeri dan swasta begitu banyak, begitu juga dengan perguruan tinggi teologi negeri maupun swasta. Perguruan tinggi tinggi favorit ini tidak mungkin menampung semua lulusan SMA dan sederajad tersebut. Salah satu jalan untuk menjual potensi dan keunggulan Perguruan Tinggi Teologi kepada lulusan SMA dan sederajat atau untuk program S2 dan S3 saat ini adalah dengan membuat daya tarik peminat agar terjadi penjualan secara impulse buying.

Manfaatkanlah spesialisasi perguruan tinggi teologi kita segera menarik perhatian para lulusan SMA dan sederajat maupun para sarajana dan magister yang berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kalau diibaratkan produk makanan atau buku, maka buatlah spesialisasi perguruan tinggi teologi yang bagaikan P.O.S. (point of sales). Artinya spesialisasi perguruan tinggi teologi itu berfungsi sebagai card price, x-barner, flag chain, wobbler, hanger atau P.O.S. yang lainnya. Kalau selama ini P.O.S. dipercaya bisa membantu penjualan. Maka spesialisasi perguruan tinggi teologi yang menarik bisa pula menjadi P.O.S. bagi perguruan tinggi teologi itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: