GENERASI SENTANI: SADARLAH SEBELUM TERLAMBAT

Oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Mercure Hotel Ancol, Kamis 21 Mei 2015 – Jam 06:55 wib

 

Dibuat Untuk Hancur Dengan Sendirinya

Siapa yang peduli dengan generasi muda Sentani? Siapa juga yang peduli untuk keberlangsungan generasi penerus Sentani diatas tanah dan airnya Sentani? Slogam “phuyaka bhu khla rawali” (danau dan hutan di Sentani adalah sumber kehidupanku). Apakah sebuah slogam dengan kesadaran dan mengandung misi khusus? Atau hanya kalimat-kalimat kosong saja yang dengan mudah diucapkan dalam pidato, orasi kampanye, dinyanyikan bahkan dimuat dalam jejaring sosial? Tidak ada yang sungguh-sungguh berpikir tentang generasi Sentani ini selanjutnya seperti apa dan mau jadi apa kelak? Kalau tidak ada yang berpikir, itu artinya generasi Sentani ini sengaja tidak dipikirkan dan dibiarkan untuk hancur dengan sendirinya di atas tanah, air, dusun dan hutan yang dibanggakan. Malu aku sebagai generasi muda Sentani ditertawakan orang lain dan mengatakan “generasi muda Sentani bagaikan anak-anak ayam yang kehilangan induknya dan mati di atas lumbungnya sendiri”.

Pendidikan di Papua dan khusus di Jayapura hanya memberikan ijasah tanpa ketrampilan yang memadai bagi anak-anak asli Papua. Dinas pendidikan setempat belum mampu merancang model pendidikan yang sesuai bagi orang Sentani. Pendidikan kita sedang membentuk generasi muda menjadi orang lain dan bukan untuk menjadi orang Sentani. Perhatikan saja tenaga kerja baik di hotel, bengkel motor, bengkel mobil, pengusaha, toko-toko, kantor-kantor, tenaga satpam, cleaning service, tukang parkir, pedagang kaki lima, penguasa pasar-pasar, dan sebagainya lebih didominasi oleh orang lain. Padahal semua peluang dan lapangan pekerjaan itu ada di atas tanah dan wilayah Sentani. Anak-anak Sentani yang tamat dari sekolah-sekolah kejuruan pada kemana? Pulang kampung kah? Atau pergi bekerja di tempat lain? Atau cari malas kerja? Saya jadi heran dengan pendidikan kita, generasi ini disiapkan melalui pendidikan untuk menjadi apa? Apakah hanya mengejar nilai kelulusan sekolah lalu menganggur? Generasi Sentani kalau sudah sekolah kemudian menganggur, lantas sekolah tujuannya apa? Antara sudah sekolah dan tidak sekolah sama-sama menganggur, lebih baik tidak usah sekolah saja, dari pada buang-buang uang dan waktu saja.

Kalau begitu, ketika sekolah dulu anak-anak tidak menghargai perjuangan orang tua membiayai sekolahnya. Belum lagi masalah sekolah itu sendiri, seharusnya setiap sekolah menanamkan kompetensi atau ketrampilan-ketrampilan khusus bagi anak didiknya. Jadi, ketika tamat anak didiknya bisa langsung cari pekerjaan. Kalau anak-anak Sentani hanya sekolah-sekolah dan kuliah-kuliah dan kemudian tidak punya skill dan pemalas cari pekerjaan. Kenapa bisa demikian? Itu karena produk pendidikan itu sendiri. Kalau pendidikan kita menghasilkan lulusan yang langsung bekerja, maka bisa diprediksi masa depan mereka. Namun kenyataannya, pendidikan kita hanya menghasil lulusan-lulusan saja. Itu sama juga dengan membiarkan generasi Sentani ini untuk hancur dengan sendirinya.

Gereja harus semakin profesional dalam pelayanan kepada umat. Gereja harus mampu mengikuti perkembangan jaman. Sehingga dalam pelayanan-pelayanan rohani, umat bukan saja mengerti kebenaran dalam kita suci, tetapi bagaimana umat Tuhan mengetahui perkembangan dunia dan mampu menempatkan diri dengan baik. Apalah artinya bicara rohani terlalu tinggi-tinggi buat masyarakat, tetapi kenyataan dari dulu sampai sekarang orang Sentani semakin menjadi orang pinggiran. Gereja harus menjadi ujung tombak menyuarakan keadilan dan pemerataan, dan sebagainya. Gereja tidak boleh hidup dibawah tempurung gereja yang tidak mau tahu dengan perkembangan jaman dan tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh umat. Gereja juga jangan hanya mau digunakan sebagai kendaraan politik untuk kepentingan tertentu. Bagaimana perhatian dan pelayanan gereja terhadap generasi muda? Pengalaman dalam pelayanan menunjukkan, gereja kekurangan anak-anak muda sebagai penerus gereja. Pelayanan kepada pemuda dan remaja tidak ditangani secara khusus dan profesional. Jangan heran kalau banyak anak-anak muda meninggalkan gereja. Potensi anak-anak muda banyak, tetapi karena alasan tertentu bakat dan talenta tidak dimanfaatkan untuk menunjang pelayanan di gereja. Jika demikian, apakah gereja benar-benar peduli dengan generasi muda Sentani atau tidak sama sekali? Gereja juga mungkin telah berperan dalam membiarkan generasi Sentani untuk hancur dengan sendirinya.

Tokoh-tokoh adat, tidak memiliki kekuatan dalam memerintah kampungnya dengan baik. Karena ada kampung-kampung yang tidak bisa dipertahankan sehingga terpecah. Ondofolo menjadi dua, kepala suku menjadi banyak. Hubungan kekeluargaan dan kepentingan berperan. Sentani yang dulu aman, kini manusianya hidup dalam senyum dan tawa yang palsu. Tanah-tanah sebagai bukti kekuasaan dan jati diri mereka, kini telah terkikis semakin habis karena banyak yang dijual atas nama pembangunan dan kepentingan. Itu artinya, generasi Sentani dibuat oleh tokoh adat secara sadar atau tidak, untuk hancur dengan sendirinya. Mau dikemanakan generasi Sentani ini besok? Apakah masih ada program transmigrasi atau akan hidup dijalanan dan dikolong jembatan seperti orang-orang di kota besar lainnya. Mari kita bersama prihatin akan kondisi ini dan mencari solusinya dengan mulai membangun generasi emas Sentani.

Kita tidak tahu akan masa depan tetapi kita bisa siapkan masa depan mulai sekarang. Orang tua harus melaksanakan tugasbya dengan baik. Tugas orang tua, yakni melindungi anak-anak, memberi motivasi dan nasehat-nasehat terbaik, membiayai mereka untuk sekolah, mendukung mereka meraih masa depan mereka. Karena kita hidup di dunia kita dinilai dari apa yang kita lakukan. Jangan biarkan generasi Sentani hancur dengan sendirinya. Mari berjuanglah siapkan masa depan generasi muda Sentani. kenapa kita perlu jaga air, karena buat masa depan. Demikian juga kita perlu jaga generasi Sentani buat masa depan mereka yang lebih baik.

 Robeknya Integritas

Bukan hal yang sederhana bagi generasi muda, manakala lingkungan sosial, sumber informasi, tabiat manusia, pola relasi antarmanusia, fenomena kepemimpinan, budaya instan, dll, berisi dengan narasi kefasikan. Realisasi sosial semacam ini menambah kerumitan bagi generasi muda masa kini, mencari keteladanan. Robeknya integritas di segala lini dan strata kehidupan membuat pencarian generasi muda akan makna dan panggilan hidup terasa amat rabun, maya, dan subtil. Padahal, pokok ini, integritas dan karakter sangat diperlukan tengah fasiknya relasi sosial antar anak bangsa.

Di sinilah letak krusial bagaimana pendidikan, gereja, pemerintah dan adat dan para stakehorders, mendidik generasi  muda dengan nilai-nilai karakter dan integritas yang mumpuni. Dengan kolaborasi sumber dayanya, semua pihak menyiapkan generasi muda sebagai generasi emas, dengan aneka kapasitas diri melalui pelatihan, manajemen kepemimpinan, pendidikan yang memadai dan relevan dengan kontes budaya dan perubahan jaman. Menjadi generasi muda yang memiliki mental spiritual yang baik.

Apakah hati generasi tua dan generasi muda Sentani seperti batu yang sulit dipecahkan. Hati generasi Sentani sudah tawar dengan pengajaran yang sehat. Banyak orang lebih suka menjaring angin, menebar mimpi kosong di bawah matahari. Orang tidak mau mencatat hidupnya dalam kitab keabadian. Artinya, jika itu dipilih, ada harga yang harus dibayar. Mental instan yang melekat di generasi tua dan generasi muda Sentani, membuat semua berbau abadi, long proses, diterabas dengan mental instan. Mimpi generasi emas Sentani benar-benar di tubir kegalauan (William, 2011).

 Tradisi Itu Menakutkan

Kisah ini adalah goresan seorang anak Sentani yang sudah lama merantau di Banten ketika datang berlibur di Sentani. Demikian kisahnya : Suatu ketika aku baru 2 (dua) hari di Sentani, ah… pikirku mejeng dulu di depan toko Angkasa (sekarang bank Mandiri)…ingat masa lalu suka mejeng dan dengar lagu di situ. Lagi santai sambil makan pinang wow…nikmatnya! tapi beberapa saat kemudian aku didatangi bebrapa anak-anak tanggung….dengan kasar mereka pepetin aku dan mau merampas dompetku… dengan kasar mereka menarik tanganku…aku lawan dan aku bilang ” dik kita sama-sama orang Sentani. Aku tinggal di Flavouw… mereka nggak percaya yang satunya mau menampar aku… mereka mau malak aku…, dan aku benar-benar marah. Untung sekali ada orang yang mengenal aku lewat di situ, luputlah aku…

Begitulah respon awal dari orang teller karena minum minuman keras (beralkohol), nggak kenal mana saudara, mana teman… semuanya mau di palakin… lupa nilai-nilai kemanusiaan…hah..hah dasar pemabuk…!

Miras… benar-benar menghancurkan keakraban dan kekerabatan kita…Saudaraku Olaf Yoku meninggal kecelakaan karena mabuk.. mungkin masih banyak yang lain…, kematian itu sungguh sesuatu yang sia-sia. Yole fafa (anak-anak Kampung) gugur hanya karena MIRAS…, mungkin banyak lagi yang penyakitan. Mungkin juga banyak yang jadi pikun, dan juga ada yang jadi lemah daya ingatnya… atau juga lemah daya pikirnya….. wah banyak korban kalau mau di inventaris…
kita diam…? Ironis banget. Sampai kapan kita diam…? Apa sampai taruna-taruna Sentani (Phuyakha) habis di bantai MIRAS…..?
Lakukanlah sesuatu sebelum semua menjadi terlambat… Apalah artinya jika nasi sudah jadi bubur….?

Carol Ann Paul, seorang peneliti dari Wellesley College, Massachusetts, Amerika Serikat dan timnya mengungkap bahwa alkohol bisa menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan otak. bisa menyebabkan kelumpuhan yang permanen.

Volume otak manusia memang akan menyusut seiring dengan bertambahnya umur. Penyusutan itu kemudian mengakibatkan beberapa kelainan, misalnya demensia (kepikunan) serta gangguan kognitif yang lain (Oritz Yoku).

Kisah ini bukan saja memaluhkan, tetapi menjadi sebuah catatan penting untuk kita renungkan bersama. Akankah generasi muda Sentani akan berlaku demikian di atas tanahnya atau mereka tampil menjadi generasi yang mandiri di atas tanah asalnya, Sentani.

Apakah Orang Sentani Hanya Begini Saja?

Kata-kata ini hanya sebagian kutipan sebuah lagu rohani yang diubah-ubah sedikit, yakni : Begitu besar kasih Allah pada orang Sentani, diberkati anak cucu orang Sentani dimana-mana. Dia mengubah orang Sentani yang miskin dan menjadikan orang Sentani kaya. Dia merendahkan orang Sentani dan Dia juga sanggup meninggikan orang Sentani. Berbahagialah bagi orang Sentani yang percaya kepada sang penciptanya yakni, Allah. Namun untuk mewujudkan lagu ini bukan hanya sekedar dinyanyikan. Marilah Anda mengambil cermin, melihat perjalanan kehidupan, kebudayaan, dan kemajuan orang Sentani saat ini, seperti apakah orang Sentani saat ini? Bagaimana pemandangan di dalam cermin itu, apakah hanya orang Sentani saja atau ada orang lain yang bukan orang Sentani? Bagaimana orang Sentani di tengah jaman ini di atas tanah asal? Bagaimana nasib anak-anak Sentani saat ini? Bagaimana nasib dan masa depan anak-cucu orang Sentani kemudian? Bukalah mata Anda, gunakan pikiran Anda untuk berpikir dengan jernih, mari bertanya mau kemana generasi orang Sentani selanjutnya? Apakah orang Sentani hanya hidup begini-begini saja, hingga menjadi orang pinggiran di Danau Sentani atau Anda harus berbuat sesuatu untuk masa depan anak-cucu orang Sentani!

Lihatlah, di tengah lajunya perkembangan jaman banyak orang makin menggandrungi materialisme, citra diri, dan mental instan, budaya siku menyiku, pikir kuasa, pikir pintar, pikiran pendek, pikir diri, pikir suku, pikir marga. Padahal di dunia kerja dibutuhkan terobosan-terobosan. Manusia Sentani tidak bisa hidup seperti itu. Jika hal ini dibiarkan, maka orang Sentani akan tenggelam di Danau Sentani dan hanya akan tinggal cerita penyesalan. Generasi Sentani masa kini kemudian akan menyalahkan generasi sebelumnya. Sadarlah dan berpikir cepat, sebab kemajuan pesat sedang terjadi di Sentani. Orang Sentani sadar atau tidak, mereka tidak bisa menghindarkan diri dari kenyataan kemajuan itu. Wilayah Sentani sedang mengalami perubahan yang pesat dan cepat. Kemudian, bagaimana kesiapan orang Sentani terhadap perubahan itu? Bagaimana menyiapkan generasi Sentani menghadapi perubahan itu? Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi Sentani? Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh kaum intelektual dan cendikiawan orang Sentani untuk menyelamatkan generasi berikut mereka.

Salah satu dari sekian banyak terobosan adalah memposisikan diri sebagai bengkel memperbaiki visi dan kapasitas visi generasi emas. Kalau orang tua dan tokoh masyarakat, dan tokoh adat Sentani punya visi untuk menyelamatkan generasinya? Apa visinya? Sepertinya saya tidak pernah dengar? Itu berarti generasi Sentani sekarang ini adalah tanggungjawab Anda untuk berpikir bagaimana menyelamatkan generasi Sentani.

Buku ini hanyalah sebuah konsep untuk dipikirkan bersama. Bagaimana Anda dan saya, kita coba berpikir untuk membangun dan mempersiapkan suatu generasi Sentani yang saya sebut “Generasi Emas Sentani”. Generasi emas di sini yang dimaksud adalah sangat spesifik yakni generasi Sentani yang “energik, mandiri, multitalenta, aktif, dan spiritual . Bagaimana membangun budaya generasi emas? Bagaimana menciptakan generasi emas yang dapat membuat kemajuan? Bagaimana kita dapat mengubah kebudayaan dan mendorong kemajuan? Hanya melalui pendidikan kita dapat mengubah kebudayaan dan membuat kemajuan. Perlu diketahui bahwa pendidikan jauh lebih utama dibanding memenangi undian nasional. Sebab pendidikan akan membuka kemungkinan bagi setiap orang menuai sukses bagi diri mereka sendiri (Colin & Malcolm, 2001: 8).

Pendidikan akan mampu menciptakan generasi emas Sentani yang mampu menghadapi perubahan-perubahan jaman. Kecepatan dunia berubah menuntut dan mensyaratkan kemampuan belajar yang lebih cepat. Kompleksitas dunia yang terus meningkat juga menuntut kemampuan yang sesuai untuk menganalisis setiap situasi secara logis dan memecahkan masalah secara kreatif.

Pale yofa dalam status jejaring sosialnya menulis, sebagai berikut:

Ketika mendung tak juga usai

Hujan datang membasahi bumi

Ada pelangi yang menanti

Memberi asa di hati

Pengharapan semenjak masa mudaku

Di tangan-Mu masa depan dan cita-citaku

Ku taruh dalam tangan-Mu

Bukan karena yang aku lihat

Tapi apa yang aku percaya

Masa depan yang gemilang

Tetap menanti dalam janji-Mu

Cukuplah ya Tuhan kasih karunia-Mu

Di saat aku lemah di situ aku kuat

Karena kasih karunia-Mu

(sumber : status fb Pale Yofa, 3 Juli 2014)

Seorang sahabat anak Sentani, kemudian bertutur:

Terbangun dalam deru waktu,

ketika tiap nafas berpacu dalam lintasan hidup,

berlari mencakar masa untuk mimpi yang menuntut kenyataan,

seperti gambar dalam bingkai fana,

dengan sapuan yang terbatas.

Warna indah tertutup kelabu,

polos tertutup kemerahan,

kemudian biru datang membawa kesejukan,

lalu hijau datang membawa harapan,

lalu tertutup lagi dan lagi,

hingga paduan yang tidak kita pahami,

yang membawa senyum dibibir atau gelisah di dada.

Hingga kesadaran menampar kita.

Hidup tak bisa kita warnai sendiri. (Dicky Takandare).

Bicara mengenai usaha membangun generasi emas Sentani berarti hal utama atau hal terpenting yang harus dilakukan oleh pemerintah dan stakeholders yang ada, yakni upaya untuk mengedepankan pendidikan budi pekerti kepada generasi muda yang ada, karena jatuh bangunnya pembangunan sangat bergantung kepada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada di Sentani.

Sadarlah Sebelum Semuanya Terlambat

Sebelum semuanya terlambat, mari kita desain sebuah konsep tentang membangun generasi emas Sentani. kita tidak bisa menyangkal bahwa warna orang sentani seperti tidak kelihatan di kotanya. Sebab, di kota semua sektor bisnis atau usaha, baik dari kaki lima hingga usaha pertokoan berskala mall dan perhotelan dikuasa oleh orang lain.

Jalur-jalur strategis di kota Sentani sudah terjual untuk pengembangan jalan dan rumah toko (tokoh). Siapa yang punya tanah, siapa yang punya toko. Uang hasil penjualan tanah menguap begitu saja, tidak berubah jadi rumah toko atau usaha apapun. Ada kisah MOB yang sangat popular yakni “latihan lain main lain”.  Sederhana dan lucu tetapi dalam konteks ini akan menjadi ironis dan menyayat hati dengan rasa malu dan penyesalan. Bukan sebuah rahasia lagi, ketika tanah terjual uangnya selalu dipakai untuk foya-foya. Apakah karena uang tanah adalah jenis uang yang bersayap sehingga muda terbang. Konsep latihan lain main lain adalah ketika tanah mau dijual dan hendak dibayarkan ganti ruginya, bagi pihak penerima mereka sudah menyusun rencana yang tinggi, tetapi apa jadinya kemudian, rencana tinggal rencana. Latihan lain main lain.

Daerah kota akan sulit tertolong karena pengembangan “rukonisasi” terus deras mengalir ke berbagai sudut wilayah yang berpotensi dalam pengembangan kota dan infrastruktur. Klaim-mengklain lahan tanah diantara Ondofolo, kepala suku dan pemilik pribadi. Para-para adat, kantor polisi dan ruang pengadilan menjadi tempat penyelesaian persoalan-persoalan tanah adat.

Banyak anak-anak muda tamat sekolah SD, SMP, SMA atau yang sederajat, pulang kampung dan menjadi orang kampung yang datang ke kota. Hasil pendidikan tidak mengubah cara berpikir anak-anak Sentani untuk maju. Apalagi orang tua yang tidak memiliki beban dan filosofi tinggi tentang “anak-anak mereka yang harus menjadi sukses dan tidak boleh sama lagi dengan orang tuanya”. Anak-anak pulang kampung dan kawin tanpa menikah. Ketidakmampuan orang tua jadi alasan bagi anak-anak Sentani untuk tidak mau menggantungkan cita-citanya setinggi langit.

Perhatikan saja, banyak anak-anak Sentani yang sudah mendayung mencari ikan, jualan dan terus berjuang untuk menjadi orang sukses. Banyak orang tua yang dulu pernah dayung dari berbagai sudut kampung ke Yoka untuk mengantar kebutuhan anak-anaknya yang sekolah di Yoka. Ada banyak orang tua yang pernah berjuang ke Genyem untuk menengok anak gadisnya yang sekolah disana. Tapi kini kenapa, orang tua tidak peduli dengan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Kita perlu mengorbankan satu generasi yang saya sebut “generasi pejuang” yang terus berjuang untuk “kemerdekaan”. Kemerdekaan siapa? Kemerdekaan Sentani: orangnya, airnya, danaunya, tanahnya, dusunnya, ikannya, sagunya dan sebagainya. Dengan usaha-usaha dari generasi pejuang, kira berharap tercipta generasi merdeka, generasi merdeka inilah yang akan menjadi sebuah produk generasi Sentani baru. Itulah yang saya beri judul buku ini Membangun Generasi Emas Sentani”. Pepatah ini masih sangat relevan dengan harapan ini, kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Memang semua kita merasa berat, sulit untuk membangun generasi emas sentani. kebanyakan kita hidup dalam kesulitan-kesulitan.

Memang benar, kesulitan tidak memilih orang. karena itu kesulitan melanda semua orang. Kesulitan menyerang semua generasi. Walau pun demikian, kita tidak hidup dialam penjajahan maupun alam perbudakan dimana hak-hak hidup, hak-hak untuk berusaha, hak-hak untuk berhasil dikekang. Tidak, saudara. Kita sudah hidup bebas di alam yang indah dan damai ini. Tetapi perlu kita ketahui dan pahami bahwa untuk bisa berhasil kita harus berusaha mengubah situasi yang kita hidupi sekarang.  Ingatlah bahwa kesulitan-kesulitan hidup dimaksudkan agar kita lebih baik, bukan untuk membuat kita lebih pahit.

Belum terlambat bagi kita. Sebab perkembangan biakan manusia, khususnya orang asli Sentani terus mengalami pertambahan dan kampung-kampung mulai terasa padat. Hal ini ditandai dengan pergeseran, perluasan dan perintisan kampung–kampung baru. Berarti ada generasi Sentani baru yang terus lahir dan lahir. Mau kemana generasi ini? Apakah hanya akan menjadi seperti generasi sekarang atau kita mau mereka menjadi generasi yang jauh lebih baik dari generasi saat ini.

Nilai Sebuah Gengsi

Kisah ini terjadi saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Waktu itu, saya bersama teman-teman pergi suatu tempat. Namun karena tidak punya kendaraan, baik sepeda maupun sepeda motor, saya jadi bergantung pada teman yang mau memberi tumpangan.

Ada seorang teman yang menawarkan untuk menjemput dan mengantar pulang agar saya bisa ikut bersama teman-teman. Ketika kami mau pulang, saya diminta menunggu sebentar karena hendak mengantar satu teman lain lebih dulu. Sebagai orang yang menumpang, saya rasa tahu diri dan bersedia menunggu. Namun, setelah saya tunggu hingga larut malam, ia tidak datang. Akhirnya, saya pulang sendiri dengan kesal. Keesokkan harinya di sekolah, saya menanyakan penyebab ia tidak menjemput saya lagi. Teman saya menjawab dengan terkejut, ternyata dia lupa. Meskipun ia sudah minta maaf, saya masih merasa sangat kesal dan diremehkan. Karena biasanya orang yang dilupakan adalah orang yang dianggap remeh atau kurang berharga, kalau seorang dianggap penting, ia tidak mungkin dilupakan. (Paulus, 2013: 39-40)

Generasi Yang Hilang (The Lost Generation)

Apa yang akan terjadi ketika generasi muda Sentani gagal dalam studi entah pada tingkat menengah entah pada tingkat tinggi. Memang dapat dikatakan masyarakat kehilangan daya manusia yang dibutuhkan, karena yang diharapkan sebagai calon daya manusia gagal.

Pejabat anak-anak asli Sentani yang mulai lengser dari kursi DPRD, menjadi masyarakat biasa kembali.

Anak-anak muda di dunia persepakbolaan, dayung dan volly mulai hilang tanpa ada generasi penerusnya.

Banyak anak-anak muda gagal mendapat pekerjaan sebagai PNS, anggota TNI, Polri, kemanakah mereka selanjutnya?

Apalagi mempertahan gensi dan malu melakukan pekerjaan apa saja demi mendapatkan uang yang halal.

Seni dan budaya Sentani yang tidak lagi dikembangkan dan tidak ada regenerasi. Apakah seni budaya Sentani hanya akan tinggal sebagai sejarah klasik saja?

Sistem pembayaran harta mas kawin dan harta kepala yang kemudian diganti dengan mata uang rupiah maupun dolar bahkan mungkin dengan emas dan berlian. Bagaimana dengan eksistensi jati diri suku Sentani yang mulai samar-samar?

Beberapa pertanyaan dan peryataan di atas hanyalah sebuah refleksi terhadap apakah kita tegah membiarkan generasi Sentani hilang di atas tanahnya sendiri? Jelas kita tidak mau!

Mari bersama maupun secara pribadi, kita bangkit untuk berjuang membangun generasi emas Sentani, supaya jangan sampai generasi ini hilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: