NILAI BUDAYA SAGU BAGI ORANG SENTANI

Oleh Philip Kopeuw
Yogyakarta Jumat 21 September 2012 – Jam 21:31 wib

Ada hal yang menarik dari nilai sagu dari segi budaya. Menurut adat orang Sentani, sagu atau papeda digunakan untuk menghadirkan suasana damai selain tomako batu atau manik-manik. Seperti halnya jika ada orang yang bertengkar dan setelah mereka berdamai, biasanya makanan disajikan untuk makan bersama, dan yang lebih utama sagu atau papeda yang disajikan. Jadi disini “makan” mempunyai nilai dan sagu sebagai “alat” memiliki nilai yang tinggi (Pdt. Maloawali, 2007).

Suatu nilai memang benar-benar dirasakan oleh masyarakat tersebut. Nilai dalam pengolahan sagu membentuk suatu kebiasaan yang rukun seperti laki-laki bertugas menebang pohon sagu dan memukul. Tugas seorang perempuan adalah meramas ela (mele) untuk menghasilkan tepung sagu.dan hasil itu dinikmati oleh banyak orang. Sagu mengajarkan adanya kerja sama dan membangun sebuah persekutuan yang harmonis.

Ada sebuah istilah dalam suku Sentani khususnya dalam proses pembayaran mas kawin, yaitu Touw/Houw. Touw/Houw ini dilakukan oleh saudara laki-laki kepada saudara perempuan, apabila anak dari saudara perempuan akan dibayar mas kawin. Jadi, saudar laki-laki harus membawa makan kepada saudara perempuannya untuk mempersiapkan proses pembayaran mas kawin untuk anaknya. Dan apabila mas kawin dari anak perempuan telah dibayar maka saudara perempuan, ibu dari anak perempuan harus memberikan sebagian harta untuk saudara laki-laki yang telah membawa makanan. Dan tujuan dari harta yang diberikan akan disimpan untuk membayar mas kawin anak laki-laki dari saudara laki-lakinya.

Touw (houw) ini terus dilakukan dalam adat suku Sentani. Dan mempunyai nilai adat yang tinggi. Oleh sebab itu, anak perempuan memiliki karena ia akan membayar mas kawin saudara laki-lakinya. Jika dalam satu keluarga tidak memiliki anak perempuan, maka keluarga ini akan sedikit mengalami kendala untuk membayar maskawin untuk anak laki-lakinya.

Ada juga hal yang menarik dari sagu atau papeda bagi orang Sentani, khususnya soal makan. Apabila tidak makan sagu atau papeda maka ungkapan yang keluar dari orang Sentani barat adalah uu ejei boi. Uu ejei boi artinya belum kenyang atau badan tidak kelihatan, sehingga ungkapan wari taise nekande atau wari tai enye nekande artinya hidup untuk apa atau hidup di dalam apa? Kalau bukan wari pi enye nekande. Ungkapan ini menunjukkan bahwa manusia hanya dapat hidup dalam sagu atau papeda. Jika mereka sudah makan sagu atau papeda maka ungkapan yang muncul, mana be injeh, do mie te yembokande artinya nah sekarang baru jadi manusia. Disebut manusia karena ada kehidupan yang terasa dalam hidup ini. Karena bagi orang sentani, jika tidak makan sagu atau papeda maka mereka tidak akan mengatakan kalau mereka sudah makan. Pi, do torei mie torei artinya sagu merupakan pemberi hidup, pemelihara kelanjutan hidup manusia. Hal yang sama dialami oleh orang Jawa, kalau tidak makan “nasi” katanya belum makan. Jadi nasi merupakan ukuran makananan yang sesungguhnya. Demikian halnya dengan stagmen dari saudara-saudara kita yang berasal dari pegunung Papua, kalau tidak makan ubi (ipiri) dan daging babi (wam) itu sama dengan belum makan. Namun apabila mereka sudah makan ipiri dan wam, itu baru katanya sudah makan.

Hal yang menarik dari ungkapan wari yang berarti “hidup”. Nda wari pi enye, pi rang ne, pi kerene nekande. Oleh sebab itu, makan sagu atau papeda bagi orang Sentani memiliki dua nilai yang terkandung di dalam ungkapan orang Sentani. Arti dari ungkapan wari taise nekande memiliki makna kejasmanian yaitu tidak ada makan jadi seperti tidak ada harapan hidup. Dan arti kedua dalam ungkapan itu sebenarnya ungkapan yang mendalam diartikan wari pi enye artinya hidup di dalam sagu. Makna kedua memiliki makna rohani. Bahwa hanya di dalam sagu saja manusia Sentani dapat hidup.

Panggilan Tuhan dalam bahasa Sentani yaitu Wari Do artinya Tuhan Pemberi Hidup. Sehingga arti yang kedua sangat bermakna. Dapat penulis simpulkan bahwa hidup tanpa sagu terasa hampa, begitu pula hidup tanpa Tuhan akan terasa hampa. Ada sebuah penyataan dari bapak Ondoafi “orang Sentani yang dalam hidupnya memelihara sagu, berarti ia memelihara Tuhan dalam hidupnya. Hidup orang Sentani jika tanpa sagu akan terasa hampa.

Ada hal-hal yang menarik dari nilai sagu dari sisi budaya, ekonomi dan social sebagai berikut: alat pendamai; pembentuk persekutuan yang rukun; sumber sejahtera; sarana dalam proses pembayaran mas kawin.

__________
Sumber:
Skripsi. Santi Daimoi, 2010. Yesus Sagu Kehidupan. Suatu kajian Kontekstual Dalam Kehidupan Masyarakat Sentani di Klasis Sentani dan Sentani Barat Moi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: