BANGKIT DARI KETERPURUKAN DAN KEGAGALAN

Oleh Pilipus Kopeuw

Yogyakarta Minggu 27 Januari 2008

 

Pendahuluan

Pengalaman hidup saya selama studi Program Pascasarjana di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tidak sesuai dengan rencana awal. Sebab studi saya telah molor dua tahun dari nota tugas yang diberikan kantor kepada saya. Seharusnya saya tamat studi PPs tahun 2006 (2004-2006). Kenapa saya bisa mengalami keterlambatan dalam studi? Itu karena saya dan keluarga mengalami “keterpurukan demi keterpurukan” silih berganti melalui berbagai macam masalah kehidupan. Kadang saya berpikir dan membuat keputusan untuk menyerah saja. Namun karena masih ada sedikit harapan untuk terus berjuang untuk bangkit mengatasi keterpurukan hidup. Yang penting itu bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana saya dna keluarga hidup. Kata bijak ini menolong saya: Ia yang banyak kehilangan uang, kehilangan banyak; Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak; tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya. Kami dalam keluarga , masih punya keyakinan bahwa kami masih bisa berhasil meraih impian dan cita-cita kami. Sekalipun ada orang lain yang mengatakan tetaplah fokus dan bijaksana atau bijaksini!

Khotbah hari ini saya pilih dari Kitab Raja-Raja pasal 5 ayat 1 sampai dengan 14.  Bayangkanlah ketika Anda lulus dari Universitas dengan cumlaude, Anda adalah seorang yang sangat pandai, dan segera sesudah itu sebuah perusahaan yang sangat terkenal memperkerjaakan Anda. Anda bekerja sangat baik dan kemudian dipromosikan beberapa kali sampai akhirnya perusahaan membuka cabang baru dan Anda menjadi kepalanya. Anda begitu pandai, terkenal dan kaya. Tetapi suatu ketika, Anda merasa begitu sakit tubuhnya, kemudian di dapati bahwa penyakit itu tidak dapat disembuhkan. Anda merasa begitu hancur, semua kesuksesan dimasa lalu tak berarti lagi sekarang. Semua ketenaran tidak berarti, yang saudara inginkan hanyalah agar tetap hidup.

Dalam bagian Alkitab yang kita baca, menceritakan bahwa Naaman ada dalam situasi yang sama, ia adalah seorang Panglima Pasukan Siria, ia seorang Jenderal yang luar biasa karena sering memenangkan peperangan. Jenderal Naaman pemegang kendali dunia saat itu. Ia mempunyai segala sesuatu: kekayaan, kehormatan dan ketenaran. Tapi ia menderita penyakit “kusta”, yang sama seperti penyakit “Aids” pada masa kini yang belun juga dapat disembuhkan secara medis. Naaman harus diasingkan, hidup sendirian untuk menanti ajalnya yang akan datang untuk menjemputnya. Semua kejayaan dimasa lalu, sekarang tidak lagi berarti baginya. Ketika budaknya memperkenalkan seorang Nabi di Israel, mungkin itu adalah berita paling baik yang pernah ia dengan dalam masa hidupnya. Hidup Jenderal Naaman diubahkan. Yang Naaman perlukan sekarang adalah TUHAN. Mengapa?

 

Tuhanlah Satu-Satunya Jalan – Carilah DIA

 

Allah memakai berbagai macam krisis dalam hidup kita untuk menyadarkan kita melihat kenyataan yang sedang terjadi dalam hidup kita. Naaman mengandalkan dirinya sendiri dan prestasinya. Tetapi sekarang Allah membawanya ke dalam krisis yang akhirnya memimpinnya untuk bertemu dengan Allah Israel, satu-satunya Allah yang benar (1 Raja-Raja 5:15). Tuhan-lah yang diperlukan Naaman. Walaupun ia sudah memiliki segalanya dalam hidupnya, tapi itu tidaklah cukup. Demikianlah halnya dengan kita yang lainnya, yang kita perlukan bukanlah kejayaan dan kekayaan yang lebih lagi, melainkan yang kita perlukan adalah mengenal Tuhan lebih lagi, mengasihi Dia, dan tinggal dekat denganNYA.

Kita mungkin berpikir dan merasa punya segalanya dalam hidup ini sama seperti Naaman, tapi suatu hari nanti kita akan menyadari bahwa semuanya itu tidaklah berarti. YESUS berkata: “Apalah gunanya seorang memperoleh dunia ini tetapi kehilangan nyawanya? Dan Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya”(Matius 16:26). Apa yang saudara dan saya cari saat ini?

Naaman memerlukan Tuhan untuk diselamatkan. Tuhan memberikan berkat itu kepadanya. Sangat sering dalam hidup ini, Tuhan berlaku yang sama terhadap kita. Melalui krisis ini Tuhan mau menyadarkan kita untuk kembali berpaling kepada Tuhan lebih dari pada hanya sekedar mengejar kenikmatan duniawi saja. Melalui budaknya, Naaman tahu bahwa ada Nabi Elisa di Israel yang sanggup menyembuhkannya. Maka, pergilah Naaman dengan membawa emas, perak dan pakaian untuk membayar kesembuhannya. Tapi yang Naaman dapati adalah hanya suatu perintah sangat-sangat sederhana dan sepele, yakni untuk mandi di Sungai Yordan sebanyak 7 (tujuh) kali (lihat ayat.10).

Bayangkanlah, Panglima Naaman dan rombongan juga harta bendanya berdiri diluar, dipersilahkan masukpun tidak, dan hanya disuruh mandi tujuh kali di sungai Yordan yang kotornya masih jauh lebih baik sungai-sungai yang ada di negerinya Siria. Naaman sangat marah dan merasa dilecehkan.

 

Jalan Tuhan Berbeda dari Jalan Kita – Tunduklah KepadaNYA

 

Ini adalah sebuah tantangan iman: Naaman pergi dengan marah dan berkata: Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang keluar dan berdiri memanggil nama Tuhan Allah-nya lalu menggerakgerakkan tangannya diatas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku (ayat 11).

Hal yang sama sering terjadi pada kita. Kita maunya Tuhan menumpangkan tangan, memberkati kita atau dengan segera menolong mengangkat semua masalah kita, mengapa Tuhan membuatnya begitu rumit? Itu bukan rumit hanya berbeda. Allah tidak hanya peduli pada kesembuhan fisik, IA mau melihat iman, ketaatan dan kerendahan hati. IA mau kita menerima Sang Pemberi, bukan pemberianNYA. Krisis bisa jadi merupakan alat Tuhan untuk menciptakan ketundukan kepada Allah, dan kita belajar untuk mentaati Allah, bukan kemauan kita sendiri. Sering kita tidak mendapat kesembuhan dari Tuhan, itu bukan karena Tuhan tidak mau, tapi karena kita tidak beriman; bukan karena IA tidak bisa menyembuhkan, tapi karena kita tidak tunduk kepadaNYA.

Syukurlah, Naaman tidak jadi pergi, ada anak buahnya yang mendorongnya untuk melakukan saja apa yang diperintahkan Nabi Elisa dan akhirnya dia disembuhkan. Hal ini sama dengan kita. Kita memerlukan saudara-saudara dan teman-teman di dalam Tuhan, sehingga pada waktu kita sedang menghadapi masalah mereka akan mendorong dan mendukung kita untuk melakukan hal yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Fellowship atau persekutuan dengan saudara-saudara seiman itu sangatlah penting.

 

Jalan Tuhan adalah Iman – Percayalah Kepada-NYA

 

Beriman kepada Tuhan, itulah pelajarannya. Naaman punya penyakit mematikan dan ia belum pernah mendengar ada orang yang pernah sembuh dari sakit kusta sebelumnya. Keadaannya tidaklah mudah, sebagai seorang Jenderal ia harus melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, itu memerlukan iman. Naaman tidak saja disembuhkan fisiknya, tetapi jiwanya pun diselamatkan “sekarang aku tahu diseluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel (Ayat.15).

Dalam pelayanan Yesus pun menceritakan tentang Naaman satu-satunya orang Siria berpenyakit kusta yang disembuhkan (Lukas 4:27) “Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman orang Siria itu.

 

Tindakan adalah Kekuatan – (Action is Power)

 

Sebuah pepatah klasik berbunyi : jien li she ie ik puu artinya perjalanan seribu mil  dimulai dengan langkah pertama. Pesan moral dari kata-kata mutiara pendek ini adalah tindakan. Memang benar tindakan adalah kekuatan (Action is power). Kita mungkin punya sebongkah impian indah, segudang rencana, setumpuk ide cemerlang, tetapi semua itu tidak akan menghasilkan apapun, jika kita tidak berani memulai dengan langkah pertama. Hal ini mengingatkan saya pada ciri-ciri manusia yang menurut saya ada empat tipe tentang teori dan praktek.

Tipe Pertama, yaitu orang yang tidak punya pengetahuan Alkitab/Teori sekaligus tidak hidup menurut ajaran kekristenan (praktek). Orang seperti ini memiliki semangat dan tidak mau belajar. Kehidupannya tanpa tujuan, tanpa gairah. Hidup hanya dijalani ala kadarnya. Inilah pilihan orang-orang gagal. Mungkin tipe ini menjadi bagian besar dari sebuah masyarakat tertinggal.

Tipe Kedua, yaitu orang yang punya penngetahuan Alkitab/Teori tetapi tidak hidup sesuai dengan ajaran Alkitab/paktek. Inilah tipe orang yang senang mengumpulkan serta menyerap berbagai macam pengetahuan tentang Alkitab/Teori. Namun sayang, segudang pengetahuan tentang Alkitab/Teori yang dimilikinya, tidak mampu dipraktekkan dengan tindakan nyata. Jadi, yang ada hanya teori kosong alias NATO (No Action Theory Only).

Tipe Ketiga, yaitu orang yang tidak punya pengetahuan tentang Alkitab/praktek. Mampu menjalankan seperti apa yang diajarkan/diteorikan oleh orang lain. Inilah tipe orang yang berorientasi pada tindakan, mau belajar dari pengalaman, teori, maupun kebijaksanaan orang lain. Tipe orang ketiga ini mungkin pada awal melangkah akan mengalami berbagai macam gangguan, kesulitan, bahkan kegagalan. Namun dia menyadari semua itu harus dihadapi sebagai pembelajaran dan pematangan mental. Disinilah letak para otodidak sejati yang belajar melalui keberanian tindakan.

Tipe Keempat, yaitu orang yang punya pengetahuan Alkitab/teori sekaligus mampu mempraktekkannya. Sudah pasti tipe ini adalah orang yang mantap dan matang mentalnya, karena tertempa oleh banyaknya problem kehidupan yang mampu dikendalikan dan diatasi. Inilah tipe orang sukses yang paling ideal. Tipe orang yang optimis, punya visi, sekaligus berani melangkah.

Ingin menjadi tipe manakah Anda? Semua pilihan tergantung di tangan Anda! LIFE IS NOT THEORI, LIFE IS ACTION. Hidup bukanlah teori, hidup ada tindakan.Sing tung ciu she lik liang! Action is power! Tindakan adalah kekuatan. Sekali lagi ingat bahwa jien she ie puu. Seribu langkah dimulai dengan langkah pertama. Dengan kata lain, hanya Naaman saja yang beriman kepada Tuhan sehingga ia disembuhkan, Yesus juga mengatakan hal ini kepada orang-orang di Nasaret karena mereka tidak percaya. Makanya mereka harus percaya.

 

Aplikasi

 

Saya akhiri khotbah saya dengan sebuah ilustrasi tentang kesulitan-kesulitas dapat menjadi batu loncatan atau kesulitas dapat menjadi batu penghalang, tergantung bagaimana kita memandangnya!

Air sungai tidak menganggap bendungan sebagai penghalang, justru sebagain batu loncatan untuk mengalir lebih jauh lagi. Dengan bendungan, air istirahat  sejenak menyusun kekuatan, baru mengalir deras dan lebih deras lagi.

Hidup juga demikian, tidak bisa lepas dari kesulitan, hambatan dan bendungan lain. Orang yang memiliki daya juang tinggi tidak pernah surut. Dia menganggap semua itu merupakan resiko hidup. Berani hidup harus berani menanggung resiko. Hidup takut resiko lebih baik mati saja. Dengan memahami hidup selalu bersanding dengan resiko, maka setiap kali ada kendala, tidak putus asa. Dikumpulkan energi selanjutnya melangkah lebih jauh lagi.

Acap kali terjadi teori dan realitas tidak selalu sejalan. Sering kita jumpai, orang sukses di mimbar, tapi gagal dirumah tangga. Pandai menasehati orang, tapi gagal membina rumah tangganya. Ada orang yang fasih membaca dalil tapi sebatas bibirnya saja, dia sendiri tidak mampu mempraktikannya. Ada yang punya sederet gelar, tetapi ilmunya tidak bisa diamalkan.

Orang yang pandai memotivasi diri, menjadikan kegagalan sebagai nasehat. Dia bertanya kepada dirinya mengapa kesulitas terjadi. Setelah mengetahui jawabannya, segera bangkit agat tidak selalu berada dalam kubangan kesedihan. Dia tinggalkan kesulitan dan dijadikan sebagai batu loncatan menuju hari esok yang cerah.

Jenderal Naaman dari Siria berada dalam keterpurukan karena sakit kustanya. Tidak ada orang yang menghargai Kasih Tuhan sebelum ia merasakan ada dalam keterpurukan. Naaman juga demikian sebelumnya. Ada baiknya kita tidak membusungkan dada disaat meraih sukses seperti Naaman. Bisa jadi dalam waktu sekejap keberhasilan itu bisa berubah menjadi kegagalan yang menyakitkan. Jika kita gagal jangan larut dalam kesedihan. Bukan tidak mungkin kegagalan dan keterpurukan bisa berubah menjadi sukses.

Stanlu Judd memberi pesan moral: Kata dia, tidak masalah gagal dan berada dalam keterpurukan, sebab jika anda tidak gagal dan terpuruk, anda tidak akan tumbuh. Senafas dengan itu, Abraham Lincoln mengatakan, “Hidup ini hanya terpeleset, bukan jatuh”. Artinya kalau merasakan gagal, sifatnya sementara, tak lama lagi akan bangkit dan menuju untuk meraih sukses sejati. Maka kegagalan itu ada hikmatnya. Yaitu mengambil pelajaran untuk bangkit. Dengan pengalaman gagal akan lebih berhati-hati melangkah sehingga tidak terulang kembali melakukan kesalahan serupa.

Apakah anda sedang menghadapi krisis saat ini? Masalah sakit-penyakit? Krisis dalam keharmonisan pernikahan? Masalah studi anak-anak dengan biaya sekolah yang semakin mahal? Mengalami masalah keuangan dalam kebutuhan rumah tangga? Dapatkah saudara percaya kepada Allah? Maukah saudara berdoa untuk tunduk kepada Allah? Percayalah kepada Tuhan dan IA akan melakukan suatu mujizat bagimu..AMIN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: