MEMBONGKAR DAN MEMBANGUN DI HUTAN BAMBU

Oleh Pilipus Kopeuw, S.Th, M.Pd

0568 – Rabu 11 September 2013 – Jam 05:06 wit

Ketika saya bertamu ke rumah salah seorang anggota jemaat GKKD flavouw, rumah mereka terletak diatas bukit.  Setelah saya bertemu dengan mereka, lalu saya coba jalan-jalan di sekitar rumah tempat tinggal mereka. Saya mendengar suara anak-anaknya bermain di bawah pepohonan dibelakang rumah tersebut. Setelah saya menemui anak-anak itu, lalu bertanya kepada mereka: “tempat ini dulunya apa? Kata anak-anak itu: dulunya adalah hutan bamboo. Dan memang benar, karena masih terhampar hutan bamboo di sekitarnya. Kemudian saya arahkan pandangan dan melihat hutan bamboo yang sudah ditebang, juga yang sudah dibakar bahkan ada yang sudah cungkil akar-akarnya.

Membongkar dan membangun di hutan bamboo yang luas itu menurut pengalaman saya bukan hal yang mudah. Bekerja membersihkan bamboo saja kulit atau tubuh bisa terasa gatal yang luar biasa. Membersihkan bamboo butuh kesabaran. Bayangkan saja satu rumpun bamboo ada berapa banyak batang, berapa meter setiap bamboo dan berapa banyak rantingnya, dan berapa besar bambunya. Belum lagi bagaimana menggali seluruh isi akar bamboo. Akar bamboo adalah akar serabut seperti pohon pinang dan kelapa. Saya bisa mengatakan hal-hal sulit dalam membongkar hutan bamboo karena dibelakan rumah kami ada satu rumpun bamboo, dan saya sudah sering memotong dan membersikannya. Itu sebabnya, saya tahu perjuangan dan kesulitan dalam membongkar hutan bamboo seperti uraian diatas.

Di sekitar hutan bamboo itu, atau dibelakang hutan bamboo itu ada sebuah jurang agak dalam sekitar 10-20 meter dan lebar sekita 30 meter. Jurang itu berdiri kokoh karena ada akar-akar pohon bamboo yang membentuk tebingnya.

Saya coba membayangkan, pasti anggota jemaat ini butuh waktu yang cukup lama untuk membongkat hutan bamboo itu. Dalam pengamatan saya, pengerjaannya pembongkaran itu dilakukan secara manual, dan tidak menggunakan alat-alat berat seperti dosen atau eksavator. Namanya saja hutan bamboo. Berarti akar bamboo sudah kait-mengait satu dengan lain. walaupun demikian, di atas lahan bekas hutan bamboo itu, anggota jemaat ini telah membangun rumah batu yang sudah hamper 65 persen selesai. Tinggal pasang plavon, plester tembok dan lantai keramik. Disamping kanan rumah saya melihat ada halaman yang sudah ditumbuhi rumput hijau dan sepertinya sering di parkir mobil sebab ada bekas ban.

Setelah saya kembali ke rumah anggota jemaat ini, dan duduk di depan teras rumah, yang saya lihat adalah posisi saya sudah ada di Sekolah Dasar Simporo Baborongko di tahun 1977. Dekat SD ini ada banyak kuburan baik untuk masyarakat Kampung Baborongko dan Simporo Sentani Jayapura. Hal yang kami bahas dengan tuan rumah adalah masalah kuburan yang tadinya jauh dari sekolah, kini sudah mendekati sekitar pagar halaman sekolah. Dulu di tahun 1977 kuburan masih sekitar 150-200 meter jauhnya dari halaman sekolah. Kemudian saya kaget dan terbangun dari tidur.

Ternyata dalam membangun sebuah keluarga dan rumah tangga yang baik, butuh perjuangan dan kerja keras. Membangun rumah tempat tinggal ibarat harus membongkar hutan bamboo, menebang, membersihkan, mencabut akar-akan, menunggu akar itu kering, membakarnya, meratakan tanahnya dan mulai membangun fondasi dan mendirikan rumah tersebut. Tuhan tidak mengirim rumah turun dari langit, ketika kita berdoa untuk punya rumah. Ada harga yang harus dibayar. Ada hal-hal yang harus dikorbankan. Ada kulit yang harus terbakar. Ada keringat yang harus dikeluarkan. Ada rencana yang harus dibuat. Ada gambar/impian yang harus diwujudkan. Dan butuh kesabaran untuk mencapainya. Ada pekerjaan yang harus dimulai. Maka rumah itu akan terbangun ditengah-tengah hutan bamboo yang kelihatan sulit itu. Itu artinya tidak ada perjuangan dan jerih paya yang sia-sia. Bagi orang yang tekun, fokus dan tetap semangat dalam bekerja, waktu akan akan menceritakan hasil kerja kerasnya. Cepat atau lambat, siapa yang bekerja pantaslah menikmati hasil pekerjaannya.

Dalam hubungannya dengan jumlah kematian yang terus bertambah, adalah kalau bisa kematian jangan bertambah dalam hidup kita dan keluarga kita. Cukup saja dengan kematian yang dulu, sekarang mari kita pertahankan dan membangun hidup, supaya halaman untuk orang hidup lebih banyak. Biarkan berkat Tuhan menghiasi halaman hidup, keluarga, karir, pelayanan dan rumah kita.

Mari kita terus membongkar hutan bamboo dan pelihara kehidupan dengan baik. Hiduplah dan nikmatilah berkat perjuangan dan kerja keras kita. Bicarakan kehidupan, akhiri semua kematian dalam segala hal dalam hidup kita. Mari bongkar dosa dengan segala akar-akarnya. Mari bongkor keburukan dan segala akar-akarnya. Hiduplah sebagai orang merdeka. Sebab harga kita telah dibayar lunas di kayu salib oleh Yesus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: