RAJA DALAM PENDERITAAN

Oleh Pdt. Hadyan Tanwikara
Penulis Pilipus Kopeuw
0450 – Yogyakarta Minggu 25 November 2012 – Jam 17:00 wib

Pada masa kejayaan PAX ROMANA, terdapat ribuan provinsi jajahan Romawi. Setiap provinsi memiliki wali. Itu berarti ada ribuan wali negeri. Namun semua orang Kristen hanya mengenal satu nama wali negeri, yaitu Pontius Pilatus. Setiap minggu kita menyebutkan namanya dalam pengakuan Iman Rasuli, “….yang menderia sengsara d bawah pemerintahan Pontius Pilatus”. Dalam Injil Yohanes, Pilatus memang menjadi seorang actor antagonis, pemutus hukuman mati atas Yesus. Namun yang menarik, melalui ucapan dan tindakan Pilatus itu, Yesus justru diakui sebagai Raja. Diantara ketiga injil lainnya, Yohanes justru ingin menegaskan bahwa peristiwa penyaliban adalah peristiwa pemuliaan Yesus sebagai Raja. Yohanes 18: 33-37a & 19:17-22, Yohanes mencatat lebih rinci dibanding tiga kita lainnya tentang Pilatus yang menaruh tulisan dalam tiga bahasa, “Yesus, orang Nasaret, Raja orang Yahudi”. Ketika Pilatus didesak untuk mengganti tulisan itu, ia berkata, “apa yang kutulis tetap tertulis”. Pasti saja maksudnya untuk mengejek dan menghina Yesus, namun kebenaran tetap terungkap. Apa yang tertulis tetap tertulis, bahwa Allah mampu menunjukkan kerajaan-Nya melalui penderitaan.

Dalam Yohanes 18:33 Pilatus bertanya, “Engkau inikah Raja orang Yahudi?” ketika Pilatus bertanya lagi pada ayat 37, “Jadi Engkau adalah Raja?” Yesus menjawab, “Engkau mengatakan bahwa aku adalah Raja”. Pengakuan itu muncul dari mulut Pilatus. Jika Allah mampu menyatakan kebenaran melalui seekor keledai dungu milik Bileam, tentu Allah mampu juga menyatakan kebenaran melalui Pilatus. Yesus memberi kesempatan kepada Pilatus untuk mengubah ejekan itu menjadi pengakuan, juga cemoohan menjadi keyakinan, bahwa Yesus memang adalah Raja. Itu sebabnya pada ayat 34 Yesus berkata, “Apakah engkau katakan hal itu dari hati kamu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?” Yesus memberi kesempatan kepada Pilatus untuk jujur pada nuraninya sendiri. Sama persis ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Tetapi menurutmu siapakah Aku? Jangan menurut orang lain, tapi bagaimana menurutmu!”

Ada dua hal yang bisa kita renungkan dari bacaan ini. Pertama: Allah menegaskan kerajaanNya melalui penderitaan. Penderitaan bukanlah menjadi hambatan begi Allah untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Allah menjadi raja dalam penderitaan manusia. Ke-Raja-an Yesus tidak ditentukan oleh pengakuan orang lain, tetapi kerajaan Yesus tetap tampil karena kasih Yesus. Bagaimana Yesus menuntun Pilatus untuk merenungkan pertanyaan dan ejekannya pada Yesus menjadi keyakinan bagi Pilatus. Yesus tampil sebagai raja dalam kasihnya yang besar.

Hal kedua, pengakuan pada Yesus sebagai raja harus muncul dari dalam hati dan tidak boleh menjadi doktrin yang kita temukan serta dapatkan dari oran lain. Ini bukan soal kebenarann ajaran, melainkan soal hati. Pengakuan yang selalu berasal dari dalam batin dan dihidupi dalam keseharian. Benarkah Yesus adalah Raja dalam hidup Anda? Tetapkan, anda melihat Kristus sebagai raja ketika Anda menderita? Salib menjadi cara Allah untuk tetap menunjukkan kerajaan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: