MENGUBAH KONFLIK MERAIH IMPIAN

Oleh Philip Kopeuw
Yogyakarta, Sabtu 30 Juni 2012 – Jam 03:46 wib

Semua orang pasti mengalami konflik dalam kehidupannya. Apakah dengan sesama, dengan orang tua, dengan istri, dengan anak-anak, dengan tunangan, dengan pacar, dengan tetangga, bahkan dengan orang lain di dunia maya. Banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya konflik. Kadang-kadang ending sebuah konflik adalah perpecahan, kebencian, dendam, sakit hati, dan permusuhan. Melalui pengalaman panjang selama 21 tahun, saya melihat bahwa alangkah baiknya kalau semua orang bisa mengubah konflik menjadi sesuatu yang bermakna dan berguna bagi diri sendiri dalam meraih impian-impian besar ke depan. Saya ingin berbagi beberapa pengalaman saya tentang hal ini.

Tahun 1988, ketika saya masih sekolah di SMP, karena sakit hati kepada orangtua saya yang selalu sibuk melayani Tuhan, dan sibuk mengikuti kegiatan gereja di dalam dan diluar daerah, juga sibuk dengan urusan-urusan adat dan tidak memikirkan kebutuhan sekolah saya, karena itu saya pernah berniat untuk mengakhiri hidup saja. Dan akhir, ketika orang tua saya hendak berangkat ke Jakarta dalam rangka kegiatan gereja, saya minta uang untuk bayar uang sekolah, mereka bilang tidak ada, sedangkan ke Jakarta ada uang. Setelah orangtua saya berangkat saya jatuh sakit, hingga akhirnya buang kotoran darah melulu (baca: pengalaman saya ketika mati suri). Saya sempat mati suri. Dalam mati suri itu, hal membuat saya kembali lagi adalah”terikan adik-adik saya yang mengatakan: kakak, tidak ingat kami kah? Kalau kakak pergi, siapa yang akan mengurus kami?” Padahal posisi saya satu kaki sudah di atas jembatan penyeberangan karena sudah dijemput oleh dua malaikat. Setelah saya diskusi dengan dua malaikat berjubah hitam dan dua malaikat berjubah putih dan bersayap, mereka katakana keputusan di tangan saya. Akhir saya memilih untuk kembali, demi adik-adikku. Di situlah saya hidup kembali. Menurut Ibu Yuliana Taime (Biasa di panggil mama “Ratu”) bahwa saya sudah meninggal, tetapi hidup kembali.

Tahun 1994, saya mengambil keputusan untuk berangkat studi di Sekolah Tinggi Teologia Intheos di Solo Jawa Tengah. Orangtua saya setuju dan mereka telah menyediakan uang empat juta untuk rencana studi itu. Sebulan sebelum saya berangkat, saya mengetahui bahwa dana itu sudah dipakai oleh orangtua saya. Akhirnya saya memberanikan diri dan bertanya kepada Ayah saya, mana uang yang katanya untuk saya berangkat sekolah di Jawa. Ayah saya katakan, tidak ada uang untukmu. Ini uang saya, ini gaji saya. Kalau kamu mau sekolah, atau apapun, pakai uangmu sendiri. Apa yang Ayah punya itu bukan milik saya. Hati saya hancur, sedih dan sakit, putus sudah harapan saya selama ini. Muncullah kemarahan yang begitu dasyat, saya melempari rumah sayah dengan batu, hingga kaca lover rumah pecah semua. Ayah saya menjadi marah dan akhirnya mengusir kami keluar dari rumah. Saya dengan istri yang sedang mengandung Aldo waktu itu dan anak Alan yang masih kecil, kami hanya bungku pakaian dalam selimut dan kantong plastic (kresek), kami ke rumah dinas mertua di SD Inpres Dobonsolo. Semangat untuk kuliah tetap menyala dalam hati. Saya bekerja sebagai pengumpul pasir dan pemecah batu kali untuk mengumpulkan uang untuk sekolah di Solo. Akhirnya, saya berangkat dengan KM Dobonsolo bersama rekan saya Kristian Fitowin. Tahun 1999, saya berhasil memyelesaikan studi sarjana Pendidikan Agama Kristen. Dan wisuda tanggal 20 Juni 2000.

Tahun 2001, tanggal 23 Maret Ayah saya meninggal dunia. Ayah saya adalah seorang kepala suku Nelem Aniyokhu di kampung Ifar Besar Sentani Jayapura Papua. Dalam tradisi kami, sepeninggal seorang kepala suku (kose), anak laki-laki tertua yang akan menggantikan posisi itu. Saya sebagai anak tertua harus menggantikan posisi itu. Konflik baru muncul, yakni perebutan jabatan kepala suku. Akhirnya keluarga besar kami terbagi menjadi dua kelompok. Tanggal 3 April 2001 saya dilantik jadi kepala suku. Hari yang bersamaan juga, salah satu keluarga kami juga bernama Oscar Kopeuw melantik dirinya menjadi kepala suku. Akhirnya dalam keluarga besar kami terbagi menjadi dua kubuh. Tahun 2000 akhir ini saya lulus seleksi CPNS dan jadi dosen di Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri Burere Sentani. Karena tugas, saya banyak keluar daerah, hingga mendapatkan tugas belajar untuk studi pascasarjana program magister dan doctor prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) di Universitas Negeri Yogyakarta (PPs UNY). Dalam kondisi konflik ini saya lebih memilih untuk mengejar karir, ketimbang ribut dengan keluarga masalah jabatan kepala suku. Itu sebabnya, hampir 11 tahun jabatan kepala suku saya serahkan kepada Ibu kami sebagai pelaksana tugas, selama saya melaksanakan tugas belajar. Harapan saya, semoga setelah selesai studi S3 nanti, saya bisa kembali untuk menyatukan keluarga.

Sejak menjadi PNS di lingkungan STAKPN Sentani, saya memang agak vocal dalam mengkritisi kebijakan di lingkungan kerja kami dan membela teman-teman sekerja yang seperti dianak-tirikan oleh pimpinan. Hal ini menyebabkan ada yang suka dan ada yang tidak suka dengan cara saya. Dalam kondisi-kondisi konflik diantara kami, pimpinan tetap memilih saya untuk tugas belajar program magister tahun 2004. Ketika masih studi S2, saya bicara dengan teman-teman kantor sesama tugas belajar, bahwa kalau bisa saya mau lanjut kuliah S3. Diantara teman-teman saya ada yang bilang: pak, tidak usah pikir yang terlalu tinggi, S2 saja belum selesai, bapak sudah bicara mau studi S3. Pakailah logika pak. Walaupun ada kata-kata yang mengandung pembunuhan cita-cita, tetapi saya tetap bicarakan. Ternyata, setelah saya ujian tesis 9 April 2008, dan lulus. Pimpinan kami meminta saya untuk mendaftar dan langsung melanjutkan studi S3. Teman-teman sekantor saya yang sama-sama kuliah S2 di Yogyakarta semuanya pulang, saya sendiri yang lanjut studi S3.

Sebuah masalah yang menyakitkan terjadi ketika perjuangan dalam menyelesaikan studi S2 datangnya dari istri adik kandung saya sendiri. Ketika saya meminta bantuan dana dari mereka untuk penyelesaian studi saya, ada kalimat yang sempat melukai hati saya yang mereka katakan adalah “Kalau tidak punya uang jangan kuliah”. Sejak saat itu sampai sekarang saya memutuskan untuk tidak lagi meminta bantuan dari mereka. Hidup ini adalah perjuangan, dalam perjuangan hidup itu saya harus memilih. Selain itu, ocehan-ocehan istri saya yang seolah-olah tidak mendukung saya dalam menyelesaikan studi dan meraih cita-cita dan impian. Banyak kata-kata menyakitkan dari istri saya yang membunuh semangat saya sehingga saya tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Kata-kata tidak bisa hilang dari dalam hati saya, bahkan telah menjadi tabungan dalam hati saya. Kadang saya pasrah dengan keadaan tetapi kemudian saya bangkit lagi dan berjuang hingga studi S2 saya selesai.

Tahun 2008, saya menempuh studi S3 dengan mendapatkan rekomendasi dari dosen pembimbing saya Prof. Suryanto, Ed.D dan Asisten Direktur II Prof. Dr. Djukri, tanpa melalui tes seleksi masuk. Konflik terus terjadi dalam kehidupan dan studi saya. Memang benar kalau pohon itu tumbuh semakin di puncak gunung, maka ia juga akan menghadapi angin yang lebih kencang lagi. Masalah yang menyakit saya adalah kata-kata mematikan yang selalu dilontarkan oleh istri saya yang katanya “saya hanya mengejar ambisi pribadi dan mencari kepuasan pribadi”. Itu sama halnya dengan sahabat baik saya yang menikam saya dari belakang dan membunuh saya. Saya dihina orang lain itu biasa, tapi yang menghina adalah istri sendiri ini sudah lain soal. Akhirnya saya harus tetap kuat, untuk jalani hidup dan penyelesaian studi dengan kepala tertunduk dan doa yang tak putus-putus, Tuhan mampukan saya untuk selesaikan studi program Doktor ini.

November 2011 dan Januari 2012, kami juga ada konflik dengan keluarga masalah tanah hingga berujung kepada percobaan penganiayaan dan ancaman-anacaman pembunuhan melalui pesan singkat (SMS). Saya coba mengelola semua dengan menetralisir keadaan dengan kata-kata yang baik. Pertama sekali ketika diancam untuk dibunuh, diserang dan dibakar rumah, titel dan jabatanmu mau dimakan cacing-cacing di kuburan dan sebagai membuat saya stress dan mulai mempersiapkan diri untuk pertempuran “duel maut” dan saya belajar iklas untuk mati kapan saja. Masa-masa itu saya lalui, melalui doa. Kemudian muncul lagi ancaman lewat pesan singkat pada bulan April 2012 dari nomor HP dan orang yang sama. Untuk kali ini pesan pendek itu saya anggap biasa saja, walaupun ancamannya adalah rencana memisahkan kepala dari tubuh saya. Bagi saya semua orang pasti mati. Kematian tidak mengenal usia, status, suku, agama, partai atau organisasi. Tidak diancampun orang bisa mati. Ketika saya diancam, di situ saya sedang dilatih dan belajar hal yang lebih besar lagi tentang bagaimana mengatasi ancaman maut seperti itu. Hal ini membuat saya ingat akan sesuatu yakni, bahwa dalam kondisi-kondisi terjepit maupun diancam manusia memiliki kekuatan-kekuatan khusus dan istimewa untuk membela diri secara reflek dan spontan untuk menyelamatkan dirinya. Semut saja marah kalau diganggu, apalagi kita manusia yang punya akal sehat. Apalagi jika kita memiliki persiapan dan strategi khusus dalam menghadapi ancaman maut. Paling tidak kita lihat dilapangan saja, siapa yang lebih kuat, lebih berani dan lebih cepat. Soal mati atau hidup akhirnya menjadi urusan kehendak yang maha kuasa. Walaupun saya berada dalam konflik dan ancaman maut, tetapi saya belajar sesuatu dari kondisi itu, saya juga punya hak untuk menjaga dan mempertahan hidup dari apapun, apalagi dari orang-orang yang tidak punya kontribusi dalam perjuangan saya yang terlalu berat dalam meraih cita-cita. Itu berarti nyawa saya juga menjadi taruhannya bagi mereka yang berani melecehkan perjuangan saya ini. kita tidak boleh menyerah dengan keadaan-keadaan seperti ini. sebagian besar masalah selalu ada jalan keluarnya.

Juni 2012, dalam facebook DPD KNPI Kabupaten Jayapura kami berdebat tentang apakah orang yang berpendidikan tinggi bisa menjawab masalah masyarakat. Dalam diskusi ini, perkembangannya adalah kepada saling menjatuhkan. Terjadilah adu argument satu dengan lainnya. Ketika saya mulai menjelaskan tentang pentingnya orang berpendidikan tinggi ada yang tidak sependapat. Ujung diskusi itu, Robert Johanes Manggo, akhirnya mengatakan kepada saya kalau mau jadi pemimpinan di KNPI atau dimana saja silahkan,…tanggapan terakhir dia katakan “Tuan pasti jadi pemimpin”. Saya balas, terima kasih doanya. Ada banyak hal penghinaan yang dikatakan dalam komentar, tapi saya selalu lebih mengambil yang baik buat diri saya dan mengabaikan yang tidak penting.

Setelah menyimak berbagai pengalaman ini, kalau saja saya menyerah, berarti saya gagal total dalam meraih cita-cita dan impian. Ketika saya mengubah cara pandang, menjadikan tantangan dan konflik-konflik ini menjadi peluang, dorongan dalam perjuangan meraih impian. Memang disertai kepahitan, sakit hati, air mata, putus pengharapan, gelisah berlebihan, stress, dan sebagainya. Namun ketika kita mampu mengubah cara berpikir dan tidak hanyut di dalam konflik, maka percayalah kita akan meraih satu sukses kepada sukses yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: