TOTALITAS DALAM PERTUMBUHAN & PERJALANAN KEKRISTENAN

Oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Sumber Bahan Alkitab Markus 10:35-45 bnd Matius 20:20-28

0535 – Minggu 21 Juli 2013 – Khotbah pada Ibadah Raya di GPdI Jemaat Maranatha Dunlop Hawai

 

PENDAHULUAN

Setiap orang yang hendak melakukan sesuatu pasti memiliki tujuan. Kegiatan apapun di dunia ini memiliki tujuan. Demikian juga dengan transpotasi umum yang sering digunakan , seperti motor ojek, taxi danau, taxi laut, taxi darat, angkutan umum, angkutan kota (angkot), kapal motor di laut, pesawat, bis, kereta api, dan sebagainya. Setiap alat transportasi umum memiliki trayek atau tujuan. Dengan demikian, kita bisa memilih dan menyesuaikan diri dan kemampuan financial kita dalam memilih alat transportasi mana yang bisa kita gunakan untuk bisa sampai di tujuan.

Jalur yang akan ditempuh oleh alat transportasi umum ini, tidak selamanya aman. Pastilan ada goncangan-goncangan, ada hambatan sehingga kecepatan bisa diatur, ada hujan, ada badai, ada gelombang, ada cuaca buruk, ada tikungan, ada tanjakan, ada putaran,  ada pertigaan, ada perempatan, ada lampu merah, ada rambu-rabu lalu lintas yang harus diperhatikan, ada tempat persinggahan, ada pelabuhan transit, dan ada tempat pemberhentian akhir (tujuan).  

Adakah orang yang tidak punya tujuan hidup? Saudara pernah melihat kegiatan orang yang sakit jiwa (gila)? Apakah orang gila punya tujuan hidup? Orang gila kerjanya mondar-mandir saja, sebentar kesana, sebentar kesini, kadang tertawa sendiri, kadang menangis sendiri, kadang mengamuk sendiri tanpa sebab, kadang tidak berpakaian (telanjang), kadang ia gali-gali sampah, penampilannya sangat kotor dan menjijikan dan dihindari orang banyak, juga menakutkan sekali.

Apakah orang yang sehat jiwanya seperti saya dan saudara punya tujuan hidup? Dalam pengamatan saya bahwa diantara kita yang ada ini, yang sehat ini, ada yang punya tujuan hidup dan ada juga yang tidak punya tujuan hidup.  Tujuan hidup ada banyak. Tetapi kita bisa simpulkan dalam dua bagian besar yakni tujuan hidup dari sisi rohani dan tujuan hidup kita di dunia sekuler. Kalau begitu, apa tujuan hidup saya dan saudara dari sisi rohani? Dan apa tujuan hidup saya dan saudara di dunia sekuler? Saya memprediksi bahwa ada diantara kita yang tidak memiliki tujuan hidup pada salah satu sisi, atau bisa juga dari kedua sisi yang kita bahas diatas ini..

Apa arti kata totalitas? Dalam kamus bahasa Indonesia, “totalitas berarti keseluruhan atau suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan”. Kata pertumbuhan berasal dari kata tumbuh (keadaan); timbul (hidup), dan bertambah-tambah besar, atau sempurna,  sedang berkembang, menjadi besar, perkembangan (kemajuan). Misal rumah tangga yang harmonis sangat penting buat pertumbuhan jiwa dan rohani anak, pertumbuhan kebudayaan daerah, budaya lokal, …juga pertumbuhan kekristenan kita.

Perubahan selalu terjadi dalam diri manusia yang berlangsung selama manusia itu hidup. Awal ketika lahir manusia disebut sebagai bayi yang kemudian menjadi manusia dalam kategori remaja, dewasa hingga tua. Perubahan sangat nampak pada perubahan fisik, dimana ketika bayi organ-organ tubuh manusia masih berukuran kecil dan berangsur membesar seperti menjadi lebih tinggi dan berat tubuhnya. Perilaku manusia pada masa bayi masih sangat tergantung pada orang dewasa, masih kanak-kanak, egois yang sebenarnya meminta perhatian, remaja yang mencari jati diri, pembangkangan, dewasa yang mulai terkontrol untuk mencapai tujuan hidup dan mandiri hingga masa dewasa tua dimana manusia mulai memikirkan tentang kehidupan setelah dunia, kebijaksanaan dalam mengasuh juga sangat tampak. Pertumbuhan adalah kata yang luas artinya, yang meliputi pendewasaan, belajar dan perkembangan.

Pada khotbah kali ini, kita akan belajar tentang Totalitas Dalam Pertumbuhan Kekristenan, yang sebagai dasar pembelajaran kita diambil dari Markus 10:35-45 dan sebagai pembanding kita juga membaca dalam Matius 20:20-28. Apa makna pembelajaran dari nats dan ayat-ayat ini yang dapat kita pelajari? Bagaimana totalitas hidup yang diajarkan kepada kita semua melalui bagian ini agar kita dapat memahami dan hidup secara totalitas dalam pertumbuhan perjalanan kekristenan kita? Bagaimana supaya tujuan hidup kita dapat tercapai?

 I. HARUS MENJADI MURID YESUS YANG BENAR

Menurut catatan tentang karakter murid-murid Yesus,  Yakobus termasuk murid Tuhan Yesus yang sangat bersemangat dan ambisius. Bersama Yohanes, mereka berani mengungkapkan pikiran yang cenderung mengesampingkan dan merendahkan orang lain di sekitarnya -sehingga diberi gelar anak-anak guruh atau Boanerges- dihadapan Tuhan Yesus, antara lain:  duduk di sisi Yesus, jika kelak memerintah sebagai raja, Mrk 10:35-45. Walaupun Yakobus -juga Simon Petrus dan Yohanes- termasuk murid yang dekat dengan Tuhan Yesus, ia tetap mempunyai tempramen yang ber “api-api” dan kasar.

Keluarga Zebedeus -berasal dari Galilea- termasuk keluarga yang cukup kaya dan terpandang. Ia memiliki armada kapal dan beberapa asisten yang menolongnya dalam bisnis perikanan, Mrk 1:19-20. Ia anak bungsu dari pasangan Zebedeus dan Salome. Bersama dengan Yakobus -kakaknya- disebut juga atau mendapat gelar Anak-anak Guruh, Mrk 3:17.

Yohanes dan Yakobus mempunyai ambisi karena nalar yang tidak benar tentang citra Kerajaan Allah, yang akan dibangun atau dibentuk oleh Yesus . Dengan keakuan yang mengambang, disertai kesediaan untuk menderita tanpa pamrih, mencolok,  atas dorongan ibu mereka, Mat20:20- dalam permintaan yang diajukan kepada Tuhan Yesus, supaya dirinya -bersama Yakobus- diizinkan menduduki tempat yang khas dan terhormat, bila kelak Yesus duduk di takhta Kerajaan-Nya, Mrk 10:27

 Orang yang mengaku Kristen tanpa dibarengi dengan perubahan hidupnya bukanlah Kristen sejati. Kristen sejati adalah orang yang mengalami perjumpaan pribadi bersama Kristus, hari demi hari hidupnya berubah seiring pengenalannya akan Tuhan.

Contohnya:

1.Rasul PAULUS sebelum mengenal KRISTUS, dia adalah seorang penganiaya umat Tuhan . Tapi setelah mengalami perjumpaan pribadi bersama Kristus, dia mengalami perubahan yang sangat luar biasa hingga menjadi martirnya ALLAH.

Bagaimana mungkin seorang PAULUS bisa sedemikian dipakai Tuhan. Saya percaya, Paulus tidak langsung seketika bisa seperti ini, tapi melalui hubungan pribadi yang terus menerus dengan Tuhan.

2. PETRUS, sebelum mengalami perjumpaan pribadi bersama KRISTUS, dia adalah seorang nelayan, tidak mantap, emosional, tidak berfikir panjang, tipis (SIMON). Setelah selama 3 tahun dididik dan dibina oleh YESUS, PETRUS menjadi seorang yang dipakai TUHAN secara luar biasa. 

Untuk mengalami pertumbuhan iman, kita tidak cukup hanya datang ke gereja hari minggu, ikut pelayanan di gereja, ikut persekutuan, nyanyi-nyanyi, dengarkan kotbah, persembahan lalu pulang. DATANG, DUDUK, DIAM, DENGAR, DENGKUR, DUIT, DA….DAH….(7D) Hari minggu haleluya puji Tuhan, hari senin-sabtu jadi anak setan semua sumpah serapah keluar, dalam rumah tangga ada keretakan yang sengaja dibiarkan, dsbnya. Tapi harus dibangun manusia rohaninya hari demi hari melalui saat teduh, baca Firman, doa, pertemuan ibadah, dan gaya hidup kerajaan ALLAH.

2 TIMOTIUS 3:16,” Segala tulisan yang diilhamkan ALLAH memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

 II. HARUS DEKAT DENGAN YESUS

 Yakobus dan Yohanes, adalah murid-murid yang sangat dekat dengan Yesus. Ini teladan yang baik sebagai murid Yesus. Pendekatan sangat dibutuhkan oleh setiap orang untuk menarik simpati.  Tetapi apakah Yakobus dan Yohanes yang memulai pendekatan kepada Yesus? Tidak, Yesuslah yang memulaanya. Anda masih ingat kisah tentang Yesus menjawab masalah Petrus, Yakobus dan Yohanes, setelah semalam-malaman tidak menangkap ikan? Yesuslah yang mendekati mereka dan kemudian bersama mereka. Akhirnya Yesus mengerti kebutuhan mereka. Yesus menolong menyelesaikan masalah mereka  dengan memberikan mereka ikan yang banyak di jala mereka. Sejak saat itu mereka mengikut Yesus.

Kita semua yang di gereja ini, dan dimana saja yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi, bukan kita yang lebih dahulu mengadakan pendekatan, tetapi Yesuslah yang lebih dahulu menawarkan diri kepada kita semua. Apakah ada alasankelebihan khusus sehingga Yesus mendekati kita? Tidak ada! Hanya karena kasihNYA yang besar DIA mau mendekat kepada kita.

Oleh sebab itu, tetaplah dekat dengan Yesus. Tidak ada alasan apapun yang dapat menjadi penyebab untuk memisahkan kita dari Yesus. Kalaupun Anda dan Saya punya alasan untuk menjauh dari Yesus, itu sama halnya dengan Yakobus dan Yohanes yang salah konsep, sehingga mereka hanya memikirkan diri sendiri. Bumi ini adalah ciptaan Tuhan, dan semua yang bergerak dan hidup ini ada dalam kendalinya. Mau lari kemana? Sedangkan kita hidup dibumi yang adalah milik Tuhan Sendiri, ada alasan lain lagi untuk kita bisa menjauh atau bersembunyi dari Tuhan? Camkan ini baik-baik: Tidak ada alasan untuk tidak mendekat kepadaNYA. Selagi masih ada kemurahan Tuhan bagi Saya dan Saudara. Jangan jauh-jauh dari Tuhan, mari mendekatlah.

Perhatikan Yohanes 15:4, Tinggallah di dalam AKU dan AKU di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak akan berbuah jikalau kamu tidak tinggal di dalam AKU…..dst.

Tetapi kalau masih ada yang mau mencoba menjauhkan diri dari Tuhan, silahkan. Diawal saya ingin sampaikan saja, pikir baik-baik sebelum meninggalkan Tuhan. Pikirkan, bahwa kalau anda menjauh dari Tuhan berarti hubungan putus, tidak komunikasi dan perhatian. Ada masalah sudah tidak ada bantuan lagi. Berarti tunggu persediaan dan kekuatan habis saja…menyesallah di depan…jangan dibelakang.

 III. HARUS DENGAN CERDAS MEMINTA KEPADA YESUS

 Meminta dengan cerdas (sempurna akal budinya untuk berpikir dan mengerti) kepada Yesus menyangkut Totalitas. Kalau kita cerdas pasti dalam permintaan menyangkut totalitas. Sebab yang mau diminta itu benar. Sedangkan Yakobus, Yohanes dan Ibunya, mereka ikut Yesus, tetapi salah dalam pikiran mereka. Yang mereka pikir hanyalah kedudukan dan jabatan sebagai tangan kanan dan tangan kiri Yesus jika nanti Yesus jadi raja (Matius 20: 20-21). Perhatikan, bahwa permintaan ini, menyebabkan mereka mendapat teguran. Bisa dibayangkan ya, apa saja yang terlontar dari mulut murid-murid Yesus yang lain kepada Yakobus dan Yohanes. Disini Yesus menegur, dan mengingatkan supaya meminta dengan benar. cara tahu persis dulu. Jangan buat-buat tafsiran sendiri. Konsep kerajaan Allah mereka secara formalitas dan tidak secara totalitas seperti misi yang dibawah oleh Yesus tentang kerajaan Allah.

Kita hidup ini dengan iman. (Roma 1 : 17 = Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.); Berjalan dengan iman. (2 Kor 5 : 7 = sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat) dan mendapat segala kelimpahan Allah jasmani dan rohani dengan iman . (Mat 8 : 13 = Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya). Sebab itu Allah sangat menghendaki iman kita tumbuh sebesar mungkin. Iman berarti yakin, percaya bahwa Tuhan sanggup mengolah kita dan yakin kita sanggup dan bisa berubah dengan pertolongan Tuhan meskipun lewat jalan salib dan kita betu-betul akan mengalaminya.

Ini iman termasuk jalan salib, tetapi hasilnya gilang gemilang, itu yang dikehendaki Tuhan.
Hiduplah dengan sukacita, limpah jasmani dan rohani di dalam jalan sempit, jalan salib diatas mezbah, dengan iman, yakin bisa dan sungguh akhirnya berhasil penuh.

Ikut Tuhan jangan ada motivasi-motivasi lain, seperti Yakobus dan Yohanes.

 IV. HARUS ADA DUKUNGAN YANG BENAR DARI PIHAK LAIN

 Perhatikan dalam Matius 20:20-21, Yakobus dan Yohanes mendapat dukungan dari orang tuanya, yakni Ibu kandung mereka. Tujuan ibunya sangat baik, tapi hanya memikirkan kedua anaknya saja. Bagaimana dengan 10 murid Yesus yang lain.

Sebagai orang tua, jangan mendukung anak-anak dalam hal yang salah. Kenapa kita sering salah dalam mendidik anak? Karena kita juga kurang paham tentang cara mendidik anak. Kita sendiri tidak punya pemahaman yang tepat tentang siapa Yesus? apa dan bagaimana ajaran-ajaran Yesus? Apa kehendak Yesus? belum lagi, kalau kita adalah orang tua yang ambisius, harus anak saya saja yang berhasil, anak-anak orang lain tidak boleh. Menjadi orang tua, membiarkan anak-anak malas sekolah minggu, malas ibadas keluarga, malas ibadah pemuda, malas/tidak tahu berdoa, dan sebagainya. Ada proses pembiaran. Hati-hati, ada istilah buah jatuh tidak jauh dari pohon. Artinya, karakteristik anak-anak kita adalah gambaran lingkungan keluarganya. Kalau kita tidak mendukung anak-anak kita untuk dekat dengan Tuhan bagaimana anak-anak kita bisa memahami Kehendak Yesus dengan baik dan benar?

Yesus meluruskan pola pikir yang salah dari Yakobus, Yohanes dan Ibunya, dengan mengatakan: kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Yesus Maha Tahu. Yesus sangat tahu pikiran dan maksud mereka, tapi mereka tidak mengerti maksud Yesus.

Tapi ingat, ketika Yakobus dan Yohanes serta Ibunya melakukan kesalahan, masih ada Yesus yang tetap mengasihi mereka dan menuntun mereka ke jalan yang benar. kesepuluh murid Yesus lainnya juga turut memberikan support kepada Yakobus dan Yohanes, tapi dengan cara yang lain. kadang dalam hidup kita, ada orang-orang tertentu yang dipakai Tuhan untuk menegur kita. Memang rasa tidak enak. Apalagi yang menegur adalah anak kecil atau orang yang statusnya jauh lebih rendah dari kita? Tuhan punya 1001 macam cara untuk memperbarui kita. Ada dengan cara yang lembut dan penuh etika, tapi ada juga dengan cara yang tidak sopan. Mau sakit hati atau mau mengakui dan memperbaiki diri…pilihan ditangan kita. Kita mau baik atau tidak, semua keputusan ditangan kita sendiri. Hal penting yang harus diingat adalah, bersyukurlah kepada Tuhan, kalau ada orang lain, siapapun dia, apapun statusnya, jika teguran itu benar, terimalah dengan lapang dada. Itulah salah satu bagian dari Totalitas pertumbuhan dari perjalanan hidup kekristenan kita.

 V. HARUS BUAT KOMITMEN UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK YESUS

 Melakuan lawannya adalah tidak melakukan (malas). Apakah malas berpengaruh terhadap pertumbuhan perjalanan kekristenan? Saya rasa kita semua tahu kemalasan bukanlah sikap yang baik. Baik itu dalam hal kehidupan sehari-hari dan pertumbuhan iman itu sendiri. Mari kita lihat, apa kata Alkitab tentang Kemalasan :

  • Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. (Amsal 6:6-8)
  • Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mendatangkan kerja paksa. (Amsal 12:24)
  •  Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan. (Amsal13:4)
  • Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak. (Amsal 18:9)
  • Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar. (Amsal 19:15)
  • Jangan menyukai tidur, supaya engkau tidak jatuh miskin, bukalah matamu dan engkau akan makan sampai kenyang. (Amsal 20:13).
  • Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu. (Amsal 24:27)
  • “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring,” maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata. (Amsal 24:33-34)
  • Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah. (Pengkhotbah 10:18)

Malas, bukanlah sifat yang terpuji, sebaliknya, lebih lanjut, Alkitab memandang sikap yang rajin dalam bekerja akan mendatangkan kebaikan, tentu dalam artian kebaikan yang luas termasuk pertumbuhan iman :

* Amsal 22:29 LAI TB, Pernahkah engkau melihat orang yang cakap (rajin, cekatan, terampil) dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.
Perhatikan kata yang diterjemahkan “cakap” (rajin, cekatan, terampil) adalah dari kata Ibrani מָהִיר – MAHIR, bandingkan dengan kata arab yang diserap dalam bahasa Indonesia “mahir.” Kata ini dalam bahasa Inggris KJV diterjemahkan dengann “diligent” yang bermakna: rajin, tekun, sesuai makna kata itu sendiri, yang dalam leksikon Ibrani menulis kata MAHIR bermakna, quick, prompt, skilled, ready.

Amsal 22:29 jelas memaksudkan suatu perbandingan antara orang yang rajin dalam bidangnya dengan orang yang malas! Dikatakan bahwa orang yang rajin, dia akan menjadi salah satu orang yang diperhitungkan dan dihargai, tetapi sebaliknya orang yang malas akan menjadi salah satu kumpulan dari orang-orang yang paling rendah dan tidak diperhitungkan sama sekali.

Maka, kita harus rajin baik secara rohani maupun secara jasmani. Rajin dalam bekerja, juga rajin mencari wajah Tuhan, rajin berdoa, rajin merenungkan Firman Allah, rajin memuji dan menyembah Tuhan.

VI. HARUS TERLIBAT DALAM PELAYANAN JIKA INGIN MENJADI BESAR

 Kebesaran yang sejati bukanlah soal kepemimpinan, kekuasaan atau prestasi perorangan yang tinggi (Matius 20:42), melainkan sikap hati yang dengan sungguh-sungguh ingin hidup bagi Allah dan bagi sesame manusia. Kita harus sedemikian mengabdi kepada Tuhan sehingga kita menyatu dengan kehendakNYA di dunia tanpa menginginkan kemuliaan, kedudukan atau pahala kebendaan.

Lukas 22:24-27,  dijelaskan hal yang sama mengenai kebesaran yang sejati. Kebesaran yang sejati adalah (1) Melaksanakan kehendak Allah, menuntun orang kepada keselamatan di dalam Kristus serta menyenangkan hati Allah merupakan upah dari mereka yang betul-betul besar. Kebesaran sejati menyangkut roh dalam batin dan hati. Sifat itu terlihat dalam hidup seseorang yang menampakkan kasihnya bagi Kristus dalam kerendahan hati yang tulus. (Filipi 2:3); dalam kerinduan untuk melayani Allah dan sesame manusia, dan dalam kerelaan untuk tidak dipandang sebagai yang paling tidak penting di dalam kerajaan Allah.

(2) Kita harus memahami bahwa kebesaran itu bukanlah kedudukan, jabatan, kepemimpinan, kuasa, pengaruh, gelar pendidikan, ketenaran, kemampuan, prestasi atau keberhasilan yang besar. Itu bukanlah apa yang kita kerjakan bagi Allah, tetapi keadaan rohani kita dihadapan Allah.

(3) Kebesaran yang sejati menuntut agar kita menjadi besar dalam hal-hal yang benar. kita perlu belajar untuk menjadi besar di dalam iman, kerendahan hati, watak yang saleh, hikmat, penguasaan diri, kesabaran dan kasih (Galatia 5:22-23). Itu berarti memiliki kebesaran Kristus yang mencintai keadilan dan membenci kefasikan (Ibrani 1:9).

(4) Kebesaran yang sejati menyangkut kasih yang sepenuh hati dan menyerahkan diri kepada Allah.  Itu menuntut untuk terus mengabdi dan setia dimanapun Allah memutuskan untuk menempatkan kita. Karena itu, dalam pandangan Allah, yang terbesar di dalam kerajaanNYA adalah mereka yang memiliki kasih yang besar bagi DIA dan komitmen kepada Firman Allah yang dinyatakan (Roma 12:1-2).

Pengabdian diri akan meningkatkan hasi-hasil kita dalam pekerjaan Allah, namun hanya pada tempat dimana Allah telah menempatkan saya dan saudara di lingkungan karunia-karunia yang telah diberikan-Nya kepada saya dan saudara (Roma 12:3-8; 1 Korintus 12).

Mengenai mereka yang dipilih memimpin  dalam gereja (1 Timotius 3:1-7) Kristus mengatakan bahwa mereka harus memimpin sebagai hamba, sambil menolong yang lain untuk memenuhi kehendak Allah bagi hidup mereka. Mereka tidak boleh menyalagunakan atau menghianati kedudukan mereka dengan cara mencari ketenaran, kuasa dan kemakmuran atau hak-hak istimewa yang khusus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: