SENIORITAS DAN PENCITRAAN KAMPUS

Penulis: Philip Kopeuw
0429 – Yogyakarta Kamis 15 November 2012 – Jam 1:14 wib

Judul tulisan ini ditulis oleh Hasti Ariyani di Koran kedaulatan rakyat (KR) di Yogyakarta, Edisi 89 selasa 7 Agustus 2012. Pada kolom swara kampus yaitu swara mahasiswa. Saya sangat tertarik dengan tulisan ini. Sebab pekerjaan saya sebagai dosen, dan hampir setiap tahun ajaran baru, mahasiswa, diadakan Ospek. Dan pola-pola lama Ospek masih dipakai. Selain itu lembaga juga melakukan pembiaran. Terakhir saya mendengar bahwa kegiatan Ospek tahun 2012 dimulai jam 4 subuh. Kemudian mendapat protes dari keluarga calon mahasiswa baru. Secara pribadi saya sangat menyayangkan peristiwa itu. Dan setelah membaca tulisan dari Hasti ini, sengaja saya tulis kembali supaya dapat menjadi referensi juga buat kampus-kampus lain dalam memperbaiki tujuan dan kualitas Ospeknya.

Melihat lebih jauh pemaknaan Orientasi Studi dan Pengenala Kampus (Ospek), saat ini hanya sebagai ajang seremonial belaka. Bukan lagi studi dan pengenalan, tapi lebih pada senioritas dan pencintraan kampuslah tujuan seremonial ini. Ajang seremonial yang bisa dibilang “kuno” ini kerap menggerogoti nyali mahasiswa baru (Maba). Mengapa Maba mesti menciut nyalinya, toh senior-senior yang mendampingi adalah mahasiswa biasa. Ospek dijejali dengan feodalisme senioritas bagi Maba.

Kegagalan system penyambutan Maba ini muncul diberbagai perguruan tinggi. Contohnya adalah kejadian beberapa tahun silam, Wahyu Hidayat, mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) yang tewas karena “keisengan” para seniornya. Kemudian masih ada kasus serupa yang lain, praktis itu semua sangat bertentangan dengan notabene mahasiswa yang katanya berjiwa intelektual.

Paham senioritas tersebut ada beberapa alasan yang melatarbelakangi, pertama paham senioritas masih dalam ambang kewajaran. Jadi peraturan populernya adalah peraturan pertama senior tidak pernah salah, peraturan kedua, kalaupun salah, kembali ke peraturan kedua. Hal ini tentu membuat jurang pemisah antara senior dan junior semakin lebar.

Kedua, terkadang dalam jiwa senior mempraktikan paham kesempatan dalam kesempitan. Balas dendam kerap menjadi pemicu tradisi Ospek di kalangan senior. Ketiga, tidak adanya kepekaan untuk mengubah (sense or reform). Maba saat ini sulit dalam mengubah pola piker mereka, pola pikir yang menjadi identitas mahasiswa, intelektual, kreatif, serta pekah terhadap kondisi sosial. Memang mustahil jika Ospek yang hanya beberapa hari dapat mengubah pola piker Maba yang beragam. Perlu proses serta kelanjutan dari seremonial ini, untuk mengukur tingkat keberhasilannya.

Selain senioritas, Ospek selalu menjadi ajang pencitraan kampus. Orang-orang yang terlibat dalam seremonial Ospek, digadang-gadang sebagai icon kampus. Panitia Ospek, pemamndu dan lainnya yang terlibat dalam Ospek sudah dihardik dan menjalankannya sesuai dengan keinginan birokrasi kampus. Ideology mahasiswa saat ini sudah dimanipulasi dengan politik kekuasaan dan jabatan semata. Sehingga birokrasi tidak ada control dari mahasiswa.

Mengarah pada Ospek yang lebih baik, ada beberapa cara untuk melakukan ajang penyambutan Maba tersebut. Pertama, membuang jauh-jauh paham senioritas untuk Maba. Pada hakikatnya semua itu sama, mahasiswa. Kedua, membangun komunikasi yang intens antara junior dan senior, karena komunikasi merupakan tolak ukur keberhasilan suatu hubungan. Ketiga, senior harus berjiwa besar ketika dikritik. Menerima kritik tersebut, dan mencoba untuk mengubahnya dengan solusi terbaik. Keempat, tidak hanya mahasiswa senior yang menyesuaikan kondisi yuniornya. Mahasiswa yunior juga harus bersikap sopan pada senior, tidak mungkin tercipta keharmonisan saat Ospek jika junior dan senior tidak saling menghargai. Kelima, sekaligus terakhir, menghadirkan acara berkualitas yang mengarak pada pola pikir baru sebagai mahasiswa. Acara ini hendaknya mampu membangun jiwa spiritual (SQ), kecerdasan nalar (IQ), serta kecerdasa emosi (EQ). beberap solusi tersebut semoga dapat terealisasikan menghadapi Ospek yang sudah di depan mata, sehingga ada re-generasi tonggak estafet mahasiswa yang mampu mengubah jiwa bangsa Indonesia untuk menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: