TIDAK DIBUTUHKAN KAYA UNTUK MEMBERI

Penulis : Philip Kopeuw
0437 – Yogyakarta Minggu 18 November 2012 – Jam 12:28 wib

Bai Fang Li hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak, namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China. Ia hampir tak pernah membeli makanan karena makanan yang ia dapatkan dengan cara memulung, begitu pun pakaiannya. Ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payanhnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya. Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makanannya, padahal ia bisa membeli makanan yang layak untuk mengisi perutnya. Ketika ditanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jeri payahnya itu untuk membeli makanan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk dimana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah dimana. Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya menjadi tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu dimana disana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu, Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari, melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut. Bai Fang Li mulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tidak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan 675.000,00. Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan 472,5 juta. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang penyakit kanker paru-paru. Bai Fang Li memang orang yang luar biasa, semangat hidup yang tanpa pamrih untuk menolong anak-anak yang tak beruntung.

Dari kisah Bai Fang Li, tidak dibutuhkan “KAYA” untuk member. Ini adalah kisah nyata luar biasa. Kisa ketulusan hati dari seorang bernama Bai Fang Ki untuk member. Inilah saatnya kita bersama-sama bercermin, dan tanyakan ke diri kita masing-masing.
______
Sumber: Warta Jemaat GKI Gejayan. No.34 Th XIII, 18 November 2012. Halaman Fokus Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: