MENGGALI BUDAYA SENTANI DI PAPUA UNTUK INDONESIA

DALAM AGENDA “WAKTU INDONESIA TIMUR”

(Journey To The East)

 Oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Bersama:

Pencetus: Ikatan Keluarga Mahasiswa Timur” Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Pelaksanaan Jumat 13 September 2013

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Definisi Kebudayaan

Kebudayaan dapat kita sederhanakan sebagai suatu sistem ideasional atau sistem gagasan atau “the state of mind” yang mendorong pola perilaku yang khas pada suatu kelompok sosial. Kebudayaan dapat juga berupa nilai-nilai dasar yang memberi orientasi perilaku yang khas dan dianggap sebagai bagian dari hidup yang sangat penting dijaga atau dipertahankan. Jika kebudayaan dapat berubah, maka perubahan kebudayaan cenderung dalam upaya pencapaian keseimbangan fungsional. Dengan demikian dalam konteks ini, kebudayaan juga sering menjadi faktor penyebab mau-mundurnya suatu kemajuan ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Wujud kebudayaan dapat berupa sistem budaya, sistem sosial, dan juga kebudayaan materi.

 B. Suku Sentani dalam Papua

Papua kaya akan adat istiadat dan budaya. Orang Papua dengan ciri fisik yang menonjol adalah kulit hitam dan berambut keriting. Ciri lain yang dapat dilihat berdasarkan ciri budayanya, tampak pada kesenian, sistem religi, organisasi sosial, sistem teknologi tradisional dan bahasa. Ada kesamaan dalam hal ini (Gabriel, 2010).

Papua sudah tiga kali mengalami pergantian nama. Dulu disebut Irian Barat Barat, karena Negara Papua New Guinea disebut dengan Irian Timur karena keduanya berada dalam satu pulau yang disebut pulan Irian, waktu itu. Kemudian, nama Irian Barat berubah lagi menjadi Irian Jaya. Pada Jaman pemerintahan Presiden Gus Dur, nama Irian Jaya dirubah lagi menjadi Papua. Saat ini, Pulau Papua telah dimekarkan dan terbagi dalam dua provinsi, yaitu provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Provinsi Papua miliki 28 Kabupaten dan 1 Kota Madya. Kabupaten itu adalan Asmat, Biak Numfor, Boven Digoel, Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya, Jayapura, Jayawiya, Keerom, Kepulauan Yapen, Lanny Jaya, Maberamo Raya, Mamberamo Tengah, Mappi, Merauke, Mimika, Nabire, Nduga, Paniai, Pegunungan Bintang, Puncak Jaya, Sarmi, Supiori, Tolikara, Waropen, Yahukimo, Yalimo, dan Kota Jayapura. Masyarakat yang memiliki budaya Suku Sentani terdapat di provinsi Papua,dan masuk di wilayah administrasi Kabupaten Jayapura dan Kota Madya Jayapura.

Ada stigma umum di kalangan non Papua bahwa, orang Papua semuanya sama. seperti halnya Papua yang tidak tahu Jawa secara utuh, mengatakan orang Jawa semua sama. Orang Papua juga terbagi dalam dua kelompok besar yaitu kelompok masyarakat gunung dan kelompok masyarakat pantai. Data sementara tahun 2008, jumlah suku di Papua sebanyak 267 suku. Suku di Papua ini terbagi ke dalam 7 wilayah adat yaitu : Wilayah Adat Mamta, Wilayah Adat Saireri, Wilayah Adat Bomberai, Wilayah Adat Domberai, Wilayah Adat Ha-Anim, Wilayah Adat La-Pago, Wilayah Adat Mi-Pago. Suku Sentani merupakan salah satu suku di Wilayah Adat Mambramo dan Tami (Mamta).

Dalam Penjelasan Mansoben (Tabloit Jubi, 2008) Secara detail terdapat tujuh wilayah adat di Papua daerah daerah antara lain, wilayah adat 1 (Mamta) meliputi Port Numbay, Sentani, Genyem, Depapre, Demta, Sarmi, Bonggo, Mamberamo. Wilayah adat 2 (Saireri) yakni Biak Numfor, Supiori, Yapen, Waropen, Nabire bagian pantai. Wilayah adat 3 (Domberay) antara lain Manokwari, Bintuni, Babo, Wondama, Wasi, Sorong, Raja Ampat, Teminabuan, Inawantan, Ayamaru, Aifat, Aitinyo.Wilayah adat 4 kawasan Bomberay meliputi  Fakfak, Kaimana,Kokonao dan Mimika. Wilayah adat 5 kawasan Ha Anim meliputi Merauke, Digoel, Muyu, Asmat dan Mandobo. Wilayah adat 6 kawasan Me Pago antara lain Pegunungan Bintang, Wamena, Tiom, Kurima, Oksibil, Okbibab. Wilayah adat 7 kawasan La Pago antara lain, Puncak Jaya,Tolikara, Paniai, Nabire pedalaman.

C. Fakta-Fakta Kebudayaan di Papua

  • Kebudayaan-Kebudayaan di Papua jumlah dam variasinya banyak (267 menurut kategori bahasa Summr Iinstitute Linguistic (SIL, 2008), termasuk wilayah ekologis yang berbeda (daerah rawa, pantai, laut, dataran rendah-tinggi, dan pegunungan yang tinggi, memberi pengaruh yang signifikan dalam penampilan kebudayaan masing-masing etnik.
  • Orientasi nilai ekonomi masih konsumtif dengan dengan subsistence/penghidupan/mata pencaharian terbatas.
  • Etos kerja sebagian masih rendah, bila dihubungkan dengan produktifitas. Produktifitas kerja terlalu rendah.
  • Hasil kerja keras dan saving di kembalikan ke social cost (pembayaran mas kawin, ganti rugi/utang).
  • Modal sosial (social capital), dibangun dari perbuatan baik, cara memecahkan masalah social, membayar harta mas kawin, harta kepala yang menjadi beban keluarga.
  • Peluang kesempatan harus diberikan/usaha menangkap peluang pasar.
  • Kemajuan kolektif diutamakan dibanding kemajuan perorangan.  (Sumber. Freddy Sokoy, 2011).

 Menurut Alomang Nilai-nilai Adat istiadat bisa hilang, tentu saja bukan tanpa alasan. Kekhawatiran bahkan lebih tepat keprihatinan semacam ini, dimana terpaan pergaruh sangat gencar dan hampir tidak dapat dibendung, apalagi dalam zaman komunikasi dan informasi yang amat canggih dewasa ini (Ans, 2009: 97-98)

 C. Masalah Global Kebudayaan

1. Cultural Identity

  • Pengetahuan budaya yang rendah
  • Pasar global
  • Key informan budaya sangat terbatas
  • Keluarga bukan lagi sumber inspirasi dan pengetahuan kebudayaan tetapi menjadi tempat/ sumber pengetahuan pendidikan formal dan pendidikan agama yang semu.
  • Obsesi/harapan masa depan yang dangkal (IPA, Komputer, Kedokteran, dll, bukan ilmu humaniora dan secara khusus ilmu antropologi)

 2. Eco – Budaya (Wilayah Budaya) dan Variasi Budaya

  • Ego suku dan klen menguat dan berdampak terhadap pemekaran kesukuan yang tajam.
  • Konflik terselubung yang mengarah kepada disharmoni sangat potensial diaktifkan bila terdapat masalah etnik yang terkesan tidak memiliki pemecahan yang memadai.
  • Keunggulan daerah/kekayaan daerah disederhanakan sebagai asset ekonomi jangka pendek dan rentang terhadap konflik.
  • Loose structure (kelonggaran struktur kekerabatan dan pranata budaya)
  • Peran dalam dunia kebudayaan tidak bisa direpresentasikan oleh dunia pendidikan formal dan agama.
  • Organisasi modern (seperti GajahI versus organisasi tradisional (seperti semut) berasas formal-non formal, jangka pendek-jangka panjang, berorientasi dana – orientasi padamu negeri  dan sedikit bicara tetapi berbuat banyak atau bicara banyak tetapi berbuat sedikit.

BAB II

SEJARAH SUKU SENTANI (PHUYAKHA BHU)

 A. Asal-Usul Suku Sentani dengan Ras Melanesia

 1. Migrasi menuju Sentani (Phuyakha Bhu)

Galis (1996) menyebutkan bahwa masyarakat Sentani berasal dari Timur lalu menyeberang ke Barat dan menemukan danau Sentani atau Phuyakha yang berarti air tenang. Penduduk Sentani tersebar di tiga wilayah yaitu:

–        Di bagian barat terkonsentrasi di Yonokhom dan menyebar di beberapa kampung.

–        Di bagian timur terkonsentrasi di pulau Asei dan menyebar di beberapa kampung

–        Di bagian tengah terkonsentrasi di pulau Ajau dan menyebar di beberapa kampung.

Orang Sentani adalah kelompok masyarakat pejuang yang tangguh mempertahankan identitas etnisnya. Walau telah mengalami geseran budaya berkali-kali dari kelompok etnis lainnya. Sebelum menetap di tepian dan dan pulau-pulau di danau Sentani, mereka berasa dari Honong Yo Walkhau Yo, di seputar daerah Nyoa dan Moso di sebelah Papua New Guinea. Ketika terjadi mograsi besar-besaran secara bergelombang, terjadi gesekan-gesekan antar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain sehingga masuk ke danau Sentani secara terpisah-pisah dan tidak bersamaan waktu.

Kelompok pertama adalah kelompok Asatou yang digabungi oleh sub-sub kelompok Bebuho, Asabo, Phouw, Khele, Phualo, bermigrasi dari Honong Yo melewati Wutung, menyeberang ke Rolowabu-wabu Yomo, bermukim disana, kemudian berangkat melewati Aukhone-Khone, Dobon Fere, dan membuat kampung di Horoli. Dari Horoli, pindah ke Yomokho-Waliau Yo melewati Mekhenewai. Dari Yomokho-Waliau Yo, mereka pindah dan menetap di Oheikoi-Yo (kampong Asei). Dari Oheikoi pindah ke Raid Au Kleu dan membuat kampung Kleubulouw. Rouboto pindah ke Waena. Kelompok Pui, Soro, Makanewai, Youwe ditinggal di sekitar Rolowabu-wabu Yomo (Kayu Batu).

Pada migrasi kedua, berangkat dari Honong Yo, kelompok Razing Kleubeu mengambil arah selatan dengan menggunakan perahu melewati kampong Eha (Nafri), mendaki gunung  dan membuat pemukiman sementara du Umabo Besar dan Umabo Kecil. Dari Umabo turun ketepian Phuyakha bhu, menyeberang ke Yomokho-Waliau-Yo bergabung dengan kelompok Asatou, mengangkat ondofolo. Kemudian bersama-sama menyeberang ke kampung Oheikoi. Pindah ke Ebuheal ke Ayapo dan membentuk kampung Ayapo. Dari Ayapo, kelompok Mebli Iyme ke Yokha dan membuat kampung Hebeaibulu di lokasi bekas kampung Hebeaibulu yang telah punah.

Kelompok ketiga adalah kelompok yang dipimpin oleh Yokhu Mokho, berangkat dari Honong Yo-Walakhau-Yo, melewati Wanimo, Wutung, lewat Mabouw, masuk teluk Yotefa bermukim di Endukha Yo, kemudian berangkat menyeberang naik gunung Rey Humungga, terus melewati Hokhom-Hisili, Ma Khele, Robhomfere, Atam dan masuk danau Sentani bagian tengah dan membentuk kampung Remfale yang disebut kampung Ifale sekarang.

Kelompok yang lebih awal dari kelompok pertama, kedua dan ketiga adalah kelompok Heaiseai. Arus migrasi terjadi Walakhau Yo, melewati dataran Ebum Fau, terus berhenti di Yokha Wau dan mendirikan kampung Yokha Wau. Dari Yokha Wau Yo, di sponsori oleh Ibo, Khabey dan Monim menyeberang ke Ajau, kemudian  dari Ajau menjadi pusat persebaran. Dari Ajau pindah ke Khabeite Olow dan membentuk kampung Khabetlouw yang sekarang disebut Ifar Besar. Kemudian Monim pindah dan mendirikan kampung Putali, dan Ibo mendirikan kampong Atamali. Rokhoro pindah dari Ajau lebih ke arah barat daya dan mendirikan kampong Hemfolo.

Kelompok migrasi berikutnya berjalan terus kearah barat danau Sentani, tiba di Yo Waliau Yo, di atas gunung kampung Donday. Dari Yo Waliau Yo turun ke tepian air dan menyeberang ke pulau Yonokhom dan membentuk kampong Yo Nokhom Yo. Dari Yonokhom pindah sebagian masyarakat kembali ke sekitar Yo Waliau Yo dan membentuk kampung Donday, yang lain pindah kea rah barat dan membentuk kampong Yakonde dan Sosiri.

Bagian masyarakat lainnya pindah membentuk empat kampong do Do Yo. Pulau dan kampung Yonokhom atau Kwadeware menjadi pusat penyebaran kebudayaan di Sentani Barat. Di seluruh Sentani terdapat tiga pusat penyeberan yaitu, di Sentani Timur pulau Asei dikenal sebagai pusat persebaran kebudayaan, di bagian tengah pulau Ajau menjadi pusat persebaran kebudayaan, dan pulau Yonokhom (Kwadeware) dikenal sebagai pusat persebaran kebudayaan di bagian barat Sentani.

 2. Masa lalu masyarakat Sentani (Phuyakha-bhu)

Masa lalu masyarakat Sentani ditandai dengan kehidupan yang penuh mistis. Dunia mistis ditandai dengan rasa takut terhadap segala yang dipandangnya dari alam raya ini memiliki daya-daya yang seram, mengganggu dan mematikan. Demi keselamatannya, mereka mencari semacam taktik guna menemukan hubungan yang tepat antara dirinya sebagai manusia dengan daya-daya dari kekuatan tersebut. Tindakan-tindakan yang serba religious magis dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian hubungan dengan daya-daya pada alam. Perbuatan-perbuatan praktis misalnya, tata upacara dalam beraneka ragam diutamakan. Dongeng-dongeng suci diantaranya tentang terjadinya danau, dunia, gunung dan sebagainya, memainkan peranan pula. Dunia mistisnya bergeser ke alam ontologis, yang berjalan berdampingan mempengaruhi tahapan kehidupan masyarakat Sentani. Dalam dunia ontologis, manusia Sentani mulai membuat  jarak terhadap segala sesuatu  yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupannya. Dari pandangan mithologis dan dunia ontologi  dapat ditarik kesimpulan tentang inti pandangannya tentang alam semesta, bahwa tokoh-tokoh mithologi merupakan personifikasi dari kekuatan-kekuatan alam yang mengarahkan hidup manusia untuk mengenal bahwa pemilikan kekuasaan rahasia atas hujan, api, terang dan sebagainya diperuntukan bagi kebutuhan manusia.

Segala sesuatu menyangkut pengaturan alam semesta seperti matahari, bulan, danau dan sebagainya merupakan hasil perbuatan para leluhur yang dilakukan bersama dengan para tokoh mithologi.

Pandangan kosmologi terurai di atas mengandung dualisme antara dunia nyata dan dunia tidak nyata (dunia maya) . sejalan dengan dualisme pandangan itu terdapat antagonisme dalam kehidupan bersama manusia, terutama antara saudara tua dan saudara muda. Perusuhan yang tibul akibat pertentangan berakhir pada perebutan kekuasaan, penguatan kedudukan yang menang dan pemisahan Yo-Wakhu. Antagonisme berpangkal mula dari persoalan kedudukan, kekuasaan dan harta warisan, serta melatar belakangi  sejarah kelompok-kelompok masyarakat Sentani, yang berpengaruh terhadap penggabungan dan kerja sama antar Yo. Para tokoh mithologi mengarahkan para leluhur agar menggunakan kepemilikan rahasia dan hak kekuasaan atas hujan, api, air, hewan, tanaman, dan sebagainya kepada keturunan mereka selaku pemegang kekuasaan serta mewajibkan penggunaan hak dan kekuasaan demi kepentingan rakyat (akha-beakhe).

Di balik hak dan kekuasaan terdapat kewajiban pemegang kekuasaan adat untuk melindungi rakyat yang oleh orang Sentani disebut “Holei-Narei” artinya memelihara, mengayomi dan memberi makan. Kewajiban holei-narei dilakukan oleh para penguasa adat kepada kesatuan masyarakat adat yang telah menetap pada tiap-tiap Yo. Apa yang dimaksud dengan Yo?

Yo dalam bahasa Indonesia disebut kampung. Kampung adalah kesatuan hidup setempat (komunitas) yang terbentuk karena adanya ikatan tempat tinggal dan sekalipun wilayah tempat tinggal itu merupakan syarat mutlak, tetapi solidaritas Yo dicirikan pula oleh adanya hubungan dan perasaan persaudaraan pada warganya, rasa persatuan dan kesatuan dan kesamaan dalam satuan-satuan iyme (marga). Persatuan, kesatuam dan kesamaan-kesamaan biasanya amat kuat, sehingga dapat menjadi sentiment persaudaraan karena mengandung unsur-unsur rasa kepribadian kelompok. Kelompok kecil serupa disebut Yo, dan para Ondofolo menjadi pemimpin adat tertinggi dan Kose yang berada setingkat dibawahnya. Faktor-faktor yang mendukung adanya suatu Yo adalah sebagai berikut:

  1. Mempunyai wilayah tempat tinggal yang ditentukan atas pilihan bersama para leluhur, mempunyai latar belakang sejarah Yo, mempunyai bidang-bidang tanah dan batas-batas perairan tertentu sebagai tempat mata pencaharian penduduk. Letak sebuah kampong di Sentani dengan batas-batas teritorialnya, letak tempat Yo atas pilihan para leluhurnya. Bidang-bidang tanah dan air, merupakan warisan leluhurnya yang dipertahankan dengan sangat ketat. Mereka menjaga dan memeliharanya secara turun temurun dari gangguan dan pemanfaatan sewenang-wenang dari pihak yang lain.
  2. Individu-individu dalam komunitas Yo karena sedikit jumlahnya dapat saling kenal-mengenal satu dengan lainnya dan bergaul dengan leluasa. Umumnya pada komunitas Yo para warganya mempunyai hubungan kesamaan dan persatuan dalam memperjuangkan wilayah tempat tinggal.
  3. Dalam komunitas Yo, perasaan timbal balik dalam hal saling memberi dan menerima serta sifat gotong-royong dibina dengan baik, sehingga memungkinkan mereka hidup dari lapangan kehidupan secara bulat.
  4. Memiliki rasa kampungisme yang sangat tinggi, karena kampung dianggap sebagai negara kecil yang sangat dicintai dan dibela.

 3. Suku Sentani dalam Ras Melanesia

Negara-negara yang termasuk dalam Ras Melanesia menurut keterangan dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, adalah Fiji, Papua New Guinea, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat. Apa yang membuktikan bahwa Suku Sentani adalah Ras Melanesia? Pertama, pada bagian migrasi menuju sentani, dijelaskan bahwa masyarakat asli Sentani melakukan exodus dari Nyoa dan Moso disebelah Papua New Guinea.  Kedua, berdasarkan cerita asal-usul terjadinya ‘Danau Sentani versi Sentani tengan’ oleh Pilipus Kopeuw (Juli 2009), bahwa terjadi exodus, masyarakat asli Sentani dari Papua New Guinea menuju Sentani. Ketika hendak berpesta di bulan purnah, terjadi kesalahan oleh anak perempuan Ondofolo, karena mengambil burung cenderasih tanpa ijin kepada tuan tanah (penunggu). Ular ini akhirnya menelan anak gadis Ondofolo ini lalu pergi meninggalkan tempat pesta. Kemudian setelah itu, Ondofolo memerintah mengejar ular itu dan membunuh. Singkat cerita, ular itu dibunuh, ketika ular itu dihujani tombak bertubi-tubi, maka ia merontah-rontah, waktu itu belum ada Danau Sentani. Akibat merontahdan menggeliat kesakitan maka menyebabkan daratan itu berlubang-lubang. Ular ini adalah ular raksasa dengan kekuatan besar. Tempat sepanjang ular itu mati akhirnya menjadi danau. Danau itu yang kemudian, setelah ditempati, di sebut dengan “phuyaka (sentani). Dari sejarah dan cerita asal-usul danau sentani dapat menjelaskan secara spesifik bahwa, Suku Sentani adalah juga Ras Melanesia.

 B. Wilayah Suku Sentani

Untuk mengenal Sentani lebih mudah, ada salah satu Kesebelasan sepak bola yaitu “Persidafon”. Tim Persidafon ini berasal dari Sentani. Sentani ada di Kabupaten Jayapura. Di Kabupaten Jayapura ada 19 Kecamatan dan 139 Kampung serta 3 kelurahan. Masyarakat Asli Suku Sentani hidup di sekitar danau Sentani. Danau Sentani menjadi sumber pencaharian turun temurun. Ikan yang terkenal dari danau sentani adalah ikan “gabus”. Motto Kabupaten Jayapura di tulis dengan bahasa Suku Sentani yaitu “Khena mbai Umbai artinya Satu utuh ceria berkarya”. Wilayah Sentani merupakan Ibu Kota Kabupaten Jayapura. Sentani bukan lagi wilayah primitig, tetapi telah menjadi kota dan pintu masuk perubahan, karena lapangan terbang Internasional berada di sentani.

 Danau Sentani merupakan danau yang terletak di antara kabupaten Jayapura dan Kota Madya Jayapura. Danau tersebut sangat berpotensi jika dikelola dengan baik, diantaranya sumber air bersih, perikanan, dam parawisata. Secara geografis  dengan luas ± 9.360 Ha. Danau Sentani di Papua terletak antara 20.33o hingga 20.41o LS dan 1400.23o sampai 1400.41o BT. Berada 70 – 90 m diatas permukaan laut. Terletak juga di antara pegunungan Cyclops. Merupakan danau Vulkanik. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Diwilayah barat, Doyo lama dan Boroway, kedalaman danau sangat curam. Sedangkan sebelah timur dan tengah, landai dan dangkal, Puay dan Simporo. Disini juga terdapat hutan rawa di daerah Simporo dan Yoka. Dalam beberapa catatan disebutkan, dasar perairannya berisikan substrat lumpur berpasir (humus). Pada per-airan yang dangkal, ditumbuhi tanaman pandan dan sagu. Luasnya sekitar 9.360 Ha dengan kedalaman rata rata 24,5 meter. Disekitaran danau ini terdapat 24 kampung tersebar dipesisir dan pulau-pulau kecil yang ada ditengah danau.

 1. Kampung (Yo)

Danau Sentani danau yang besar. Dengan kampung-kampung yang amat indah. Di ujungnya terdapat kampung Yoka. Tempat menuntut ilmu. Waena – Sebeaiburu dan Puay. Ayapo–Asei Kecil dan Asei Besar . Netar – Ifar Besar dan Ifar Kecil. Siboi-Boi – yobeh – Sere dan Yabuai. Ifar Faborongko dan Puyoh Pesar. Puyoh Pecil – Abar – Simporo – Babrongko. Dondai dan Kwadeware dan Yakonde. Sosiri dan Doyo empat kampung

Sub suku bangsa sentani mendiami seluruh wilayah sekitar danau sentani dan di beberapa pulau dari danau ini. Sub suku bangsa ini terbagi terbagi dalam tiga penggolongan besar, yaitu sentani timur, sentani tengah dan sentani barat. Saat ini terdapat 27 kampung asli dengan struktur pemerintahan adat berlapis tiga. Dua kampong terletak di wilayah kota jayapura dan 25 kampung  berada di wilayah kabupaten Jayapura.(Purnomo dkk, 2010: 39).

Kampung adalah suatu tempat pemukiman tetap kesatuan sosial yang jumlah anggotanya relatif tidak besar. Mereka saling mengenal dan bergaul, dengan latar belakang budaya yang bersifat homogen. Latar budaya itu menyebabkan terwujudnya suatu pola perkampungan tertentu.

Para anggota suatu kampung  biasanya terikat oleh suatu wilayah, sehingga ada rasa cinta, rasa bangga terhadap wilayah pemukiman mereka, dan suatu kepribadian umum. Namun, ada pula kampung yang anggotanya benar-benar masih terjalin dalam ikatan kekerabatan yang jelas. Pada masa lalu, mereka bisa memenuhi sebagian besar kebutuhan di sekitar lingkungan pemukiman itu. Mereka hidup dari mata pencaharian bercocok tanam, berburu, meramu sagu, atau menangkap ikan. Kampung dapat disebut salah satu contoh komunitas, dalam hal ini komunitas kecil.

Pada sejumlah suku bangsa di Indonesia, istilah kampung digunakan untuk menamakan tempat pemukiman seperti tersebut di atas. Suku bangsa yang menggunakan istilah kampung itu antara lain: Sangir-Talaut, Minahasa, Banjar, Melayu Riau, Tamlang, Palembang, dan Gayo. Beberapa suku bangsa lain menggunakan istilah kampong, tetapi dengan sedikit perubahan pengucapan, misalanya kampong (Sumbawa), kampuang (Aneuk Jamee), gambong (Aceh), kambungu (Gorontalo).

Ratusan suku bangsa lainnya di Indonesia tentu juga mempunyai tempat pemukiman tetap seperti komunitas kecil tersebut, yang sudah ada secara tradisional. Namun berbagai suku bangsa itu menggunakan istilah tersendiri, misalnya negeri (Seram), tiyuh (Lampung), nuch (penduduk Teluk Humbolt), Yo (Sentani) dan lain-lainnya di Papua (Eni, 1997: 105).

 2. Desa

Menurut definisi resmi dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979  desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat, termasuk kesatuan masyarakat hukum, yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri, dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah pengertian desa menurut pandangan administrasi pemerintahan.

Ahli sosialogi lebih memusatkan perhatiannya pada “masyarakat desa” sebagai suatu unit sosial,  yaitu sekelompok manusia yang hidup bermukim secara menetap dalam wilayah tertentu, yang tidak selalu sama dengan wilayah administrasi setempat, dan mencakup tanah pertanian yang kadang-kadang dikuasai secara bersama.

Beberapa umum ciri desa yang universal sifatnya : (a) desa pada umumnya terletak di atau sengat dekat dengan pusat wilayah usaha tani; (b) dalam wilayah itu, pertanian merupakan kegiatan ekonomi yang dominan; (c) karenanya, faktor penguasaan tanah menentukan corak kehidupan masyarakat; (d) tidak seperti di kota atau kota besar, yang sebagian besar penduduknya merupakan pendatang, populasi penduduk desa bersifat “terganti dari dirinya sendiri”; (e) kontrol sosial bersifat personal atau pribadi dalam bentuk tatap muka; (f) desa mempunyai yang relatif lebih ketat dari pada di kota (Eni, 1997: 309).

Di Sentani pernah dipraktekkan bentuk desa, yang merupakan penggabungan dari beberapa kampung. Desa-desa itu terkesan tidak mengalami perubahan dan perkembangan, karena status kampung merupakan wujud komunitas yang sama sekali berdiri sendiri sebagai suatu negara kecil yang sangat dicintai dan dibela oleh warganya, dan Ondofolo merupakan pemimpin pemerintahan adat tertinggi tidak berada dibawah siapa pun. Aktivitas-aktivitas yang didukung oleh kekuatan magis serta bentuk aktivitas yang mengarah pada ritual dilakukan dengan sangat rahasia. Prestasi-prestasi kampung yang bersifat komural adalah hasil dari musyawarah tertutup yang sifatnya religious magis, yang tidak boleh diketahui oleh pihak lain. Itu sebabnya, balai desa yang didirikan untuk menunjang aktivitas desa, tidak menjadi bermanfaat bagi masyarakat Sentani.

 C. Pola Hidup

Masyarakat asli suku sentani bertempat tinggal di pingir-pinggir danau maupun tepian pulau-pulau. Untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka yakni dengan mencari ikan, maupun kerang (kheka) dan bia (fele). Selain itu juga, masyarakat suku sentani mengerjakan lading, menanam ubi-ubian seperti singkong/ketela pohon (kasbi), betatas, keladi, pisang, ubi jalar, sayuran (sayur lilin, sayur, patola, bayam merah, dll). Masyarakat suku Sentani memiliki hutan sagu yang luas. Pohon sagu adalah pohon yang isinya setelah di proses diambil sarinya seperti tepung. Sari dari sagu ini kemudian dijadikan makanan, antara lain papeda, atau juga sagu bakar (forna, dan sinole). Sagu yang dibuat papeda biasanya dimakan bersama dengan ikan. Bagi orang lain, mereka akan pikir-pikir dan mempertimbangkan baik-baik sebelum makan papeda, sebab kelihatannya seperti lem. Jangan-jangan ketika makan tenggorakannya tidak berfungsi.

Tanaman sagu dan ikan di wilayah Sentani tidak ditanami, tapi sudah disediakan oleh Sang Pencipta buat suku ini. Ikan-ikan dan segala isi danau tidak dikembangbiakan, tetapi tidak pernah habis walaupun setiap hari jutaan ekor ditangkat.

Sosial budaya masyarakat yang sifatnya heterogen merupakan salah satu aspek yang potensial. Orang Sentani mengenal adat perkawinan ideal yang disebut miyea waimang  yaitu tempat seorang laki-laki mengambil istri. Klen-klen tertentu berfungsi sebagai pemberi wanita.

 

BAB III

KEBUDAYAAN SUKU SENTANI (PHUYAKHA BHU)

 A. Sistem Pemerintahan Adat Suku Sentani

Sistem kepemimpinan tradisonal di Papua menurut Mansoben (Tabloitjubi, 2008) dibagi dalam beberapa tipe antara lain 1. Tipe kepemimpinan Raja atau sistem kepemimpinan atas dasar pewarisan,  2. Sistem kepemimpinan  Big man atau pria berwibawa dan 3. Kepemimpinan campuran. system kepemimpinan atas dasar pewarisan merupakan system kerajaan (perdagangan di waktu lalu) di Raja Ampat, di Fak Fak, Kaimana atau system  Ondoafi atau Ondofolo di Sentani dan wilayan Kebudayaan Tabi termasuk Genyem  yakni Demou Tru merupakan jabatan tertinggi dalam masyarakat Namblong yang hanya diduduki oleh Wai Iram, kadangkala dianggap jabatan kekal.

Struktur pemerintahan adat yang berlapis tiga itu adalah pertama adalah kepada adat yang disebut Ondoafi/Ondofolo; kedua adalah kepala suku yang disebut koselo, dan yang ketiga adalah kepala keret yang disebut akhona. Ondofolo membawahi 5 kepala suku, dan kepala suku membawahi 5 kepada keret. Kepala keret ini memimpin beberapa keluarga. Jadi kalau dibuat sandi pemerintahannya ada 155 (satu lima-lima). (Pilipus Kopeuw). Jadi Ondoafi dan kepala-kepala suku adalah berdarah biru, sebab mereka termasuk keturunan para raja di Sentani. Kepemimpinannya bersifat hirarki.

 B. Alat Pembayaran

Masyarakat suku Sentani ini memeliki alat pembayaran sendiri. Sering disebut dengan manic-mani, tomako batu, dan gelang batu. Manik-manik ada tiga macam, yaitu ada yang namanya haye, hawa, nokhong. Sedang tomako batu ada tiga jenis, yaitu, ada yang pendek (yun seki), ada yang sedang (relae) dan ada yang agak panjang (Ebha bhuru). Sedangkan gelang batu disebu “Ebha”. Alat pembayaran ini masih dijaga dan terus dipraktekan dalam pembayaran mas kawin dan harta kepala.

 C. Budaya Bayar Mas Kawin

Budaya bayar mas kawin sampai saat ini belum ada nilai uang yang sepandan dengan nilai dari manik-manik dan tomako batu yang digunakan sebagai alat pembayaran. Sekarang mari kita coba analisis nilai ekonomisnya. Kalau ada sepasang kekasih yang mau menikah, secara adat diminang dulu.Pertama sekali pihak laki-laki dan keluarganya harus datang ke rumah keluarga pihak perempuan untuk meminangnya. Sebelum kedatangannya pihak laki-laki, pihak perempuan dan keluarga siap segala sesuatu untuk acara pertemuan tersebut yaitu makanan, sirih, pinang dan kapur, dan lain-lain. Padahal pihak laki-laki belum memberikan pembayaran apa-apa kepada pihak perempuan dan keluarganya.Kedua, setelah pinangannya diterima, ditentukan langkah selanjutnya untuk pembayaran mas kawin. Sebelum pembayaran mas kawin dilaksanakan, maka pihak perempuan dan keluarganya terlebih dahulu harus mengantarkan makanan. Makanan yang diantarkan itu berupa  babi beberapa ekor, daging ayam, daging ikan, beras beberapa karung, sagu beberapu karung, pisang beberapa tandang, gula, teh, kopi, susu dalam jumlah taksiran tertentu. Semua barang ini untuk berapa jumlah banyaknya tidak ada ketentuan yang baku.  Ketiga, pihak laki-laki datang ke pihak perempuan untuk membayar mas kawin. Jenis pembayarannya antara lain: yakha ha terdiri dari satu hawa + 5 haye sebanyak 10 pasang; Yakha ukhelau terdiri dari 10 hawa,  1 mefoli + 1 hawa sebanyak 10 pasang; Yakha mefoli; Rojeng; dan pembayaran dalam rumah atau disebu imae ei. Setelah pembayaran ini berlangsung pihak perempuan menyediakan makanan untuk pihak laki-laki untuk disuguhkan selama kegiatan pembayaran mas kawin berlangsung. Setelah pembayaran mas kawin selesai, pihak laki-laki adan keluarganya yang pulang masih diberikan lagi makanan.

Dari uraian singkat tentang proses pembayaran mas kawin di atas, coba di analisis dari segi ekonomis, pihak siapa yang lebih rugi, apakah bagi pihak perempuan mendapat untung? Dalam budaya manapun, biasanya pihak perempuan dan keluarganya yang mendapatkan mas kawin. Dan itu menguntung di pihak perempuan dan keluarganya. Bagaimana dengan tradisi pembayaran mas kawin di atas? Menurut saya dari pengeluaran pihak perempuan yang banyak untuk pihak laki-laki, jelas tidak memberi untung sama sekali. Kelihatannya mereka di bayar mas kawinnya dengan menerima manik-manik dan tomako batu. Tetapi coba dipikirkan berapa banyak biaya yang dikeluarkan oleh pihak perempuan untuk membeli  babi, beras, pisang, gula teh, kopi, roti, susu, transport dan lain sebagainya, ujung-ujungnya hanya terima benda-benda mati yang tidak bisa menggantikan pengeluaran mereka semua.

Budaya ini harus dirombak karena tidak ekonomis. Pihak perempuan yang harus menerima dan menikmati harta mas kawin jangan dibuat susah lagi. Pihak perempuan harus merasa bahagia dengan menerima mas kawin. Orang tua yang membesarkan anak perempuannya harus mendapat penghormatan dari pihak laki-laki yang akan memperistrinya sebagai sebuah bentuk tanggung jawabnya. Dengan demikian, budaya antar makanan dan pembayaran dengan manik-manik dan tomako batu harus di modifikasi dalam bentuk uang agar lebih ekonomis dan berguna serta tidak berkepanjangan prosesnya.

 Budaya perkawinan adat sentani dibagi dalam dua bagian:

I. Perkawinan anak kepala suku atau Ondofolo, pada perkawinan ondofolo atau anak Ondofolo yg tertua diawali dengan, pihak laki-laki pergi meminang seorang wanita yang akan menjadi istrinya. pesuru adat(Abhu akho) membawa manik-manik 1 ikat sebagai tanda pengenalan akan orang tua laki-laki dan perempuan, manik-manik yg diantar pesuru ada satu paket, dalam satu paket biasanya ada 3 manik-manik dengan warna yang berbeda :

-Warna Biru          Namanya         NOKHONG
-Warna Hijau        Namanya         HAWA
-Warna Kuning     Namanya         HAYE

Ini adalah seperangkat alat pembayaran yang nilainya sangat tinggi kalau dibandingkan dengan Rupiah. Setelah proses pertama disetujui oleh pihak perempuan, maka pihak perempuan mengantar siwanita kepada pihak laki-laki, dan selama satu minggu pihak perempuan akan mencari Ikan dan Makanan untuk memberi makan pada pihak laki-laki. Habis dari pemberian makanan kepada pihak laki-laki. Maka mereka masuk pada tahap terakhir yaitu pembayaran harta maskawin yang akan dibayarkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, dalam pembayaran maskawin ini biasanya pihak laki-laki membayar tiga kali pembayaran :

    1. Bayar kepada orang tua perempuan disebut dengan MABHO KHOKOUW.
      Mabho Khokouw Biasanya pihak laki-laki datang bayar kepada orang tua    perempuan, dan lima(5) Anak bungsu dalam keluarga orang tua perempuan itu..
    2. Bayar kepada anak laki-laki yg tertua dalam suku itu yang disebut YAKHA MERUBOY
      Yakha Meruboy Pembayaran yang dilakukan kepada Anak-anak sulung dalam keluarga atau kepala-kepala suku (Khose) dalam kaluarga atau marga itu.
    3. Bayar kepada Ondoafi yang disebut dengan EBHA.
      Ebha pembayaran yang dilakukan atau dibayar kepada ondoafi, biasanya dibayar dengan Gelang batu. (Rudi Walli, 2011)

    II.  Jenis  pembayaran ke dua yaitu pembayaran kepada anak yang bukan dari turunan Ondoafi,  sama dengan pembayaran di atas cuman kepala suku dalam keluarga yang disebut KHOSE menerima Yakha berupa tomako batu, sedangkan Ondoafi menerima Yakha berupa Gelang Batu.

    D. Budaya Bayar Harta Kepala

    Jika ada orang sentani meninggal, pasti ada pembayaran kepala.Biasanya yang menerima pembayaran kepala adalah pihak pamannya dari keluarga yang meninggal.Untuk menerima pembayaran kepala, keluarga pamannya harus mengantarkan makanan. Model dan caranya hampir sama dengan proses pembayaran mas-kawin di atas. Lucunya lagi, mereka baru kehilangan orang mereka sayangi, dibebani lagi harus membayar kepala kepada pihak paman-pamannya. Budaya ini tidak ekonomis sama sekali. Karena tidak ada untung dan sepertinya hanya membuang-buang biaya lagi untuk orang yang sudah mati maupun kepada paman-paman yang tidak menjaga atau menghidupinya.Selama hidupnya dia berjuang sendiri dengan keluarga hingga titik darah penghabisannya.Sudah mati pun keluarga pamannya masih datang menuntut untuk membayar harta kepalanya.

    Saya merasa tidak diuntungkan dengan penbayaran kepala.Lebih baik oleh dewan adat Sentani (DAS) hal ini di seminarkan dan diputus untuk di tiadakan dari dalam budaya Sentani di era modern ini.Biarkanlah budaya ini tercatat dalam sejarah saja. Biarlah itu menjadi pelajaran bagi anak-cucu Sentani ke depan.Dari uraian di atas, bagaimana tanggapan anda? (Pilipus Kopeuw, 2010)

    Menurut Bupati Jayapura Pembayaran kepala (yua/yum) adalah suatu kegiatan menyangkut salah satu kebiasaan adat istiadat orang-orang Sentani pada umumnya. Kebiasaan ini bukan merupakan tuntutan terhadap yang merugikan salah satu pihak, tetapi sebagai penghargaan kepada pihak keluarga perempuan.
    Sampai saat ini budaya tersebut masih terus dipertahankan, karena sangat mengikat kehidupan sosial antara pihak laki-laki dan perempuan di setiap komunitas masyarakat adat di Sentani (Matius Awaitouw, 2013).

    E. Pendidikan di Khombo berpola Asrama

    Khombo adalah rumah tempat belajar khusus kaum pria suku Sentani. Setiap anak laki-laki yang berumur ± 10 tahun harus masuk dalam khombo. Lama pendidikan di khombo ada dua versi, ada yang mengatakan pada usia 19-20 tahun mereka akan keluar dari Khombo dan ada yang mereka selesai kira-kira pada usia 40 tahun. Khombo adalah nama rumah tempat dimana kaum pria atau pemuda sentani tinggal untuk di didik. Khombo ini semacam rumah adat, mungkin juga “obhe” tapi dalam bentuk tertutup. Khombo ini pernah sekitar tahun 1800-an dan generasi terakhir ± tahun 1920-an. Yakni jaman tete Ambrosius Suebu yang lahir tahun 1901. Penggeblengan di khombo ini adalah semacam wajib bagi kaum laki-laki.

    1. Tipe Rumah Khombo

    Tipe rumah khombo ini semacam sekolah, tapi berbentuk rumah adat. Rumah atau konstruksi bangunannya besar dan memiliki banyak bilik untuk belajar dan tempat tinggal. Rumah di bangun tanpa jendela dan hanya ada pintu saja. Konon menurut cerita ada bekasnya di kampung Yobhe.

    2. Isi Pengajaran Atau Kurikulum Di Khombo

    Adapun isi pengajaran di khombo adalah: (1) Diajarkan bagaimana cara berperang; (2) Diajarkan bagaimana cara bertani; (3) Diajarkan bagaimana cara berburu; dan (4) Diajarkan tentang batas-batas tanah dan kepemilikan/geografi, dll

    Para laki-laki sentani yang menjadi siswanya di ajar dalam kelompok-kelompok berdasarkan suku dan usia masing-masing. Guru yang menagajar adalah tua-tua masing-masing suku. Jadi setiap anak-didik dibagi berdasarkan sukunya. Dalam belajar, mereka tidak digabung bersama-sama, kecuali dalam pelajaran umum. Misalnya, belajar tentang batas-batas tanah, dusun, dll. Misalnya ada Suku Nelem Aniyokhu, gurunya adalah tua-tua dari suku nelem aniyokhu, kalau dari Suku Raklebei maka gurunya adalah tua-tua dari suku rakhelebei, begitu juga buat suku-suku yang lainnya.  Kemudian untuk anak-anak kose-kepala suku diajar secara lebih khusus lagi, karena anak kose-kepala suku adalah calon pemimpin menggantikan ayahnya kelak. Hal berlaku untuk semua anak kose-kepala suku di Sentani. Info tambahan, katanya guru-guru yang mengajar di khombo adalah orang-orang Ambon atau orang. Info ini belum ada bukti kebenarannya.

    Di khombo mereka belajr aturan-aturan adat dengan sangat baik. Kadang jam empat pagi, mereka keluar dari khombo membuat jalan-jalan sebagai pembatas tanah antara suku satu dengan suku lainnya. Sambil membuat jalan, guru-guru mereka akan akan mennujukkan dan menjelaskan bahwa batas tanah dan wilayah ini adalah milik suku ini dan itu. Tujuan adalah jika sudah selesai dari pendidikan di khombo, maka mereka akan tahu persis tanah dan dusun ini milik siapa, sehingga mereka bisa hidup berdampingan dan penuh keharmonisan.

    Khombo sudah tidak ada lagi, tetapi hasil didikan di khombo dapat terlihat dari kehidupan para tua-tua kampung sentani yang sekarang. Mereka dapat menjelaskan dengan baik batas-batas tanah dan dusun lengkap dengan siapa pemiliknya. Cerita-cerita tersebut ibarat sertifikat tanah. Karena jaman itu jaman bukan jaman pemerintahan manapun atau seperti sekarang ini setelah Sentani juga masuk dalan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mewajibkan tanah adat harus ada bukti sertifikat. Penjelasan tentang batas tanah dusun dan pemiliknya dari tua-tua adat suku sentani merupakan sertfikat secara adat.

    Di khombo, para anak didik tidak belajar baca dan tulis. Mereka belajar mendengarkan, melihat dan melakukan. Lebih di tekankan pada nilai sikap-afektif dan psikomotor-skill. Disini daya ingat di pertajam dan dikembangkan. Mereka juga mengenakan pakaian adat yang disebut “yo malo”. Yo mala ini adalah media untuk mengenal jati diri dan asal suku mereka. Sama halnya dengan kita mengenal pakaian adat  suku yang ada di Indonesia atau lebih spesifik kita bisa mengenal orang dari pakaiannya seperti tentara, suster-mantri, polisi, PNS Pemda, dokter, dll.

    Pendidikan di khombo ini dimulai sejak Sentani ada. Belum ada data yang akurat tentang kepatian tahun ada khombo secara historis. Inti yang diajarkan di khombo adalah nilai etika yang tinggi. Misalnya dalam hal berkebun, tidak boleh mengambil hasil kebuh seperti kelapa tua atau pisang yang rubuh dari jatuh di atas tanah milik orang kalau itu bukan tanaman miliknya. Mereka juga mengajarkan hak asasi manusia sehingga di jaga dengan baik. Tidak boleh mengganggu anak gadis orang dengan sembarangan dan masih banyak hal lain lagi. Derajad atau kasta sangat dihormati dan dihargai. Masyarakat Suku Sentani hidup dalam tatanan dan norma adat yang sangat dijunjung tinggi. Jadi, siapa yang melanggarnya bisa kena sangsi atau kutuk.

    Selama penggemblengan di khombo, kalau siswa tersebut berbuat salah kadang dipukuli bahkan bisa sampai mati. Jika ada yang mati dalam khombo hal itu tidak diberitahukan kepada orang tuanya. Namun dikuburkan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Hal-hal buruk lainnya yang sering dilakukan oleh para siswa dikhombo yaitu: (1) pemimpin khombo menyuruh anak buahnya mengadakan survei ke kebun-kebun masyarakat untuk melihat kebun mana yang bisa di panen. Versi lainnya biasanya siswa yang belajar di khombo punya kebun sendiri. Ketika mereka hendak keluar untuk membuat kebun, maka tidak ada satu masyarakatpun yang keluar dari kampung ke tempat dimana mereka berkebun. Jadi, siswa di khombo mereka menghidupi diri mereka sendiri melalui pendidikan dan skill yang diajarkan; (2) saat tengah malam, para siswa yang ada di khombo ini berangkat untuk panen di kebun yang sudah di surnei pada point satu; saya sendiri kurang yakin dengan versi ini, jika dilihat dari isi pendidikan khombo yang sesungguh; (3) siswa yang sudah mati dalam pendidikan di khombo tidak diberitahukan kepada pihak keluarganya. Selama pendidikan di khombo siswa tidak pernah bertemu dengan orang tua dan keluarganya. Bisa dibayangkan setelah 19-20 atau 40 tahun baru bertemua dengan orang tua dan keluarga, bagaimana mereka bisa saling mengenal. Biasa yang tahu hanya guru-gurunya. Biasanya selesainya seseorang dari khombo ditandai dengan pemangkasan rambut.

     3. Dewan Adat Atau Pemerintahan Adat Mengatur Banyak Hal

    a. Tentang Perkawinan

    Kini timbul pertanyaan, bagaimana siswa di Khombo mendapatkan istri jika mereka harus belajar hingga usia nya mencapai 40 tahun? Biasanya bagi para siswa ini calon istrinya dipersiapkan oleh orang tua mereka dirumah. Calon istrinya ini sudah bekerja di rumah rang tuanya selayaknya seorang ibu rumah tangga, sambil menunggu sang suami selesai dari pendidikan di Khombo ime. Kadang dewan adat atau pemerintahan adat juga turut campur tangan untuk keperluan kelanjutan generasi penerus dari siswa di khombo.

    b. Tentang Kelahiran Dan Jenis Kelamin Anak Bisa Dikendalikan Dewan Adat

    Melalui kekuasaan dewan adat, penambahan anak dalam kampung maupun tiap suku dapat diatur dan dikendalikan perkembangan populasinya. Biasanya dewan adat memantau atau mengadakan sensus penduduk untuk menghitung perkembangan penduduk kampung secara menyeluruh maupun kelompok berdasarkan suku masing-masing. Mereka men sensus berapa jumlah anak perempuan atau anak laki-laki dalam masing-masing suku.

    Jika perlu penambahan atau pengurang jumlah kelahiran, biasanya dibuat pesta besar dan mengundang seluruh ibu-ibu untuk makan bersama yang mana di dalam makanan tersebut sebelumnya sudah di beri mantra-mantra sesuai dengan tujuan. Jika tujuan mereka untuk menambah anak laki-laki dan perempuan, maka ketika ibu-ibu itu mengandung akan lahir anak-anak sesuai dengan tujuan dan keinginan dewan adat. Jadi untuk mendapatkan anak laki atau perempuan, semuanya itu bisa di kendalikan. Selain itu, jika populasi dari suatu suku dinilai terlalu banyak, maka jumlah populasi suku tersebut bisa di kurangi. Apakah dengan kematian atau pengaturan jarak kelahiran.

    F. Obhe Tempat Para Bapa

    Pada jaman dahulu di Suku Sentani para bapa biasanya berkumpul di Obhe atau rumah besar Ondoafi. Disini mereka tinggal, makan dan tidur. Bapa-bapa ini selalu ada dalam perhatian dewan adat atau pemerintahan adat yang diketuai oleh Ondoafi. Mereka melihat, jika ada para bapa yang agak lama tinggal di obhe biasanya disuruh pulang dengan bahasa yang halus. Tujuannya adalah untuk melihat istri dan anak-anaknya. Jika bapa yang pulang itu, terlalu lama dirumahnya, maka ia akan dipanggil balik ke obhe dengan cara yang halus juga. Misalnya: “Bapa sudah tinggal lama sekali dirumah…. Bapa punya kelompok sedang berkumpul di obhe itu..?”

    Cara inilah yang sering digunakan dewan adat supaya Bapa-bapa bisa membagi kasih-sayang mereka kepada istri dan anak-anak mereka dan kepentingan keluarga lainnya. Tujuan lain juga yang lebih adalah untuk melanjutkan keturunan baru.

    Dampak Negatif Dari Dewan Adat Atau Pemerintahan Adat

    Melalui dewan adat juga dapat memusnakan generasi suatu suku bila dilihat populasi generasinya terlalu banyak. Misalnya: ada salah satu suku, terdata bahwa terlalu banyak kaum lelakinya atau kaum perempuannya. Maka melalui dewan adat dapat menguranginya dengan menggunakan kekuatan adat atau phulo/hobatan/opo-opo/guna-guna/santet. Tujuannya agar ada keseimbangan jumlah populasi antar suku. Hal ini masih ada di sentani. Sampai sekarang masih ada di era modern dan era globalisasi ini dan dikenal dengan sebuatan “gunting-mengunting atau siku-menyiku”. Sehingga sebagian besar anak-anak sentani tidak bisa maju dalam berbagai bidang. Dan ini menjadi trend dan filosofi di kalangan masyarakat asli sentani. Jika ada anak atau keluarga lain yang dilihat berhasil, keluarga yang lainnya iri hati dan mencari jalan untuk mengguntingnya atau menggagalkan mereka untuk supaya tidak berhasil atau tidak sukses.

    Filosofi seperti ini tidak dapat membawa kemajuan bagi masyarakat suku sentani. Cara-cara seperti ini akan membuat anak-anak sentani menjadi penonton di atas tanah nenek moyang sendiri. Mereka bukanlah para regulator dan operator dalam pemerintahan di atas tanah mereka sendiri. Filosofi ini harus dihapus, supaya mereka tidak tertindas di atas tanah mereka sendiri.

    Generasi baru, marilah kita berjuang menyamakan persepsi, mari kita bergandengan tangan menjadi satu untuk menjadi para regulator dan operator di segala bidang. Mari kita bersama membangun dan menyelamat generasi kita yang sekarang ini dan juga menyiapkan tempat bagi anak cucu kita selanjutnya. Mari kita berjuang bersama memeranginya supaya anak-cucu kita di kemudian hari bisa maju sekarang ini, kemudian hari dan disini. Bukan besok atau disana, atau nanti tapi sekarang dan disini.

     G. Banyak Nama Suku Dalam Masyarakat Asli Sentani

    Saya membaca banyak artikel dan komentar-komentar baik dari orang asli Sentani, peneliti, para penulis artikel dan para wartawan, termasuk saya sendiri juga dalam sebutan terhadap orang asli Sentani disebut dengan sebutan “SUKU SENTANI”. Setelah melalui perenungan, review kondisi riil dan analisa terhadap artikel-artikel tentang “suku Sentani” saya mendapat temuan tentang adanya kesalahan dalam sebutan suku Sentani. Yang benar sebutannya adalah “MASYARAKAT ASLI SENTANI DARI PUAY SAMPAI YAKONDE” atau SUKU-SUKU DI SENTANI. Sebutan SUKU SENTANI ITU SALAH. Sebab sesungguhnya tidak ada suku sentani, yang ada hanyalah masyarakat asli yang mendiami wilayah Sentani atau penduduk asli daerah sentani. Penduduk asli wilayah sentani adalah orang-orang yang mendiami wilayah atau daerah yang bernama Sentani. Dalam bahasa Sentani, arti kata Sentani tidak ada dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Sentani. Orang sentani secara khusus menyebut dan mengenal sentani dengan sebuatan “PHUYAKHA”. Phuyakha itu dua kata dari Phu dan Yakha. Phu artinya “air”. Dan Yakha artinya :terang, kelihatan, nampak.

    Sentani bukan nama suku tapi nama tempat yang kemudian disebut Phuyakha. Disebut PHUYAKHA karena dulu wilayah Sentani ini masih hutan ketika terjadi exodus dari arah Nyoah dan Moso di Papua New Guinea melewati Wutung, Kayu Batu, Nafri hingga masuk ke wilayah Sentani. Danau Sentani belum ada penghuninya. Danau sentani masih sangat alami. Setelah mereka mulai bermukim di danau Sentani, maka pohon-pohon ditebang, rumah-rumah mulai dibangun ditepi-tepi danau Sentani. Akhirnya danau Sentani kelihatan ada penghuni. Dari perkembangan ini akhirnya disebut “PHUYAKHA” yang artinya wilayah yang bebas dari liputan pepohonan yang penuh dengan hamparan air. Jadi Phuyakha ini bukan suku tapi nama tempat.

    Sentani bukanlah suku karena di setiap kampung dari Waena, Sebeiburu, Puay, Ayapo, Asei Kecil dan Besar, Netar, Ifar Besar dan Ifar Kecil (Ifale), Hobong, Yobhe, Yabuay (Yahim), Putali, Abar, Atamali, Yoboi, Simporo, Babrongko, Dondai, Kwadeware, Yakonde, Sosiri, Doyo Empat Kampung masing-masing mempunyai Ondofolo/Ondoafi dan Kose. Tiap Ondofolo (Kepala adat) memiliki suku sendiri, tiap Kose (Kepala Suku) memiliki nama suku sendiri-sendiri. Dalam satu kampung ada satu Ondofolo dengan lima Kose. Berarti dalam satu kampung bisa memiliki lebih dari lima suku. Kalau dihitung berdasarkan jumlah kampung yang ada di wilayah sentani berarti terdapat 23 kampung. Jadi, 23 kampung dikalikan 5 suku jadi ada 115 suku yang ada di wilayah Sentani, namun demikian bisa juga dipilihnya nama Sentani karena alasan untuk mempermudah penyebutan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar danau Sentani (Phuyakha).

     F. Alat Transportasi

    Melihat kondisi wilayah sentani yang berupah danau dan pulau-pulau maka alat transpotasi laut yang digunakan adalah perahu. Perahu ada dua jenis. Jenis pertama untuk kaum Bapa, biasa di sebut ifa. Sedang perahu untuk kaum Ibu disebut khakai. perahu ini tidak memiliki alat bantu untuk menjaga keseimbangan.

    Perahu untuk kaum bapa bentuknya agak kecil dan memanjang. Di desain khusus untuk satu atau dua orang. Dan untuk mengendarai perahu ini dibutuhkan orang yang terlatih. Terlatih dalam hal menjaga keseimbangan sambil berdayung atau juga saat menghadapi ombak. Bagi kaum awam, akan merasa unik melihatnya, dan mungkin akan heran dan bertanya-tanya bagaimana caranya orang bisa menggunakan perahu ifaa ini? Perahu ifaa ini juga mengandung makna filosofi bahwa kaum laki-laki suku sentani selalu mampu menjaga keseimbangan dalam perjuangan hidup. Perahu kaum bapa ini biasa digunakan untuk ke tengah danau guna mencari ikan dengan menyelam dan menyumpit ikan di dalam air, dan juga aktivitas kaum bapa lainnya. Perahu ifaa ini bentuknya kecil, sehingga muda sekali kemasukan air jika ada ombak. Untuk itu biasanya, sang Bapa yang berdayung akan berhenti sejenak, dengan mengeluarkan satu kaki dan menaruhnya di luar perahu, satu tangan memegang penggayung dan satu tangannya lagi mengeluarkan air dari dalam perahu dengan alat yang disebut “kinggaei”.

    Perahu bagi kaum perempuan atau khakai bentuknya agak besar. Juga tidak memiliki alat bantu untuk menahan keseimbangan. Kenapa perahunya besar, karena dapat digunakan untuk berbagai aktifitas, seperti mengangkut hasil laut, mengangkut hasil kebun, atau juga bisa bisa digunakan keluarga untuk kunjungan atau kegiatan lainnya.

    Selain itu, dalam berdayung menggunakan perahu ala suku sentani, mereka juga terlatih untuk menhela, memecahkan ombak dengan pengayungnya. Jadi, saat mendayung, jika ada ombak besar mereka gunakan penggayung untuk menghela ombak, sambil menjaga keseimbangan agar tidak masuk ke dalam perahu, dan agar perahunya tetap stabil atau supaya tidak tenggelam.

    Sebenarnya secara budaya dan kebiasaan orang Sentani sudah sejak lama mengenal  perahu tradisonal mereka. Bagi masyarakat di Danau Sentani terdapat dua tipe perahu antara lain khusus bagi kaum laki-laki yang bentuknya lebih kecil dan sulit bagi orang awam. Sedangkan bagi kaum perempuan Sentani agak sedikit lebih besar karena biasanya digunakan untuk mencari makanan dan membuang jaring di dalam danau.

    Perahu-perahu kecil melintasi air danau yang tenang adalah pemandangan yang biasa dijumpai di sekitar Danau Sentani. Walau kini berperahu dan mendayung seakan-akan mendapat saingan dari motor tempel. Penduduk menggunakan perahu untuk mencari ikan, mengunjungi tetangga di pulau lain atau sekedar menyebrang ke daratan. Perahu untuk perempuan disebut Hayi. Sedang perahu untuk laki-laki dijuluki Iva. Perahu tradisional yang hanya bisa mengangkut dua hingga tiga orang ini merupakan sarana transportasi vital bagi penduduk setempat.

     G. Seni Tari Masyarakat Asli Sentani

    Festival Danau Sentani (FDS) menjadi agenda tahunan pemerintah Kabupaten Jayapura sejak tahun 2009 yang selalu dilaksanakan pada setiap bulan Juni. Di dalam kegiatan pesta budaya Sentani itu, lebih banyak di isi dengan acara tari-tarian dari masyarakat asli Sentani. Pada acara FDS ini juga, sempat mendengar ada keributan masalah tarian antara peserta tari dari kampung Hobong dan kampung Kensio. Inti masalahnya adalah siapa yang pantas membawakan tari-tarian tersebut. Jadi rupanya ada tari-tarian yang khusus dibawakan oleh orang tertentu dan ada yang tidak boleh sembarangan menari. Ini yang mengguga hati kami dan pada saat ini juga ingin mengguga hati anak-anak Sentani dan para ilmuan untuk mengamati kebenaran ini sehingga dapat mengurangi konflik. Sekaligus dapat mengembangkan budaya dengan baik dan benar. Kalau bisa seni tari Sentani ini dibukukan dan jika memungkinkan dapat dibuatkan teori gerak tarinya.

    Catatan-catatan berikut adalah catatan yang muncul dalam seminar yang kemudian dipindahkan dalam pembahasan ini. Tujuannya adalah, supaya dapat menjadi wacana untuk kita bicara budaya asli khusus bagian seni tari masyarakat asli Sentani. Pada bagian ini diberi uraian bahwa tari-tarian di Sentani dilakukan pada umumnya pada acara “Meyau Wakhu” atau sebagai ungkapan penghiburan pada masa berkabung. Tari juga bisa muncul pada tebaran ungkapan kisah prestasi dan prestise seorang pemimpin atau pada lakon ratapan saat menangisi jenasah seseorang laki-laki atau perempuan. Umumnya jenis tari yang dipentaskan adalah berkelompok, karena gerakan tari selalu disertai dengan nyanyi. Tifa, Kerambut, Akong Klika, Fou, Ai, Nindi-Nanda, Mele-Au, Ipoi-Monda, Ebe-Kohu, Orohalu-Mehalu, Khamea-Kahlau, Khu-Mandai adalah atribut dan asesoris tarian.

    Ada catatan-catatan penting dalam tarian:

    1. Menari adalah bagian dari suatu pemujaan dan penyerahan diri kepada suatu kekuatan yang disembah atau suatu pemujaan kepada sang pemimpin yang berprestasi, juga merupakan bagian dari ungkapan rasa berkabung;
    2. Menampilkan derajad aksi pada kehidupan para penari;
    3. Bagi kaum lelaki, tari merupakan promosi diri tentang kejantanan, karena ketika seluruh fisiknya kelihatan polos kecuali bagian aurat seorang laki-laki dalam tari tampil egoisme dan kebanggaan diri. Lantang dan lantun suara dan nada, menampilkan kelengkapan keperkasaan seorang lelaki.
    4. Bagi seorang putri, inilah dunia, kesempatan tampil penuh arti, memboboti kentalnya cinta sang pemuda, dengan lengking nada yang halus dan gerakkan yang lunglai. Kesempatan mencuri lirik di balik aksesoris yang mempercantik diri, kepada sang sinyo adalah hal yang biasa. Perempuan yang sudah kawin, lebih memilih menutupi wajah dengan aksesoris dan alat tutup dada yang lengkap, sebagai tanda seorang istri. Tapi bagi gadis yang telah dipinang, ada isyarat agar kebeliaan kecantikannya tak boleh menggoda, ia ada dalam ikatan dan janji pertunangan. Sebab itu, gadis yang telah diranjang dalam dunia calon istri, baginya ada mendung. Ia bisa dibatasi untuk tidak ikut menari dalam pandangan masa. Tetapi hasrat kemudaannya, dan emosi kecantikannya mendorongnya meminta fatwa pada mama untuk  turun pentas. Apa permintaannya yang meyakinkan mama untuk mengizinkannya turun pentas bersama teman sebayanya, ia memohon:

    Melewu foijea mokhoisobo

    Ana ralia yau nunde beayea erekhonde (3x)

    Au wu moijea khoisobo

    Ana waijau howalei beayea erehuklende

    Hiasi wajahku dengan mele,

    Di negeri orang aku menari dengan wajah tertutup

    Bedaki aku dengan au

    Dikampung orang aku berdansa dengan wajah terselubung

     

    Ada tarian perorangan, biasa dilakukan oleh kaum perempuan, umumnya pada masa berkabung, saat seorang ondofolo, khose, atau warga rumah yang baik, mereka diratapi.

    Ra Oleugwo yono omi menakhe melibele mokhoiboi miyae mewoyeaya

    Wa Rukhuneaite yomolo kundang puma-puma khayete, ana khaye

    Ra Rainyeate yamno meangge menakhe mekhaibele mokhoiboi meyae mewoyeaya

    Wa Heleainyaete Yammolo wamendang randamhirayekhe, ana hirayekheya

     Ada sebuah catatan, bagian tari ini mulai diambang punah, maka perlu dilakukan penggalian kembali. Orang Sentani memiliki banyak ragam tari antara lain:

    Nawalo, Fea bea, Kiklola, Obo Wailang, Khawaliang, Mande, Akhoi-koi (Ahabala), Ibobea (Herenokholoi), Omandepe, Khara, Kharelu, Timbun, Siya, Olkherando, Trusia, dll.

     Pemuda Sentani harus belajar bagian budaya ini, bila memiliki kemungkinan mendapat pengembangan baru (modifikasi) sebagai bahan tontonan kepada masyarakat penggemar wisata dan turis. Pengembangan dan peningkatan seni tari orang Sentani perlu mendapat perhatian dalam kreatifitas para pemuda.

     H. Seni Ukir Masyarakat Asli Suku Sentani

    Seni ukir dalam masyarakat asli Sentani, biasa sebagai medianya adalah kayu. Kayu disini adalah termasuk alat-alat yang digunakan oleh orang sentani. Alat-alat ini dapat sebagai media untuk seni ukir. Misalnya untuk hiasan dibuatkan pada sehelai papan; pada penggayung pria dan wanita; Pada tifa; Pada patung; pada perahu iva  maupun hayi dan pada tiang-tiang rumah. biasanya setiap ukiran mengandung gambar dan filosofi. Selain itu, setiap ukiran ada pemiliknya.

    Dalam perkembangan seni ukir suku Sentani,  kita mengenai kerajinan ukir di kulit kayu. Salah satu seni ukir atau kerajinan tangan dari Sentani yaitu kerajinan kulit kayu, kerajinan ini khasnya dari Sentani dan asalnya dari kampung Asei Besar distrik sentani timur. Kerajinan kulit kayu ini nama aslinya adalah khombow yang artinya ukiran kulit kayu, kerajinan tangan ini memuat berbagai macam motif atau gambar ukiran khas suku Sentani dengan pengertiannya masing-masing. 

    Bukan sembarang ukiran yang diciptakan dari tangan para pengrajin. Beberapa ukiran kulit kayu memiliki makna yang mendalam. Sebut saja jenis ukiran Iuwga (Keagungan/kebesaran seorang Ondofolo Asei), dan Kheykha (lambang kecantikan wanita Sentani). Ukiran ini cukup mudah ditemukan di beberapa destinasi wisata tersebar di Papua terutama di Jayapura. Seperti di Pasar Kerajinan Tradisional Hamadi, Anda akan dengan mudah mendapatkan ukiran kulit kayu ini. Harganya pun sangat bervariasi, tergantung ukuran besar/kecilnya kulit kayu tsb, besar lukisan dan jenis ukiran/ gambarnya. 

    Seni ukir ini tidak semua pemuda Sentani bisa. Sebab dibutuhkan cekatan melukis daun sagu, burung cenderawasih, ikan, kura-kura, cicak, tokek, buaya. motif daun sagu, siku burung, kura-kura dan lambang  kemakmuran. Lukisan seni bercorak mitologi, lambang kekerabatan, marga, nilai suci kematian, keseharian warga Sentani. Lambang kepercayaan tentang semesta. Lukisan kulit kayu dari Papua dianggap berpotensi menjadi warisan budaya dunia dan mendapat pengakuan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) seperti noken, mengingat lukisan itu hanya ada dikalangan masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura.

     I. Seni Patung Masyarakat Asli Suku Sentani

    Seni patung bukan saja dimiliki oleh suku Asmat, tetapi orang Sentani juga memiliki seni patung. di Kampung Baborongko dan Simporo di tahun 1978-1980-an saya masih melihat anak-anak muda memahat patung berbentuk manusia. Dulu ada kegiatan pemuda yang dibawahi oleh organisasi “Karang Taruna”. Nah, disini biasa dipamerkan berbagai seni hasil karya anak-anak Sentani. Kegiatan ini pernah dilakukan di Pantai Yahim. Kami pernah melihat, berbagai hasil karya seni dan patung ditampilkan di sana. Setiap kampong di danau Sentani, memiliki cirri dan keunikan sendiri dalam gambar-gambar ukiran maupun patungnya.

    Dahulu, setiap laki-laki Sentani dewasa membuat perahu, membangun rumah, dan menghias sendiri. Hingga semua laki-laki dewasa harus memiliki kemampuan mengukir yang dipelajari di pusat pendidikan anak laki-laki dan di rumah laki-laki yang dikelola masyarakat adat (Khombo/Obhe).

     

    BAB IV

    DINAMIKA BUDAYA SENTANI DI PAPUA DAN INDONESIA

     A. Sumbangan Budaya Sentani Untuk Indonesia

    1. Ukiran-Ukiran Sentani sudah dijadikan Batik. Batik Sentani merupakan produk unggulan yang juga menjadi perhatian masyarakat luar daerah maupun luar negeri. Mereka tertarik memakai batik tersebut untuk pakaian kantor, yang dikhususkan setiap hari Jumat memakai batik, bahkan secara formal dan nonformal (Elshampapua). Sudah di promosikan di Jakarta dan Singapura dalam pameran se-Asia.
    2. Kehidupan orang Sentani sebagai pendayung ulung Menurut pelatih dayung nasional Kristian Kolib (Jubi, 2012) secara antropplogis sebenarnya bagi orang Sentani tidak terlalu sulit untuk menggeluti cabang olahraga dayung. Pasalnya kata dia cara duduk dalam mendayung perahu tradisional Suku Sentani sudah cocok dan tinggal dipoles dengan teknik sudah mampu berprestasi.
    3. Budaya makan pinang jadi peluang bisnis dalam meningkatkan pendapatan keluarga.
    4. Danau sentani bisa menjadi sumber usaha perikanan
    5. Kepemimpinan Ondofolo dan Khose menjadi kepanjangan tangan pelaksanaan program pembangunan oleh pemerintah RI.
    6. Ikan gabus sudah menembus pasar Ibu Kota Jakarta. (siaran kuliner di TV swasta Nasional).
    7. Sentani menjadi Ibu Kota dan pintu gerbang perubahan. Karena memiliki Lapangan terbang Internasional.
    8. Pengembangan Pariwisata melalui pesta rakyat Festival Danau Sentani (FSD).
    9. Ukiran Kayu, Patung dan Kulit memiliki nilai jual yang tinggi ditingkat Internasional dan Nasional.

     B. Pengaruh Pendidikan dan Budaya Luar bagi Budaya Sentani 

    1. Fungsi Obhe digantikan dengan Kantor Polisi dan Lembaga Peradilan Negara.
    2. Pendidikan telah membunuh budaya bahasa ibu secara perlahan pergenerasi. Karena bahasa pengantar adalah bahasa Indonesia.
    3. Agama terlalu mengintervensi dan mengancam pelestarian budaya sentani
    4. Ondofo dan Kepala Suku tidak lagi mendapatkan upeti, mereka menghidupi dirinya sentani tetapi tanggung jawabnya tetap.
    5. Memproduksi masyarakat sentani dengan budaya agama dan budaya baru, dan lupa budaya bahkan sudah mulai  banyak generasi yang tidak tahu budayanya.
    6. Budaya naik perahu asli mulai terkikis dengan banyaknya alat transportasi air danau yg modern yaitu motor temple (motor boat) dan perahu modern (fiberglass).
    7. Perubahan saman semakin memperberat pelaksanaan budaya pembayaran, karena perbedaan antara nilai, fungsi dan manfaat dari alat pembayarnya.
    8. Budaya suku Sentani  mulai terkikis dan terancam punah, dan akankah ditinggalkan.
    9. Terjadi pemekaran Ondofolo dan Kepala Suku.
    10. Budaya jual tanah diatas jual.
    11. Penduduk Asli mulai termarginal.
    12. Pembangunan telah menghabiskan banyak hutan sagu.
    13. Danau Sentani mulai menjadi tempat sampah dan mulai tercemar.
    14. Budaya dan masyarakat Suku Sentani tidan diberdayakan dan hanya dijadikan obyek untuk menguntungkan orang luar.

     BAB V

    PENUTUP

    Filsuf Yunani kuno, Aristoteles menyebutkan adat-istiadat sebagai “kodrat kedua” dari manusia., sedangkan ahli pikir Inggris William James mengibaratkan adat-istiadat sebagai orda masyarakat yang menggerakan dan memberdayakan masyarakat (Ans, 2009: 98). Mortimer J. Adler berpendapat bahwa adalah tidak mudah mengubah suatu kebiasaan lama dan menggantikannya dengan yang baru.

    Budaya merupakan identitas diri suatu kelompok masyarakat. Di dalam konteks berbangsa dan bernegara, peranan kebudayaan-kebudayaan lokal amat penting. Kekayaan dan kekukuhan kebudayaan nasional Indonesia dibangun dan dibentuk dari kekayaan dan kekukuhan loKal dari seluruh nusantara, termasuk kebudayaan Papua. Kebudayaan Papua adalah kebudayaan yang tdk bisa terpisahkan dari kebudayaan nasional Indonesia, tidak berkembang bahkan terancam punah (Jacobus, 2006: 110-111).

    Hampir semua orang Papua Barat memahami adatnya masing-masing. Adat menjadi peraturan hidup, tata cara pergaulan, yang akhirnya menjadi pedoman hidup mereka (Yakobus, 2006: 237-238). Ada yang masih menilai Papua sebagai manusia saman batu hingga saat ini. Kebudayaan baru masuk membuat orang Papua lupa jati diri, dan mulai lupa adat.

    TETAPLAH BERNYANYI HITAM KULIT KERITING RAMBUT AKU RAS MELANESIA (PAPUA, MALUKU, MALUKU UTARA, NUSA TENGGARA TIMUR) TAPI JANGAN LUPA JADILAH PELAKU DAN PENJAGA BUDAYA SERTA TERUS LESTARIKAN BUDAYA TURUN-TEMURUN

     

    TERAKHIR ADA MOB

    Mama : Mina ko bantu mama masak ikan kuah, mama masih cuci pakean?

    Mina : iya mama (sambil lihat ikan yang sudah di atas wajan)

    Mama : ko kasi masuk garam satu senduk

    Mina : sudah….

    Mama : kasih fetsin sedikit saja

    Mina : sudah…

    Mama : sekarang ko kasih salam

    Mina : slamat siang ikan kuah……

     

    Bersama Mina saya juga ucapkan Terima Kasih atas Perhatiannya. Sekian dan Terima Kasih. (Helem Foi)

     

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Ans Gregory da Iry,2009. Dari papua meneropong Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

    Dominggus A Mampioper. Emas Dayung dan Perahu Orang Sentani dalam http://tabloidjubi.net/?p=45 11 September 2011 diakses pada Jumat 6 September 2013.

    Freddy Sokoy, 2011. Kebudayaan Papua. Bahan Seminar Komunitas Facebook Jayapura. Sentani. Jayapura Papua

    ElshamPapua. Batik Sentani memiliki Warna yang Khas dalam http://www.elshampapua.org/index.php/lingkungan/10-budaya/46-batik-sentani-memiliki-warna-khas diakses pada hari Jumat 6 September 2013

    Gabriel Maniagasi 2010. Mencari Identitas Melanesia dalam http://gabrielmaniagasi.blogspot.com/2010/08/mencari-identitas-melanesia.html diakses pada Jumat 6 September 2011 Jam 20.11 wit

    Jacobus Perviddya Salosa. 2006. Otonomi khusus Papua mengangkat martabat rakyat Papua di dalam NKRI.  Jakarta. Pustaka sinar harapan.

    Jhon Ibo. (2005). Sentani dulu sekarang dan akan datang. Makalah yang disampaikan dalam seminar mahasiswa asal Sentani 20-21 Januari 2005 di Sentani.

    Jhon Ibo. 2011. Manfaat Festival Budaya Sentani. Makalah Seminar Komunitas Facebook Jayapura. Sentani Jayapura Papua.

    Mansoben dalam http://tabloidjubi.wordpress.com/2008/05/11/masyarakat-adat-dan-lunturnya-nilai-adat-%E2%80%9Cironisnya-seringkali-mereka-dituding-perjuangkan-aspirasi-merdeka%E2%80%9D/ – Diakses pada hari Rabu 23 Februari 2011 oleh Pilipus Kopeuw – Jam 07:10 wib

    Matius Awaitouw. Bupati-Budaya Bayar Kepala adalah Penghargaan Terhadap Keluarga Perempuan dalam http://harianpagipapua.com/berita-3309-bupati-budaya-bayar-kepala-penghargaan-terhadap-keluarga-perempuan.html diakses padadi Yogyakarta pada hari minggu 1 September 2013 Jam 18.24 wib

    Melville J. Herskovits dan Bronislaw alinowski dalam http://rizqidiaz.blogspot.com/2012/05/-pengertian-budaya-kebudayaanadat.html

    Melanesia dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Melanesia diaksek pada hari jumat 6 September 2013. Jam 19.55 wit

    Pilipus M. Kopeuw. Kharisma pantekosta suku sentani. Artikel. 2001.

    Pilipus M. Kopeuw. Model pendidikan khombo imea modern bagi masyarakat suku sentani. Artikel. Juli 2008.

    Pilipus M. Kopeuw. Model pendidikan bagi masyarakat suku sentani di era otonomi khusus. Artikel. Agustus 2008.

    Pilipus M. Kopeuw. Pendidikan telah membunuh budaya asli sentani secara kontinu pergenerasi. Artikel. Oktober 2008.

    Pilipus M. Kopeuw. Sentani pada masa kini. Artikel. Oktober 2008.

    Pilipus M. Kopeuw. Sentani pasca gereja dan pendidikan. Artikel. Oktober 2008.

    Pilipus M. Kopeuw. Asal usul danau sentani versi sentani tengah. Artikel.  Juli 2009.

    Pilipus M. Kopeuw. Fungsi Obhe diganti dengan kantor polisi. Artikel. Februari 2010.

    Pilipus M. Kopeuw. Adakah nilai ekonomis dari implementasi budaya sentani. Artikel. September 2010.

    Pilipus M. Kopeuw. Sistem perkawinan dan pembagian harta mas kawin suku sentani. Artikel.Oktober 2010.

    Pilipus M. Kopeuw. Mengapa suku sentani lebih individual. Artikel November 2010.

    Pilipus M. Kopeuw. Pemberontakan dalam pemekaran Ondoafi dan kose di Sentani. Artikel Desember 2010.

    Pilipus M. Kopeuw. Danau Sentani hidupku (sebuah Puisi) Desember 2010.

    Pilipus M. Kopeuw. Kunci memproteksi diri dari kuasa phulo atau hobatan di Sentani dan Papua Januari. Artikel 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Arti Relae dalam dalam bahasa sentani. Artikel Februari 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Sentani akan datang. Artikel Februari 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Sentani di masa depan. Artikel Februari 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Sentani bukanlah nama suku tapi nama tempat. Artikel Februari 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Ondofolo adalah kepada adat dan bukan kepala suku. Artikel Februari 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Lestarikan danau Sentani. Artikel April 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Konsep suatu komunitas unggul yang melestarikan budaya sentani. Artikel April 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Bersatu hancurkan benteng kutuk dan selamatkan generasi suku Sentani. Artikel  Mei 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Bagaimana model pendidikan bagi penduduk suku sentani di era modern Juli 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Sebuah harapan awal menjadi tuan di negeri Sentani. Artikel Juli 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Sagu dalam konteks orang sentani. Artikel November 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Fungsi pemanfaatan pohon sagu dan sagu bagi orang sentani. Artikel  November 2011.

    Pilipus M. Kopeuw. Mitos-mitos suku sentani. Artikel 2012.

    Pilipus M. Kopeuw. Asal-usul kata Dobonsolo dan Cycloop di Sentani. Artikel Januari 2012

    Pilipus M. Kopeuw. Model Shema Israel dalam budaya sentani tempo dulu. Artikel Februari 2012.

    Pilipus M. Kopeuw. Tradisi perayaan Ulang Tahun masyarakat sentani tempo dulu. Artikel Februari 2012.

    Pilipus M. Kopeuw. Nilai pembayaran dalam adat sentani beda dengan nilai rupiah. Artikel Februari 2012.

    Pilipus M. Kopeuw. Cara berperang suku sentani. Artikel Juni 2012.

    Pilipus M. Kopeuw. Mithe sagu menurut suku sentani. Artikel September 2012.

    Pilipus M. Kopeuw. Dinamika pemberian perpuluhan dalam budaya suku Sentani. Artikel Juli 2013.

    Pilipus M. Kopeuw. Membangun sentani yang lebih maju.

    Purnomo, dkk. 2010. Mengembangkan format ekonomi komunitas asli Kabupaten Jayapura. Yogyakarta: CV Bima Sakti

    Rudi Wally_http://yeabhu01.blogspot.com/2011/11/budaya-perkawinan-adat-sentani.html. diakse oleh Pilipus Kopeuw_Jogja Minggu 1 September 2013 – Jam 18.41 wib

    Theo Ohee. Budaya Makan Pinang dalam http://papuacarvings.blogspot.com/2013/03/budaya-makan-pinang.html diakses pada Jumat 6 September 2013

    Yakobus F. Dumupa. 2006. Berburu keadilan di Papua. Mengungkap dosa-dosa politik di Papua Barat. Yogyakarta: Pilar Media.

     

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: