PENTINGNYA MENGIMANI SESUATU

Oleh Pilipus Kopeuw, S.Th, M.Pd

Juwangen Kalasan Yogyakarta, Rabu 4 September 2013 – Jam 09:47 wib

 

Dalam Kitab Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.  Bandingkan dengan Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Kita beriman karena tidak punya apa-apa. Kita butuh ini dan itu. Tapi kita tidak punya daya untuk itu. Tetapi kita tetap beriman. Apakah salah, jika kita memiliki iman? Dalam dunia pendidikan, guru biasa bertanya kepada anak-anak didiknya, untuk memperkenalkan diri dan menyebutkan apa yang menjadi cita-citanya. Iman bisa diartikan dengan cita-cita juga, dalam bisnis Multi level marketing, mereka mengajarkan pentingnya membangun “impian”. Konsep impian diadopsi dari kata “iman”. Berarti iman juga adalah impian. Kata lainnya lagi adalah “harapan”. Harapan akan masa depan apa? Keluarga, bisnis, karir, studi lanjut, anak-anak, dan sebagainya. Kata harapan juga adalah bagian dari pemahaman yang sama dengan iman. Jadi kata iman sama dengan cita-cita, impian dan harapan.

Semua kita ingin berhasil. Ketika kita mulai mengetahui bahwa ada banyak orang yang telah berhasil dalam banyak hal. Kita termotivasi oleh keberasilan mereka. Kita mulai berpikir, saya ingin menjadi orang yang seperti ini atau seperti itu. Pikiran seperti ini adalah sangat wajar. Hal itu berlaku bagi keberhasilan dalam pertumbuhan rohani dan keseluruhan aspek kehidupan kita.

Kita selalu diajarkan bahwa ditekankan untuk beriman-beriman dan beriman. Pertanyaannya adalah beriman yang seperti apa? Beriman dalam hal apa? Beriman tentang apa? Berapa banyak hal yang harus mengimani? Pentingkah mengimani sesuatu?

Saya punya pengalaman, sejak tahun 2002, saya menulis 3 hal cita-cita, harapan dan impian saya, lalu saya tempelkan di Alkitab saya. Ketiga hal itu adalah, (1) saya ingin jadi seorang penulis, (2) saya ingin menjadi pencipta lagu, dan (3) saya ingin menjadi orang yang bijak. Sepertinya dulu saya merasa lucu dan mustahil saya bisa mencapainya. Ternyata dari catatan cita-cita di tahun 2002 itu, terus menjadi pengingat yang baik, dan selalu berbicara kepada saya kapan kamu akan tulis, kalau tidak sekarang memulainya; kapan kamu akan menjadi pencipta lagu kalau tidak dimulai sejak sekarang, kapan kamu akan menjadi bijak kalau tidak dimulai dari saat ini.

Akhirnya tahun 2008, salah seorang teman kuliah saya Program S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta bernama Adi membantu saya membuka sebuah Blog. Sejak saat itu, saya mulai rajin menulis hingga saat ini. Tulisan saya sudah mencapai 560 judul artikel. Kemudian saya juga menekuni menulis jurnal yang hanya sebatas studi pustaka saj. Setelah itu saya juga meningkatkan diri dengan mulai melakukan penelitian-penelitian. Dari tulisan-tulisan atau artikel-artikel, serta hasil penelitian saya sendiri, saat ini saya sedang mencoba menyusun 3 buah draf buku, yakni (1) Optimalisasi Penelitian Mahasiswa di Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen; (2) Pengantar Metodologi Penelitian PAK, Teologi dan Musik Gereja; dan (3) Sentani menanti pelangi. Sedangkan untuk menciptakan lagu, saya sudah menciptakan hamper sepuluh lagu tapi masih untuk diri sendiri, baik lagu rohani maupun yang bukan rohani. Dalam menuju menjadi orang yang bijaksana, saya mulai mengoleksi dan mempelajari berbagai tulisan dan kata-kata bijak. Dalam file saya, ada kata bijak rohani dan kata bijak umum. Kata bijak rohani sudah 600-an sedang kata bijak umum sudah mencapai 6000-an. Kata-kata bijak ini sangat membantu saya dalam mengajar, dalam konseling/sharing serta dalam berkhotbah.

Judul artikel ini muncul dalam pikir saya dengan pertanyaan “Pentingkah mengimani sesuatu?” dari pengalaman yang saya kisahkan, jawabannya jelas terhadap pertanyaan ini adalah sangat penting sekali untuk kita mengimani sesuatu. Dasar Alkita Ibrani 11:1 dan Yakobus 2:17, sudah sangat jelas, bahwa di dalam mengimani, harus disertai perbuatan/tindakan. Sebab tidak ada keberhasilan yang jatuh dari langit. Keberhasilan dalam bidang apapun haruslah diperjuangkan. Beriman yang benar selalu menuntun kepada langkah-langkah tindakan. Kalau kita beriman tetapi tidak bertindak, itu sama saja kita sedang bermimpi saja. Sebab orang yang bermimpi ketika bangun kondisinya tidak berubah, karena tetap sama. Tetapi beriman yang benar selalu dilanjutkan dengan tindakan, tergantung pada apa yang dia imani. Tidak ada yang salah ketika kita beriman dengan benar, pasti Tuhan akan menolong kita mencapai iman itu. Bagi yang telah beriman, tetaplah beriman, bagi yang sudah beriman tapi tidak ada tindakan, mari bertindaklah agar iman itu jadi nyata. Bagi yang belum beriman, jangan jadi penonton, mari bangun imanmu, biarlah kita sama-sama dapat berbagi cerita tentang pentingnya beriman. (Phiko).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: