KRITIK TERHADAP SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI DI STT DAN STAKPN

Oleh Pilipus Kopeuw
0455 – Yogyakarta Selasa 27 November 2012 – Jam 21:50 wib

Setiap perguruan tinggi teologi (agama Kristen) memiliki pedoman penulisan proposal dan skripsi. Dulu tahun 1994-2012, isi pedoman skripsi itu tidak begitu bermasalah bagi kami ketika menjadi mahasiswa, menjadi dosen. Tetapi kemudian, setelah mempelajari hal-hal khusus mengenai penelitian, baik di pendidikan umum maupun di pendidikan khusus keagamaan dan teologi Kristen, serta melakukan pengamatan dan analisis terhadap sistematika penulisan skripsi, rupanya ada beberapa hal yang perlu dikritisi secara obyektif dari sisi kepraktisan dan ilmiah. Mungkin bagi para praktisi penelitian di dunia pendidikan tinggi agama khusus STT dan STAKPN merasa bahwa pedoman penulisan skripsi sudah sempurna dan tidak perlu dikritisi. Kalau ada pemikiran seperti itu, tidak masalah. Namun coba kita lihat hal-hal apa yang dikritisi ini, apakah ada sisi kebanarannya atau tidak.

1. Kritik terhadap perlunya Abstrak dalam Skripsi dan Tesis

Dalam sistematika penulisan skripsi dan hasil skripsi di perpustakaan menunjukkan bahwa skripsi-skripsi di perpustakaan Perguruan Tinggi Teologi – Agama Kristen banyak yang tidak menggunakan abstrak. Padahal abstrak sangat penting. Abstrak merupakan sinopsis dari keseluruhan penulisan skripsi. Isi abstrak bisa memuat nama penulis; judul skripsi/tesis. Kota kampus, nama kampus; dan tahun; paragraf abstrak berikutnya memuat tentang tujuan penelitian; selanjutnya jenis penelitian yang digunakan; populasi dan sampel, serta metode pengumpulan data dan analisis secara garis besar/intinya saja. Paragraf terakhir berisi hasil penelitian. Biasanya kesimpulan yang diambil dan dimuat pada bagian ini. Dengan demikian, hanya cukup membaca abstrak saja pembaca bisa mengetahui isi keseluruhan penelitian dalam skripsi ataupun tesis.

Belum lagi apabila seluruh hasil penelitian diminta untuk dijadikan jurnal. Caranya sudah berbeda dalam penyusunannya. Ini kita hanya diskusikan tentang pentingnya “abstrak” dimasukan pada bagian awal skripsi maupun tesis. Abstrak juga perlu dimuat dalam web site kampus. Agar dapat digunakan oleh penelitia lain (orang lain) sebagai referensi penelitiannya apabila judul dan pembahasannya sama. Ataupun sebagai rujukan bagi penelitian selanjutnya ataupun juga dukungan terhadap penelitian lain yang sedang/akan ditulis oleh peneliti lain. Sebab biasanya dalam menulis latar belakang masalah dalam semua jenjang penelitian sangat penting sekali mendapat dukungan dari hasil-hasil penelitian terdahulu.

Untuk hasil-hasil penelitian, ada juga abstraknya yang sudah dimuat khusus dalam web site, sehingga bagi mahasiswa yang membutuhkan data-data penting dari penelitian orang lain, bisa membaca dan mencopinya disana, guna memperkuat rencana penulisan penelitiannya.

2. Kritik terhadap penggunaan sub bab sistematika penulisan dalam skripsi

Ketika menulis proposal skripsi dulu di tahun 1998 dalam menyelesaikan studi program sarjana PAK, di dalam sistematika penulisan proposal dan skripsi terdapat salah satu sub bagian yang menjelaskan sistematika penulisan skripsi. Cara ini yang dulu kami gunakan di tahun 1998 masih digunakan oleh mahasiswa S1 yang akan menulis skripsi di tahun 2012 ini. Setiap mahasiswa yang menulis proposal penelitian skripsi, pasti memuat sub bagian “sistematika penulisan”. Ini biasa khusus bagi proposal penelitian yang tidak memulai dengan Bab I – Bab III, tetapi yang dimulai dari A(Judul) – Q(Jadwal kegiatan penelitian).

Biasanya setelah proposal skripsi disetujui kemudian dilanjutkan dengan tahapan menyusun desain penelitian mulai bab I tentang “pendahuluan”; bab II tentang “landasan teori” dan bab III “metodologi penelitian”. Hal yang menjadi persoalan disini yang menjadi bagian yang dikritisi adalah mengapa dalam penulisan skripsi yang sudah dimulai dengan menyusun BAB I , Bab II, dan Bab III, masih terjadi sedikit kesalahan. Dimana letak kesalahannya itu? Coba perhatian di bagian Bab I, ada salah satu sub babnya yang masih menjelaskan lagi sistematika penulisan. Sebenarnya sub bab sistematika ini sudah tidak perlu lagi untuk ditulis ulang. Sebab, itu hanya khusus dijelas oleh mahasiswa pada saat penulisan proposal skripsinya. Selain itu, penulisan skripsi memiliki “sistematika penulisan”. Itu artinya sistematika penulisan tidak perlu dijelaskan kembali. Sebab penulisan skripsi berdasarkan sistematikanya. Nah, sistematika itulah yang sudah dijelaskan dalam “proposal penelitian” nya dulu. Alangkah baiknya sistematika penulisan dalam bab I ini dihilangkan saja. Sebab penulisan skripsi mengikuti sistematika sesuai pedoman penulisan skripsi yang sudah ditetapkan oleh Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI yang kemudian terjemahkan kembali dalam pedoman penulisan pada PTTA-AK masing-masing. Selain itu, sistematika skripsi sudah bukan proposal lagi. Itu artinya bahwa tidak perlu lagi memuat sub bab “sistematika penulisan” dalam bab I.

3. Kritik terhadap perlunya dimasukan sub bab “penelitian yang relevan” pada bab II

Skripsi maupun tesis yang ada di perpustakaan kampus perguruan tinggi teologi agama Kristen, baik STT, STAKPN dan Fakultas Agama Kristen, terdapat banyak judul yang hampir sama. Pernah ditemukan ada skripsi-skripsi yang sama persis alais dicopy dari A-Z (plagiator). selain itu, untuk menghindari kesamaan penelitian, maka perlu dimasukan salah satu sub bab penelitian yang relevan pada bab II Landasan Teori. Letaknya biasa setelah pembahasan sub bab kajian teori atau sebelum sub bab kerangka berpikir. Penelitian yang relevan juga sangat membantu mahasiswa dalam penulisan skripsi maupun tesis dalam fokus penelitian atau obyek penelitian yang berbeda. Kadang judul penelitian mirip tetapi setelah dikaji ternyata fokus pembahasan dan penelitiannya akan nampak perbedaannya. Ini akan menambah kekayaan dalam melakukan penelitian dan menghindari “plagiat”. Dengan demikian penelitian yang akan dihasilkan akan “original (asli)”.

4. Kritik terhadap penggunaan sub bab metodologi penelitian dan sub bab Prosedur Penelitian

Hal ini juga sama dengan kritik point 2 diatas. Perhatikan dalam bab I, salah satu sub bab-nya adalah metodologi penelitian. Kalau dalam proposal penelitian, metodologi penelitian merupakan pokok bahasan tersendiri. Hal yang menjadi kritikannya adalah kenapa kemudian, metodologi penelitian menjadi sub bab pada bab I. selain itu, bab III adalah bab khusus yang akan membahas tentang metodologi penelitian. Nah, akhirnya kan menjadi rancuh, karena metodologi penelitian dijelaskan dua kali, pada bab I dan bab III. Pastinya para dosen dan mahasiswa ada yang pernah sempat berpikir dan membicarakan permasalahan ini dalam pikirannya. Sebenarnya hal ini sangat perlu dibicarakan. Untuk apa melakukan pemborosan dan pengulangan yang tidak perlu.

Memperhatikan sistematika penulisan skripsi secara umum, bab III biasanya merupakan bagian khusus untuk membahas “metodologi penelitian” yang terdiri dari jenis penelitian; tempat dan waktu penelitian; populasi dan sampel penelitian; variabel-variabel penelitian; teknik pengumpulan data; instrumen penelitian; teknik analisis data.

Dari penjelasan diatas ini, berarti sub bab metodologi penelitian pada bab I perlu ditinjau kembali, apakah perlu tetap dipertahankan dalam sistematika penulisan skripsi atau lebih baik di tiadakan saja karena “metodologi penelitian” sudah memiliki bab khusus untuk pembahasannya secara detail pada bab III.

Demikian hal tentang sub bab “prosedur penelitian” dalam bab I. Prosedur penelitian biasanya pembahasannya secara khusus dalam bab III metodologi penelitian. Hal ini harus menjadi perhatian juga bagi para praktisi peneliti di perguruan tinggi teologi (agama Kristen).

5. Kritik terhadap posisi sub bab hipotesis.

Dalam skripsi di STT Fakultas Agama Kristen dan STAKPN, letak sub bab “hipotesis” dibagian bab I. yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana logikanya sehingga posisi “hipotesis” bisa ditaruh di bab I. apakah hanya karena sumber data di dalam latar belakang masalah penelitian sehingga hipotesis sudah bisa ada asumsi untuk dimasukan dalam bab I? bagaimana kalau logikanya begini: Setelah membangun kerangka teori, dalam sub bab “kajian pustaka” pada bab II landasan teori, kemudian dibandingkan dengan persoalan-persoalan yang dibahas di bab I pada latar belakang masalah dan identifikasi masalah, atas pertimbangan analisis tersebut dapat menjadi dasar untuk membuat hipotesis. Kira-kira mana yang lebih baik dan logikanya lebih tepat. Dipertimbangkan dari segi logika yang tepat, alangkah baiknya “sub bab hipotesis” dalam bab I, dipindahkan ke dalam salah satu sub bab pada bab II, yakni pada landasan teori.

6. Kritik terhadap pembahasan kajian pustaka

Dalam penulisan skripsi, kerap kali ada yang memasukan menjadi sub bab studi kepustakaan pada bab I. ada juga yang menulis kajian pustaka dalam bab terpisah. Artinya studi pustaka ditulis dalam II bab. Bisanya cara-cara ini dilakukan untuk menulis makalah. Jadi dari judul makalah dapat diuraikan variabel/hakekat X1, variabel/hakekat X2, Variabel/hakekat X, dan Variabel/hakekat Y kemudian terakhir dibahas hubungan masing-masing variabel.

Dalam penulisan skripsi, tesis ataupun disertasi, untuk sub bab “kajian pustaka” selalu dibahas dalam bab II, yakni landasan teori. Oleh karena itu, agar tidak terjadi campur aduk antara model penulisan makalah dan model penulisan ilmiah, perlu ada sebuah kejelasan dan klarifikasi. Aturan normal, baik pada perguruan tinggi sekuler maupun non-sekuler, semua menggunakan bab II adalah landasan teori yang di dalamnya salah satu sub babnya adalah “Kajian Pustaka”.

7. Kritik terhadap bab Tinjauan Lokasi penelitian

Ada beberapa skripsi yang memiliki bab tersendiri membahas tentang Tinjauan atau gambaran lokasi penelitian. Ada yang memakai istilah gambaran umum lokasi penelitian; deskripsi umum; selayang pandang dan sebagainya. Tinjauan lokasi penelitian ini dibahas dalam bab III. Padahal dalam bab III yang harus dibahas adalah metodologi penelitian. Timbul pertanyaan, bagaimana yang seharusnya? Dalam penelitian, pada bab III metodologi penelitian ada sub bab yang membahas tentang tempat dan waktu penelitian. Kemudian untuk menjelaskannya biasa dimasukan pada bab IV hasil penelitian dan pembahasan, dalam sub bab gambaran atau deskripsi lokasi tempat penelitian. Penjelasan ini saja merupakan bagian dari hasil penelitian melalui survey dan data-data yang sudah dikumpulkan. Salah satu datanya yaitu penjelasan-penjelasan tentang tempat penelitian tersebut, bagaimana menggambarkan dengan kata-kata dalam sub bab khusus pada bab IV ini.

Berdasarkan pemahaman yang sudah dijelaskan diatas, maka kita bisa memahami dengan baik dimana letak posisi “tinjauan lokasi penelitian” atau “gambaran umum tempat penelitian”. Oleh karena itu, bagi para praktisi peneliti pendidikan agama dan teologi perlu meninjau dan membenahi hal ini kembali.

8. Kritik terhadap hasil penelitian dalam bab IV

Mari kita perhatikan judul bab IV adalah hasil penelitian dan pembahasan atau hasil dan pembahasan penelitian. Ada banyak skripsi dan tesis tidak terlihat jelas mana yang “hasil penelitiannya” dan mana yang “pembahasan penelitiannya”. Perhatikan bagian-bagian ini, kadang tidak nampak perbedaannya, karena hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian dicampur jadi satu. Padahal seharusnya dipisahkan, misalnya sub bab B “Hasil penelitian” dan sub bab C “pembahasan hasil penelitian”. Mungkin ada yang bertanya bagaimana kami bisa melihat perbedaan keduanya?

Hasil penelitian biasanya berisi hasil yang sudah diperoleh dari instrumen pengumpulan data dan analisisnya. Perhatikan dan ingat, bahwa tidak semua data serta merta dimasukan dalam hasil penelitian. Namanya juga “hasil penelitian”. Itu berarti data kasar dari angket, observasi, wawancara dan analisis data tidak dimasukan dalam bab IV ini. Hanya hasil bersih yang sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian sajalah yang dimasukkan dalam sub bab “hasil penelitian”. Bisa di rangkum berupa tabel, dan grafik atau gambar dan sedikit keterangan. Data kasar, proses perhitungan dan sebagainya semua dirapihkan dan disisipkan pada bagian lampiran-lampiran setelah halaman daftar pustaka. “Hasil penelitian” bukan pembahasan penelitian, begitu juga pembahasan penelitian bukan hasil penelitian. Jadi, hasil penelitian baru sebatas laporan, ini loh, hasil dari pengumpulan data dan analisis data penelitian.

Kemudian apa yang dimaksud dengan “pembahasan hasil penelitian?” apakah bedanya dengan “hasil penelitian?” Pengertiannya adalah jelas berbeda antara hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Pada sub bab pembahasan hasil penelitian, berarti hasil-hasil penelitian itu mulai dibahas atau didiskusikan. Diskusikan dengan siapa? Apa yang didiskusikan? Perhatikan cara kerjanya: Hasil pembahasan mulai dibahas dan dikaitkan dengan teori yang sudah dibangun. Ada temuan-temuan apa di dalam hasil penelitian, kemudian temuan itu masuk dalam pembahasan hasil penelitian dengan membandingan teori dalam sub bab kajian pustaka dengan hasil-hasil penelitian, baik hasil angket, hasil wawancara, dokumen maupun hasil observasi. Pembahasan hasil ini juga tetap pada jalur dan tidak boleh melebar ataupun keluar. Jalur apa maksudnya? Jalur yang dimaksud adalah rumusan masalah dan tujuan penelitian!. Dalam sub bab pembahasan hasil tidak membuat kesimpulan, sebab bagian kesimpulan ada bab-nya tersendiri.

9. Kritik terhadap penjelasan hasil angket

Sejak tahun 1994, saya melihat skripsi di salah satu perguruan tinggi teologi, mahasiswa mengumpulkan data penelitian dengan instrumen angket. Kemudian hasil analisis data angket berisi persentase dari responden, dijelaskan per-item pertanyaan. Setelah tahun 2001, saya menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi teologi, hal yang sama juga masih dilakukan. Saya pikir itu sudah merupakan cara yang benar. Padahal kita hanya tidak rajin membaca buku-buku penelitian dan juga tidak pernah melakukan penelitian dengan instrumen angket atau dengan pendekatan penelitian kuantitatif saja, sehingga tidak mempelajari dan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Setelah saya menempuh studi khusus dibidang penelitian dan saat membuat instrumen untuk tesis dan analisis data serta penyajian data dalam bab IV, saya mulai sadar bahwa telah bertahun-tahun terjadi kesalahan dalam menyajikan data hasil angket. Dimana letak kesalahannya? Ada sangat banyak. Dari cara menyusun variabel, indikator-indikator dari variabel tersebut hingga penyusunan item, kemudian uji validitas dan reliabilitas, dan seterusnya hingga penyajian datanya pada hasil penelitian.

Coba perhatikan skripsi yang menggunakan angket sebagai instrumen pengumpulan datanya? Pasti ada yan ganjal dan lucu. Kenapa lucu? Perhatikan pertanyaan ini: tujuan penelitian mencari jawaban penelitian terhadap suatu variabel atau suatu item pertanyaan? Tidak ada penelitian yang mencari suatu item pertanyaan, penelitian mencari jawaban atas satu atau lebih variabel dan hubungannya. Perhatikan dalam bab IV, dalam skripsi dan tesis yang sudah di di PTTAK, hasil angket dijelaskan per-item. Ini salah. Seharusnya yang dijelaskan adalah per-variabel. Kita menyadari bahwa kesalahan ini terjadi karena ketidaktahuan, kesalahan terjadi dalam penulisan, dan kesalahan terjadi dalam bimbingan penulisan. Agar penyajian hasil analisis data penelitian semakin semakin benar, hal ini perlu mendapat perhatian dari semua stakeholder.

10. Kritik terhadap Saran Penelitian lebih lanjut

Penelitian yang dilaksanakan dengan baik, kadang ada yang meninggalkan saran untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Sebab ada alasan peneliti awal sehingga tidak meneliti bagian tersebut. Ini jarang dijumpai dalam penelitian agama dan teologi Kristen. Saran penelitian lebih lanjut sangat penting, tetapi itupun kalau disadari dan ditemukan kekurangannya oleh peneliti awalnya. Itu sebabnya jarang sekali ada judul skripsi atau tesis yang mendasari penelitiannya karena adanya rekomendasi dari peneliti lain untuk melakukan penelitian tersebut lebih lanjut. Saran penelitian lebih lanjut seperti ini juga paling tidak sudah membantu mahasiswa lain yang kebingungan mencari judul penelitian.

11. Kritik terhadap hal-hal teknis penulisan

Ada beberapa hal teknis yang harus juga menjadi perhatian khusus:
Daftar tabel harus dimasukan dengan nomor halaman
Daftra grafik atau gambar harus dimasukan dengan nomor halaman
Daftar lampiran harus dimasukan dengan nomor halaman
Pada bagian lampiran perlu disertakan pedoman-pedoman angket, wawancara, onservasi
Pada bagian lampiran perlu di lampirkan hasil pengumpulan data
Pada bagian lampiran perlu dilampirkan hasil analisis data kasar
Perlu dilampirkan surat penunjukkan dosen pembimbing
Perlu dilampirkan surat ijin penelitian
Perlu dilampirkan surat keterangan telah melakukan penelitian dari pemegang otoritas di lokasi penelitian
Perlu dimasukan “curriculum vitae”

Ini saja yang dapat diuraikan dalam pembahasan ini. Bagi saya secara pribadi penelitian di STT dan STAKPN harus terus mengalami peningkatan dan perubahan-perubahan kearah yang lebih baik. Saya juga berharap kualitas penelitian di STT dan STAKPN memiliki kualitas yang sama jika diamati oleh pakar pendidikan sekuler. Itu menjadi tanggung jawab kita bersama yang peduli kepada kemajuan penelitian di perguruan tinggi teologi agama Kristen di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: