HIDUPLAH SEBAGAI ORANG KRISTEN YANG MERDEKA

Pembawa Renungan Bapak Yohanes Felle

Gambar

Penulis:  Pilipus Kopeuw

0546 – Sentani Hawai – Rabu 14 Agustus 2013 – Jam 20:53 wit

 

 

Galatia 5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Kata kemerdekataan berarti juga pembebasan atau pemulihan. Negara kita Republik Indonesia, pada hari sabtu 17 Agustus 2013 akan memperingati hari kemerdekaan yang ke-68.  Usia ke-68 adalah usia yang sudah cukup banyak, kalau diibaratkan manusia, berarti sudah tua.

Kemerdekaan RI diisi dengan pembangunan diberbagai bidang atau berbagai segi. Tahun 1945, Indonesia belum masuk Negara berkembang, atau Negara maju. Barang-barang masih diinport dari luar negeri. Namun dalam usia ke-68 di tahun 2013 ini, Indonesia sudah merupakan Negara berkembang. Ada fabric-fabrik dimana-mana. Ada fabrik semen, ada fabrik pesawat,   ada fabrik perkapalan, minyak goreng, ada tambang minyak, ada tambang emas, dan sebagainya.

Dalam bagian Alkitab sebagai bahan renungan ini yang dimaksud bukan kemerdekaan secara fisik, tetapi kemerdekaan secara rohani. Bagian ayat ini ditujukan kepada jemaat di Galatia yang pernah dilayani oleh Paulus.  Ayat ini disebutkan karena saat itu ada masalah di diantara Jemaat di Galatia. Perhatikan ayat ke-15 (5:15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.)

kita telah dimerdekakan di dalam Kristus Yesus. sejak dulu manusia telah “jatuh dalam dosa” dan kehilangan Kemuliaan Allah dan tidak ada jalan lain untuk keluar dari dosa. Kemudian Allah Bapa mengutus Kristus Yesus datang untuk mengeluarkan, menebus serta membebaskan manusia dari dosa. Kristus Yesus meninggalkan TahtaNya, turun menjelma jadi manusia, lahir di keluarga miskin, di desa terkecil yakni di “Efrata”. Secara manusia Yesus berjuang mengalahkan kemanusiaanNya, untuk kemerdekaan seluruh umat manusia.

Kita semua tahu bahwa, kemerdekaan bangsa Indonesia terjadi melalui perjuangan yang panjang. Ada orang-orang yang kita sebut “Patriot Bangsa Indonesia baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat” mereka telah mengorbankan jiwa dan raga untuk mengalahkan dan mengusir para penjaja bangsa Indonesia. Pengorbanan jiwa, raga dan darah, untuk kemerdekaan yang saat ini kita sedang nikmati.

Yesus pun telah mengorbankan jiwa dan ragaNya untuk kemerdekaan kita secara rohani. Bagaimana kemerdekaan secara rohani? Bagaimana pola hidup yang Nampak pada orang-orang percaya yang benar-benar merdeka dalam Yesus? Orang yang mendeka dalam Yesus, pertama adalah ia yakin sungguh dosanya sudah diampuni; Kedua, adalah ada komitmen untuk hidup baru, yaitu mengisi kemerdekaan secara rohani dengan setia beribadah, punya waktu dia secara pribadi, tabiat atau karakter yang semakin sepadan dengan ajaran Alkitab, ketiga, adalah tetap teguh dan kuat imannya saat menghadapi berbagai cobaan dan masalah hidup. Tidak ada kuk-kuk atau beban-beban perhambaan yang menawan untuk tetap hidup dalam dosa. Dosa tidak berkuasa lagi atas hidup kita, karena kita tahu hidup dalam dosa adalah kekejian di mata Allah.

Perhatikan kondisi Yesus saat DIA disalib. Bagian belakang punggungNya hancur karena 49 cambukan; Kedua kaki dan tanganNya di paku; lambungNya luka karena ditusuk dengan tombak tentara Romawi; kepalaNya luka dan berdarah karena dipaksakan memakai mahkota duri; dipaksakan minum anggur asam yang juga sengaja dibasahi pada bagian tubuhNya yang terluka; dapatkah kita bayangkan penderitaan yang amat sangat berat di alami oleh Yesus?

Kalau saja kita bisa renungkan dan coba kita ambil maknanya, apakah ada kaki kita yang salah melangkah sehingga kaki Yesus harus di paku di salib? Apakah ada tangan kita yang berbuat salah sehingga tangan Yesus harus di paku di salib? Apakah ada pikiran-pikiran yang salah dan kotor sehingga kepala Yesus harus dipaksakan dengan mahkota duri? Ataukah ada hati kita yang berperasaan salah terhadap berbagai hal sehingga Yesus harus menanggung sakitnya di tombak? Yesus disalibkan sebenarnya berhubungan dengan apa yang harus kita tanggung sendiri, tetapi karena kasihNya yang besar, DIA rela mati untuk selamatkan kita dari dosa.

Berapa banyak kita yang menjadi umatNya, tetapi tidak menghargai pengorbananNya? Adakan evaluasi diri dan intripeksilah sejauhmana pengiringan kita kepada Tuhan? Perlu sekali kita memperbaharui janji kita kepada Allah, untuk mulai lagi hidup seperti apa yang dikehendaki Allah. Hargailah kemerdekatan yang sudah Yesus sediakan bagi kita dan hiduplah di dalamnya sebagai anak-anak Allah.

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

 

_______

Ini adalah catatan Renungan yang disampakan oleh Pdm Yohanes Felle, dalam acara Ibadah Keluarga dari GPdI Maranatha Hawai Sentani – Kabupaten Jayapura Papua. Ibadah di laksanakan di Keluarga Albert Pallo di Jalur I BTN PUSKOPAD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: