SUKSES MENJADI WIRAUSAHAWAN

Penulis Philip Kopeuw
0428 – Yogyakarta Senin 12 November 2012 – Jam 11:14 wib

Semua pekerjaan yang halal itu baik, tetapi orang perlu mengoptimalkan segenap daya dan upayanya untuk mengerjakan pekerjaan yang terbaik. Sepanjang yang saya ketahui kurikulum pendidikan di Negara kita, isinya cenderung mencetak profesional yang siap bekerja, bukan profesional yang siap menciptakan pekerjaan. Lulusan perguruan tinggi seusai menyelesaikan kuliah, yang dipikirkan adalah mencari lowongan pekerjaan, khususnya di perusahaan besar. Menjadi wirausahawan muda meungkin terdengar asing (aneh) bagi mereka.

Survey menunjukkan adanya korelasi yang positif antara kemajuan (ekonomi khususnya) sebuah Negara dengan jumlah wirausahawannya. Pada tahun 2005, Singapura mempunyai 7,2% wirausahawan dari seluruh penduduk. Sementara Indonesia pada tahun yang sama hanya 0,18%. Tanpa kehadiran wirausahawan local yang tangguh, sebuah Negara sulit maju, bahkan cenderung hanya sebagai konsumen bagi produk-produk import dan lahan ekspansi bagi perusahaan asing.

Robert Kiyosaki mencetuskan ide yang membuat orang memikirkan ulang mengapa harus menjadi wirausahawan (businessman). Melalui konsep cashflow quadrant, Kiyosaki membagi pekerjaan menjadi empat kuadran, yaitu sebagai Employee (karyawan), Self-employed (orang yang bekerja sendiri karena keahlian dan bakatnya), Businessman dan Investor. Kiyosaki mendorong orang untuk berpindah kuadran dari kuadran E dan S menuju kuadran B dan I. ada dua alasan mengapa orang perlu berpindah kuadran ke B dan I. Pertama, untuk mencapai kebebasan financial yang lebih hakiki, dimana penghasilan seseorang tidak lagi menuntut kehadirannya untuk bekerja. Kedua, dampak kepada masyarakat akan lebih luas, yaitu melalui penciptaan pekerjaan.

Kalau melihat pada pebisnis dan investor yang sukses, niscaya banyak orang ingin seperti mereka. Setiap orang punya hak dan kewajiban yang sama untuk sukses. Tuhan telah menciptakan kita di dunia ini tentu dengan misi yang besar sebagai kepanjangan tanganNya untuk melayani banyak orang. Manusia dituntut untuk memaksimalkan setiap talenta dan berkat yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Setiap perusahaan besar yang kita kenal, dulunya pasti dirintis oleh pendirinya dari bawah. Pasti ada banyak hambatan, kesulitan, tantangan, atau bahkan kegagalan yang dihadapi. Tetapi semuanya itu berhasil dipatahkan dan semakin menguatkan perusahaan untuk tumbuh lebih besar lagi. Dalam konteks ini, keberadaan mindset yang positif sangat penting. Bagaimana pengusaha melihat dan mengatasi masalah dan kesulitan yang dihadapi sangat bergantung pada pola pikirnya. Selain itu, keberanian untuk terus melangkah mau untuk mewujudkan impian dan misinya, sangat mempengaruhi keuletan dan daya juang pengusaha. (Sumber Warta Jemaat GKI Gejayan Yogyakarta, Minggu 4 November 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: