ILUSI PERNIKAHAN

Oleh Dr. Paul Gunadi
Penulis Philip Kopeuw
0423 – Yogyakarta Minggu 11 November 2012 – Jam 13:33 wib

Menurut kamus bahasa Inggris Webster’s New World Dictionary, kata illusion (yang kita indonesiakan menjadi “ilusi”) berarti (a) gagasan atau konsep yang keliru dan (b) penampakan atau gambaran yang tidak nyata atau menyesatkan. Istilah “ilusi pernikahan” menohok telinga saya tatkala saya sedang duduk mengikuti ceramah yang disampaikan oleh Dr. Archibald Hart, mantan dekan fakultas psikologi Fuller Theological Semonary. Dr. Hart menjelaskan bahwa pada umumnya kita memasuki mahligai pernikahan dengan satu ilusi, yakni bahwa kita merupakan pasangan yang serasi. Setelah bertahun-tahun menikah barulah kita menjadi tidak cocok karena perbedaan-perbedaan yang kita miliki.

Bagi Dr. Hart, di sinilah letak ilusi pernikahan itu. Sesungguhnya kita memulai pernikahan dari ketidakserasian dan bukan dari keserasian. Tugas kita justru adalah menyerasikan diri dengan pasangan kita dan proses ini berlanjut teris-menerus. Keserasian yang kita nikmati pada kurun pranikah sebenarnya sebuah ilusi belaka dan bersifat dangkal. Ibarat seorang anak yang ingin dibahagiakan, demikian pulalah kita pada waktu menikah. Tersembunyi dalam hati kita seuntai dambaan yang pada intinya bersumber dari kebutuhan-kebutuhan pribadi kita. Pasangan kita adalah orang yang paling tepat bagi kita karena menurut kita, ia dapat memenuhi kebutuhan itu. Pernikahan itu sendirilah yang pada akhirnya akan membangunkan kita dari mimpi ilusi ini. Sewaktu kita menyadari betapa banyaknya perbedaan diantara kita, yang terjadi bukanlah karena kita semakin menjadi tidak serasi, melainkan karena kita semakin diperhadapkan dengan realitas kehidupan itu sendiri. Memang kita tidak serasi dalam arti kita adalah dua manusia yang berlainan. Tugas utama kita dalam pernikahan adalah belajar menyerasihkan diri dan ini harus dilakukan berulang kali.

Ilusi pernikahan bisa mengambil bermacam-macam bentuk, namun pada umumnya ilusi itu berkenan dengan kebutuhan pribadi kita. Misalnya kita beranggapan (dan berharap) bahwa pasangan kita mengerti (dan akan terus mengerti). Sewaktu kita sedih, ia langsung dapat memahami kebutuhan kita akan sentuhan yang sensitive dan penghiburan yang hangat. Atau kita menyadari kelemahan kita iatu cepat naik darah alias pemarah. Kitapun berasumsi (dan berharap) bahwa pasangan kita mengerti sifat pemarah kita ini dan akan selalu mengalah atau setidak-tidaknya ia akan menahan emosinya tatkala kita sedang marah. Ilusi bukan kenyataan! Ilusi membuai kita dalam kehangatan; kenyataan membuat kita menggigil kedinginan.

Saya kira kita tidak dengan sengaja menciptakan ilusi pernikahan. Saya pikir pada umumnya kita terperangkap masuk ke dalam ilusi. Alasannya sederhana sekali. Kita adalah makhluk yang berhasrat dan semua hasrat kita miliki satu kesamaan yakni kebahagiaan. Apabila kita mengumpamakan hidup kita bak sebuah buku yang sedang kita tulis, kita berharap bahwa setiap lembaran yang baru akan lebih baik daripada lembaran yang sebelumnya. “Lebih baik” biasanya bermakna lebih bahagia atau lebih memuaskan kebutuhan kita. Oleh sebab itu bagi kita, pernikahan mudah-mudahan merupakan lembaran hidup yang lebih baik atau lebih membahagiakan kita. (Siapa yang mau menikah kalau tahu bahwa pernikahan itu akan menyusahkan kita?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: