KONSEP GENERASI EMAS

oleh Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd

Ancol, Kamis 22 Mei 2015 – Ja, 06:27 wib

Dari Harapan Hingga Ke Penerapan

Ide membangun generasi emas sering dibicarakan dalam berbagai peristiwa. Ada yang dalam rangka  hari pendidikan nasional, ada yang dalam bentuk sambutan, seminar-seminar nasional di kota Metropolitan Jakarta dan di kalangan praktisi pendidikan. Tetapi itu hanya sebatas wacana-wacana dan harapan di dalam sebuah ruangan sumbang pikiran dan harapan. Membangun generasi emas adalah sebuah konsep penerapan untuk menyiapkan suatu generasi penerus bangsa Indonesia pada 100 tahun emas Indonesia merdeka 1945 – 2045.

Sebenarnya harapan-harapan dan cita-cita dalam pidato, sambutan, seminar dan diskusi itu baik, namun yang disayangkan adalah konsep brilian membangun generasi emas Indonesia hanya untuk para peserta yang mengikuti dan mendengarkan saja? Dalam harapan dari kegiatan itu tentang membangun generasi emas Indonesia adalah sebuah karya nyata dan bukanlah sekedar membahas konsep dan pesan dalam untuk membangun generasi emas Indonesia. Kalaupun membangun generasi emas itu diimplementasikan, sejauhmana yang sudah diwujudnyatakankan.

Kita pasti sangat setuju dengan konsep membangun generasi emas Indonesia, tetapi generasi emas Indonesia yang mana? Apakah hanya yang di Pulau Jawa saja? Bagaimana dengan membangun generasi emas di daerah-daerah lain? Hal ini belum tentu bisa dijawab di dalamnya setelah pidato Menteri Pendidikan, sambutan ketua Partai Golkar maupun dalam seminar dan diskusi dengan para peserta seminar. Sebab membangun generasi emas adalah sebuah konsep penerapan dan perlu realisasi. Untuk itu, sejauhmana konsep membangun generasi emas dimasukkan ke dalam kurikulum terbaru 2013 dan dalam terapan model pembelajaran pada pendidikan formal pada semua jenjang pendidikan, dari PAUD hingga Perguruan Tinggi maupun pada peningkatan melalui pendidikan non formal.

Berdasarkan cita-cita membangun generasi emas Indonesia di atas, memberi beban dan tanggungjawab tersendiri sebagai praktisi pendidikan untuk turut serta berusaha bersama dengan pemerintah untuk membangun generasi emas Sentani di Papua untuk indonesia. Hal yang dapat dilakukan adalah memberikan pencerahan dengan menulis sebuah konsep dan motivasi kepada generasi muda dan orang Sentani untuk membangun generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia. Kita sadar, bahwa kalau kita menunggu hingga konsep membangun generasi emas dari pusat pemerintahan republik Indonesia tiba di lingkungan masyarakat Sentani, itu membutuhkan waktu dan tidak jelas kapan dapat direalisasikan. Itu sebabnya, dengan memiliki beban tersendiri untuk membangun secara khusus generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia, maka buku ini coba digarap untuk langsung disajikan kepada masyarakat Sentani secara umum dan secara khusus kepada generasi muda Sentani. Dengan harapan, ketika buku ini sampai kepada anak-anak Sentani atau siapapun, mereka dapat membaca buku ini dan menangkap maksud dari membangun generasi emas Indonesia dalam konteks generasi emas Sentani. Dengan demikian, generasi muda Sentani bisa memposisikan diri sesegera mungkin dengan baik dalam menyiapkan diri sebagai generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia dalam berbagai hal yang akan disajikan dalam buku ini.

Dalam membangun generasi emas Sentani adalah untuk mewujudkan kehidupan menuju sebuah kesuksesan yang hakiki. Untuk itu, maka setiap orang Sentani, khususnya generasi mudanya pasti memiliki jalan dan langkah sendiri. Pertanyaannya adalah siapakah yang sebenarnya yang paling menentukan langkah dan arah kehidupan seseorang tersebut? Tentu jawabannya, yakni diri Anda sendiri (personal), orang Sentani dan para generasi mudanya. Selanjutnya bagaimana orang Sentani dan generasi mudanya menentukan arah dan langkah mereka supaya proses yang mereka jalani mengalir menuju kesuksesan tersebut bisa laksana air yang mengalir dari hulu menuju hilir tanpa banyak terdapat noice (hambatan, gangguan). Sudah barang tentu perlu diatur; perlu mendapat suntikan pencerahan; spirit dan motivasi, sehingga kehidupan generasi muda Sentani dan masyarakatnya menjadi bergairah dalam mencapai sebuah hilir kesuksesan tersebut.

Generasi muda Sentani juga perlu mengetahui apa itu generasi emas yang sedang digemakan oleh pemerintah pusat yakni melalui Menteri Pendidikan untuk generasi bangsa ini dalam menuju usia kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-100 tahun.

Bangsa Indonesia butuh generasi emas, Provinsi Papua dan Papua Barat perlu membangun generasi emas, lebih-lebih lagi masyarakat Sentani sangat butuh suatu generasi emas. Generasi emas adalah generasi yang bersemangat, energik, mandiri, multitalenta, memiliki spiritual yang baik dan cerdas. Kita butuh generasi yang punya semangat kebangsaan, dan bisa mengubah tata negara, tata daerah, tata wilayah bahkan tata kampung, hingga kepada tata masyarakatnya, tata adat sekalipun, agar kekurangan-kekurangan yang ada menjadi lebih maju, baik dan benar. Kita mau generasi muda kita ini menjadi penerus dan pemimpin bangsa, daerah, dan kampung mereka masing-masing.

Buku membangun generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia ini sebagai langkah mengukir sejarah baru di bumi khena mbai umbai Kabupaten Jayapura Papua dalam mengisi kemerdekaan menuju 100 tahun Indonesia merdeka. Penulis bukan penentu dan pembuat kebijakan. Walau hanya sebagai penulis tetap ingin berkontribusi memberi konsep pemikiran, dan motivasi bagi kebijakan melalui tulisan kepada pemerintah Papua, Kabupaten Jayapura dan lebih khusus kepada generasi muda Sentani. Kalau pun pemerintah Provinsi Papua maupun Kabupaten Jayapura belum segera membuat kebijakan untuk membangun generasi emas Sentani, paling tidak melalui buku ini telah mencoba memberi konsep bagaimana membangun generasi emas Sentani dan menjadikan sejarah baru di bumi khena mbai umbai yang lebih baik.

Ada harapan kecil bagi orang-orang  Sentani agar dapat membaca buku ini untuk kita bersama membangun cita-cita besar. Ketika masyarakat dan generasi muda Sentani membaca buku ini, yakni ada harapan untuk bersama-sama membijaki, menasehati, memotivasi dan mendidik anak-anak, rumah tangga, pendidikan, seni budaya, dunia bisnis, dunia olahraga di  kalangan orang Sentani dengan membangun bersama generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia. Kalau masyarakat Sentani telah lebih dahulu membaca buku ini, berarti mereka mungkin tidak perlu lagi menunggu pemerintah turun tangan baru mereka membangun generasi emas Sentani. Kunci utama membangun generasi emas Sentani ada di tangan orang Sentani sendiri.

Menyiapkan Generasi Emas Indonesia

Setiap kita memperingati hari-hari bersejarah, menjadi penting untuk merenungkan kembali (refleksi) makna yang dikandungnya. Baik dari perspektif kekinian untuk aktualisasi makna maupun dari perspektif kenantian untuk antisipasi masa depan.

Kita semua meyakini bahwa pendidikan adalah sistem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan, dan kemartabatan. Dalam kaitan itulah refleksi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini dilakukan. Yaitu, mempertajam peran pendidikan dalam menyiapkan generasi yang cerdas, yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi dengan tetap memegang teguh harkat dan martabat, baik sebagai individu maupun bangsa.

Salah satu refleksi tersebut, sejak 2010 sampai 2035, kita memiliki populasi usia produktif yang sangat luar biasa besarnya. Jumlah itu pun akan menurun setelah 2035. Meskipun, kita sering tidak menyadari hal tersebut, bahkan mengabaikannya. Padahal, inilah kesempatan emas untuk menyiapkan generasi emas yang akan menjadikan bangsa dan negara Indonesia sebagai negara maju dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri. Sekaligus, menyiapkan 100 tahun Indonesia merdeka (2045) serta sebagai khidmat, tanda bakti, dan terima kasih kepada para pejuang serta pendiri bangsa.

Masa 30-an tahun tersebut tidaklah lama, kalau kita berbicara tentang generasi dan nasib bangsa. Karena itu, saatnya sekarang ini kita harus segera melakukan investasi besar-besaran di bidang sumber daya manusia. Kalau tidak, siap-siaplah kita akan menjadi bangsa yang merugi, bahkan bisa bangkrut.

Peran dan Kebijakan Sistemis

Populasi usia produktif tersebut akan menjadi bonus demografi (demographic dividend) manakala berkualitas. Sebaliknya, hal tersebut akan menjadi bencana demografi (demographic disaster) manakala kualitasnya tidak memadai. Kualitas itu lazimnya diukur dengan indeks pembangunan manusia atau IPM (human development index) yang terdiri atas tiga indeks. Yaitu, pendidikan, kesehatan, dan pendapatan. Yang menarik, studi oleh berbagai lembaga internasional, termasuk Global Competitiveness Report (2010-2011), menunjukkan bahwa lamanya wajib belajar memiliki korelasi positif terhadap peningkatan pendapatan per kapita, daya saing, indeks pendidikan, dan IPM secara keseluruhan.

Korelasi positif tersebut ditandai oleh koefisien korelasi (r). Semakin tinggi nilai r-nya, berarti hubungannya semakin kuat. Koefisien korelasi (r) wajib belajar terhadap peningkatan pendapatan sebesar 0,93; terhadap daya saing 0,96; terhadap pendidikan 0,97; dan nilai koefisien korelasi wajib belajar terhadap IPM secara keseluruhan (total) mencapai 0,99. Mengapa nilai r terhadap IPM justru paling besar (0,99)? Itu menandakan bahwa wajib belajar (baca: pendidikan) memiliki faktor multiplikasi terhadap faktor lainnya. Artinya, pendidikan yang baik memiliki kontribusi yang sangat kuat terhadap peningkatan kualitas kesehatan dan pendapatan per kapita.

Atas dasar itulah, dalam mempersiapkan generasi emas tersebut, harus disiapkan kebijakan sistemis yang memungkinkan seluruh anak bangsa bisa memasuki dan menikmati pendidikan. Kita ibaratkan pendidikan adalah elevator sosial yang mampu memobilisasi secara vertikal menuju status sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan peradaban setinggi mungkin. Karena itu, sekali lagi, kita harus menyiapkan layanan pendidikan yang bisa diakses seluruh warga bangsa. Itulah filosofi pendidikan untuk semua (education for all: EfA).

Yang telah dan sedang dilakukan Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan adalah menyiapkan kebijakan sistemis yang memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal secara masif (utuh dan padat). Mulai gerakan nasional pendidikan anak usia dini (PAUD), penuntasan dan peningkatan kualitas pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) melalui bantuan operasional sekolah (BOS), serta gerakan nasional rehabilitasi ruang kelas.

Juga, pada 2012 ini, Kemendikbud melakukan rintisan pendidikan menengah universal (PMU). Dengan kebijakan PMU, diharapkan pada 2020 angka partisipasi kasar (APK) sekolah menengah mencapai 97,5 persen. Tanpa kebijakan itu, APK baru dicapai pada 2040. Kita ingin pada 2020 anak-anak Indonesia minimal lulus sekolah menengah.

Tidak hanya itu, perluasan akses ke perguruan tinggi juga disiapkan melalui peningkatan daya tampung, bantuan operasional untuk perguruan tinggi (BOPT), pendirian perguruan tinggi negeri di daerah perbatasan, serta memberikan afirmasi akses secara khusus kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi tapi berkemampuan akademis berupa beasiswa Bidik Misi. Yaitu, pembebasan seluruh biaya pendidikan dan pemberian biaya hidup (living cost).

Afirmasi akses kita perkuat melalui UU Pendidikan Tinggi yang sekarang sedang dibahas. Yakni, perguruan tinggi negeri harus menerima minimal 20 persen mahasiswa dari keluarga tidak mampu secara ekonomi, namun berkemampuan secara akademis, pada setiap penerimaan mahasiswa baru. Afirmasi akses tersebut selama ini diamanatkan melalui PP No 66 Tahun 2010. Mudah-mudahan, UU PT tersebut disahkan sebelum Agustus 2012.

Dengan kebijakan sistemis tersebut, diharapkan hambatan-hambatan akses karena sosial-ekonomi atau kewilayahan (geografis) ke dunia pendidikan, termasuk ke perguruan tinggi, dapat diatasi. Dengan demikian, seluruh anak bangsa memiliki kesempatan emas untuk memasuki elevator sosial (pendidikan) menuju zaman keemasan Indonesia.

Usaha Tiada Henti

Memang harus kita sadari, bahwa persoalan dunia pendidikan memang tidak akan pernah selesai. Menteri Pendidikan mengatakan selalu mengatakan, jika persoalan dunia pendidikan bisa diselesaikan, sudah sejak lama negara-negara maju tidak memiliki lagi Menteri Pendidikan.

Yang disampaikan di atas adalah masalah akses yang harus diikuti peningkatan kualitas. Di sinilah pentingnya dunia pendidikan harus terus-menerus meningkatkan kualitas akademis dan kemuliaan dalam interaksi sosialnya serta menjadi pelopor dalam melahirkan pemimpin bangsa. Dengan demikian, pendidikan akan melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan komprehensif, termasuk teknis dan kecerdasan sosial, bukan generasi yang mengidap kecacatan sosial (socio idiot) dan kecacatan teknis (technical idiot).

Pada titik temu ini, pendidikan juga harus bisa membangun pola pikir (mindset) positif-optimistis dan landasan akademis yang kukuh sekaligus secara paralel menyiapkan kemampuan dan keterampilan teknis (technical skill ) yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan dan persoalan. Modalitas tersebut kita harapkan bisa mengantarkan generasi yang cerdas, yaitu generasi yang memiliki pola pikir solutif-nondestruktif, cost effectiveness (biaya sosial, politik, dan ekonomi) dalam menyelesaikan berbagai tantangan dan persoalan, serta selalu berpegang pada pentingnya menjunjung tinggi harkat dan martabat. Menyiapkan generasi yang cerdas merupakan langkah awal dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945.

Membangun Peradaban

Kita semua menyadari, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mobilitas barang maupun non barang (termasuk peradaban) sangatlah tinggi. Karena itu, sangat wajar dan dimungkinkan terjadinya dominasi peradaban tertentu atau konvergensi peradaban, bahkan bisa jadi benturan antar peradaban (seperti tesis Samuel Huntington).

Pada kemungkinan kedua inilah, yaitu konvergensi peradaban, kita harus mempersiapkan diri. Dunia pendidikan harus mampu membangun peradaban khas Indonesia untuk memberikan kontribusi dalam membangun peradaban baru dunia. Ibarat warna cahaya putih yang kalau diurai terdiri atas beberapa spektrum cahaya, salah satu spektrum itulah spektrum khas peradaban Indonesia.

Sebagai bangsa besar, dengan modalitas yang sangat luar biasa, baik sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya kultural, maupun pengalaman dan kesempatan, sudah saatnya kita kepakkan sayap Garuda kita, lambang negara kita. Bangsa ini telah bersepakat menjadikan burung Garuda, burung yang gagah dan perkasa yang mampu terbang jauh dan tinggi melanglang angkasa, sebagai lambang negara kita, bukan burung cipret atau emprit (Budi Santoso, 2012).

Konsep Generasi Emas menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka

Apakah sebenarnya generasi emas? Dan bagaimana konsep generasi emas tersebut? Kita perlu terlebih dahulu mengetahui sehingga memahami, agar supaya ketika buku ini dibaca, akan dimengerti dengan baik dan tepat.  Ada dua pengertian tentang generasi emas. Pertama, generasi emas berkaitan dengan bagaimana keadaan generasi Indonesia pada menuju usia bangsa Indonesia yang ke 100 pada tahun 2045. Kedua adalah generasi emas dalam perjabaran kata. Bagian kedua ini akan dibahas kemudian.

Dalam sambutan Menteri Pendidikan dalam HUT Pendidikan Nasional tahun 2012, beliau mengatakan bahwa refleksi pendidikan yang harus dilakukan adalah mempertajam peran pendidikan dalam menyiapkan generasi yang cerdas, yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi dengan tetap memegang teguh harkat dan martabat, baik sebagai individu maupun bangsa (Budi, 2012).

Populasi usia produktif tersebut akan menjadi bonus demografi (demographic dividend) manakala berkualitas. Sebaliknya, hal tersebut akan menjadi bencana demografi (demographic disaster) manakala kualitasnya tidak memadai. Kualitas itu lazimnya diukur dengan indeks pembangunan manusia atau IPM (human development index) yang terdiri atas tiga indeks. Yaitu, pendidikan, kesehatan, dan pendapatan.

Dalam mempersiapkan generasi emas tersebut, harus disiapkan kebijakan sistemis yang memungkinkan seluruh anak bangsa bisa memasuki dan menikmati pendidikan. Kita ibaratkan pendidikan adalah elevator sosial yang mampu memobilisasi secara vertikal menuju status sosial, ekonomi, kemanusiaan, dan peradaban setinggi mungkin. Karena itu, sekali lagi, kita harus menyiapkan layanan pendidikan yang bisa diakses seluruh warga bangsa. Itulah filosofi pendidikan untuk semua.

Afirmasi akses kita perkuat melalui UU Pendidikan Tinggi yang sekarang sedang dibahas. Yakni, perguruan tinggi negeri harus menerima minimal 20 persen mahasiswa dari keluarga tidak mampu secara ekonomi, namun berkemampuan secara akademis, pada setiap penerimaan mahasiswa baru. Afirmasi akses tersebut selama ini diamanatkan melalui PP No 66 Tahun 2010. Dengan kebijakan sistemis tersebut, diharapkan hambatan-hambatan akses karena sosial-ekonomi atau kewilayahan (geografis) ke dunia pendidikan, termasuk ke perguruan tinggi, dapat diatasi. Dengan demikian, seluruh anak bangsa memiliki kesempatan emas untuk memasuki elevator sosial (pendidikan) menuju zaman keemasan Indonesia

Konsep Generasi Emas Dalam Penjabaran Kata EMAS

Bagian kedua adalah pengertian generasi emas dalam arti penjabaran kata EMAS. Generasi EMAS adalah generasi Energik, Multitalenta, Aktif dan Spiritual. Jadi, Membangun generasi EMAS Sentani (Indonesia) adalah sebuah produk generasi baru yang Energik, Multitalenta, Aktif dan Spiritual. Generasi yang cerdas (smart), generasi yang siap bersaing diera modern, globaliasi dan penuh kompetitif. Mereka siap pakai dalam bidang kerja apapun. Bukan hanya siap bersaing di tingkat kabupaten Jayapura tetapi juga pada tingkat nasional dan internasional. Kalau bisa suatu saat ada anak Sentani yang menjadi menteri atau staf khusus kepresidenan. Kalau bisa ada banyak anak Sentani juga yang kerja di luar daerah dan luar negeri. Konsep generasi E-M-A-S tersebut dapat dijelaskan penjabarannya sebagai berikut.

Generasi Energik

Energik artinya penuh energi atau bersemangat. Mari kita pelajari segala rahasia di balik semangat. Semangat bisa melahirkan rasa optimis. Seseorang yang memiliki semangat akan mempunyai kekuatan mengarahkan aktivitasnya dan hidupnya. Misalnya, rahasia kebugaran adalah selalu berusaha untuk tetap semangat dalam bekerja. Semangat adalah sesuatu yang menular. Orang yang memiliki semangat akan mampu mengubah atmosfer lingkungan di mana dia berada. Generasi muda yang bersemangat akan menciptakan lingkungan menjadi lebih menyenangkan. Tanpa semangat, semua orang tidak bisa mencapai sesuatu yang besar (Fathul, 2012: 142).

Krisis, kesulitan, kekecewaan, dan masalah pribadi kadang kala dapat memudarkan semangat yang kemudian mengakibatkan hilangnya gairah untuk beraktivitas. Generasi muda, mulai hari ini harus semangat…semangat dan semangat..dengan ekspresi yang benar-benar bersemangat dan tidak loyo sedikit pun.

Generasi muda harus selalu menunjukkan bahwa ia sehat dan bugar. Ini berarti bahwa generasi muda siap lahir batin untuk melakukan aktivitas dan tugasnya secara baik. Generasi muda harus bersemangat menghadapi apapun. Itu sebabnya, Anda sebagai generasi muda salah satunya, harus mengatur jadwal olahraga setiap pagi untuk menjaga kesehatan Anda.

Selain olahraga secara rutin Anda juga perlu mencari hiburan untuk menyegarkan pikiran dan menambah energi Anda. Seperti mendengarkan lagu, nonton film motivasi atau ilmu pengetahuan, baca buku,  jalan-jalan, dll. Bagaimana pun ketika Anda terlihat energik, maka hal itu akan mempengaruhi terhadap kondisi di mana Anda beraktivitas, seperti belajar, kuliah, bekerja, di tempat latihan, di bengkel kerja, dan dimana saja. Dengan kondisi tubuh yang bersemangat, anda dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik, prestasi juga akan meningkat, selalu fit dalam melakukan berbagai kegiatan karena terlihat energik.

Generasi Multitalenta

Multitalenta bisa digambarkan juga dengan Multiple Intelegence. Tetapi multiple Intelegence sifatnya lebih umum, terdiri dari kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Seluruh aspek kecerdasan tersebut ada pada setiap individu tanpa terkecuali.

Multitalenta, sifatnya lebih spesifik pada bidang tertentu misalnya menari, menyanyi, sepak bola. Belum tentu semua individu memilikinya. Kecerdasan multiple intelegence maupun multitalenta akan berkembang secara optimal melalui stimulasi yang bisa diberikan sejak dini.

Generasi Masa Depan atau generasi emas yang kita mau bangun ini harud mengenali kecerdasan dan talentanya. Buah hati atau anak-anak adalah asset masa depan bangsa dan negera. Agar generasi muda Sentani mampu survive di dunia yang penuh kompetisi, mereka harus mengantongi berbagai bekal, yakni kecerdasan dan talenta. Kecerdasan dan talenta adalah syaratnya.

Sering kita mendengar ada anak berbakat multitalenta. Pelajaran di bidang ilmu pengetahuan alamnya baik, tetapi di bidang ilmu pengetahuan sosialnya juga baik. Matematikanya bagus, biologinya juga bagus. Ilmu sejarahnya bagus, ilmu geografinya juga bagus. Menggambarnya istimewa, ikut main drama juga istimewa. Kita juga sering mendengar ada artis ibu kota serba bisa. Bisa main senetron dan terkenal, bisa menyanyi dan masuk dapur studio rekaman, bisa menjadi presenter dan nampak lincah, cerdas dan komunikatif.

Bila kita cermati, sesungguhnya beberapa prestasi unggul tersebut merupakan buah suatu kinerja atas banyak variabel yang turut mewarnai atas tercapainya dan terwujudnya prestasi puncak tersebut (multitalenta). Variabel yang dimaksudkan adalah aspek natural, aspek nurtural dan aspek lingkungan. Aspek natural adalah aspek alami yang berupa bakat bawaan sejak seseorang dilahirkan dan bisa juga disebut sebagai potensi inherent dari orang tersebut. Sedangkan aspek nurtural adalah pengasuhan yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya. Pengasuhan tersebut bisa berasal dari kedua orang tuanya, guru-gurunya selama ia bersekolah, teman-teman dekatnya, para tetangganya dan seterusnya. Aspek nutural bisa berupa lingkungkan pendidikan formal disekolah, bisa lingkungan pendidikan informal di rumah dan bisa juga lingkungan pendidikan non formal di lembaga-lembaga khursus atau lembaga-lembaga pelatihan.

Pendek kata aspek nutural ini berupa interaksi pergaulan antar manusia.  Aspek lingkungan adalah aspek eksternal dimana anak tersebut berada. Aspek lingkungan bisa berupa adat-istiadat, norma yang tumbuh di masyarakat, tontonan yang ada di dalam tv, berita-berita yang ada dalam media elektronik maupun media cetak, dll. Aspek lingkungan juga bisa berupa kondisi geografis, misalnya di daerah tropis, daerah pegunungan, daerah pantai, dll. Kesemuanya itu akan mempengaruhi proses pembelajaran secara keseluruhan dari seorang anak. Proses itu akan terinternalisasi oleh diri seseorang yang disebut multitalenta itu.

Multitalenta adalah sebuah potensi kemampuan yang memiliki kesediaan yang tinggi untuk menerima stimulus berupa apapun. Ia mudah menerima rangsangan dan mudah beradaptasi untuk situasi apapun. Potensi utamanya manjadi manusia yang generik, serba bisa. Kelemahannya adalah tidak fokus, maka anak seperti itu harus mendapat arahan yang proporsional dan menurut skala prioritas yang dibutuhkan (pada zamannya, pada dunianya).

Pada tes deteksi dermatoglyphics multiple intelligence disebut berbakat multitalenta adalah bila grafik hasil dari tesnya adalah rata semuanya. Semua grafik distribusi multiple intelligence-nya adalah sama tingginya atau sama rendahnya, pendek kata rata semuanya.

Multitalenta artinya banyak bakat. Jangan berhenti belajar, namun tak perlu mempelajari semuanya. Kenali apa kekuatan Anda untuk menjadi seorang ahli, agar Anda mampu menuntaskan pekerjaan dengan hasil yang baik. Anda akan merasa kesenangan jika Anda mampu menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya. Mempelajari semua hal memang baik untuk menambah wawasan dan kebijakan. Namun jika Anda tidak punya keahlian yang menjadi keunikan diri Anda, maka Anda takkan tahu apa yang ingin Anda kerjakan dengan baik. Hanya karena Anda Ahli, Anda akan menetapkan standar yang tinggi. Sedangkan standar tinggi adalah salah satu kualitas dari seseorang yang berprestasi.

Dalam delapan kecerdasan, menujukkan bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan-kecerdasan khusus. Dan hal itu perlu dikenali dalam diri Anda, apa kecerdasan yang Anda miliki. Ketika anda mengintropeksi diri dan menemukan kecerdasan yang Anda miliki, Anda bisa mengembangkannya secara maksimal. Jangan kuatir, kalau Anda memiliki beberapa kecerdasan. Jangan diabaikan dari kehidupan Anda. Kecerdasan itu dapat digunakan jika Anda memiliki waktu dan kesempatan. Orang bisa karena biasa. Jika kecerdasan-kecerdasan lain yang Anda miliki digunakan dan terus-menerus diasa, Anda akan memiliki beberapa kecerdasan baru.

Demikian halnya dengan talenta atau bakat. Kalau hanya punya satu talenta saja, maka Anda harus bisa belajar lagi untuk menguasai dan memiliki talenta yang lain. Sebab dalam bagian “M” ini bicara mengenal generasi Emas yang memiliki multitalenta atau banyak talenta. Ada yang punya talenta menyanyi, main musik, menulis, olahraga, seni tari, seni ukir, seni pahat, dan sebagainya. Jangan katakan talenta Anda tidak ada apa-apanya.  Pernah lihat orang cacat main gitar, atau piano, penari balet dengan satu lengan, dan satu kaki. Dengan keterbatasan mereka semangat berlatih dan berlatih sehingga bisa menguasai suatu bakat dan talenta secara profesional.

Generasi multitalenta adalah generasi yang terus mengembangkan diri dengan menguasai dan memiliki berbagai talenta, baik talenta yang sudah ada, maupun talenta dan bakat baru yang secara sengaja dipelajari melalui khursus dan latihan. Generasi banyak bakat mereka akan terus berkreasi dan berkreasi. Mereka tidak akan menjadi generasi muda yang mati dan pasif. Mereka akan menciptakan hal-hal spektakuler. Acara-acara di TV Nasional dan Swasta telah menyelenggarakan acara Indonesia Mencari Bakat, Indonesia Idol, Indonesia Idol Junior, The Rising Star, AFI, Mama mia, KDI, dll. Siapa tahu dengan bakat-bakat yang dimiliki dapat menghentar anak-anak Sentani yang punya banyak bakat-bakat khusus menjadi seleberitis di kota metropolitan dan hal-hal itu ada di depan mata kita semua.

Itu berarti, sangat mungkin bagi Anda yang memiliki talenta dan bakat khusus yang profesional, untuk go nasional maupun go internasional dan bisa menjadi orang terkenal. Seorang selebritis legendaris bernama Iwan Fals pernah berkata ‘walaupun Anda punya banyak talenta, kembangkan salah satu saja yang mungkin bisa membuat Anda cepat terkenal, dan itu yang sudah saya (Iwan Fals) lakukan.’

Di dalam Kitab Suci orang Kristen yakni Alkitab yaitu dalam Perjanjian Baru yaitu Injil Matius pasal 25 ayat 14 sampai 30 dan Injil Lukas pasal 19 ayat 12 sampai 27 dengan perikop “perumpamaan tentang talenta”. Di kisahkan bahwa ada tiga anak muda diberikan talenta; anak muda pertama diberikan satu talenta; anak muda kedua diberikan dua talenta, anak muda ketiga diberikan lima talenta. Masing-masing talenta ini harus dikembangkan. Hasilnya adalah anak muda yang menerima satu talenta dia tidak mengembangkan, malah menguburnya. Anak muda yang menerima dua talenta dia mengembangkannya menjadi empat talenta; dan yang menerima lima talenta dia mengembangkannya menjadi sepuluh talenta. Hasil yang diperoleh oleh ketiga anak muda ini adalah bahwa anak muda yang tidak mengembangkan talenta dia diusir dan tidak pernah ikut menikmati bahagia tuannya, sedangkan anak muda yang punya talenta lebih banyak (multitalenta) dan bisa mengembangkannya dengan baik mendapatkan pujian dari tuannya,  bahkan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar lagi, mereka juga mendapat penghargaan-penghargaan karena prestasi dari talenta-talenta yang terus di kembangkan.

Jadi, menjadi generasi emas dalam hal generasi multitalenta, berarti generasi muda yang dituntut memiliki banyak bakat atau telenta. Kemudian talenta-talenta itu dikembangkan untuk menjadi talenta profesional sehingga dapat bermanfaat bagi generasi muda itu sendiri, seperti penjelasan di atas.

Dapatkah Anda bayangkan, jika generasi muda Sentani memiliki multitalenta, dan talenta-talenta tersebut memberi hasil dalam karir apapun dan juga dalam memberi incame (pendapatan). Dengan mengembangkan bakat dan talenta, tidak menutup kemungkinan juga, bahwa ada anak-anak Sentani yang dapat mengharumkan nama Sentani, nama Kabupaten Jayapura, nama Papua dan nama Indonesia.

Generasi Aktif

Aktif berarti giat (bekerja, berusaha). Di sekitar kita ada banyak contoh kegiatan, tentang kata “aktif”. Misalnya: seseorang terlihat aktif sekali dalam kegiatan sosial, mahasiswa yang aktif dalam proses belajar mengajar, siswa yang aktif belajar, orang-orang yang aktif di dunia bisnis, dan sebagainya. Bagaimana dengan generasi yang aktif? Kata aktif disini lebih kepada memiliki inisiatif dan proaktif.   Insiatif dan proaktif ini adalah suatu kompetensi. Generasi yang aktif berlawanan dengan generasi yang pasif. Menurut Sudarmanto (2009: 106) bahwa kata aktif adalah kemampuan individu untuk mengambil tindakan tanpa harus diperintah, mengerjakan sesuatu melebihi dari yang dipersyaratkan pekerjaan, menemukan atau menciptakan kesempatan-kesempatan baru.

Aktif juga bisa berarti lakukan apa yang Anda sukai. Ini akan menumbuhkan semangat dan kesenangan dalam setiap pekerjaan. Anda akan temukan bahwa keberhasilan bukan sesuatu yang ada di depan sana, namun berjalan seiring dengan apa yang Anda kerjakan.

Generasi aktif bukan dalam satu bidang saja, tetapi dalam segala bidang. Generasi aktif adalah generasi yang siap pakai. Anda mungkin kenal dengan benda elektronik yakni “speaker aktif”. Speaker aktif ini tidak perlu banyak alat-alat pendukung. Cukup dicok dan diaktifkan (on), kabel penghubung dipasang di tape, VCD, HP, dll, maka Anda langsung sudah bisa menikmati suara indah musik yang dihasilkannya. Kalau speaker pasif, berarti Anda harus mencari peralatan pendukung seperti mixer dan power, agar supaya bisa berfungsi untuk menghasilkan suara atau bunyi.

Semua orang berguna, kalau aktif. Tidak ada orang yang tidak berguna. Itu artinya, kalau generasi muda Sentani (Indonesia) mau bergerak mereka bisa saja melakukan hal-hal positif yang berguna bagi dirinya, bagi orang lain, bagi masyarakat luas, bagi gereja, dan sebagainya. Seringkali kita mendengar banyak harapan kepada generasi muda, bahwa generasi muda adalah generasi penerus bangsa, generasi muda adalah tulang punggung gereja, generasi muda adalah harapan keluarga, marga, suku dan kampungnya. Kalau generasi mudanya tidak pernah aktif dalam berbagai kegiatan, apakah harapan-harapan ini dapat terwujud? Itu mustahil terwujud, karena harapan itu tinggal kenangan dan cita-cita hampa tanpa realitas.

Generasi muda yang aktif, masa depannya cerah, sedangkan generasi yang pasif masa depannya abu-abu atau tidak jelas. Generasi muda yang aktif, langkahnya akan terus dituntun yang Maha Kuasa pada suatu kepercayaan pada pekerjaan khusus. Sebab orang yang aktif pada pekerjaan khusus, bisa jadi ahli di bidang tersebut dan bahkan muda sekali mendapat jabatan untuk membidangi pekerjaan yang dianggap itu adalah kemampuannya atau kompetensinya. Artinya, ketika generasi muda aktif, bisa dilihat bakat-bakat yang dimilikinya sehingga untuk pengembangan diri dan karir lebih mudah. Oleh karena itu jadilah generasi mudah yang aktif, bukan generasi muda yang pasif.  Menyesallah hari, sebelum semua terlambat dan menyesal kemudian, maka pilihlah menjadi generasi muda yang aktif.

Generasi Spiritual

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2005; 1087) spiritual adalah berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani atau batin); sedangkan spiritualisasi berarti pembentukkan jiwa atau penjiwaan.  Menurut Simon Can (2010: 14) bahwa “Secara fenomenologis, spiritualitas dapat dijelaskan sebagai cara hidup yang muncul dari struktur dua komponen dasar: roh dan kata. Komponen “roh” terdiri dari realitas pengalaman dan bersifat non-rasional, yang seringkali diungkapkan dalam pengertian transenden – yang kudus” atau yang “nyata”. Komponen “kata” adalah pembentukkan konsep yang rasional tentang pengalaman yang transenden, yang diungkap dalam formulasi atau dogma teologis”. Pengky Andu (2009: 90) mengatakan bahwa “dunia memberikan sukses materi, sukses kedudukan, tetapi dunia tidak pernah berbicara bagaimana memiliki roh yang sukses. Roh yang sukses berarti memiliki pikiran dan hati yang sukses. Kalau roh gagal, maka selesailah hidup ini”.

Spiritual lebih berkaitan pengalaman keagamaan baik agama Kristen maupun agama lainnya. Spiritualitas Kristen Protestan secara pribadi lebih dinamis. Penekanan yang berbeda-beda dalam paham Protestan menghasilkan pengalaman rohani yang berbeda pula. Beberapa menawarkan bentuk spiritualitas yang berfokus pada pengalaman pribadi gengan Allah; yang lain menekankan kehidupan bersama sebagai suatu kesatuan. Beberapa lebih antusias (berapi-api), yang lain lebih sacramental. Sekalipun orang Kristen berbeda dalam ungkapan dinamika kehidupan rohani batiniah mereka secara lahiriah, kita tetap dapat mengatakan adanya satu spiritualitas Kristen yang didasarkan pada pengalaman orang Kristen dengan Allah melalui Yesus Kristus. Sebab orang Kristen, paling tidak dalam prinsip, dipersatukan disekitar pernyataan iman yang bersifat ekumenis.

Berdasarkan penjelasan di atas, bagaimana konsep generasi yang memiliki spiritual? Kita tidak belajar teologi dalam penjelasan ini, tetapi lebih kepada pemahaman dan penerapan. Spiritual adalah hal rohani, masalah refleksi dan penerapan nilai-nilai ajaran agama atau doktrin keagamaan dalam pribadi seorang muda.  Kalau Anda adalah seorang Kristen bagaimana Anda memahami dan menerapkan prinsip dan norma-norma agama Kristen dalam diri Anda.

Generasi spiritual disini menunjukkan kepada generasi muda Sentani yang memiliki kualitas kehidupan rohani yang baik. Generasi muda Sentani yang taat beragama, taat beribadah, taat berdoa, taat menjalankan ajaran-ajaran agama dengan baik dalam hidup. Selain itu generasi spiritual adalah generasi muda yang aktif dalam bidang keagamaan. Artinya, generasi muda yang menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang agama, mereka tidak melibatan dirinya pada minum mabuk, narkotika, seks bebas, dan hal-hal buruk lainnya. Kecintaan mereka juga pada hal-hal spiritual atau rohani.

Ketika anak-anak muda Sentani memiliki spiritual yang baik, maka akan terbentuk suatu masyarakat Sentani yang aman dan damai. Ketika anak-anak Sentani memiliki spiritual yang baik, di dalam pergaulan sosial,  dalam menghadapi tantangan dan kesulitan, mereka akan ingat bahwa masih ada tangan Sang Maha Kuasa yang dapat menolong mereka. Hal generasi spiritual ini tidak bisa muncul dan terjadi begitu saja tanpa ada campur tangan dan kerja keras dari para tokoh agama. Khususnya dalam hal ini lembaga gereja yang di dalamnya ada para pelayan jemaat, dan para gembala sidang serta semua majelis gerejanya yang ada. Lebih khusus kepada unsure-unsur gereja yang terlibat langsung dengan pelayanan terhadap generasi muda. Spiritual generasi muda harus ditanamkan dan dibangun dengan baik, sehingga menjadi gaya hidup mereka. Hal spiritual bagi generasi muda bukan sekedar mengisi knowledge (kognitif atau pengetahuan) saja, tetapi menyangkut perubahan sikap dan ketrampilan keagamaan yang telah dikuasai seperti dapat berdoa, perilaku yang baik, mampu hidup sesuai dengan norma agama Kristen dan lain sebagainya.

Satukan dukungan untuk membangun generasi emas Sentani dalam hal spiritual mereka. Generasi muda dengan spiritual yang baik, maka spiritual yang baik itu akan menjaganya, menopangnya, membimbingnya pada jalan-jalan menuju masa depan yang baik. Generasi muda dengan modal spiritual yang baik, akan mampu menjaga dirinya dengan baik dari segala pengaruh buruk yang ada disekitarnya. Mata hati generasi muda semakin pekah dan akan mampu menilai mana yang benar dan mana yang salah. Dengan kondisi spiritual yang baik, yakni rohnya (rohani) baik, pasti pikirannya akan baik, dengan demikian apa yang akan keluar dari mulutnya dalam bentuk kata-kata yang menjadi kalimat, pasti akan baik dan damai di pendengaran siapapun.

Generasi muda yang spiritual otomatis memiliki sopan santun yang tinggi. Mereka tahu menghargai orang. mereka akan menyegani orang lain, dan juga akan disegani orang. sebab tidak banyak anak muda memilih untuk memiliki spiritual yang baik. Namun dalam catatan uraian diatas tentang membangun generasi emas sentani, di dalamnya salah satunya adalah generasi spiritual. Itu artinya, untuk membangun generasi emas, spiritualnya menjadi satu dari empat penting tersebut. Empat hal itu perlu diingat dan dicamkan baik, yaitu E-M-A-S (Enerjik, Multitallenta, Aktif dan Spiritual). Spirirtual menjadi salah satu modal penting dan mendasar dalam membangun generasi emas.

Memandirikan Generasi Emas Indonesia

Sejak ditegaskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, M. Nuh pada Mei 2012, pada momen Hari Pendidikian Nasional, bahwa menjelang 100 tahun Indonesia Merdeka, pada 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demograsi (demographic dividen). Jumlah penduduk usia produktif, akan mendominasi jumlah penduduk Indonesia. Penduduk Indonesia usia muda lebih banyak dibandingkan dengan usia tua. Usia 0-9 tahun sebesar 45 juta, pada tahun 2045 akan berusia 35-45 tahun dan Usia 10-19 tahun berjumlah 43 juta jiwa, pada tahun 2045 akan berusia 45-54 tahun. Menurut Mndikbud, M. Nuh, usia tersebut merupakan generasi emas Indonesia.

Untuk bisa memanfaatkan bonus demograsi menjadi asset nasional, maka kunci strategisnya adalah masalah pendidikan. Terutama pendidikan berbasis kemandirian bangsa. Hal ini diungkap oleh pendiri Kelompok Belajar Qaryah Tayyibah, Salatiga, Ahmad Bahruddin, waktu menyampaikan presentasi dalam Seminar Nasional bertajuk “Merajut Generasi Emas Indonesia” yang digelar oleh Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (15/06) di Auditorium UMK.

“Generasi emas adalah generasi mandiri. Jadi pendidikan yang diberikan juga harus berbasis lokalitas,” ujar Bahruddin menyarankan. Sumber daya lokal dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ia mengaku prihatin dengan kondisi Indonesia yang limpahan sumber daya alamnya rusak oleh eksploitasi yang dilakukan perusahaan asing.

Komunitas belajar Qaryah Tayyibah misalnya, dalam pembelajaran mereka memanfaatkan sumberdaya lokal. Meski begitu, teknologi modern juga tidak ditinggalkan sebagai media berkarya. Melalui pendidikan berbasis lokal dan kemandirian dalam pembelajaran, tambah Bahruddin, secara otomatis akan terbentuk komunitas belajar, masyarakat pembelajar. Bahkan, dalam jangka lebih panjang akan terwujud masyarakat yang cerdas. Senada dengan Burhanuddin, Prof. Dr. Ki Suprijoko, M.Pd. (Ketua Pendidikan dan Kebudayaan Majlis Luhur Taman Siswa Yogyakarta) menunjukkan tokoh lokal sebagai inspirator dalam pendidikan, misalnya Ki Hajar Dewantoro. Mempersiapkan generasi emas tentunya tidak terlepas dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Konsep pendidikan anak sebenarnya telah dikembangkan oleh KH Dewantoro pada 1922 melalui Taman Indria. Pembelajan dilakukan dengan cara bermain (dolanan). “Pemikiran dan praktik pendidikan yang dijalankan tokoh pendidikan nasional tersebut perlu ditiru untuk mewujudkan gagasan Generasi Emas Indonesia,” ujar Suprijoko.

Merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantoro, kemajuan pendidikan, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab pendidikan. Ada tiga pusat pendidikan sebagaimana dikenal dalam konsep Trisentra, yakni keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat. “Peran keluarga dan masyarakat inilah yang perlu dimaksimalkan,” katanya.
Sementara itu, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. (Kepala Badan Standar Pendidikan Nasional/BSNP) berpendapat bawah untuk mewujudkan generasi emas mendatang, paradigma pendidikan juga harus diubah. “Bukan teaching tapi learning, guru bukan hanya mengajar akan tetapi mampu membangkitkan siswa untuk belajar mandiri,” tutur Prof Mungin.

Aktivitas mendidik, oleh Prof Mungin diartikan sebagai seni agar siswa dapat menikmati pembelajaran yang dihadapi. Ia khawatir dengan paradigma yang muncul pada sebagian oknum guru. Pasalnya, guru yang seharusnya dimaknai sebagai mendidik akan tetapi dipahami sebagai sekadar profesi.

“Tidak sedikit pendidik karbitan, karena seleksinya saja sekadar kognitif bukan kepribadian. Namun begitu, tidak sedikit pula guru yang baik dan pantas menjadi teladan,” katanya.

Gagasan Generasi Emas muncul lantaran kondisi jumlah penduduk Indonesia yang lebih banyak dibandingkan usia tua. Pasalnya, saat ini terdapat 88 juta penduduk Indonesia usia 0-19 tahun. Hal ini disebut sebagai demography bonus atau demography deviden. Sehingga 100 tahun kebangkitan nasional, pada 2045, generasi muda Indonesia diharapkan mampu bersaing secara global. (Hoery/Farih-Info Muria, 2012)

Membentuk Generasi Muda Yang Unggul

Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk generasi muda, tapi kita dapat membangun generasi muda untuk masa depan,” begitulah kalimat sarat makna yang pernah dilontarkan oleh Franklin D. Roosevelt, seorang mantan presiden Amerika Serikat yang ke-32. Frank begitu dia disapa, menggambarkan bahwa betapa pentingnya membangun dan mempersiapkan generasi muda untuk menjawab tantangan dimasa depan. Hal demikian ini dikatakan karena pada dasarnya, generasi muda memiliki pemikiran yang kritis, idealis dan mempunyai daya kreatifitas yang tinggi. Inilah yang menyebabkan para pemimpin diseluruh dunia menyebut generasi muda sebagai harapan bangsa, dan akan menentukan nasib bangsa itu sendiri.

Sejarah Indonesia pernah mencatat peran penting generasi muda sejak masa pergerakan dulu, banyak sekali hasil dari pemikiran pemuda yang menjadi tolak ukur perjuangan untuk melawan kolonialisme. Budi Utomo misalnya, organisasi bentukan Dr. Soetomo ini menjadi motor pergerakan para pemuda untuk merebut kemerdekaan, menjadi organisasi yang mengajarkan nasionalisme, yang sampai saat ini dikenal sebagai awal dari kebangkitan Indonesia.

Generasi muda juga punya andil besar bagi kemerdekaan bangsa kita, dalam literatur sejarah yang dipelajari, kemerdekaan Indonesia tidak akan lepas dari peristiwa penting yang bernama Peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ‘penculikan’ yang dilakukan para tokoh muda terhadap kedua tokoh PPKI, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ini, terjadi karena adanya silang pendapat antara golongan muda dan golongan tua mengenai waktu dilaksanakannya proklamasi kemerdekaan. Dimana saat itu, golongan pemuda menginginkan agar segera diadakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan menginginkan agar kemerdekaan itu sebagai hasil dari perjuangan bangsa Indonesia.

Ya, bagitu penting peran pemuda bagi kemerdekaan, sampai ada anekdot seperti ini, “Tidak akan ada kemerdekaan tanpa peristiwa rengasdengklok, tanpa pemuda!” Sekarang ini, sebagai generasi muda, kita dituntut untuk memiliki pemikiran yang luas terhadap masalah-masalah yang sedang terjadi di Indonesia, kita harus mempunyai gagasan dan solusi untuk menghadapinya. Masalah-masalah seperti kemiskinan, pelanggaran hukum, HAM, ras dan terpenting adalah masalah korupsi. Korupsi bukan lagi menjadi tanggungjawab penegak hukum, tapi sudah menjadi agenda penting bagi kita untuk ikut memberantasnya. Sudah sepantasnya sebagai calon pemimpin bangsa, kita ikut menegakan hukum di negeri tercinta ini.

Kemudian, Sebagai pemuda yang hidup di bangsa yang besar, kita juga dituntut untuk memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang menjadi ruh bangsa. Kita harus senantiasa mencintai bangsa kita sendiri, memiliki semangat kebangsaan yang tinggi dan rela berkorban demi bangsa dan negara. Hal-hal kecil seperti menggunakan produk asli Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan hidup, menyukai budaya lokal, atau melakukan hal-hal positif yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat atau bangsa dan negara juga bagian dari implementasi kedua paham tersebut. Salah satu yang terpenting untuk meningkatkan jiwa nasionalisme itu adalah, dengan kita mengenal, mempelajari dan menghargai sejarah bangsa Indonesia. Kita harus tahu perjuangan para pahlawan terdahulu yang telah memerdekakan Indonesia, yang telah mengubah nasib bangsa kita dari negara jajahan menjadi negara yang berdaulat.

Melalui pendidikan, kita juga diharapkan menjadi generasi muda yang cerdas, kreatif dan inovatif. Untuk merealisasikannya, pemerintah banyak melakukan kebijakan dalam pendidikan. Salah satunya yang dirasa paling banyak manfaatnya adalah program wajib belajar 9 tahun. Dengan adanya program ini, setidaknya banyak anak yang mampu secara akademik namun tidak mampu secara ekonomi bisa mendapatkan pendidikan yang sama. Bahkan sejak tahun 2010, pemerintah mulai mencanangkan program beasiswa bidikmisi bagi calon mahasiswa berprestasi yang kurang mampu. Hal demikian ini, dimaksudkan agar pendidikan dapat membentuk generasi yang unggul, karena tak jarang, orang-orang yang kurang mampulah yang nantinya akan menjadi orang besar dan membawa perubahan.

Cerdas dan kreatif, berarti juga kita harus peka terhadap hal-hal baru, harus memiliki imajinasi dan mampu berkarya dalam bidang apapun. Kita didorong untuk mengembangkan ide dan gagasan kita, agar bangsa kita menjadi bangsa yang maju pemikiran. Jangan hanya mampu mencontoh budaya luar, yang nyatanya tidak sesuai dengan budaya yang berlaku di negara kita. Sebagai contoh, apabila kita tidak cerdas dan selektif terhadap hal-hal baru yang ditawarkan oleh dunia, kita akan melihat banyak pemuda yang mulai kehilangan jati diri bangsanya, mulai radikal, dan menganggap kesenangan adalah segalanya, sehingga yang dikatakan pemuda sebagai “harapan bangsa” itu hanya sebuah celoteh semata.

Itulah tuntutan yang akan membentuk generasi muda yang unggul, yaitu generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan (Etnies, 2013).

Emas dan Perubahan Kehidupan

Emas adalah permata yang mahal harganya. Nilainya terus menerus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Ketika seseorang memakai emas, perasaannya juga beda, penampilannya berbeda ketika tidak memakai emas. Memakai emas selalu membuat perubahan dalam diri pemakai khususnya pemilik emas itu. Semakin banyak emas yang dimiliki oleh seseorang, orang itu statusnya akan semakin meningkat. Sebab emas sudah masuk dalam kategori benda berharga dan bernilai tinggi. Emas dapat dipakai sebagai jaminan. Emas dapat membuat perubahan.

Ketika bangsa Indonesia mengimpikan dan memperjuangkan membangun generasi emas, dengan harapan suatu saat bangsa Indonesia tidak dianggap remeh oleh dunia luar. Demikian juga dengan orang Sentani, ketika konsep membangun generasi emas Sentani terwujud, orang lain tidak lagi menganggap remeh orang Sentani. Generasi emas adalah generasi yang membuat perubahan dan merubah keadaan dan harga diri bangsa Indonesia semakin berharga di mata dunia.

Ballarat adalah sebuah desa di Melbourne Australia. Ballarat adalah sebuah desa yang sepih. Wilayah pedesaan ini jarang dikunjungi orang. Tetapi begitu “emas” ditemukan di  Poverty Point pada 21 Agustus 1851, Ballarat menjadi kota yang booming. Penemuan ini yang dikenal dengan Victoria Gold Rush. Ballarat, wilayah pedesaan yang jarang dikunjungi orang, tiba-tiba saja didatangi 10.000 pendatang dari berbagai penjuru dunia. Di tempat inilah penambangan emas pertama di Australia didirikan pada tahun 1851. Status Ballarat dari desa berubah jadi kota. Ballarat terus mengalami perubahan dan perkembangan yang luar biasa, hingga kini menjadi tempat wisata mendulang emas. Intinya dari kisah ini adalah ketika tidak ada emas, Ballarat adalah sebuah desa yang sepih dan pola kehidupannya biasa-biasa saja. Namun ketika, ditemukan “emas” atau ada emas di desa ini, perubahan besar terjadi. Perubahan itu masih berpengaruh hingga saat ini. Kita bisa katakan bahwa dimana ditemukan emas, disitu ada perubahan kehidupan yang lebih baik dibanding sebelumnya (Xavier, 2011).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: