MITE SAGU MENURUT SUKU SENTANI

Oleh Philip Kopeuw
Yogyakarta, Jumat 21 September 2012 – Jam 22:18 wib

Sagu adalah makanan pokok orang Sentani. Sagu sudah dikonsumsi sejak saman nenek moyang sampai saat ini. Masyarakat Sentani mendiami pinggiran danau dibawah pegunungan, gunung Cycloop. Karena masyarakat Sentani mendiami pinggiran danau maka danau itu dikenal dengan danau Sentani. Dalam bahasa Sentani, danau disebut dengan “Buyakha”. Sentani asal kata dari bahasa teluk Yotefa, dari kata “sensani” (Pdt.G.L. Blink, meninggal 1898).

Sagu atau papeda menjadi makanan yang khas selain kelapa dan ubi-ubian. Masyarakat Sentani makan sagu karena memang sejak nenek moyang, sagu atau papeda menjadi makanan utama mereka. Pada zaman nenek moyang ada dua musim yang dikenal dalam setahun saja yakni enam bulan panas dan enam bulan hujan. Berbeda dengan sekarang, musimnya tidak tetap, bahkan dalam setahun bisa lebih dari dua kali musim. Oleh sebab itu sagu sebagai makanan utama baik dimusim panas maupun musim hujan. Ada jenis sagu yang khusus di musim hujan, jenis sagu ini ditebang dan dikeringkan diatas api tanpa harus diolah menjadi tepung. Isi sagu ini dapat langsung dimakan. Dalam bahasa Sentani disebut feuw artinya roti. Cara makan feuw adalah dengan dicelup dalam kelapa yang diparut. Feuw dan kelapa parut ini dimakan rasanya enak sekali. Feuw ini adalah makanan orang Sentani sejak dulu. Rasanya keras dan dapat membuat kenyang. Makanan feuw ini sudah hampir tidak terlihat lagi di rumah-rumah orang Sentani, khususnya yang ada di pesisir danau Sentani. Oleh karena itu, feuw ini harus di jaga dan dilestarikan oleh orang Sentani. Itu sebab Orang Sentani sangat menghargai sagu dan sagu mempunyai cerita tersendiri. Dimana sagu berasal dari kandungan seorang perempuan.

Pada zaman dahulu kala hiduplah seseorang, namanya tidak dapat disebutkan dengan sembarangan, namanya disebut dengan manusia raksasa artinya manusia yang dapat membuat apa saja, menjadikan atau menciptakan. Ketika ia sedang berjalan-jalan, ia menemukan sebuah tumbuhan sejenis palem, kemudian seorang raksasa menancapkan tumbuhan tersebut ke dalam lumpur. Seketika itu juga tumbuhan itu tumbuh dan langsung tumbuh secara cepat dan besar dan sempai tumbuhan itu mengeluarkan bunganya. Ketika ia melihat tumbuhan tersebut sudah berbunga, maka ia mengambil keputusan untuk menebang tumbuhan tersebut. Setelah ditebang tumbuhan itu, ia langsung mencari kegunaan dari tumbuhan tersebut dan bagaimana cara untuk mengelola dan apa fungsinya. Ketika itu, ia mengambil bambu lalu menusuk-nusuk batang tumbuhan tersebut dan jadilah seperti ampas-ampas, kemudian ia mengambil air lalu menyiram pada ampas hasil tumbukkan lalu semuanya menjadi tepung (pati sagu). Seorang manusia itu lalu menjadikan hasil tepung itu menjadi makanannya. Tumbuhan itu bertumbuh semakin banyak dan merajalela. Orang-orang heran karena seorang manusia yang dikenal dengan sebutan manusia raksasa ini dapat membuar suatu mujisat yaitu menanam tumbuhan sampai menghasilkan tepung untuk makanan.

Seorang manusia raksasa, ia menemukan pohon sagu karena pada waktu ia tidur, ia bermimpi melihat sebuah tumbuhan yang tinggi dan besar. Masyarakat yang hidupnya bersama semakin percaya kepadanya, mereka menyebut manusia raksasa ini dengan nama Wari Do artinya orang yang memberi hidup tetapi juga pencipta hidup. Pada suatu hari manusia raksasa ini (Wari Do) sedang berjalan-jalan, ia melihat pohon itu semakin banyak dan akhirnya ia member nama pi artinya sagu. Kemudian ia mengeluarkan perintah untuk orang-orang bahwa tumbuhan ini berasal dari tubuh saya seperti pi atau bulu-bulu badan.
Dan sekarang pohon sagu tumbuh dimana-mana karena seorang perempuan membawa tumbuhan sagu melintasi daerah Papua ini. Ia berjalan dimana sebuah pohon jatuh. disitulah tumbuh pohon tersebut. Dalam bahasa Sentani perjalanan dari seorang perempuan ini adalah kuru-kuru merem kerah, artinya dari kalimat ini adalah dia berjalan membagi berkat atas tanah. Kuru-kuru artinya bunyi-bunyian; merem artinya daging; keraa artinya tanah. Maksud dari bahasa kuru-kuru merem keraa adalah seorang yang berjalan melintasi tanah atau daerah dan menanam pohon sagu itulah tubuh atau daging atau memberkati tanah dengan berjalan.

Dapat disimpulkan bahwa sagu dalam mite orang Sentani berasal dari seorang perempuan yang mengeluarkan berkat (merem/daging tubuh) setiap pohon sagu mempunyai nama masing-masing dan nama itu adalah bagian dari tubuh manusia. Sehingga dalam ungkapan sehari-hari sagu adalah hidup. Sagu dihargai seperti bulu-bulu badan yang tumbuh dan sagu memiliki nama yang ada pada isi dalam perut manusia.

Tafsiran Mite Sagu Menurut Suku Sentani

Menurut kepercayaan suku Sentani dalam menelusuri asalnya sagu sebagai makanan pokok, bahwa sagu itu berasal dari perempuan. Perempuan artinya bumi, perempuan yang melahirkan atau bumi yang melahirkan tumbuhan sagu. Menjelaskan arti bahwa bumi yang melahirkan tumbuh-tumbuhan atas permintaan dari umat-Nya. Suatu permintaan dari umat-Nya yang dikiaskan dengan kata kuru-kuru artinya bunyi-bunyian atau tari-tarian, yang dimainkan oleh seorang perempuan. Dan kata merem artinya daging, dimana tumbuhan itu dapat jatuh dan bertumbuh pada merem atau daging dan dapat memberikan tumbuhan tumbuh dengan subur. Dan kata keraa artinya tanah. Jadi apa yang dihasilkan oleh bumi patutlah disyukuri lewat pujian, agar dapat bertumbuh memberikan jaminan kelangsungan kehidupan. Serta kerah adalah satu tempat atau sandaran untuk tetap kokoh. Sebab hanya melalui Dia segala sesuatu ada.

Makna teologis yang terkandung dalam mite ini ialah seorang raksasa adalah Yesus Kristus. Dia mampu menciptakan apa saja, kuru-kuru artinya sebagai umat-Nya kita harus terus berseruh kepada Tuhan Yesus, supaya kita dapat tumbuh berkarya dalam hidup serta tumbuh bertahan karena ada jaminan makanan yang tepat (Firman Tuhan: Akulah Roti hidup; dalam versi Sentani adalah Akulah sagu hidup). Yang dalam pengertian orang cerita adat suku Sentani, bahwa Dia disebut sebagan Ondoafi terbesar untuk seluruh Sentani. Sehingga bagi siapa yang menghargai sagu berarti menghargai Tuhan, sebab Dia-lah pencipta tumbuhan sagu. Dia-lah penyelamay umat dari segi jasmani dan rohani. Dia yang disebut dalam bahasa Sentani Wari Do, penyelemat dunia atau pemberi kehidupan.

Pohon sagu dapat menampilkan wajah atau simbol Yesus. Kristus yang menjawab akan kebutuhan manusia dan lebih terlihat dalam kehidupan masyarakat Sentani. Sagu merupakan sebuah pangan yang menjamin akan kebutuhan hidup. Gambaran diri Yesus Kristus terlihat jelas pada sagu atau pohon sagu dapat disimbolkan Kristus dari rawa-rawa.

Kristus Dari Rawa-Rawa

Hijau terhampar sejauh pandang
Indah menghias panorama
Diatas rawa-rawa bumiku
Negeri cenderawasih

Tertegun pada tegakmu
Dan pesona lambaian tangan-tangan itu
Teguh penuh hikmat dan lembut penuh cinta
Sarat makna dan guna, gambaran sempurna sang penyelamat

Engkau yang ketika genap waktumu
Terkapar, mati tercabik
Engkau yang oleh pecahan-pecahan tubuhmu aku hidup
Telah kulihat Kristus padamu

Ya, aku melihat Kristus di rawa-rawa
Teguh pada kebenaran, tegak bagi keadilan
Tenaga untuk kelemahanku
Obat bagi sakitku

Sungguh tak terbayangkan
Aku berjumpa Kristus di rawa-rawa
Yang lembut menyapa dan rela berbagi
Bahkan hidupnya untuk hidupku

Aku bertemu Engkau penebusku
Di belantara hijau negeri ini
Berdiri kokoh dalam kelembutan cinta
Sebagai pohon-pohon sagu di rawa-rawa

Ini adalah puisi tentang sagu sebagai symbol Kristus, karena pada sagu terlihat gambaran Yesus Kristus. Seperti kalimat yang berbunyi “Engkau yang ketika genap waktumu, terkapar mati”, memberi arti harafiah yaitu pohon sagu yang telah cukup umur dan ditebang untuk diambil tepung sagunya untuk dimakan. Makanan memberikan kesejahteraan dan kedamaian. Sepenggal kalimat ini, memiliki arti teologis bahwa Yesus yang telah disiksa dan disalibkan untuk menebus dosa manusia. Demikian sebuah filosofi sagu kehidupan bagi manusia diungkapkan dalam sebuah puisi Kristus dari rawa-rawa, sesungguhnya telah kulihat Kristus padamu. Begitu pula makna sagu dalam kehidupan masyarakat peramu sagu di tengah-tengah kehidupan dunia yang nyata.

__________
Sumber:
Skripsi. Santi Daimoi, 2010. Yesus Sagu Kehidupan. Suatu kajian Kontekstual Dalam Kehidupan Masyarakat Sentani di Klasis Sentani dan Sentani Barat Moi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: