KRISTUS, KAULAH RAJAKU

Oleh Pilipus Kopeuw
0451 – Yogyakarta minggu 25 November 2012 – Jam 13:09 wib

Topik ini adalah catatan khotbah yang dituankan menjadi tulisan. Dasar pembahasan perenungan dipilih dari Mazmur 103:8-14; Daniel 7:13-14 dan Yohanes 18:33-37. Khotbah ini disampaikan Oleh Pdt. Hadyan Tanwikara. Beliau memulai pengajarannya dengan mengisahkan ada seorang pengusa kaya dengan melakukan penyelendupan Negara lain. Para petugas penjaga perbatasan tidak tahu apa yang diselundupkan selalu. Ketika ia mengantarkan barang ke negeri seberang, pengusaha kaya ini selalu menumpangi barangnya diatas keledai. Ketika di perbatasan, barang-barangnya dibongkar dan diperiksa oleh petugas, ternyata tidak menemukan apa-apa. Sampai ketika mereka tua, petugas perbatasan sudah pensiun, mereka duduk-duduk sambil makan di warung, petugas Tanya kepada pengusaha ini, pak, selama ini apa sih yang bapak selundupkan ke negeri seberang? Jawab pengusaha kaya itu: masa bapak-bapak tidak melihat barang selundupan jelas-jelas di depan mata kok? Barang apa pak, Tanya mantan petugas perbatasan itu. Ya, keledainya yang saya selundupkan.

Hal serupa yang terjadi dengan Yesus dan Pilatus. Pilatus sangat merendahkan Yesus, sehingga ia tidak menemukan keindahan Yesus dalam hidupnya. Bagaimana Pilatus bisa menempatkan Yesus sebagai Raja dalam hidup. Apa yang menjadi percakapan Yesus dengan Pilatus di pengadilan Romawi. Pilatus berangkat dengan sanksi hukuman Yesus sebagai Raja dan Pilatus mengakui “Engkau inikah Raja orang Yahudi?”. Dalam teks aslinya diartikan dengan “Engkau inikah Raja orang Yahudi?” ini adalah kata-kata atau kalimat ejekan Pilatus kepada Yesus. Kata yang di gunakan adalah su ei. Su = engkau, ei =engkau. Jadi kalau diuangkapkan: jadi, engkau, engkau ini Raja orang Yahudi?” Karena Pilatus tidak melihat Yesus sebagai sosok Raja yang pastas, itu yang ada dalam dan muncul dalam benal Pilatus. Kalau dalam bahas iklan masa kini, ungkapanya seperti: Engkaukah Raja orang Yahudi…??…cius..??? Ini ungkapan meremehkan terkini. Karena Yesus secara penampilan Raja dalam pikiran dan seperti apa yang dipikirkan Pilatus, masakan Raja berpenampilan seperti Yesus. Yesus diam dan mendengarkan, tapi kemudian Yesus menggunakan kesempatan itu dan Yesus katakana kepada Pilatus: “Apakah engkau katakan itu dari hatimu?”. Yesus memantang Pilatus lebih jauh lagi. Ungkapan serupa juga Yesus pernah gunakan untuk menanyakan Petrus. Ini ungkapan yang Yesus pakai untuk Petrus: Petrus, siapakah Aku ini menurut kamu? Kepada Pilatus, Yesus bertanya: Apakah itu dari hatimu, atau menurut orang lain? Pilatus merasa tidak perlu bicara dengan hati, karena ia bukan dari orang Yahudi. Apa jawab Yesus? Lihat ayat 36.

Pilatus tetap dengan pikiran yang sangat melecehkan Yesus. Kalau kerajaan itu dari dunia. Pilatus masih bertanya: Engkau adalah Raja?…Yang dikatakan oleh Yesus selanjutnya adalah selalu mengarahkan kepada Pilatus: “Jika engkau berasal dari kebenaran, engkau akan mendengar suaraKU. Kerajaan Yesus bukan seperti kerajaan yang Pilatus bayangkan. Yesus hanya mau menegaskan bahwa kerajaan-Nya, pemerintahan-Nya adalah di dalam hati setiap orang. Kerajaan Allah adalah yang memerdekakan. Kristus adalah Raja di dalam hati kita. Ini pointnya yang Yesus sampaikan kepada Pilatus dan kita semua. Namun, Pilatus gagal sebab ia tidak menemukan itu. Pilatus tidak menemukan Yesus. Ia hanya sibuk dan berpikir seperti kisah penjaga perbatasan. Yesus dihadapannya saja dihiraukan. Pilatus sibuk memikir Yesus sebagai Raja dengan gambarannya, dan tidak mau masuk dalam pergumulan batin. Yesus ingin mengajak Pilatus melihat Yesus sebagai Raja di dalam hatinya. Tetapi Pilatus ingin melihat Yesus seperti yang ia inginkan dan tidak melihat Yesus sebagaimana mestinya. Sampai-sampai Pilatus tidak menemukan kesalahan pada diri Yesus (ayat 38b). Pilatus hanya berhenti sampai di situ. Ia mencuci tangannya dan tidak pernah menemukan Yesus dalam hidupnya.

Kita seringkali berperilaku seperti Pilatus. Kita hanya ingin menemukan Yesus sebatas yang kita inginkan. Kalau bukan seperti gambaran kita, itu bukan Yesus. Bukan Yesus yang layak. Banyak hal yang kita kerjakan dan katakan, ini untuk Yesus. Tapi Yesus yang bagaimana? Apakah Yesus yang seharusnya atau Yesus yang kau ingini dan gambarkan? Ada sebuah cerita. Satu keluarga ada suami-istri. Suaminya hobbi mabuk. Suatu ketika istrinya mengambil keputusan untuk tidak lagi marah, tapi ingin mengajak suaminya berpikir. Suatu malam istrinya menunggu suaminya pulang. Kali ini suaminya pelang dalam keadaan ½ mabuk, tidak seperti yang lalu-lalu yang selalu mabuk full/berat. Setelah dibukakan pintu, suaminya masuk dan dipersilahkan duduk. Istrinya mengatakan, pak aku ingin mengajak bapak berpikir, bahwa mabuk-mabukan itu tidak baik, mabuk itu tidak ada untung dan bapak hanya menghabis-habiskan uang saja. Lebih baik uang itu digunakan buat kebutuhan yang lain saja. Tidak lama kemudia, suaminya balas bicara. Kamu juga habiskan uang banyak di salon untuk ribording, cuci muka, perawatan. Itu juga pemborosan. Jawab istrinya: tapi itu kan semua mama lakukan untuk papa, kalau mama terlihat bersih cantik biar papa senang. Suaminya nyambung: bapa juga mabuk-mabukan biar kau kelihatan cantik….hahahahaha

Cerita ini juga sama dengan Pilatus. Akhirnya ia tidak menemukan apa-apa bagi hidupnya. Apakah hari ini kita hidup mengikuti Yesus atau hanya ikut Yesus yang kita ingini saja. Itu sama dengan kalau membuka dan membaca Alkitan hanya bagian-bagian yang kita inginkan saja, yang cocok dengan pikiran kita. Menjadikan Yesus sebagai Raja dalam hidup kita yakni menemukan Yesus yang sesungguhnya. Tanpa menempatkan Yesus yang sesungguhnya, kita tidak bisa melayani dengan baik. Disinilah pelayanan yang sebenarnya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: