HIDUPLAH DALAM KEKUDUSAN

Pengkhotbah: Pdt. Ratna Indah Widhiastuty

Penulis Pilipus Kopeuw

0469 – Yogyakarta Minggu 2 Desember 2012 – Jam 11:37 wib

 Gambar

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan film “2012” yang sangat menggegerkan di tahun 2009. Film ini di sutradarai oleh Rolland Emmerich. Ide dasarnya dari film itu adalah ramalan suku Maya yang menyatakan kalau dunia ini akan berakhir tanggal 21 Desember 2012. Di film ini diperlihatkan ada banyak peristiwa alam yang menjadi tanda akhir dari dunia ini. Bagaimana Alkitab menyoroti hal ini? Mari kembali kita perhatikan Lukas 21: 25-32. Firman Tuhan juga memperlihatkan dengan jelas bilamana hari itu datang: akan ada tanda-tanda pada matahari, bulan dan bintang, bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut, orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala yang akan menimpa bumi ini. Namun dengan tegas Firman tuhan memberitahukan kepada kita bahwa tetang kapan hari itu datang tidak ada satu orang pun tahu, hanya Bapa saja yang tahu (Markus 13:32 tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surge tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja). Jangan sibuk fokus dengan memperhatikan tanda-tanda, film ini hanya rekayasa, sebab yang pasti tidak ada yang tahu tentang hari itu.

 Gambar

Oleh karena itu, yang penting justru apakah kita sudah siap, mempersiapkan diri apabila hari itu datang? Sama halnya dengan orang yang kalau mau bepergian harus menyiapkan barang-barangnya. Minggu ini kita memasuki minggu masa adven yang pertama. Adven berasal dari kata “adventus” (bahasa latin) yang artinya adalah masa penantian akan kedatangan-Nya. Hal itu berarti kita saat ini berada diantara: kedatangan Mesias yang pertama melalui diri Yesus dan kedatanganNya yang kedua sebagai Hakim Yang Agung. Dalam masa penantian inilah Firman Tuhan kembali mengingatkan agar kita memiliki gaya hidup berjaga-jaga dan waspada terhadap sekitar kita, karena tanpa disadari sering hal disekitar yang kita anggap remeh membuat kita terlena dan jatuh dalam ketidak-kudusan (kedagingan dan hawa nafsu).

 Gambar

Persoalannya adalah untuk menjaga kekudusan di tengah saman ini bukanlah hal yang mudah, karena kita harus berhadapan dengan dunia ini. Dunia menganggap kekudusan sebagai sesuatu yang kuno, sesuatu yang bodoh. Kadang tanpa disadari hidup rohani kita juga kontradiktif. Disatu sisi kita beragamatapi hidup kita jauh dari spirutualitas, hal ini hendak menunjukkan betapa sulitnya memperjuangkan kekudusan hidup di dunia ini. Untuk hidup kudu menjadi tuntutan yang sangat sulit di tengah dunia ini. Dibayangkan seperti melawan ombak besar. Dunia menganggap kekudusan kok kuno. Hari gini kalau tidak nyontek rugi. Hari gini kalau tidak korupsi rugi. Hari gini tidak bolos rugi sekali. Cara hidup seperti ini menjahkan diri dari hidup Kekristenan. Kadang orang kelihatannya beragama, tapi spiritualitasnya jauh. Artinya, orang ini ke gereja, ia, tapi korupsi juga, ia. Hidup dengan prinsip fifty-fifty. (50:50). Kita tidak memperjuangkan hidup kudus. 1 Korintus 3:16 (tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?). ciptaan yang baru sudah datang, yang lama sudah berlalu. Tidak ada hidup setengah-setengah, bisa melawan arus. Ikut Tuhan tidak bisa setengah-setengah.

 

Ada seekor ikan yang punya keunikan. Ikan ini bisa hidup di air tawan dan bisa juga ikan ini hidup di air asin. Ikan itu adalah “ikan salmon”. Bagaimana ikan ini bisa kembali ke tempat aslinya di gunung untuk bertelur. Kadang ketika dalam perjalan dari laut menyusuri sungai menuju pegunungan, ia mmelawan arus sungai yang deras. Kadang saat dia melompat naik ke bagian aliran air yang lebih tinggi, keburu ditangkat beruang. Ketika air mulai kering, ia harus bertarung dengan batu-batu di sungai itu. Ini adalah gambaran bagi kita untuk berani tampil beda. Berani melawan arus kehidupan. Coba renungkan untuk sesuatu yang “fasion” kita ingin tampil yang beda. Kita ingin kalau bisa mode baju ini hanya satu-satunya di dunia. Begitu juga dengan keristenan, kita harus berjuang dan berusaha untuk tampil beda. Kita memang hidup di dunia, tapi kita bukan dari dunia ini. Kita harus melawan arus. Kekudusan adalah karya Roh Kudus. Kita sulit hidup kudus dengan kekuatan kita. Tapi hidup kudus juga menjadi tanggung jawab kita untuk memperjuangkannya. Itu sifatnya aktif, jadi ada yang harus kita lakukan. Roma 12:2 (Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna)

 

Namun perlu kita sadari: Anugerah dari Allah ketika kita jadi ciptaan baru akan menjadi sia-sia ketikan kita tidak menjaga kekudusan hidup.  Oleh karena itu berjaga-jagalah, jangan sia-siakan anugerah Tuhan. Berjaga-jaga itu berarti:

  1. Lukas 21:36 (Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia).DOA – Doa akan jadi sumber kekuatan orang percaya untuk bertahan menantikan Kerajaan Allah.
  2. Ulangan 28:9 (Tuhan akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah Tuhan, Allahmu, dan hidupmu menurut jalan yang ditunjukkan-Nya). Berpegang pada perintah Allah – Firman (ingat 4M = membaca, merenungkan menghayati, melakukan, membagikan). Dengan demikian kita dapat hidup seturut dengan jalan Nya – salibkan kedagingan.

 

Gereja kita sudah membuat “booknote” agar jemaat bisa memilikinya. Gunanya adalah untuk mencatat khotbah supaya setelah di rumah atau dimana saja bisa dibaca kembali, bisa direnungkan kembali dan menghayatinya, lalu melakukannya dan hasilnya bisa dibagikan diceritakan kepada orang lain.

 

Keinginan daging (hawa nafsu) ini sangat kuat atau daging ini sangat lemah terhadap kebutuhan untuk hidup kudus. Tanpa DOA dan Firman Tuhan, kita tidak akan KUAT. Kekudusan itu seperti ikan Salmon, kita harus berjuang, walaupun sulit. Akhir-akhir ini banyak anak Tuhan yang tidak mau bayar harga…tidak mau hidup susah…tidak mau hidup sulit dan terluka…tidak berani mati ataupum tidak berani mematikan keinginan duniawi diri sendiri. Masih banyak orang yang ke DUGEM. Kalau ada orang lain yang melihat dan mengenal mereka sebagai orang Kristen, mereka pasti akan menertawakan Kekristenan. Contoh lain sebagai mahasiswa. Apakah anda mahasiswa “telatan” atau mahasiswa “teladan”? titip absend, tidur dalam kelas, ada tugas tidak pernah kerja, muncul saat ujian dan selalu buka kamus/contekan.

 

Dalam kehidupan keluarga, bagaimana orang bisa melihat Kristus dalam kehidupan Keluarga? Tiap hari ada keributan, ada piring terbang, dan perabot RT terbang lainnya. Tiap minggu kulkan barang RT, punya WIL, punya PIL, selalu terjadi kekerasan dalam RT. Dan orang disekitar mereka hanya akan melihat hal-hal itu dan tidak akan pernah melihat Kristus dalam keluarga itu. Orang tidak akan melihat Kristus hidup dalam keluarga itu.

 

Harga yang harus kita bayar mahal sekali. Bapa itu kudus. Bagaimana dosa dan kekudusan bisa bersatu bagaikan minyak dan air tidak akan pernah bersatu. Ketidak-kudusan akan menjauhkan diri dari dari Tuhan. 1 Petrus 1:14-15 katakan “Hidup sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu, sama seperti Dia yang kudus yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: kuduslah kamu, sebab Aku kudus”.

 

Sikap waspada untuk menantikan kedatangan-Nya sebagai Hakim Agung, jangan focus kepada tanda. Tapi mari belajar hidup dalam kekudusan, supaya ketika IA datang mendapati kita kudus dan tak bercacat. Seperti halnya Tuhan yang kudus, kitapun harusnya seperti itu juga. Segala ketidak kudusan yang kita lakukan akan menjauhkan/memisahkan kita dari Tuhan. Ingat: suatu yang tidak kudus tidak akan pernah bisa bersatu dengan Tuhan yang kudus. Selamat memperjuangkan hidup yang kudus bersama dengan Tuhan.

 

Nyanyikan pujian “Bukan dengan barang fana”

 

Bukan dengan barang fana

Kau membayar dosaku

Dengan darah yang mahal

Tiada noda dan celah

 

bukan dengan emas perak

Kau menebus diriku

Dengan segenap kasih

Dan pengorbananMU

 

Ku telah mati dan tinggalkan

Cara hidupku yang lama

Semuannya sia-sia dan tak tak berarti lagi

 

Hidup ini kuserahkan

Pada mezbahMU ya Tuhan

Jadilah padaku seperti yang KAU ingini

 

Nats untuk Persembahan : KOLOSE 3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

 

__________________________

Sumber:

  1. 1.       Warta Jemaat GKI Gejayan, No. 36 Th. XIII 01/02 Desember 2012 kolom berita mimbar
  2. 2.       Catatanku tentang  khotbah ini

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: