BERUSAHALAH UNTUK BERHASIL DALAM HIDUPMU

Oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Sumber Dasar Alkitab dari Lukas 5: 1-11

Rabu 17 Juli 2013 – Jam 18.00 – Selesai

Ibadah Rumah Tangga : Tempat Bpk. Canny Pallo

IZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZI

PENDAHULUAN

Kalau kita di tanya, siapa yang ingin berhasil dalam hidupnya? (Baik sekolahnya, pekerjaan yang besar gajinya, dapat kedudukan yang tinggi, punya bisnis yang lancar dan semakin besar, keluarga yang harmonis, terlibat dalam pelayanan, melakukan kehendak Tuhan, anak-anaknya berhasil dalam pendidikan dan dalam meraih masa depan mereka, punya rumah mewah, punya mobil, pakaian yang bermerek dan mahal, tampil style, terlihat cerdas, tidak sakit-sakitan, dsb). Pastilah saya dan saudara semua menjawab ingin berhasil…

Untuk berhasil kita harus menaklukan diri sendiri. Sebab keberhasilan tidak jatuh dari langit kepada orang malas. Rejeki/berkat sering kali datang di rumah orang yang suka mandi keringat. Orang kalau ingin memanjat pohon  tidak bisa kalau tangannya di dalams aku. Diri ini sering dililit rasa malas, ingin cepat menikmati hasil dan enggan menghadapi resiko, dalam praktek, lihat sekeliling kita banyak orang potong kompas dengan main togel, jual-jual tanah di atas jual, buat-buat proposal ke pemerintah, mereka lupa bahwa untuk berhasil dibutuhkan kerja keras. Pekerjaan berat tidak mungkin ditempuh dengan santai, melewati jalan terjal, dan mendaki, diperlukan keringat, terkadang nyawa. Perhatikan hal sangat penting  ini dengan baik, di gereja maupun di acara-acara seperti “Goldenway, dan acara motivasi lainnya” dan buku-buku motivasi dan kiat-kiat suskses hanya menyuguhkan dan mengajarkan keberhasilan hanya dalam pikiran kita dan tidak sampai kepada tindakan nyata. Kita hanya mengangguk-angguk dan berkata amin, haleluyah, puji Tuhan tanpa pernah mencoba dan meraih keberhasilan di dalam Tuhan secara rohani dan jasmani di dunia sekuler.

Keberhasilan rohani juga sebagian besar hanya memberikan keberhasilan dalam pikiran umat Tuhan saja dan tidak sampai kepada keberhasilan dalam terbentuk tradisi perilaku sebagai umat Kristiani. Ibarat jam, bukan keberadaan jam itu yang dilihat orang, yang menjadi perhatian adalah jarum jamnya menunjukkan jam berapa. Begitu pula kehidupan, bukan hidup itu yang menarik perhatian, tetapi bagaimana memberi arti hidup itu sebagi orang Kristen, sebagai hamba-hamba Tuhan, sebagai pengerja di gereja, sebagai ayah, sebagai Ibu, sebagai pemuda dan rema Kristen.

Seringkali kita jumpai, orang sukses di mimbar, tapi gagal dirumah. Pandai menasehati orang, tetapi gagal membina rumah tangganya. Ada juga yang punya sederet gelar kesarjanaan, tetapi ilmunya tidak bisa diaplikasikan. Kita tidak bisa mengatakan, saya ini orang Kristen yang taat, apa buktinya. Untuk tahu buktinya, biarkan orang lain yang menilai perilaku kita, benarkah kita ini orang Kristen yang tata dan telah mewarisi karakter Kristus dalam kehidupan kita?

Apa alasan kita memilih keberhasilan dalam hidup kita?  Baca Lukas 5:4-11

 I. KITA MASING-MASING PUNYA STATUS

Dalam nats atau bagian Alkitab yang kita baca, ada beberapa tokoh, yaitu Yesus, Simon Petrus, Teman-temannya (Yakobus dan Yohanes anak-anak Sebedeus), dan juga ada orang banyak yang mengerumuni DIA. Mereka ini masing-masing memiliki status. Yesus berstatus sebagai sang pencipta, guru Agung dan pembuat musjizat. Simon Petrus Ketua Nelayan, Yakobus dan Yohanes Anak buah dan orang banyak berstatus sebagai pendengar. Apa status saya dan saudara saat ini? Ada yang penguasa, ada yang tukang bangunan, ada yang sebagai karyawan, ada yang sebagai gembala sidang, sebagai pelajar, sebagai mahasiswa, sebagai PNS, sebagai anggota TNI, sebagai anggota POLRI, kerja serabutan, sebagai Ibu rumah tangga, dan sebagainya.

Pada bagian Alkitab lain dijelaskan juga  perumpamaan tentang “pembagian talenta (Lukas 19:12-27; Matius 25:14-30).  Talenta adalah mata uang. Ada yang diberi 1, 2 dan 5. Selain itu kita juga, pada bagian Alkitab yang lain dijelaskan bahwa kita terdiri dari bagian-bagian dari anggota tubuh Kristus. Ini artinya, kita semua diberi MODAL yang sama oleh Tuhan tetapi berbeda antara satu dengan lainnya sesuai dengan kemampuan. Namun, mengapa ada orang yang nampaknya hidupnya diatas (berhasil) dan ada pula orang yang hidupnya terus dibawah (gagal)? Dalam iman Kristen tidak ada nasib. Kita akan kebawah atau keatas, yang menentukan adalah diri kita sendiri. Ingat ungkapan “HIDUP HARUS MEMILIH”

Petrus dan teman-temannya memilih pekerjaan mereka sebagai nelayan. Jadi, hidup mereka mencari nafkah dengan mencari ikan. Kalau istilah lebih kren saat ini, Petrus dan teman-temannya berprofesi sebagai nelayan di Danau Genesaret.

Talenta disini bicara kemampuan dari hasil profesi pekerjaan. Dalam dunia modern ini dimana kita ada, ada berbagai macam profesi pekerjaan, ada tenaga professional (hakim, pengacara, dokter, dll), ada akademisi (guru dosen), politikus (Legislator dan eksekutif), TNI, POLRI. Petani, nelayan, peternak, pengusaha, kontraktor, dll. Itulah yang menjadi status kita. Sendangkan talenta hasil yang dipercaya kepada kita oleh Tuhan. Saudara pernah nonton di TV sebuah acara berjudul “TUKAR NASIB”? kita bisa melihat betapa tidak pasnya mereka, yang hidup sederhana, tiba-tiba ditukar nasibnya untuk hidup mewah? Ucapan terakhir diakhir acara adalah”mereka tidak bisa menjadi orang lain”.

Petrus dan teman-temannya Yakobus dan Yohanes bisa memilih menjadi profesional yang lain? bisa saja, dan itu butuh proses. Misalnya tadinya hanya jualan menangkap dan menjual ikan, kemudian bisa membuka warung sendiri, atau jadi pengekspor ikan, dari nelayan-nelayan di sekitar Danau Genesaret…Demikian kita juga, misalnya anak-anak yang sekolah, tamat SD terus mau lanjut sekolah atau tidak kembali kepada anak itu sendiri dan orang tuanya. Bagi pengusaha, bisa mengembangkan usaha lain, dalam hal pelayanan, Gembala Sidang majelis bisa menambah program kegiatan gereja lain yang relevan dan bisa dilaksanakan dan seterus.

 II. MEMILIH KEBERHASILAN BUKAN BERARTI JALANNYA MULUS

Nelayan-nelayan itu baru membasuh jalanya ketika Tuhan Yesus melihat mereka. Wajah mereka pasti muram dan diliputi kekecewaan. Bagaimana tidak? Semalam-malaman mereka telah menjala ikan. Namun, tak seekorpun ikan mereka dapatkan. Padahal bukan kali ini saja mereka menjala ikan. Mereka telah makan asam garam dalam soal jala-menjala ikan. Jadi, bagaimana mungkin mereka gagal pada hari itu? Pikiran it uterus memenuhi benar Petrus!

Sikap para nelayan yang tanpak kesal ini merupakan gambaran sikap manusia yang mudah dikecewakan oleh sesuatu yang terjadi diluar kehendaknya. Misalnya saya, beberapa minggu lalu mendaftar dan ikut seleksi calon anggota KPU kabupaten Jayapura, pada hari ini (17/72013) mendengar pengumuman di koran Cenderawasih Pos bahwa saya salah satu diantara 29 orang yang tidak lolos seleksi tahap kedua. Kalau saya tanya saudara, apa yang menghalang saudara untuk meraih keberhasilan saat-saat ini? Sebagai pelajar, apa yang membuat engkau tidak berhasil? Sebagai mahasiswa apa yang membuat engkau tidak berhasil? Sebagai suami istri apa yang membuat rumah tanggamu tidak berhasil? Sebagai hamba-hamba Tuhan, pengurus komisi-komisi, apa yang membuat pelayananmu tidak berhasil?

Petrus, Yakobus dan Yohanes bukan anak-anak kecil. Mereka ada orang-dewasa yang sudah berkali-kali menangkap ikan di danau Genesaret. Mereka juga barangkali sangat tahu membaca situasi angin dan arus serta tanda-tanda dan lokasi dimana banyak ikan. Dari percakapan itu, Petrus katakan kepada Yesus (ayat 5): Guru telah sepanjang malam kami bekerja keras, dan kami tidak menangkap apa-apa,”. Ini juga adalah gambaran perjuangan hidup Saya dan Saudara sekalian. Perhatikan kata “sepanjang malam kami bekerja kerang keras”. Kata sepanjang malam merupakan petunjuk periode waktu. Mungkin kita juga demikian, sepanjang beberapa waktu, kita mungkin sudah bekerja keras, tapi ternyata, kita tidak mendapatkan apa-apa alias tidak ada hasil sama sekali. Kita bisa membayang wajah Petrus, Yakobus dan Yohanes lelah, dan juga kecewa sekali dan mungkin juga stress.

Melihat ciri-ciri fisik Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes, adalah orang-orang dewasa, artinya bahwa mereka sudah berpengalaman dalam bekerja sebagai nelayan. Kenapa mereka begitu tekun dan bekerja keras? Mungkin saja peristiwa sial ini baru saja terjadi dalam usaha dan kerja keras mereka sebagai nelayan.

III. BERILAH DIRIMU UNTUK MENDENGAR YESUS BERBICARA

Perhatikan ayat 1-4 menjelaskan tentang Yesus sedang mengajar kepada banyak orang, tapi yang luar biasa adalah Yesus menumpang naik di dalam perahu Simon Petrus untuk mengajar. Simon Petrus sudah cape dan kecewa karena tidak menangkap ikan semalam-malaman, tapi ia rela Yesus naik ke perahunya untuk berbicara kepada banyak orang termasuk kepada Simon Petrus (Sipet), Yakobus dan Yohanes. Simon Petrus memberi dirinya secara utuh kepada Yesus. Sebenarnya ia punya alasan untuk menolak Yesus? Bagaimana dengan kita, akhir-akhir ini, sejauhmana kita membuka diri kepada Yesus? Apakah dalam keadaan cape kecewa, bermasalah, kita tetap datang ke Ibadah Raya hari minggu, Ibadah PELWAP, PELPRAP, PELPRIP, latihan musik, doa puasa, dan biston? Ataukah kita memilih beralasan dan hanya jadi intelejen pantau-pantau saja dari jauh? Ada kisah humor versi Papua yang kita kenal dengan sebutan MOB, ada sebuah kisah yang saya beri judul “Ayah veteran laskar Kristus dan Anak Intel Prajurit Kristus”. Padahal sama-sama pemalas ke geraja, mereka Cuma cari-cari alasan saja, supaya kelihatan tidak bersalah. Saya berharap kalau ada kelakukan seperti ini bertobat segera, sebelum semua kesalahan tidak bisa diperbaiki baik didunia maupu diakhirat.

Yesus ingin Petrus Menolak perahunya agak jauh sedikit dari pantai, supaya Petrus bisa melihat dan mendengarkan Yesus  mengajar dengan baik kepada dirinya, teman-temannya dan orang banyak lainnya. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kita perlu memberi tempat yang baik bagi Yesus untuk berbicara kepada kita secara pribadi dan secara berjemaat secara jelas.  Pertemuan dengan Yesus bisa terjadi secara pribadi dalam saat teduh kita di rumah, atau dimana saja dan juga saat kita bersekutu bersama jemaat atau umat Tuhan lainnya. Makanya, saat teduh pribadi sendiri sangat penting untuk bertemu dan mendengarkan Yesus berbicara. Demikian juga dengan pentingnya mengikuti Ibadah Raya minggu, Ibadah PELWAP, Ibadah PELPRAP dan Kegiatan rohani lainnya.

 IV. MILIKILAH IMAN DAN ALAMI MUJISAT-NYA

Dalam bagian Alkitab ini, ayat 5-6, Pertanyaannya adalah kenapa Petrus mau menuruti perkataan Yesus? Kenapa Petrus tidak idealis menolak permintaan Yesus? Ternyata Petrus taat kepada perkataan Yesus.  Kenapa Petrus bisa taat kepada Yesus? Apa yang membuat Petrus begitu yakin terhadap apa yang dikatakan Yesus? Pada bagian III pembahasan ini bisa kita telusuri kembali dasar dari keyakinan Petrus adalah ia telah lebih dahulu memberi dirinya untuk mau dengan rela dan iklas mendengar Yesus berbicara dan mengajarkannya. Alkitab tidak menjelaskan apa yang Yesus ajarkan, tetapi kenapa Petrus begitu tertarik kepada Yesus dan mau  taat kepada perintahNya? Rupanya dalam persekutuan dengan Yesus, pikiran Petrus dibaharui. Rasa kecewa diubah dengan rasa syukur. Selain itu, muncullah keyakinan baru. Keyakinan itu yang sekarang kita sebut iman.

Sejak 2000 tahun yang lalu, kita sudah tidak melihat Yesus karena DIA sudah kembali ke sorga. Itu artinya kita tidak bisa bertemu langsung seperti Petrus. Namun demikian, melalui Roh Kudus dan Alkitab kita bisa bertemu, mendengarkan suaraNya dan merasakan kehadirannya dalam hidup kita.

Perhatikan Roma 10: 17 berkata: Jadi, IMAN timbul dari pendengaran, dan pendengaran dari Firman Kristus (Alkitab, Khotbah, Renungan, Kesaksian, dll). Perhatikan juga Yakobus 2:17 berkata: Demikian juga halnya dengan IMAN: Jika IMAN itu tidak disertai PERBUATAN pada hakekatnya adalah mati.  Melalui kisah Petrus ini kita dapat melihat bahwa pertolongan Tuhan itu nyata adanya. Gambaran perjalanan ke tengah danau merupakan gambaran  kita melakukan perenungan (suasana di tengah danau Genesaret cenderung lebih tenang, dari pada ditepi pantai), menjauh dari hiruk-pikuk agar kita mampu mengoreksi diri kita. Pada saat yang tepat, Yesus datang dan memberikan penyelesaian.

Ayat 7 menjelaskan Yesus menyelesaikan masalah Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes. Mereka menangkap sejumlah ikan besar, sehingga/sampai jala mereka koyak.

 V. BERSEDIALAH MEMBAGI HIDUPMU DENGAN ORANG LAIN

Ketika, jalanya Petrus penuh dengan ikan, Petrus membagi ikan-ikan itu kepada rekan-rekannya. Seandainya saat itu Petrus tidak mau berbagi ikan hasil tangkapannya, peristiwa apa yang mungkin menimpa dirinya? Perahunya mungkin saja tenggelam, karena terlalu berat beban yang harus ditanggungnya. Jika itu terjadi, ikan hasil tangkapannya pun akan kembali ke dalam danau Genesaret dan Petrus mungkin saja tenggelam dengan perahunya. Namun, kejadian itu tragis itu tidak menimpa dirinya karena ia mau berbagi. Banyak orang yang hidupnya rakus, perasaannya mati, keluarganya habis, sehingga seluruh harta miliknya juga habis. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersedia berbagi dengan orang lain? Rupanya, kita ini cenderung bersikap mau berbagi kesulitan, tapi tidak mau berbagi sukacita.  Anda mau bukti? Bila kita mendapat masalah atau kesulitan kita berbagi dengan Pendeta kita bahkan sampai rela menunggu secara bergiliran, tetapi giliran kita mendapat giliran kebahagiaan kita menikmatinya sendiri. Jika Saya dan Anda ingin menjadi sukses seperti Petrus, belajarlah untuk bersedia berbagi dalam suka dan duka kepada orang lain.

Seorang yang sukses bersedia membagi hidupnya dengan orang lain. Tentu saja setiap orang selalu mengingkan sukses, dan terus berjuang untuk mencapainya sampai akhir hayatnya, seperti pertanyaan saya pada bagian pendahuluan. tetapi persoalannya adalah apa yang dimaksud sukses itu dan bagaimana meraihnya. Untuk memahami apa sukses itu, kita harus mulai dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Disini terjadi benturan konsepsi. Tergantung filosofi hidup orang itu. Filosofi (budaya/paham) seseorang ditentukan oleh apa yang mengisi jiwanya.

Jadi, pengertian sukses sangat relatif, yaitu tergantung filosofi hidupnya. Orang yang memandang materi sebagai nilai tertinggi kehidupan, menjadi orang kaya berarti suatu kesuksesan. Orang yang memandang nilai akademis sebagai ukuran sukses, meraih gelar berarti suatu keberhasilan. Orang yang memandang kehormatan sebagai nilai tertinggi kehidupan, bila menjadi seorang yang terhormat dalam gelanggang politik, pemerintahan dan berbagai bidang hidup akan merasa diri sukses dan lain sebagai.

Penjelasan ini adalah untuk sebuah pencerahan, membuka tabir dan menggugurkan konsep berpikir tentang sukses yang selama ini salah. Ingat bahwa sukses itu relatif, tetapi juga bergerak, artinya biasanya orang tidak merasa puas pada suatu level, ia akan selalu bergerak untuk meraih level yang lebih tinggi.  Pada mulanya merasa sukses kalau sudah menjadi sarjana (S1), tetapi ketika melihat orang lain memiliki gelar Magister (S2) dan selanjutnya. Orang yang merasa sukses ketika memiliki penghasilan 50 juta rupiah perbulan. Tetapi ketika memiliki perluang bisa mengumpulkan uang lebih dari itu, maka maka ia tidak akan puas dengan jumlah uang tersebut. Ia mengingini jmlah uang yang lebih besar lagi, sampai akhirnya pengertiannya menjadi gelap, sehingga tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, citra diri dan kepantasan.

 VI. BERSEDIALAH MENGAKUI KELEMAHAN/KEBERDOSAAN KITA

Apa sebenarnya dosa Petrus? Semula Petrus meremehkan Tuhan, tetapi setelah mujisat terjadi Petrus mengagumi kebesaran Yesus. Apakah Saya dan Anda bersedia mengakui dosa kita kepada Tuhan? Kita seringkali pandai berkata-kata, tapi tidak pandai melakukan. Inilah salah satu dosa kita. Berbohong. Kita pergi kebaiktian, duduk di gereja selama berjam-jam, tetapi kita pulang tidak tahu isi khotbah yang disampaikan oleh Pendeta atau Hamba Tuhan. Jika kita demikian, hidup kita tidak akan pernah berubah menjadi orang sukses secara ROHANI dan JASMANI.

 

PENUTUP

 

BERUSAHALAH UNTUK BERHASIL DALAM HIDUPMU:

I. Kita masing-masing punya status

II. Memilih keberhasilan bukan berarti jalannya mulus

III. Berilah dirimu untuk mendengar yesus berbicara

IV. Milikilah iman dan alami pertolongan yesus

V. Bersedialah membagi hidupmu dengan orang lain

VI. Bersedialah mengakui kelemahan/keberdosaan kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: