MIMPI MEMILIKI GENERASI EMAS SENTANI

Olen Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd – Mercure Hotel Ancol, Kamis 21 Mei 2015 – Jam 06:41 wib

Ketika melihat beberapa daftar nama tokoh-tokoh penting Papua khususnya dari kalangan anak-anak asli Sentani seperti:

  • Seorang tokoh agama bernama Albert Yocku sebagai Ketua Sinode GKI di Tanah Papua;
  • Seorang aktivis dan pejuang Papua bernama Theys Hiyo Eluay sebagai pemimpin Papua merdeka dan juga Ketua Presidium Dewan Papua;
  • Sebagai politisi dan negarawan tercatat dua nama saja yakni Barnabas Suebu, SH dan Drs. Jhon Ibo, MM
  • Sebagai olah ragawan yang tercatat hanya di dunia persepakbolaan saja yakni: Festus Yom, Rully Nere, Herman Pulalo, Alex Pulalo, Gerald Pangkali, Ronald Pangkali, David Lali, dan Yohan Ibo.

Belum ada orang-orang Sentani yang terkenal sebagai ahli dan akademisi; anak-anak yang berprestasi di tingkat nasional dan internasional (seperti: juara olimpiade matamatika dan fisika); juga belum ada orang Sentani yang menjadi selebritis, pengacara terkenal, , Jenderal, arsitek, dokter, pilot dan sebagainya.

Nama-nama yang  tertera di atas sebagian sudah purna tugas dan yang lain akan segera menyusul. Selain itu, terjadi kekosongan nama-nama marga Sentani menghiasi berbagai bidang kerja atau profesi hingga terkenal dalam skala atau ranah nasional. Oleh karena itu, penulisan buku ini merupakan bagian dari hasil perenungan yang kemudian diwujudkan dalam konsep berpikir sederhana yang kemudian disajikan secara khusus buat generasi penerus Sentani. Melalui deskripsi demi deskripsi, penulis mencoba membuka wawasan berpikir, memberi pencerahan, mengkritisi kondisi masyarakat Sentani, menunjukkan peluang, memberi gambaran kondisi aktual masyarakat Sentani masa lalu, masa kini, dan gambaran masa yang akan datang. Berangkat dari situasi itu, maka kita perlu membangun suatu generasi baru Sentani yang Enerjik, Multitalenta, Aktif dan Spiritual. Inilah sebuah konsep cita-cita dan impian untuk membangun dan memiliki generasi EMAS Sentani.

 Makna Pengaman Golden Gate

Pada permulaan pembangunan jembatan golden gate di San Fransisco, tidak ada alat pengaman yang dipasang sehingga 23 orang jatuh ke bawah mengalami kematian. Mengingat bahaya bertambahnya jumlah korban yang celaka akhirnya dipasang sebuah jaring yang sangat besar yang harganya kira-kira 100.000 dolar.

Setelah jaring dipasang setidak-tidaknya ada 10 orang jatuh ke dalam jaring dan mereka selamat. Suatu hal yang sangat menarik ialah adanya kenyataan bahwa hasil kerja mereka 25% lebih cepat ketika keamanan terjamin. Jelas bahwa bila kita mempunyai keyakinan tentang keselamatan kita pelayanan kita akan lebih efektif (Jakub, 1986: 20).

Golden Gate dalam tulisan ini adalah jembatan untuk mengantarkan pada pembangunan generasi emas Sentani. Jembatan menuju generasi emas sedang dibangun. Di mana-mana, gedung bertingkat yang sedang dibangun, selalu ada jaring-jaring pengaman, supaya para pekerja jangan ada yang jatuh. Artinya, jembatan golden gate untuk generasi Sentani yang kita bangun bersama-sama ini bisa terselesaikan atau tergapai nanti. Itu sebabnya, butuh banyak jaring pengaman. Kalau dalam pembangunan fisik jembatan golden gate butuh jaring besar, dalam pembangunan generasi emas Sentani juga kita butuh jaring. Apa jaring besar itu? Jaring besar itu adalah gambaran orang tua, pemerintah, tokoh adat, stakeholders yang bisa memberi pengamanan bagi generasi muda Sentani (Indonesia) melewati jembatan emas menuju ke masa depan yang cemerlang. Pola-pola pendidikan lama, pola-pola pikiran dan tindakan orang tua yang salah diperbaiki, agar generasi muda, anak bangsa dapat dibentuk untuk menjadi generasi penerus yang handal di segala bidang. Semua yang termasuk sebagai jaring pengaman tadi, harus melaksanakan fungsi, peran dan tanggungjawabnya dengan semaksimal mungkin, agar tujuan membangun dan membentuk generasi emas Sentani (Indonesia) dapat terwujud dan bukan sekedar isapan jempol belaka.

 Sentani adalah Pintu Gerbang Timur Untuk Perubahan

Sentani adalah pintu gerbang timur Papua dan juga Indonesia. Jalur penerbangan keluar dan masuk daerah Papua, hanya Sentani menjadi pintu utama.

Dalam versi Alkitab, konon ada kisah di Israel terdapat dua belas pintu gerbang dan sebelas pintu gerbang sudah terbuka. Dan ada satu pintu gerbang yang belum dibuka yaitu pintu gerbang timur. Di pintu timur itu ada tiga pintu gerbang. Pintu bagian timur itu dinamakan pintu gerbang emas atau Golden Gate. Pintu gerbang emas ini akan dibuka ketika akan datang kembali sang juru selamat. Itu sebabnya pintu gerbang emas itu masih tertutup hingga saat ini. Ketika pintu ini terbuka sang juru selamat sudah datang. Persoalannya adalah apakah umat ketebusannya di Israel atau di seluruh dunia sudah siap untuk dijemput masuk ke sorga atau belum siap? Konon menurut penafsiran dan perkembangan dari cerita tersebut, Papua masuk dalam bagian wilayah garis pintu timur tersebut.

Apa hubungan Sentani sebagai pintu gerbang timur dan Sentani adalah pintu gerbang emas? Masyarakat asli pemilik wilayah Sentani harus menyiapkan diri sebaik mungkin, dalam menghadapi dan menerima perubahan. Sentani sebagai pintu gerbang timur karena Bandar udara terbesar berskala Internasional adalah bandara Sentani. sebelum ke Jayapura, Sentani menjadi tempat untuk dilalui. Sadar atau tidak, rumah tokoh tumbuh kembang semakin banyak, hotel tumbuh semakin banyak, agen perjalanan semakin banyak, dunia usaha semakin berkembang pesat, tenaga kerja dibutuhkan semakin banyak. Akan ada banyak orang, banyak turis, banyak kebudayaan, banyak perkembangan teknologi akan masuk melalui Bandar Udara Sentani. apakah orang sentani dan generasi mudanya sudah menyiapkan diri untuk menjemput perubahan tersebut? Bagaimana orang sentani harus siap untuk perubahan itu. Siapa yang harus siapa dan siap dalam hal apa? Siap dalam segala hal. Dalam pembahasan buku ini, lebih fokus kepada kesiapan sumber daya manusia, dan kesiapan skill sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu. Agar supaya ketika perubahan dan persaingan terjadi dan melanda setiap generasi Sentani, mereka telah siap untuk turut terlibat dan menjadi pelaku perubahan di dalamnya.

Ingat, Sentani adalah pintu gerbang timur untuk perubahan di Papua. Jangan sampai SDM generasi Sentani dan masyarakat tidak siap, maka Anda akan bersedih karena ketidaksiapan diri Anda. Untuk itu, generasi muda Sentani harus sekolah dengan benar, dan mempersiapkan diri dengan baik melalui pendidikan formal dan non formal. Sebab bagi anak-anak muda Sentani untuk mendapatkan pekerjaan adalah hal yang sulit dan penuh kompetitif.

Contohnya saja untuk menjadi security (Satpam) di bandara Sentani saja tidak mudah. Ada banyak proses dan prosedur yang harus dilalui untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai security. Belum lagi harus bersedia mengikuti diklat berkaitan dengan tugas dan ketrampilan yang harus dipahami dan dikuasai. Untuk mendapatkan pekerjaan menjadi porter di bandara Sentani juga tidak gampang. Belum lagi bekerja sebagai portif butuh kelincahan untuk mendapatkan orderan jasa angkut dari kedatangan dan keberangkat. Ini kita masih berbicara tentang kerja kasar, belum membahas tentang pekerjaan yang butuh skill tinggi dan biaya-biaya lainnya.

Generasi muda Sentani sejak dini harus sudah menyadari tentang hal ini, bahwa Sentani merupakan pintu gerbang timur dan juga merupakan pintu gerbang perubahan demi perubahan. Dengan kesadaran tersebut dapat membantu generasi muda Sentani untuk dapat melihat peluang, sehingga dapat menyiapkan diri untuk menjadi pelaku dalam perubahan tersebut.

Kesedihan Yang Bermanfaat

Apakah kesedihan bermanfaat? Bagaimanakah kesedihan yang yang bermanfaat? Hidup ini untuk bahagia, tidak ada niat Tuhan yang lain kecuali memuliakan kita. Ingat itu! Bersedilah sebentar, tetapi segeralah lakukan yang baik dan penting untuk pendewasaan diri Anda. Bersedihlah sebentar dan lakukan yang terbaik untuk kenaikan pangkat Anda. Bersedihlah sebentar tapi segera lakukan yang terbaik untuk anda didengarkan bahkan oleh pemimpin Anda.

Bersedih itu wajar, semua orang akan mengalami. Yang menjadikan kita hebat adalah yang kita lakukan karena bersedih. Banyak orang kurang menilai dirinya karena masalah, ada orang yang hebat karena ada masalah. Choice, pilih yang mana? Apakah masalah itu menjadikan Anda lemah? Atau menjadikan Anda kuat bahkan pedang ‘katana’ Jepang untuk menjadi kuat, menerima pukulan bahkan ribuan kali pada saat dia dipanaskan. So, mengapa Anda, generasi muda Sentani mengharapkan kehidupan yang mudah? (Mario Teguh, 17/8/2014).

Jangan bersedih dengan situasi kondisi Anda saat ini. Bagian ini menegaskan tentang kesedihan yang bermanfaat. Mari Anda rubah cara berpikir, lalu mencoba untuk bangkit untuk menjadi generasi muda Sentani yang berhasil. Ada  banyak hal yang mungkin Anda merasa tidak berpihak kepada Anda, tetapi kesedihan itu bermanfaat.

Keberhasilan Adalah Tanggungjawab Pribadi

 Keberhasilan adalah tanggungjawab pribadi, bukan tanggungjawab sosial. Banyak orang belum menyadari apa itu sukses? Sukses adalah menjadi orang baik. Banyak orang kaya dari mencuri, dia berhasil mengumpulkan uang, tapi gagal jadi orang baik. Pangkatnya tinggi, kedudukannya besar, tapi palsu tidak jujur, dia gagal jadi orang baik.

Jadi, tugas kita itu jadi orang baik yang berilmu, orang baik yang berpangkat tinggi, orang baik bagi kebaikan sesama, memulai segala sesuatu dari jadi orang baik. Apa yang Anda butuhkan untuk menjadi orang baik? Apakah lingkungan? Menjadi orang baik karena dukungan lingkungan? Banyak orang menyalahkan lingkungan. Bukan dari mana Anda berasal, tapi kemana Anda menuju.

Kalau seorang ayah tidak mendukung anaknya untuk sukses, apakah anaknya bisa sukses? Kalau seorang Ayah tidak mendukung anaknya untuk sukses, bolehkah anaknya untuk sukses? Boleh, karena sukses itu hak. Hak untuk jadi baik, tidak ada seseorang pun yang bisa mencegah Tuhan untuk memuliakan seseorang. Tidak, bahkan masyarakat, tidak, bahkan siapa pun.

Setiap orang adalah pemeran dalam kehidupan ini, dan yang tinggi adalah yang memerankannya dengan baik. Berarti mari kita mainkan peran kita sebaik-baiknya. Waktu kita jadi anak buah, kita jadi anak buah yang atasannya tidak bisa jauh, I need you. Maka jadilah penasehat bagi diri sendiri. Sehingga Anda menjadi dua pengejawantaan dari dua peran yaitu pelindung dan penasehat (Mario Teguh, 17/8/2014). Walau pun kita menjadi anak, jadilah anak yang baik, yang mendapat perhatian orang tua, pemerintah dan masyarakat karena memang anda pantas mendapatkannya karena kebaikan, dan kepantasan yang melekat pada Anda.

 Kuatnya Sebongkah Harapan

Ada seorang pengusaha yang cukup berhasil. Ketika sang suami sakit, satu persatu pabrik mereka jual. Harta mereka terkuras untuk biaya pengobatan. Hingga mereka harus berpindah ke pinggiran kota dan membuka rumah makan sederhana. Sang suami pun telah tiada.

Beberapa tahun kemudian rumah makan pun harus berganti rupa menjadi warung makan yang lebih kecil di sebelah pasar. Setalah lama tak mendengar kabarnya, kini setiap malam tampak sang istri dibantu oleh anak dan menantunya menggelar tikar berjualan lesehan di alun-alun kota. Cucunya sudah beberapa. Orang pun masih mengenal masa lalunya yang berlimpah. Namun, ia tak kehilangan senyumnya yang tegar saat meladeni para pembeli.

Ada pembeli yang bertanya, “Wahai Ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?”

Ibu itu menjawab, “Harapan, Nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Kerena harapanlah kita menanam pohon, meski kita tahu tak akan sempat memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia.

Harapan itu selalu ada, harapan yang membuat kita maju melangkah ke depan. Harapan yang membuat kita selalu memotivasi untuk bisa lebih baik dari hari kemarin. Maka selalu pupuklah mimpi, dan harapan beserta doa dan ikthiar, semoga apa yang kita impikan akan terwujud, meski ujian berkali datang menghadang (Deassy, 2014: 117-178).

Tinggalkan semua keluhan, milikilah harapan. Dengan memiliki harapan, lihat kisah di atas, sekalipun dalam masa kejayaan menjadi hancur karena persoalan yang tidak bisa dihindari. Namun karena adanya harapan, mereka tetap bertahan, untuk bisa berjalan naik lagi dan menjadi sukses.

Siapa bilang Sentani tidak bisa baik, siapa bilang orang Sentani tidak bisa maju, siapa bilang orang Sentani tidak bisa bangun generasi emas Sentani seperti yang dihimbau oleh Menteri Pendidikan Nasional pada tahun 2012 lalu? Semua orang Sentani pasti memiliki harapan agar suatu saat anak-anak mereka menjadi anak-anak yang berhasil. Sekarang mencari ikan, menokok sagu, dan berkebun, itu perjuangan demi perjuangan yang di dalamnya ada doa, harapan dan terus bekerja untuk mewujudkan harapan. Keringat yang menetes, ada tanda ada harapan untuk perubahan. Percayalah suatu saat harapan-harapan seluruh masyarakat Sentani, harapan orang tua kita, harapan generasi muda Sentani akan menjadi kenyataan.

Benih Tumbuh pada Tanah yang Tepat

Sebagai orang Kristen, Kitab Suci juga mengajarkan banyak hal tentang menghasilkan sesuatu. Kita akan berbuah apabila kita mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Manusia yang baik adalah berbuah.

Siapa yang ditanam, siapa yang menabur, siapakah tanah itu. Tanah itu adalah tempat dimana generasi muda Sentani hidup, yakni keluarga, marga, suku, kampung, pemerintah dan gereja. Kita ingin menanam benih dengan nama “benih generasi emas Sentani’. Konsep membangun generasi emas ini kita mau tanam dalam hati generasi muda Sentani. Apakah anak-anak muda Sentani mau jadi generasi emas Sentani atau tidak? Hal ini akan tergantung pada sejauhmana dan bagaimana buku ini bisa ditangkap maksud dan tujuannya.

Buku ini hanya sebuah konsep membangun generasi Emas Sentani. Manusia akan berkembang ketika pikirannya diisi dengan pengetahuan. Pengetahuan itu kemudian akan mengubah cara berpikirnya. Selanjutnya, dengan pemikiran yang baru mereka akan melangkah untuk melakukan apa yang bisa dilakukan untuk mewujudnyatakan apa yang dipikirkan. Itu sebabnnya, buku ini wajib dibaca oleh semua orang, terlebih khusus orang Sentani dan generasi mudanya. Ketika konsep membangun generasi emas Sentani, yang merupakan benih unggulan itu jatuh ke dalam pikiran orang-orang yang tepat, yakinlah proses untuk membangun generasi emas akan terwujud.

 Bermimpi Sentani Memiliki Generasi Emas

Ketergantungan kita kepada orang lain dan intervensi orang lain, akan sangat membelenggu kita dalam melakukan lompatan jauh ke depan guna perbaikan diri dan perbaikan generasi Sentani untuk menjadi “generasi emas” yang dimaksudkan dalam buku ini.

Walaupun semua manusia memiliki masalah, mereka butuh pertolongan untuk mengatasi masalah. Kalau motto dari kantor penggadaian adalah “mengatasi masalah tanpa masalah”. Kenyataannya toh, masalah tetap ada yakni, pengembalian pinjaman harus disetor, jika tidak maka barang-barang yang digadaikan itu dapat dilelang sesuai dengan batas waktu (time limit) yang ditentukan.

Memiliki mimpi membangun generasi emas Sentani tidak butuh biaya, tetapi untuk merealisasikan mimpi, butuh biaya dan kerja keras. Berapa besar biaya menggapai  mimpi itu, terletak pada berapa besar mimpi yang mau kita raih. Contoh dalam hidup saya, ayah saya adalah seorang guru agama SD dan ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi keluarga kami sangat susah. Apalagi untuk biaya sekolah. Kami ada lima bersaudara. Dulu, kami harus membantu ibu untuk jualan, adik saya harus membawa es lilin jualan di sekolahnya. Saya harus kondektur, menjadi pembantu di rumah orang, dan kerja bangunan. Kerja-kerja itu kami lakukan hanya untuk mendapatkan rupiah dan makanan. Kesulitan hidup ini menjadi pelajaran yang sangat berarti dalam membangun impian. Kemudian, dengan modal nekat saya harus berangkat ke tanah rantau (Solo-Jawa Tengah). Selesaikan pendidikan sarjana. Syukur tamat dan bisa lolos seleksi jadi PNS tahun 2000. Cita-cita baru muncul untuk melanjutkan kuliah program magister dan juga program Doktor bahkan ingin jadi Profesor. Pendidikan S2 prodi penelitian dan evaluasi Pendidikan saya selesai di Universitas Negeri Yogyakarta (2004-2008). Tamat paling terlambat dari semua rekan seangkatan. Padahal seharusnya selesai 2 tahun, ternyata saya selesaikan 3 tahun 10 bulan. Kemudian, Saya diminta oleh pimpinan STAKPN Sentani untuk langsung lanjutkan pendidikan S3 pada program studi yang sama yakni Penelitian dan Evaluasi Pendidikan.

Dalam perjuangan menyelesaikan disertasi, saya bermimpi “membangun Generasi Emas Sentani” saya tahu, mimpi ini tidak semudah membalikan telapan tangan. Sebab saya sendiri saja masih kuliah program doktor dan belum selesai bahkan terancam di droup out (DO). Kisah perjuangan saya untuk mewujudkan pribadi sebagai salah satu generasi emas Sentani butuh perjuangan yang berat dan ada harga yang harus dibayar untuk bisa menyelesaikan program doktor.

Saya terbatas dalam banyak hal, tetapi sebagai anak asli Sentani, saya sadar kita perlu “Membangun generasi EMAS Sentani”. saya telah memulainya melalui tulisan dan perjuangan saya secara pribadi untuk menamatkan program doktor segera. Di dalam buku ini juga saya akan menyajikan beberapa nama “generasi Emas Sentani” salah satunya adalah putra kami yang akan menjadi “pilot”.

Mimpi membangun generasi emas Sentani bukan isapan jempol belaka. Mari buka mata, mari bangun setiap pribadi, ubah cara berpikir, mari bangun impian, miliki cita-cita yang tinggi, ingat kalimat ini di dunia ini tidak ada yang pasti, itu berarti apa pun itu sangat mungkin bagi Anda dan saya. Oleh karena itu jangan takut, yakinlah “Anda Bisa, Anda Bisa, dan Anda Bisa”. Gantilah dengan kata “saya bisa, saya bisa dan saya bisa”. Ucapkan itu berulang-ulang dan dengarkan Sendiri suara Anda. Bangkitlah, dan berjuanglah. Semangat!

Ketika generasi Emas Sentani terwujud, ada sebuah kebahagiaan tersendiri, karena orang lain tidak lagi dapat memandang Anda rendah atau pun Anda hina, atas keberhasilan dan kesuksesan yang Anda capai. Jadi, kalau begitu tunggu apa lagi? Milikilah mimpi membangun generasi emas Sentani di Papua untuk Indonesia.

Masalah Membuat Orang Kreatif

Ketika tahun 2002-2008, para pengamen di Yogyakarta masih menggunakan alat musik ukulele dan gitar. Baik di lampu merah, di sepanjang jalan malioboro, maupun para pengamen yang keliling door to door. Hal yang menarik adalah para pengamen ini terus mengadakan inovasi diri dan semakin kreatif lagi. Para pengamen yang tadinya pakai ukulele dan gitar kita beralih dalam bentuk group dengan sajian musik yang lebih menarik, aktraktif dan profesional. Dulunya mendengarkan para pengamen, terasa membosankan. Sekarang justru jadi tontonan sejenak beberapa detik menunggu lampu hijau di pertigaan dan perempatan jalan. Kisah ini hanya ingin menegaskan bahwa masalah, tantangan dan kesulitan apa pun mampu membuat orang lebih kreatif.

Di wilayah Jakarta, walaupun sudah ada banyak orang tinggal di wilayah kumuh, tetapi mereka terus berjuang melakukan pekerjaan apa saja, agar menghasilkan uang secara halal. Kesulitan hidup membuat orang berpikir, apa yang bisa dikerjakan dan bisa menghasilkan uang. Para pemulung mengumpulkan sampah, botol plastik, narik becak, narik bajai, menjadi tukang parkir, menjadi tukang ojek, menjadi pemikul barang di pasar, semua pekerjaan menjadi pilihan hidup untuk dilakoni demi untuk mendapatkan sesuap nasi.

Kita tahu bahwa Sentani tidak seperti dulu lagi yang mayoritas masyarakat atau penghuninya adalah orang-orang asli Sentani. Bandar udara Internasional Sentani dan pelabuhan laut Port Numbay telah menjadi pintu masuknya berbagai perubahan, berbagai kebudayaan, dan berbagai suku-bangsa (etnis). Peluang mencari kerja menjadi sempit dan kompetitif. Wilayah-wilayah strategis untuk usaha penduduk asli, kini dikuasai oleh orang lain (non-Sentani/non-Papua).

Orang asli Sentani semakin terpinggirkan (termarginalkan) dari pusat kota Sentani. Lahan-lahan tanah di perkotaan terjual untuk pembangunan rukonisasi, dan perumahanisasi. Wilayah kota Sentani bukan lagi milik orang Sentani. Wilayah Kota Sentani telah berkembang begitu cepat dan menuju kota besar.

Ruko-ruko dan perumahan-perumahan menjadi milik orang lain, sedangkan pemandangan ironis terlihat orang Sentani berjejer dengan masyarakat Papua lainnya dengan berjualan di depan ruko dan pertigaan jalan. Kadang-kadang lahan jualan di depan ruko jadi pertengkaran dan masalah antar sesama warga Papua. Situasi menjadi terbalik siapa yang orang asli Sentani (Papua) dan siapa yang pendatang.

Keadaan hidup yang semakin sulit akan mengakibatkan orang Sentani (Papua) mulai berpikir dengan baik, merenungi nasibnya dan akan memulai mencari solusi untuk melakukan terobosan. Suatu saat ada pekerjaan-pekerjaan yang mungkin selama ini belum dilirik oleh orang Papua, nantinya akan dilirik. Masalah demi masalah yang timbul akibat kemajuan kota Sentani ini akan membuat orang Sentani (Papua) lebih kreatif. Apakah orang Sentani mau menunggu hidup semakin sulit baru mulai kreatif atau mulai sadar sekarang dan mencoba kreatif menciptakan lapangan pekerjaan sendiri?

Tidak ada uang, emas, berlian atau makanan yang jatuh dari langit seperti dulu Allah memberi makan kepada bangsa Israel ketika keluar dari perbudakan. Itu artinya, setiap orang harus bergerak secara kreatif untuk menghasilkan rupiah demi rupiah, mengumpulkan sedikit demi sedikit, akhirnya suatu waktu membuat hidupnya lebih baik dan sukses.

 Peran Generasi Muda Dalam Perubahan Bangsa

Pemuda memiliki energi dan potensial. Hanya disayangkan, kenapa energi yang ada itu menguap begitu saja dengan berbagai kegiatan yang kurang terarah. Sebab kegiatan pemuda hanya menonjol di bidang olahraga dan kesenian saja sebagai pemborosan tenaga.

Mempersoalkan generasi muda dan masa depan Sentani, suatu pembahasan tentang generasi muda atau angkatan muda masa kini bagi sosok masyarakat, bangsa dan negara yang hidup di era kemerdekaan, di masa pembangunan, bagaimana menatap masa keadilan, dan kemakmuran di masa mendatang mengajukan banyak pemikiran mengenai berbagai masalah yang dihadapi, masyarakat bangsa dan negaranya saat ini demi kepentingan hari depan yang lebih baik.

Berbekalkan pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dari bangku pendidikan dan lingkungan sekelilingnya, banyak gagasan dan pikiran mereka bersifat kritis terhadap realitas kehidupan sekarang. Koreksi diri pun muncul di kalangan generasi muda, selain kritik terhadap generasi tua yang memimpin masyarakat, bangsa dan negara Indonesia sekarang ini.

Citra sebagai pemberang, pemberontak, pendobrak dan penerobos kebekuan keadaan melekat pada diri angkatan muda. Kita telah dididik dengan pendidikan Indonesia, sejarah bangsa Indonesia mencatat momen-momen penting keterlibatan angkatan muda – pemuda dan mahasiswa – dalam persoalan politik. Penculikan Bung Karno dan Bung Hatta oleh pemuda-pemuda di Rengasdengklok menjelang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945; tumpahnya darah arek-arek Surabaya 10 November 1945; demostrasi pemuda-pelajar-mahasiswa 1965/1966 di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia menuntut pembubaran Gestapu/PKI; gelombang protes mahasiswa 1974 dan 1978; gelombang protes tahun 1998 yang memintah Presiden Soeharto mundur terjadi reformasi; sampai pda tahun 2014, muncul Joko Widodo sebagai calon presiden RI dari kalangan masyarakat biasa; semua kejadian politik tersebut tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan angkatan muda.

Keberhasil dan kegagalan, keterlibatan generasi muda itu yang perlu dipersoalkan. Sebab penilaian yang subyektif  dan obyektif bisa muncul, tergantung dari mana sudut pandang  itu diarahkan. Buku ini membahas tentang bagaimana “membangun generasi emas Sentani”. penting sekali memberi wawasan bahwa generasi muda punya peran yang besar untuk kemajuan dan perubahan bangsa ini. Itu artinya generasi muda Sentani punya andil besar bagi bangsa Indonesia, bagi provinsi Papua, bagi Kabupaten Jayapura, bagi Distrik dan Kampung mereka masing-masing di pesisir danau, pulau-pulau dan daratan wilayah Sentani.

Katakan “nanti”

Ketika melihat orang lain lebih sukses, generasi muda yang ingin maju pasti akan berkata dalam hatinya “nanti” suatu saat saya seperti dia atau nanti suatu saat saya akan lebih dari dia. Mungkin sekarang Anda sebagai bawahan, diperintah dimarahi oleh atasan, katakan dalam hati “nanti” suatu saya akan akan jadi pemimpin dan akan lebih baik darimu. Kalau ada atasan yang semena-mena kepada Anda, katakan dalam hati “nanti” tiga tahun kemudian pangkat kita sama, bahkan mungkin dia akan jadi anak buah Anda.

Doa orang yang teraniaya itu manjur. Sabarlah, setiap orang memulai perjalanan dari direndahkan supaya dia ikhlas rendah. Banyak orang tidak ikhlas rendah. Contohnya, bersaing dengan atasan, itu bahaya sekali. Atasan itu bukan untuk disaingi tapi untuk diangkat, kalau dia tidak bisa pergi dari situ Anda tidak bisa naik. Jadi anak buah itu berbakti, supaya dia cepat naik. Satu lagi, atasan yang merendahkan anak buah hati-hati, sebab tujuan semua anak buah adalah mengalahkan atasannya atau nyalib atasan.  Maka itu berhati-hatilah, karena orang yang berhati-hati masih dihormati muridnya, atau bawahannya atau orang lain, karena kepemimpinannya dihormati. Banyak orang karena pangkatnya tinggi berhak untuk kasar. Ini salah dan harus lebih berhati-hati.

 Membangun Generasi Emas Sentani Melalui 8 Kecerdasan

Bagian ini sengaja dimasukkan supaya generasi muda Sentani mengetahui berbagai jenis kecerdasan yang diberikan Tuhan pada setiap orang, termasuk dirinya sendiri. Hal ini terbukti melalui penelitian telah ditemukan berbagai kecerdasan dalam diri manusia. Dengan mengetahui kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki manusia, diharapkan generasi muda Sentani sejak dini mengenal potensi diri dan kecerdasan pribadi yang ada pada dirinya. Dengan demikian, dalam pengembangan diri, setiap generasi muda Sentani lebih terarah dan fokus, sehingga untuk mewujudkan impian dan cita-cita bukan isapan jempol tetapi suatu yang sangat mungkin dan penuh kepastian

Garner dalam bukunya “Frame of Mind” secara meyakinkan menawarkan penglihatan dan cara pandang alternatif terhadap kompetensi intelektual manusia. Dan ia kemudian mengemukakan secara garis besar 8  jenis kecerdasan, yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan logic-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik-tubuh, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan natural. Penjelasannya sebagai berikut.

Kecerdasan Linguistik (Bahasa). Kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Penulis, Jurnalis, penyair, orator, dan pelawak adalah contoh nyata orang-orang yang memiliki kecerdasan linguistik.

Kecerdasan Logic-Matematis. Kemampuan berpikir (menalar) dan menghitung, berpikir logis dan sistematis. Ini adalah jenis-jenis ketrampilan yang sangat dikembangkan pada diri para insinyur, ilmuan, ekonom, akuntan, detektif, dan para anggota profesi hukum.

Kecerdasan visual-Spasial. Kemampuan berpikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan. Membayangkan berbagai hal pada mata pikiran anda. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini antara lain para arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer dan perencana strategis. Anda menggunakan kecerdasan ini ketika memiliki citarasa arah, ketika Anda berlayar atau mengambar.

Kecerdasan Musikal. Kemampuan mengubah atau menciptakan musik, dapat bernyanyi dengan baik atau memahami dan mengapresiasi musik, serta menjaga ritme. Ini merupakan bakat yang dimiliki oleh para musisi, komposer, dan perekayasa rekaman. Tetapi kebanyakan kita memiliki kecerdasan musical dasar yang dapat dikembangkan. Bayangkan proses belajar sangat terbantu jika kita mengggunakan suatu ritme atau sejenis sajak bermusik.

Kecerdasan Kinestetik-Tubuh. Kemampuan menggunakan tubuh Anda secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Kemampuan ini jelas diperlihatkan untuk mengejar prestasi atletik, seni seperti menari dan acting, atau dalam bidang bangunan dan konstruksi, anda dapat memasukan ketrampilan membedah dalam kategori ini, tetapi banyak orang yang secara fisik berbakat-bagus melakukan sesuatu dengan tangan mereka-tidak mengenal bahwa bentuk kecerdasan ini sama nilainya bagi yang lain.

Kecerdasan Interpersonal (Sosial). Kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berhubungan dengan orang lain dan memperlihatkan empati dan pengertian, memperhatikan motivasi dan tujuan mereka. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki oleh para guru yang baik, fasilitator, penyembuh, politisi, pemuka agama, dan waralaba.

Kecerdasan Intrapersonal. Kemampuan menganilisis diri dan merenungkan diri – mampu merenung dalam kesunyian dan menilai prestasi seseorang, meninjau perilaku seseorang dan perasaan-perasaan terdalamnya, membuat rencana dan menyusun tujuan yang hendak dicapai, mengenal-benar diri sendiri. Kecerdasan ini ini biasanya dimiliki oleh para filosof, penyuluh, pembimbing, dan banyak penampil puncak dalam setiap bidang.

Kecerdasan Naturalis. Kemampuan mengenal flora dan fauna, melakukan pemilihan-pemilihan runtut dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif, misalnya untuk berburu, bertani atau melakukan penelitian biologi. Para petani, para ahli tumbuhan (botanis), konservasi, biologi, lingkungan, semuanya memperlihatkan aspek-aspek kecerdasan ini (Colin & Malcolm, 2012: 59-61).

Ada godaan juga Garner ingin menambahkan yang ke-9 adalah kecerdasan Spriritual. Bagaimana dengan kecerdasan spiritual? Garner berkata dia belum menyepakati kecerdasan tersebut, namun dia sangat tertarik untuk lebih memahami apa yang dimaksud spiritualitas dan individu-individu spiritual. Garner menambahkan: Apakah terbukti tepat untuk menambahkan “spiritualitas” pada daftar kecerdasan atau tidak, kapasitas manusia yang satu ini pantas untuk didiskusikan dan dikaji dalam lingkaran-lingkaran psikologi inti.

Delapan atau Sembilan kecerdasan ini dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda Sentani untuk menilai diri sendiri tentang kecerdasan apa yang dia sudah miliki. Dengan demikian dalam pengembangan diri selanjutnya lebih terarah, lebih mudah dan lebih cepat untuk menjadi seorang profesional pada pilihan profesinya. Kadang hasrat orang ingin tahu ini dan itu. Mereka sangat mudah terpengaruh dengan orang lain. Namun dengan pengenalan akan kecerdasan yang dimilikinya, maka akan mempermudah pengembangan akan potensi-potensi kecerdasaan lainnya. Dengan demikian, akan sangat menolong setiap pribadi muda dalam pengembangan karir dan profesi.

Kalau generas muda Sentani tidak mengenal kecerdasaannya dengan tepat, dia akan jadi seperti orang yang kelihatan tahu banyak hal, tetapi sebenarnya dia hanya tahu sedikit atau hanya tahu kulitnya saja, isinya tidak tahu. Tujuan mengenal kecerdasan, adalah supaya bisa tahu sedikit tetapi banyak dan mendalam.

 Berkembanglah Melampaui Semua Yang Mungkin

Anak Sentani yang mau menjadi pribadi yang berbeda harus bisa berkembang melampaui semua yang mungkin. Seringkali kita menyerah sebelum waktunya, kalau saja kita berusaha sedikit lebih keras, pasti akan ada hasilnya.

Ketika mengikuti seminar tentang pelaksanaan Festival Danau Sentani, yang diselenggarakan oleh Jayapura Community Facebook (JFC) tahun 2010, Drs. Jhon Ibo, MM menceritakan kisah perjuangannya untuk melampaui semua yang mungkin. Kisahnya itu saya beri judul “Mencari ikan menggapai impian”. Sejak muda, Jhon Ibo berjuang untuk sekolah sampai menyelesaikan kuliah dengan kerja kerasnya mencari  dan menjual ikan. Pagi, Jhon muda mencari ikan, jual di pasar dan pergi kuliah di Universitas Cenderawasih. Itu yang ia lakoni dalam perjuangan mencari ikan menggapai impian hingga menamatkannya. Kemudian terjun ke dunia politik, mulai dari kader Golkar hingga menjadi Ketua Golkar tingkat provinsi, lalu berturut-turut menjadi anggota DPR Papua, bahkan menjabat sebagai Ketua DPR Papua beberapa kali. Wktu saya ketemu beliau katanya, jangan lihat saya yang sekarang ini sebagai Ketua DPR Papua, lihatlah bagaimana perjuangan saya dulu hingga menjadi seperti sekarang ini. Kalau saja kerikil-kerikil di sepanjang jalan Sentani – Abe bisa bicara, mereka akan menceritakan semangatku dan perjuanganku di waktu aku muda dulu. Jhon Ibo kini masih eksis di dunia politik, dan namanya di kancah politik Papua cukup tenar dan dikagumi. Beliau juga seorang antropolog, karena buku-buku saya yang saya tulis banyak terinspirasi dari bahan-bahan seminar beliau. Anak-anak Sentani, khususnya generasi muda masa kini harus belajar hal-hal baik dari para pendahulu, berkembanglah melampaui semua yang mungkin.

Saya teringat anak kami yang kedua bernama Aldo Septian Kopeuw, kelahiran 1994, sejak SD kelas VI saya merekam videonya, ia menceritakan cita-citanya yaitu ingin menjadi pilot pesawat terbang. Saya dan istri memang sudah biasa mengajarkan anak-anak untuk berpikir melampaui semua yang mungkin. Setelah lulus dari SMA BOPKRI 2 di Yogyakarta Jurusan Bahasa, Aldo tetap berfokus pada cita-citanya untuk menjadi pilot. Dia juga menyiapkan diri dengan latihan silmulator pesawat. Tahun 2013, Pemerintah Provinsi Papua membuka penerimaan taruna penerbang. Aldo pun ikut seleksi, namun tidak lolos. Kami tetap memberi motivasi, dan semangat kepadanya dan mengatakan mungkin tahun 2013 ini bukan waktunya (keberhasilan yang tertunda).  Kami mencari solusi lain agar anak kami tetap fokus untuk terjun ke dunia dirgantara dengan mengupayakan Aldo berangkat ke Jakarta dan mengikuti pendidikan dan pelatihan di Merpati Training Center (MTC) Kemayoran Jakarta.  Setelah menempuh teori, kemudian praktek di Maskapai Merpati Makasar, tapi karena Merpati bangkrut Aldo kembali ke Yogyakarta.

Tahun 2014, Pemeritah Provinsi Papua kembali membuka seleksi penerimaan calon taruna penerbang, kami mengusahakan ia kembali Jayapura dan mengikuti seleksi. Setelah mengikuti seleksi tahapan-demi tahapan, Aldo lolos seleksi dalam kelompok taruna penerbang pada nomor urut rangking II, waktu itu hanya 11 (sebelas) anak saja dari 19 yang lolos untuk taruna penerbang. Sejak tanggal 3 Agustus 2014, ia dan teman-temannya sudah berada di Sekolah Tinggi Penerbang Indonesia (STPI) Curug Tanggerang.

Seorang motivator yang sangat terkenal dalam acara Golden Way di MetroTV, mengatakan “bahwa di dunia ini tidak ada yang pasti, berarti apa pun mungkin. Dua kisah ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Sentani untuk mulai membangun dirinya dengan impian, bagaimana mereka nantinya setelah 10-20 tahun mendatang. Pesannya adalah berkembanglah melampaui semua yang mungkin. Kalau saja kita mau bekerja lebih keras dan lebih yakin lagi, semua pekerjaan akan terselesaikan dengan baik bahkan kita bisa berkembang lebih jauh dari yang mungkin bisa kita capai (Anton, 2010: 186-187).

Demi Masa Depan

Teringat kembali perjuangan anak-anak Sentani yang studi di Kota Solo dan Yogyakarta antara tahun 1994 – 2002, ada banyak kisah sedih yang mewarnai perjalanan perjuangan studi anak-anak Sentani di kedua kota ini. Saya dengan beberapa anak Sentani lain di Kota Solo yakni Ros Pangkatana, Jimmy Pangkatana, Odhi Marwery, Ronny Kopeuw, Oka Suebu, Elsa Suebu, anak kami Alan Kopeuw dan Aldo Kopeuw sedangkan di Yogyakarta ada Barnabas ondi, Hengky Felle, Paulus Ondi, Jefry Yoku, Jimmy Maloali, Jimmy Suebu, Billy Ondi, George Ibo, Gustaf Dike, Yansen Daimoi, Robert Felle, Adolf Deda, Boy Yoku, Ian Monim, Viktor Puraro, dan James Yoku dan juga ada beberapa anak-anak peranakan Sentani.

Saya banyak mendengar jerih juang dan kisah-kisah sedih anak-anak Sentani di Kota Solo dan Jogja, dari jaman kiriman uang via wesel, dan telegram dan kantor pos, masa itu belum ada handphone, semua serba lambat hingga cara cepat via ATM. Perjuangan hidup untuk masa depan tetap dijalani, walau hanya dengan makan pepaya muda dan garam menjadi makanan penawar rasa lapar. Kadang-kadang buah-buahan di halaman tetangga dan tanaman di kebun orang jadi penghilang rasa lapar. Utang di warung-warung sekitar kos-kosan dan kampus menumpuk dan menumpuk, bahkan belum lunas hingga wisuda usai dan pulang kampung. Semua dilakoni dengan terpaksa, dengan membuang perasaan malu, dan membangun muka tebal seperti tembok, dengan prinsip yang penting dipercaya, hidup dan studi terus berlanjut hingga menamatkan kuliah.

Itulah sedikit kisah perjuangan anak-anak Sentani di Kota Solo dan Jogja. Demi masa depan dan cita-cita, anak-anak ini meninggalkan Sentani. Mereka tinggalkan phuyaka phu (Papua), Pergi ke rantau menuntut ilmu. Walau bapa dan mama tak mampu, Namun mereka tetap pergi menuntut ilmu. Demi masa depan mereka tinggalkan  yang mereka cintai. Saat mereka memohon, Bapa dan mama untuk kirim uang, jawabnya kita berdoa, Karena bapa dan mama tak mampu, Namun anak-anak Sentani tetap sabar menanti jawabannya. Mereka percaya, doa bapa, mama, dan saudara menyertai mereka.

Kadang mereka tak makan, perut mereka kosong pergi mengikuti kuliah. Indeks prestasi dibawah dua koma, itu bukan karena mereka bodoh, tetapi antara lapar dan menerima pelajaran sesuatu yang berat. Dalam IPK yang rendah pemerintah menolak proposal dan berkas-berkas mereka walau hanya sekedar meminta bantuan dana pendidikn. Dalam kondisi seperti itu, mereka teringat akan tanah Papua penuh susu dan madu. Namun karena demi masa depan mereka, duka dan lara dijalani. Menuntut ilmu di negeri orang dengan susah payah…aduh kasihan sekali. Tapi mereka….terus berdoa, dan terus berjuang. Walau daya tak ada, mereka harus berusaha memetik bintang alias cita-cita. Waktu terus berjalan, tak mereka rasa tahun-tahun telah berlalu. Mereka katakan, Aku  rindu ingin pulang ke negeriku, puyakha phu (Tanah Papua). Sebagian besar sudah pulang ke Papua. Nama-nama anak Sentani di atas, hampir sebagian besar telah berhasil.

Dari kisah perjuangan anak-anak Sentani inilah muncul inspirasi membuat sebuah lagu berirama keroncong ciptaan saya sendiri dengan judul “demi masa depan”. Berikut syairnya:

Demi Masa Depanku

Ciptaan: Pilipus Kopeuw – 10 Januari 2011

 

Ku tinggalkan Tanahku Papua (Phyakha Bhu)

Pergi  menuntut ilmu di tanah rantau

Walau ku tak berdaya dan  tak mampu

Namun aku tetap pergi memetik bintang

Demi masa depan semua  yang kucintai

 

Kadang lapar dahaga… duka lara kujalani

Teringat akan tanahku Papua penuh susu dan madu

Tak ku … rasakan tahun-tahun tlah berlalu

Hingga asa dan cita-citaku … akan ku raih

Demi masa depan semua yang ku sayangi

Aku telah menghabiskan separuh hidupku

Tapi aku….tetap berdoa, dan berjuang

Aku  rindu ingin pulang dan membangun …

Tanahku Papua/Phuyakha Bhu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: