KOMPETENSI PENELITIAN DI PT TEOLOGI AGAMA KRISTEN

Oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Ancol, Kamis 21 Mei 2015 _Jam06:33 wib

Pada uraian kompetensi penelitian ini akan dibahas beberapa bagian substansi yang berkaitan dengan penelitian di Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK). Substansi sub-sub pembahasan merupakan suatu keterkaitan antara konsep penelitian, pengertian metodologi penelitian, kurikulum metodologi penelitian di PTTAK dan pedoman penulisan skripsi atau pedoman penulisan tugas akhir dan kompetensi penelitian. Tujuannya adalah ingin menggambarkan sekaligus sebagai bahan pembanding dalam penerapan metodologi penelitian di PTTAK.

  1. Pengertian Kompetensi

Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan “Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”.

Association K.U. Leuven mendefinisikan bahwa pengertian kompetensi adalah pengintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif.
Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari kompetensi yaitu: Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing.

Dari definisi di atas kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.

  1. Kompetensi Penelitian di PTTAK

Dewasa ini Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) semakin bertambah, baik satuan maupun bidang keahlian yang dijadikan unggulannya. Hasil penelitian pun semakin bertambah, baik yang berkenaan dengan penyelesaian tugas pendidikan akademik maupun yang berkenaan dengan pelaksanaan kompetensi dosen. Namun demikian, hasil penelitian itu dinilai belum memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan Ilmu Agama Kristen (IAK) maupun bagi penyelesaian persoalan-persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan dan masyarakat bangsa. Masih langka temuan-temuan baru yang menarik perhatian dan menjadi bahan perdebatan, baik di kalangan sivitas akademika maupun publik. Substansi keilmuan agama Kristen juga belum mengalami kemajuan yang berarti. Demikian pula metodologi pengkajian cenderung berjalan di tempat. Malah lebih sering ditemukan pengulangan-pengulangan dalam penelitian. Subjek penelitian cenderung berorientasi kepada masa lalu, sehingga perkembangan dan pengembangan IAK tertinggal dibandingkan perkembangan ilmu-ilmu sosial dan humaniora; apalagi dibandingkan dengan perkembangan ilmu-ilmu alamiah dan teknologi.

Suatu kecenderungan dominan bahwa penelitian yang dilakukan oleh dosen lebih mengarah pada penelitian akademik berkenaan dengan pelaksanaan tugas-tugas rutin dalam lingkungan Perguruan Tinggi Teologi Agama Ksriaten (PTTAK). Sementara Penelitian Pengembangan, Penelitian Kebijakan, Penelitian Evaluasi, Penelitian Tindakan dan Penelitian Aksi belum dilaksanakan secara proporsional, sehingga nilai keunggulan kompetitif dosen PTTAK relatif masih rendah. Atas perihal yang sama, kebijakan pengembangan pendidikan dan perguruan tinggi dilaksanakan tanpa didasarkan pada hasil penelitian kebijakan.

Gambaran penyelenggaraan penelitian tersebut, secara umum, dialami dan dihadapi oleh PTTAK. Keadaan yang demikian tentu saja memerlukan perhatian dari penyelenggara dan pengelola PTTAK. Untuk memecahkan masalah tersebut, dalam arti untuk meningkatkan Mutu, Diversifikasi, dan Manfaat (MDM) hasil penelitian, terdapat beberapa upaya yang menuntut perhatian bersama. Pertama, mensinergikan penyelenggaraan penelitian dalam penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kedua, mengagendakan penyelenggaraan penelitian yang bervariasi secara proporsional dengan tetap memprioritaskan penelitian akademik. Ketiga, mensinergikan penyelenggaraan penelitian dengan pengembangan kompetensi keahlian dosen, peneliti, dan mahasiswa. Keempat, meningkatkan besaran program penelitian, baik secara internal maupun eksternal. Kelima, meningkatkan volume kegiatan dan alokasi biaya penelitian. Keenam, memanfaatkan hasil penelitian sesuai dengan apa yang dicapai dari masing-masing tipe penelitian.

Penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi didasarkan kepada semangat pelaksanaan otonomi perguruan tinggi, yakni otonomi keilmuan yang melekat pada dosen dan otonomi pengelolaan keuangan yang melekat pada pengelola perguruan tinggi. Dosen secara individual memiliki kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik. Sementara itu, setiap mahasiswa memiliki kebebasan akademik. Otonomi keilmuan merupakan prinsip dasar bagi sivitas akademika untuk dipelihara dan dikembangkan dengan berpedoman kepada kaidah dan etika ilmiah. Oleh karena itu, setiap anggota sivitas akademika baik secara perseorangan maupun bersama-sama memiliki hak dan tanggung jawab untuk mengemban dan melaksanakan otonominya itu, khususnya dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketika penyelenggaraan penelitian disinergikan dalam penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi dan peningkatan mutu, diversifikasi dan manfaat (MDM) penelitian sebagai arah yang hendak dicapai, maka terdapat beberapa sudut pandang tentang Ilmu Agama Kristen (Teologi dan Agama) dan ilmu pada umumnya. Berdasarkan sudut pandang itu, tridarma perguruan tinggi menjadi suatu kesatuan yang terintegrasi, dan MDM penelitian menjadi fokus perhatian.

Pertama, dalam penyelenggaraan pendidikan, ilmu (pengetahuan) dipandang sebagai produk. Ilmu merupakan produk pemikiran dan penelitian (pustaka, kancah, dan laboratorium) para ahli pada bidang masing-masing, kemudian dialihkan kepada mahasiswa Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) sebagai pelanjut para ahli tersebut. Produk itu menjadi titik tolak penelitian untuk mengembangkan unsur substansi, unsur informasi, dan unsur metodologi. Dengan cara demikian, temuan baru akan dapat diperoleh melalui penelitian akademik dan penelitian pengembangan dalam konteks kekinian dan kedisinian.

Di samping itu, ilmu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penerapan keahlian sivitas akademika dalam menunjang kemajuan masyarakat. Penerapan ilmu Teologi dan Agama Kristen dapat dijadikan media untuk mengukur signifikansi ilmu bagi penyelenggaraan pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan hal itu, dapat diperoleh umpan balik sebagai masukan bagi perumusan kebijakan di bidang kurikulum dan program studi di PTTAK yang dibutuhkan. Program studi yang dibutuhkan terus dikembangkan, bahkan ditingkatkan. Sementara itu, program studi yang tidak dibutuhkan sebaiknya dibubarkan.

Kedua, dalam penyelenggaraan penelitian, ilmu dipandang sebagai proses. Ilmu dikembangkan melalui cara kerja ilmiah sesuai dengan pendekatan dan model penelitian yang digunakan. Hasil penelitian dialihkan dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama dalam kegiatan pembelajaran. Dosen akan mengalihkan bahan pengajaran berdasarkan hasil penelitian. Sementara itu, mahasiswa Jurusan PAK, Teologi dan Musik Gereja akan memperoleh unsur-unsur ilmu yang segar dan mutakhir. Hasil penelitian tersebut diuji kembali dalam penyelenggaraan penelitian berikutnya secara terus menerus dan berkesinambungan.

Di samping itu, penelitian dapat dijadikan sebagai cara kerja untuk memecahkan masalah kemasyarakatan secara ilmiah. Cara pemecahan masalah yang demikian tentu saja sangat tergantung kepada karakteristik dan daya ampuh masing-masing disiplin atau bidang ilmu. Oleh karena itu, penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan interdisipliner atau pendekatan multidisipliner. Dengan cara demikian, substansi disiplin atau bidang ilmu akan berkembang, karena pada dasarnya ilmu merupakan deskripsi, eksplanasi, dan prediksi tentang kehidupan dalam arti yang luas, mencakup gejala alamiah, gejala sosial, dan gejala budaya, sebagai “buku besar” yang penuh dengan pertanda dan misteri.

Ketiga, dalam penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat, ilmu dipandang sebagai metode. Ilmu ditempatkan sebagai instrumen dan cara kerja untuk memecahkan masalah kemasyarakatan secara ilmiah. Hal itu bermakna bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan wahana penerapan ilmu dan keahlian sivitas akademika dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Unsur substansi, unsur informasi, dan unsur metodologi dari berbagai disiplin atau bidang ilmu yang sangat abstrak dapat dikonkretisasi dalam kehidupan masyarakat yang selalu mengalami perubahan dan sarat masalah yang sangat rumit dan pelik.

Di samping itu, cara pemecahan masalah melalui penelitian aksi dan penelitian kebijakan dalam penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat akan memperoleh keluaran berupa berbagai masalah penelitian, bahkan subject matter disiplin atau bidang ilmu. Hasil penelitian tersebut memperluas besaran wilayah penelitian (unsur substansi) yang dapat dijadikan subjek penelitian akademik dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama untuk penulisan skripsi, tesis, dan disertasi.

Apabila sinergi tridarma perguruan tinggi itu dapat diorganisasikan secara efektif oleh pengelola Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK), maka terdapat empat hal yang dapat diraih bagi pengembangan penelitian. Pertama, penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi merupakan wahana untuk meningkatkan MDM penelitian. Kedua, penyelenggaraan pendidikan merupakan wahana untuk mengembangkan penelitian akademik dan penelitian pengembangan sesuai dengan kompetensi dosen dan kompetensi mahasiswa pada jenjang pendidikan yang hirarkis (Program S1, Program S2, dan Program S3). Ketiga, penyelenggaraan pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat merupakan wahana untuk menguji dan menerapkan unsur-unsur ilmu secara integratif, baik dalam kesatuan kegiatan penelitian (interdisipliner) maupun dalam kesatuan besaran program penelitian (multidisipliner). Keempat, penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat merupakan wahana untuk mengembangkan penelitian kebijakan dan penelitian aksi yang melibatkan dosen, peneliti, dan mahasiswa sesuai dengan minat, kompetensi, dan kemampuan masing-masing.

Berbicara mengenai diversifikasi penelitian,  penelitian dapat dipilah berdasarkan tujuan dan pemanfaatan hasilnya. Penelitian dalam tinjauan ini terbagi pada empat tipe, yakni penelitian akademik, penelitian pengembangan, penelitian kebijakan, dan penelitian aksi. Keempat tipe penelitian tersebut dapat dipandang sebagai suatu kontinum, mulai dari “hulu” (penelitian akademik) sampai “hilir” (penelitian aksi). Penelitian akademik merupakan ciri utama penelitian perguruan tinggi, sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. Oleh karena itu, penelitian akademik memperoleh proporsi terbesar dalam penyelenggaraan penelitian di PTTAK. Hal ini kemudian, di terjemahkan dalam program penelitian dosen baik secara individu maupun kelompok. Selain itu juga, secara rutin mahasiswa setiap angkatan terus melakukan penelitian-penelitian dalam penyelesaian studi akhir melalui penulisan skripsi, tesis dan disertasi.

Penelitian akademik diselenggarakan berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan akademik, terutama dalam penyelenggaraan pendidikan akademik, yakni Program S1, Program S2, dan Program S3. Penelitian akademik lebih diarahkan untuk menemukan dan merumuskan unsur substansi, unsur informasi, dan unsur metodologi baru yang tercakup dalam suatu disiplin atau bidang Ilmu Agama Kristen (Teologi dan Agama Kristen). Oleh karena itu, salah satu kriteria masalah penelitian memiliki potensi untuk dikembangkan sehingga dapat diperoleh temuan baru dalam konteks pengembangan ilmu. Penelitian yang demikian dapat dilakukan oleh dosen secara individual atau kolektif dan oleh mahasiswa melalui penulisan skripsi, tesis, dan disertasi.

Penelitian pengembangan diselenggarakan berkenaan dengan penerapan ilmu bagi perumusan model atau sistem yang berskala lokal, regional, dan nasional. Tipe penelitian ini dapat dilakukan oleh dosen dan peneliti PTTAK secara tunggal atau berupa kerja sama dengan penyelenggara penelitian lain. Atau yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen. Produk penelitian itu dapat berupa model konservasi atau model pengembangan, atau perumusan sistem yang bersifat inovatif. Dengan penelitian ini Ilmu Agama Kristen dapat melahirkan “anak emas” yang bermanfaat dan memberi kemudahan bagi kehidupan masyarakat, yakni teologi baru, berupa hard skill dan soft skill.

Penelitian kebijakan diselenggarakan berkenaan dengan penilaian dan pengukuran terhadap derajat keberhasilan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pembuat kebijakan. Berkenaan dengan hal itu, dapat disusun empat paket penelitian kebijakan, yakni penelitian bahan kebijakan, penelitian koherensi kebijakan, penelitian pelaksanaan kebijakan, dan penelitian hasil kebijakan. Tipe penelitian ini dapat diselenggarakan oleh PTTAK terhadap kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan PTTAK yang bersangkutan (internal), atau melalui kerja sama dengan instansi pembuat kebijakan bidang kehidupan tertentu (eksternal), baik pada level kebijakan pembangunan dan kebijakan sektoral maupun kebijakan teknis, dalam hal ini yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Agama Kristen. Atau bekerjasama dengan penyelenggara penelitian pemerintah, terutama badan penelitian dan pengembangan departemen teknis.

Penelitian aksi atau action research diselenggarakan berkenaan dengan pendampingan, pemberdayaan, dan advokasi masyarakat yang terpinggirkan dan tertindas. PTTAK berpeluang untuk menyelenggarakan penelitian tipe ini yang disinergikan dengan penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat. Tipe penelitian ini dapat diselenggarakan berkenaan dengan pengembangan masyarakat dalam percontohan; dan satuan pendidikan agama dan keagamaan.

Manakala keempat tipe penelitian di atas dapat dilaksanakan dan diperoleh mutu yang tinggi, maka akan dapat memberi manfaat bagi pengembangan ilmu serta dapat menunjang kemajuan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Dengan demikian PTTAK dapat menempatkan dirinya sebagai pusat pengembangan sumber daya manusia dan pilar utama dalam pengembangan ilmu Agama Kristen. Bahkan PTTAK dapat menyandang predikat sebagai agen perubahan sosial. (http://www.ditpertais.net/regulasi/domlit/02.asp).

  1. Kompetensi Kurikulum Metodologi Penelitian di PTTAK

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang bersifat dinamis, berkembang, dan dapat diraih setiap waktu. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus-menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap-sikap dasar dalam melakukan sesuatu. Kebiasaan berpikir dan bertindak itu didasari oleh budi pekerti luhur baik dalam kehidupan pribadi, sosial, kemasyarakatan, keberagaman, dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Gordon (1988 : 109) menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi sebagai berikut :

  • Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.
  • Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif.
  • Kemampuan (skill), yaitu sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
  • Nilai (value), yaitu suatu standar perilaku yang diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang.
  • Sikap (attitude), yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang dating dari luar.
  • Minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan.

Berdasarkan pengertian kompetensi tersebut, KBK dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.  (http://my.opera.com/winsolu/blog/pengertian-kompetensi)

  1. Kompetensi Dosen Mata Kuliah Metodologi Penelitian di PTTAK

Peran dosen telah berubah dari sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, ahli materi dan sumber segala jawaban, menjadi fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaboratif, navigator pengetahuan, dan mitra belajar. Peran dosen juga telah berubah dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap mahasiswa dalam proses pembelajaran.

  1. Kompetensi Penelitian Mahasiswa

Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, ada tiga komponen pokok yang harus dipahami oleh sivitas akademika. Pendidikan, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat. Ketiganya adalah yang menyokong kualitas dan bentuk nyata dari adanya perguruan tinggi.

Begitu memasuki perkuliahan, seorang mahasiswa baru akan melaksanakan hal yang pertama yaitu pendidikan. Bangku perkuliahan akan mengasah tingkat pendidikan secara teori. Tuntutan sebagai seorang mahasiswa tidaklah seperti siswa pada kelas menengah dan dasar. Kalau di sekolah dasar dan menengah, siswa dimanjakan dengan materi pelajaran yang telah tersedia, maka di bangku perkuliahan tidak. Dalam bangku perkuliahan, berlaku kemandirian dalam mengembangkan pola pikirnya.

Nah, terkadang mahasiswa hanya mendapatkan poin pertama dan ketiga saja. Poin ketiga pun dilakukan karena adanya tuntutan tugas akhir, skripsi. Poin kedua mungkin dilakukan sambil jalan dengan pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN). Penelitian belum menjadi suatu kebutuhan bagi kebanyakan mahasiswa. Penelitian didapat mahasiswa baru dari mata kuliah umum yang terbatas. Padahal, penelitian adalah kegiatan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Juga sebagai wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendalami bidang keilmuannya.

Minat untuk meneliti masih dirasa rendah, hal ini dapat dilihat sekilas dari komunitas diskusi yang masih minim. Kecuali baru sebatas membahas agenda rutin tugas perkuliahan saja. Kalaupun ada masih jarang dan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sama. Kelompok-kelompok ini masih menjadi minoritas. Terkadang mereka diejek sebagai orang-orang yang kurang kerjaan.

Padahal, dari forum diskusi inilah seorang mahasiswa dapat menuangkan gagasannya. Seorang mahasiswa pasti memiliki gagasan, namun jika gagasan itu tidak pernah diungkapkan dan dibahas bersama-sama, maka tidak akan mengalami perkembangan. Gagasan yang bagus terkadang harus tersimpan dan hanya menjadi sebuah angin lalu saja.

Padahal, pihak universitas dan Dirjen Pendidikan Tinggi (dikti) selalu mendukung ide inovatif mahasiswa, baik dalam bentuk pemberian semangat maupun financial. Bahkan, biaya yang disediakan oleh dikti selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sangat disayangkan kalau minat untuk meneliti masih rendah. Mahasiswa hanya akan menjadi seorang yang pasif dan permisif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Akibatnya, pendidikan kita akan sulit untuk meningkat.

Belajar dan mempelajari penelitian adalah kegiatan yang harus dijadikan sebuah kebutuhan bagi seorang mahasiswa. Mahasiswa sekarang dituntut untuk tidak hanya cerdas secara akademik saja, tetapi juga diiringi dengan keterampilan yang lain. Apalagi universitas selalu mendukung kegiatan penelitian mahasiswanya. Hal itu telah dibuktikan dengan berbagai bantuan biaya penelitian yang dikemas dalam wujud kompetisi proposal penelitian. Ini hal yang perlu dicontoh oleh Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) karena program ini belum dikemas di dalam PTTAK khususnya di Sekolah Tinggi Teologi, Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri maupun Universitas Kristen yang bernaung di Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen. Kita berharap ke depan ada penyediaan dana dan program kerja sama penelitian antara PTTAK, dosen dan mahasiswa.

Penelitian yang dilakukan sejak dini akan membuat seorang mahasiswa menjadi terbiasa. Pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, maka akan menjadi sebuah budaya. Sebuah paradigma untuk menjadikan penelitian tidak hanya sebagai formalitas dalam mendapatkan beasiswa saja, tetapi enjadi sebuah kebutuhan. Kehausan akan meneliti bagi mahasiswa akan sangat berguna, terutama ketika mereka telah terjun langsung ke dalam masyarakat, baik sebagai pemikir maupun para prakstisi pendidikan.

Kontribusi seorang mahasiswa tidak hanya sebatas menolak suatu kebijakan, ataupun melakukan aksi yang terkadang tanpa solusi. Penelitian adalah sebuah karya nyata yang disumbangkan selagi menjadi mahasiswa. Dengan budaya meneliti yang tinggi, mahasiswa telah berperan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Karena, dari hal-hal kecil, kemudian ditanyakan permasalahannya, mengajukan intuisi, mahasiswa dapat membahasnya sekaligus mencari solusi pemecahannya.

Dan, sekali lagi hal itu tergantung dari keinginan dan gerak nyata seorang mahasiswa dalam memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan. Sedikit langkah itu akan memberikan secerah harapan bagi inovasi dalam pendidikan yang dapat dikembangkan pada bidang teknologi. Kolaborasi penelitian dalam berbagai bidang studi mahasiswa adalah sebuah modal penting bagi pengembangan keilmuan. Sebagai langkah nyata dalam pengamalan Tri Dharma Pendidikan Tinggi. Nah, apa yang kita tunggu lagi? Mari kita niatkan dari sekarang. (http://edukasi.kompasiana.com-/2009/12/01/penelitian-bagi-mahasiswa/).

Kompetensi Penelitian Mahasiswa Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) berkaitan dengan penyusunan skripsi. Penyusunan skripsi merupakan syarat mengikuti ujian tahap akhir. Ini merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa program sarjana (graduate). Keharusan tersebut diharuskan agar mahasiswa mampu menerapkan ilmu dan kompetensi sesuai disiplin ilmu yang dimiliki ke dalam kenyataan yang dihadapi. Skripsi tidak asal disusun, tetapi harus memenuhi berbagai persyaratan ilmiah yang mencakup banyak hal. Mulai dari latar belakang masalah, identifikasi masalah (kalau perlu), pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan menyusun skripsi, sistematika penulisan, tinjauan pustaka (landasan teori), metodologi penelitian (pengumpulan dan analisis data), penyajian hasil dan pembahasan data serta kesimpulan berikut sarannya dan keterbatasan. Penulisan skripsi ini akan berjalan apabila dalam diri setiap mahasiswa memiliki kemauan dan kompetensi penelitian untuk melaksanakan penyusunan skripsi dengan baik.

Untuk mahasiswa di Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) ada dua metode penelitian yang digunakan yaitu metode analisis literatur (Studi Kepustakaan) untuk studi teologi dan Survey (studi lapangan) untuk studi teologi kontekstual. Seperti dituangkan oleh dalam pedoman penulisan skripsi oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama RI  tahun 1996 pada halaman 9-15. Pada dasarnya, metode analisis literatur dan studi teologi kontekstual hanya ingin membedakan metode penelitiannya semata. Kalau studi literatur lebih kepada penelitian yang hanya menggunakan literature sebagai sumber data dan analisisnya. Dan tempat penelitiannya hanya dilakukan di perpustakaan atau dengan menggunakan kepustakaan. Sedang studi teologi kontekstual lebih berbicara mengenai metode penelitian lapangan atau survey. Penentuan penggunaan metode dan pendekatan penelitian, tergantung kepada penguasaan pengetahuan dan interes dari peneliti atau dalam hal ini tergantung kepada mahasiswa Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) dari Jurusan PAK, Teologi dan Musik Gereja.

Peran mahasiswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran; dari mengungkap kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan; dari pembelajaran sebagai aktivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan mahasiswa lain. Kompetensi penelitian mahasiswa jurusan PAK, Teologi dan Musik Gereja dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Kompetensi dalam menulis proposal penelitian
  • Kompetensi dalam menggunakan metodologi penelitian
  • Kompetensi dalam dalam mengumpulkan data
  • Kompetensi dalam menganalisis data
  • Kompetensi dalam menyajikan dan pembahasan hasil penelitian (penyusunan laporan penelitian)
  • Kompetensi dalam membuat kesimpulan dan saran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: