PRODUKTIFITAS PENELITIAN DI PT TEOLOGI AGAMA KRISTEN

Oleh Pilipus M. Kopeuw, STh, M.Pd

Ancol, Kamis 21 Mei 2015

  1. Produktifitas Pendidikan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK)

 Pada lingkungan Pendidikan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) di kenal dengan istilah pendidikan non-sekuler dan pendidikan sekuler. Pendidikan non-sekuler lebih ditujukan kepada mereka yang kuliah di PTTAK sehingga sering disebut sebagai sekolah atau pendidikan keagamaan, sedangkan pendidikan sekuler merupakan pendidikan yang umum di luar dari  jurusan-jurusan yang ada PTTAK.

  1. Produktifitas Pendidikan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK)

 Secara umum pendidikan teologi berbeda dari pendidikan tinggi lainnya. Namun dalam teori dan praktik pendidikan, sebenarnya perbedaan utama terletak pada komitmen terhadap kebenaran, iman serta wahyu Allah. Dimana pendidikan teologi menjadikannya sebagai yang utama, di samping prinsip-prinsip lain seperti pelayanan, pokok  ajaran dan lain-lain, yang lebih spesifik. Yoseph Tong juga membuat klarifikasi dasar mengenai pemahaman orang  awam yang keliru dalam terhadap pendidikan teologi. Yoseph Tong (2003: 1) menjelaskan: Orang awam umumnya keliru dalam membedakan pendidikan teologi dengan pelatihan pastoral (pastoral training). Harus diakui bahwa sudah cukup lama gereja menganggap sekolah-sekolah teologi sebagai sebuah institusi yang melatih para calon pendeta untuk memenuhi keperluannya. Seperti yang terjadi pada Perjanjian Lama, atau Sekolah Rabinik pada masa kini. Namun, bila kita mempelajari sejarah perkembangan pendidikan teologi, khususnya pada zaman pergerakkan pelayanan misi, kita akan menemukan bahwa kemana saja sang misionaris merintis gereja, mereka akan berhadapan dengan kesulitan. Karena keterbatasan sumber daya manusia. Dari sana dimulailah pelatihan dan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa kaum awam belum memahami isi dari pendidikan teologi. Sehingga dalam benak mereka masih memiliki konsep yang belum benar tentang pendidikan teologi tersebut. Padahal pendidikan teologi tidak seperti yang dipikirkan kaum awan. Pada masa kini pendidikan teologi sudah jauh lebih maju, jika melihat dinamika pertumbuhan pendidikan teologi dengan berfokus pada keahlian-keahlian khusus yang dibutuhkan oleh gereja, masyarakat maupun dunia pendidikan. Untuk menjawab keahlian-keahlian khusus tersebut, maka pendidikan teologia mulai membuka program studi baru seperti program studi Pendidikan Agama Kristen, program studi Musik Gereja, program studi Konseling Pastoral, Kepemimpinan, dan sebagainya.

Pendidikan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) tidak sama dengan Perguruan Tinggi Agama Kristen (PTAK). PTTAK lebih khusus bergerak di bidang keagamaan, sedangkan PTAK bukan hanya perguruan tinggi yang bergerak di bidang keagamaan saja, tetapi lebih luas kepada pendidikan sekuler yang bernuasa Kristen. Sekalipun demikian, ada PTAK juga bergerak dalam pendidikan yang mendidik secara khusus calon tokoh-tokoh agama Kristen masa depan.  PTTAK ini berbeda dengan Perguruan Tinggi Agama Kristen (PTAK). PTAK sudah hampir sama dengan PTAK karena ada pendidikan yang khusus keagamaan dan juga ada yang pendidikan sekulernya.

Untuk memudahkan pemahaman tentang PTTAK, maka perlu dipahami kekhasannya. PTTAK merupakan sebuah sebutan khusus untuk semua perguruan tinggi khusus antara lain: Sekolah Tinggi Teologi (STT), Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) maupun Universitas Kristen yang pengelolaan kurikulumnya Fakultas Agamanya ditangani oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama Republik Indonesia. Kalau STT dan STAKN, otomatis dikelola langsung oleh Dirjen Bimas Kristen Departemen Agama Republik Indonesia, tetapi tidak untuk semua Universitas Kristen. Sebab untuk Universitas Kristen, ada beberapa saja yang fakultas Agamanya bernaung di bawah Dirjen Bimas Kristen Depatemen Agama RI dan ada juga yang bernaung langsung di bawah tanggung jawab Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI).

Dalam PTTAK khususnya di STT dan STAKN tidak ada fakultas, yang ada hanya jurusan yang memiliki program studi. Kalau di Universitas Kristen ada Fakultas Agama yang memiliki beberapa program studi. Program studi tersebut menggunakan kurikulum yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama RI. Adapun kurikulum yang dikeluarkan adalah untuk program studi Pendidikan Agama Kristen (PAK), Teologi, Musik Gereja dan Konseling Kristen.

Karakteristik dan Kekhususan tujuan yang akan dihasil sebagai output maupun outcome dari masing-masing program studi di atas akan dijelaskan dalam penjelasan selanjutnya. 

  1. Produktifitas PTTAK Bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Program studi Pendidikan Agama Kristen (Prodi PAK) bertujuan, antara lain: (1) menghasilkan tenaga guru PAK yang profesional, berkualitas, dan bermoral; (2) Mendidikan calon sarjana PAK yang terampil melaksanakan tugas sebagai pendidikan mata pelajaran PAK; (3) Mendidik calon sarjana PAK yang mampu melaksanakan pelayanan konseling pastoral dan umum di bidang pendidikan di sekolah dan di luar sekolah, semiliki kemampuan ganda untuk mengajar mata pelajaran umum, dan menguasai dasar-dasar teknologi informasi di bidang pendidikan; (4) menghasilkan temuan-temuan penelitian di bidang PAK di sekolah dan di dunia pendidikan pada umumnya yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang diselenggarakan dan pada gilirannya dapat memperbaiki mutu lulusan secara lebih profesional.

Kompetensi lulusan sarjana PAK antara lain: (1) mampu melaksanakan tugas pokok sebagai guru PAK, meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program PAK, menganalisis hasil evaluasi dan melaksanakan hasil tindak lanjut; (2) memliki wawasan, pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai dan sikap untuk mampu melaksanakan dan mengelola program layanan bimbingan konseling di bidang pendidikan sekolah dan pendidikan pada umumnya; (3) memiliki wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan sikap untuk mampu mengajar salah satu bidang studi umum dan menguasai dasar-dasar teknologi informasi di bidang pendidikan; (4)  mampu mengidentifikasi masalah-masalah psikologi yang dijumpai dalam dunia pendidikan pada umumnya dan dilingkungan sekolah pada khususnya; dan (5) mampu memberikan layanan bimbingan dan bantuan kepada siswa yang sedang tumbuh, berkembang dan mengalami proses pembelajaran sehingga mereka mampu mencapai tujuan yang diidamkan seoptimal mungkin.

Selain tujuan-tujuan  Prodi PAK yang dikemukan di atas, ada juga tujuan program studi PAK dari STT Injili Philadepia untuk menambah pemahaman kita, antara lain: (1). Mempersiapkan SDM Kristen di bidang pendidikan dan kepemimpinan, serta profesional Kristen yang siap menjadi saksi Kristus di dunia kerja; (2) Memperdalam pengetahuan ilmu Teologi, Pendidikan Kristen, Bimbingan Konseling & Kepemimpinan Kristen yang relevan dengan tuntutan globalisasi bagi generasi Kristen yang belum terpanggil menjadi hamba Tuhan full-time; (3) Memberikan dasar yang kuat dalam etika, moral, karekter dan iman Kristiani guna menjadi saksi Kristus di dunia sekuler; dan (4) Mempersiapkan para sarjana yang siap untuk melanjutkan ke program S-2, baik bidang Teologi & pendidikan Kristen (M.Th), maupun bidang lain seperti: Ilmu Ekonomi (MM), Ilmu Pendidikan (M.Pd.), Ilmu Filsafat (M.Hum), atau bidang-bidang ilmu lainnya.  

  1. Produktifitas PTTAK Bidang Teologi

 Dalam GBPP kurikulum standar minimal (1997: 14) dijelaskan arti teologi yang dimaksud dalam program studi ini. “pengertian teologi sangat luas, namun dalam pedoman ini arti teologi adalah ilmu yang menggumuli firman Allah menurut Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pemahaman ini kemudian dirumuskan dalam tujuan pendidikan teologi. Tujuan pendidikan teologi tersebut dibagi dalam dua bagian yaitu; (1) memperlengkapi mahasiswa dengan kemampuan akademik, etis moral, spiritual untuk berfungsi dalam panggilan Tuhan, baik dalam gereja maupun dalam masyarakat; (2) mengembangkan ilmu teologi dalam kerangka kesaksian dan pelayanan gereja di tengah-tengah masyarakat. Pelaksanaan pendidikan teologi ini didasarkan pada tiga prinsip yaitu: (1) pembinaan dalam segi-segi academic formation, spiritual formation, and practical formation; (2) mengembangkan teologi secara kontekstual dengan menekankan dialog antara teks (Firman Allah) dan konteks (perkembangan dalam masyarakat; (3) menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi: Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian masyarakat. Ruang lingkup pendidikan teologi (S1) adalah membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar teologi dan membina mahasiswa dalam ketrampilan manajerial untuk pelayanan dalam gereja dan masyarakat.

Kurikulum stratum satu (S1) teologi tahun 1997 adalah Jurusan Theologia seperti yang telah diuraikan di atas. Kemudian pada tahun 2007 berubah menjadi kurikulum stratum satu (S1) teologi program studi teologi kependetaan. Dalam kurikulum (2007) stratum satu teologi (S1) program studi teologi kependetaan memiliki dasar dan tujuan pendidikan teologi kependetaan. Dasar umum pendidikan teologi kependetaan adalah perubahan yang mengakibatkan runtuhnya kemapanan dan menghasilkan perasaan yang tidak menentu, kesementaraan yang menurunkan kelanggengan hubungan kita terhadap segala sesuatu, dan kebaruan yang menghancurkan pranata-pranata dan pola hubungan yang ada, membawa pranata baru yang melahirkan situasi baru belum pernah dikenal sebelumnya.

Dasar khusus pendidikan teologi kependetaan (Ditjen Bimas Kristen, 2007: 5-6) adalah: “Perubahan dan pembaharuan telah terjadi secara mendasar dalam system pendidikan nasional di Indonesia, khususnya dalam ancangan waktu 2000-2010, sehingga kurikulum lembaga pendidikan tinggi teologi juga sudah harus disesuaikan dengan konteks kebutuhan peradigma pendidikan di Indonesia, terutama semua komponen tatanan perangkat sistem kelembagaan termasuk komponen kurikulum”. Tujuan pendidikan teologi kependetaan (Ditjen Bimas Kristen, 2007: 14) berdasarkan visi dan misinya, maka program sarjana lembaga pendidikan teologi bertujuan untuk menghasilkan pelayan yang:

  • Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Memiliki kesadaran tinggi sebagai warga negera, masyarakat dan bangsa yang pancasilais.
  • Menguasai cara berpikir, teori, konsep, prosedur, dan fakta penting sebagai dasar pengembangan pengetahuan lebih lanjut.
  • Memiliki pemahaman yang mendalam mengenai perkembangan gereja dan masyarakat.
  • Memiliki wawasan, sikap dan ketrampilan untuk mengembangkan proses dan pelaksanaan penatalayanan gereja.
  • Memiliki, kebiasaan, nilai, dan kecenderungan pribadi yang menunjang pengembangan professional.
  • Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara sosial dan profesional di lingkungan sejawat gereja maupun masyarakat.

Berdasarkan tujuan pendidikan tersebut di atas akan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi khusus sebagai sarjana teologi kependetaan. Lulusan lembaga pendidikan tinggi teologi adalah manusia intelektual yang memiliki keandalan spiritual dan professional yang memadai dalam bidangnya, khususnya keagamaan maupun bidang lainnya; oleh karena itu, melalui program pendidikan dan kurikulum yang dirancang dikembangkan, dan diiplementasikan, maka lulusan dididik dan diberdayakan untuk memiliki keandalan profesional yang memadai serta kemampuan untuk belajar mandiri secara berkelanjutan, agar mereka siap untuk menjadi professional dalam memasuki dunia kerja lokal, nasional maupun global (Ditjen Bimas Kristen, 2007: 16).

Gereja menaruh harapan amat besar atas kegiatan fakultas dan jurusan teologi. Sebab kepada fakultas dan jurusan itulah gereja mempercayakan tugas yang berat sekali, yakni menyiapkan para mahasiswanya bukan saja untuk pelayanan imam, tetapi terutama untuk mengajar di lembaga-lembaga studi gerejawi tingkat tinggi, untuk mengembangkan berbagai bidang ilmu atas jerih payah mereka sendiri, dan menangani tugas-tugas kerasulan intelektual yang lebih berat. Termasuk tugas fakultas dan jurusan teologi itu sendiri: mengadakan penelitian-penelitian lebih mendalam di pelbagai bidang teologi, sehingga tercapailah pengertian yang makin mendalam tentang pewahyuan Roh Kudus, makin berkembanglah dialog dengan saudara-saudari yang terpisah dan dengan umat beragama lain, dan masalah-persoalan yang timbul dari kemajuan ilmu-pengetahuan mendapat jawabannya. Maka hendaklah fakultas dan jurusan teologi atau gerejawi pada saatnya meninjau kembali Anggaran Dasarnya, secara intensif mengembangkan teologi serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengannya. Dengan memanfaatkan metode-metode serta upaya-upaya yang mutakhir pula, membina para mahasiswanya untuk tetap melanjutkan penelitian-penelitian. (Paulus, t.th).

Selain itu, program teologi bertujuan untuk menyiapkan generasi muda  gereja untuk kepemimpinan gereja di masa depan (STT Philadelphia). Program sarjana teologi harus dikelola dengan lebih baik. Kurikulumnya harus terus menerus dievaluasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan terkini. Sebab menurut Sendjaya (2008), “kualitas sumber daya manusia Kristen di bawah rata-rata”. Fakultas dan jurusan teologi harus menghasillan lulusan yang bisa mengaplikasikan iman dan teologia yang dipelajarinya dibangku kuliah dalam kehidupan riil. Itu berarti dengan kemampuan penelitian yang baik yang telah dipelajari oleh mahasiswa dalam bangku kuliah dapat menjadi alat efektif dalam melakukan terobosan-terobosan dalam pendidikan sumber daya manusia Kristen. Kalau tidak, sebagaimana seperti gereja-gereja di Eropa, orang akan semakin meninggalkan gereja karena mereka menganggap gereja tidak lagi relevan dengan kehidupan riil (Sadjaya, 2008).

Dalam sebuah resensi buku karya Hartono Budi yang dilakukan oleh Yuberlian Padele (2005: 59), mengatakan “proses teologi perlu diuji dengan metode ilmiah dan diperhadapkan dengan semua hasil penelitian sains. Hal ini akan membangkitkan suatu perspektif teologis dari sisi lain. Sabrino memberikan contoh yakni “teologi eksklusif” yang hanya melaksanakan pendidikan sebagai syarat calon pemuka agama atau hanya dibuat berdasarkan “pesanan” pasar temporer atau anti universalitas. Universitas Kristen harus terbuka untuk memahami kenyataan dunia dan manusia secara keseluruhan dan menentukan sikap dan pilihan kepedulian sosialnya, apalagi karena universitas sebagai institusi sosial. Demikian pentingnya menempatkan posisi setara antara teologi dan studi ilmiah serta kebudayaan. Dialektika ilmu-ilmu akan memungkinkan pengolahan kritis terhadap kebenaran teologis. Dengan demikian, teologi dan universitas harus menempatkan diri  “di kaki rakyat yang menderita” dan berani mengambil resiko, yang akan mengundang kontroversi, konflik dan penganiayaan sebab melawan status quo yang menghendaki tidak adanya kritik dan perubahan terhadap sistem dan struktur yang menguntungkan pemihak status quo. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa universitas menawarkan ambigusitas dengan memakai pengetahuan sebagai pembenaran dan penolakan.

Produk lulusan pendidikan bidang teologi juga dapat bekerja sebagai Penyuluh Agama Kristen. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, suluh berarti barang yang dipakai untuk menerangi (bisa dibuat dari daun kelapa atau dari damar); obor. Penyuluh agama adalah pemberi penerangan, petunjuk jalan. Dari arti ini selanjutnya Weinata (2006: 1) menjelaskan bahwa “peran dan fungsi penyuluh amat penting dan startegis.  Penyuluh adalah seseorang yang bertindak memberikan, penerangan penjelasan, arahan dan panduan agar orang lain menerima informasi  yang akurat dan tepat tentang suatu hal, bahkan mengantarkan seseorang untuk tiba di tempat tujuan yang telah ditetapkan”. Menurut Keputusan Menteri Agama No. 164 Tahun 1996, penyuluh agama adalah pembimbing umat beragama dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penyuluh agama adalah para juru penerang penyampai pesan bagi masyarakat mengenai prinsip-prinsip dan nilai etika keberagamaan yang baik. Hasil akhir yang ingin dicapai dari penyuluh agama, pada hakekatnya ialah terwujudnya kehidupan masyarakat yang memiliki pemahaman mengenai agamanya secara memadai yang ditunjukkan melalui pengamalannya yang penuh komitmen dan konsisten seraya disertai wawasan multikultural untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang harmonis dan saling menghargai satu sama lain.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka tantangan tugas para penyuluh agama Kristen semakin berat, karena dalam kenyataan kehidupan di tataran masyarakat mengalami perubahan pola hidup yang menonjol. Dalam situasi demikian, dalam menuju keberhasilan kegiatan penyuluhan tersebut, maka perlu sekali keberadaan penyuluh agama dengan kompetensi kepribadian dan profesional, kecakapan yang mamadai sehingga mampu memutuskan menentukan sebuah proses kegiatan bimbingan dan penyuluhan dapat berjalan sistematis, berhasil guna, berdaya guna dalam upaya pencapaian tujuan yang diinginkan.

  1. Produktifitas PTTAK Bidang Musik Gereja

Mahasiswa akan diperlengkapi dengan pengetahuan yang dalam dan keahlian dalam pelayanan musik gereja. Melalui program ini, mahasiswa mampu membina pelayanan musik yang dinamis di gerejanya.

Menurut kurikulum Stratum Satu Teologi program studi Musik Gereja (2007: 33) kompetensi lulusan program studi ini adalah Lulusan Program Studi Musik Gerejawi adalah menghasilkan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi :

  1. Wawasan dan kemampuan menguasai dasar teologi musik, terampil dalam olah vokal dan alat musik baik teori maupun praktek.
  2. Mempunyai komitmen untuk mengabdikan pengetahuan musik gerejawi dalam kehidupan bergereja, berbangsa dan bermasyarakat.
  3. Mampu mengaplikasikan, mengembangkan berbagai lingkup pelayanan: sekolah, gereja dan masyarakat.

Untuk mencapai kualitas lulusan tersebut di atas maka disusunlah kurikulum dengan kompetensi yang hendak dicapai dalam setiap kelompok mata kuliah. Kompetensi kelompok mata kuliah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kompetensi Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK): Kelompok mata kuliah ini memperlengkapi mahasiswa dengan kompetensi dalam : sikap, perilaku, dan integritas pribadi sebagai pendidik Kristiani.
  2. Kompetensi Kelompok Mata kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK) : Kelompok mata kuliah ini memperlengkapi mahasiswa dengan kompetensi dalam; 1) Penguasaan ilmu kependidikan dan dasar teologi musik gerejawi, 2) Penguasaan ketrampilan dan pengetahuan musik gerejawi serta mampu mengembangkan secara kreatif dan mampu melakukan penelitian.
  3. Kompetensi Kelompok Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB) : Kelompok mata kuliah ini memperlengkapi mahasiswa dengan kompetensi dalam : 1) Mendeskripsikan arti musik gerejawi dan memahami sejarah perkembangannya, 2) Penguasaan teori dan ketrampilan dalam musik secara kreatif dan inovatif, serta mampu mengembangkan musik gerejawi.
  4. Kompetensi Kelompok Mata Kuliah Perilaku Berkaya (MPB) : Kelompok mata kuliah ini memperlengkapi mahasiswa dengan kompetensi dalam : 1) Pengetahuan, ketrampilan dan kreatifitas dalam melaksanakan pelayanan Firman, pelayanan musik gereja dan konseling, 2) Membangun sikap pengembangan ilmu teologi dan musik gerejawi dalam interaksi dengan ilmu-ilmu lainnya.
  5. Kompetensi Kelompok Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB) : Kelompok mata kuliah ini memperlengkapi mahasiswa dengan kompetensi dalam : kemampuan menerapkan secara terampil ilmu teologi dan kependidikan, dengan menggunakan komunikasi verbal, melalui pendekatan social untuk membangun sikap toleransi dan menciptakan kerukunan dalam masyarakat majemuk.
  6. Mata Kuliah Metode Penelitian, Statistika dan Indeks Prestasi Komulatif
  1. Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Berdasarkan kurikulum Tahun 1996 dan 2007 Mata Kuliah Metodologi Penelitian dan mata kuliah Statistika di Jurusan Pendidikan Agama Kristen, Jurusan Teologi dan Jurusan Musik Gereja dengan bobot masing-masing 2 sks.

Mata kuliah Metodologi Penelitian bersifat teori untuk memberikan pemahaman tentang konsep Metodologi Penelitian secara umum. Dengan mengikuti Metodologi Penelitian memberikan bekal kepada mahasiswa untuk melaksanakan penelitian dengan mengikuti kaidah dan prosedur penelitian dengan secara benar. Metodologi penelitian termasuk mata kuliah keilmuan dan ketrampilan (MKK). Kompetensi mata kuliah keilmuan dan ketrampilan (MKK) adalah (a) penguasaan ilmu kependidikan dan teologi secara mendasar; (b) ketrampilan berteologi secara kreatif dan mampu melakukan penelitian.  Standar kompetensi mata kuliah metodologi penelitian adalah “mahasiswa mampu menerapkan prinsip-prinsip penelitian dalam bidang Pendidikan Agama Kristen (PAK).

Substansi kajian dalam mata kuliah metodologi penelitian di PTTAK ini dalam kurikulum 2007 adalah (a) Berbagai metode penelitian ilmiah, (b) Desain penelitian, (c) Analisis data hasil penelitian, (d) Laporan penelitian.

Proses pembelajaran dalam mata kuliah ini adalah dengan inkuiri, curah pendapat, diskusi, peta konsep, pertanyaan efektif menggunakan sumber daya cetakan, membandingkan dan mensintesiskan informasi, mengamati aktif, peta akibat, keuntungan dan kerugian, pemainan peran. Sedangkan rancangan evaluasi proses pembelajarannya adalah secara tertulis, unjuk kerja, tes penampilan (performance), portofolio, penilaian diri dan penilaian sikap (Depag Ditjen Bimas Kristen, 2007: 32)

  1. Mata Kuliah Statistika

Mata kuliah statistika merupakan mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Kristen, Jurusan Teologi dan Jurusan Musik Gereja di PTTAK. Mata kuliah statistika ini meliputi mata kuliah statistika dasar dengan bobot 2 sks. Mata kuliah statistika dasar memberikan pemahaman tentang konsep statistika deskriptif dan aplikasinya dalam penelitian. Sedangkan mata kuliah statistika lanjut memberikan konsep statistika inferensial dan aplikasinya dalam penilaian hasil belajar dan penelitian pendidikan.

Dalam kurikulum 2007 program studi teologi kependetaan (Ditjen Bimas Kristen, 2007: 44) tentang mata kuliah pengantar statistika dengan bobot 2 sks untuk program studi teologi kependetaan dengan standar kompetensinya sebagai berikut: “Mahasiswa mampu mengidentifikasikan pengertian, peranan, manfaat, tujuan statistika dan dapat membaca laporan statistika untuk memperoleh manfaatnya”. Untuk mencapai kompetensi tersebut maka disusunlah substansi kajian teorinya sebagai berikut:

  • Pengertian peranan, manfaat dan tujuan statistika
  • Data statistika
  • Populasi dan sampel
  • Pengumpulan data
  • Pengolahan data
  • Penyajian data
  • Distribusi frekwensi dan grafik
  • Simpangan, Dispersi dan Variasi
  • Distribusi sampling
  • Pengujian dan validitas (Ditjen Bimas Kristen, 2007: 14)

Dengan adanya mata kuliah statistika sangat membantu mahasiswa dalam bidang penelitian sebagaimana dikemukakan oleh Agus Irianto (1988: 2) bahwa: “statistika adalah sekumpulan cara maupun aturan-aturan yang berkaiatn dengan pengumpulan, pengolahan (analisis), penarikan kesimpulan atas dasar data-data yang berbentuk angka dengan menggunakan suatu asumsi-asumsi tertentu”. Sedangkan Supranto (1986: 4) mendefinisikan statistika dalam dua arti yaitu: Dalam arti sempit, statistika berarti data ringkasan berbentuk angka (kuantitatif). Dalam arti luas, statistika berarti suatu ilmu yang mempelajari dara pengumpulan, pengolahan, penyajian dan analisis data serta cara pengambilan kesimpulan secara umum berdasarkan hasil penelitian yang tidak menyeluruh.

Berdasarkan pada kedua pengertian di atas menunjukkan bahwa statistika berarti ringkasan berbentuk data angka, dan juga merupakan suatu ilmu yang mempelajari secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistika yaitu pengumpulan data angka, pengolahan data, pengambilan kesimpulan dan melakukan suatu prediksi secara ilmiah atas dasar data angka. Selanjutnya Guilford yang dikutip oleh Koesno Probohandojo (1989: 2) mengemukakan bahwa statistika memberikan peranan penting dalam penelitian yaitu:

  • Statistika memberikan gambaran yang paling eksak yang mengenai data penelitian.
  • Statistika memaksa kita untuk berpikir secara pasti karena semua kesimpilan berdasarkan data kuantitatif.
  • Statistika memungkinkan kita untuk membuat kesimpulan yang berarti menurut peraturan yang berlaku.
  • Statistika memungkinkan kita untuk membuat ramalan tentang sesuatu yang akan terjadi berdasarkan data yang kita kumpulkan dan kita analisis.

Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa statistika memiliki arti yang sangat penting bagi mahasiswa PAK, Teologi dan Musik Gereja dalam membantu di bidang penelitian.

  1. Indeks Prestasi Komulatif 

Menurut KBBI (1989: 700) prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai (dan yg telah dilakukan, dikerjakan dsb). Jadi prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan melalui proses belajar. Bloom (1979: 7) mengemukakan bahwa hasil belajar yang diperoleh peserta didik sesudah belajar meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan Suharsimi Arikunto (1983: 3) mengatakan bahwa untuk mengetahui prestasi belajar dapat dilakukan melalui penilaian atau evaluasi yang meliputi:

  • Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.
  • Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.

Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam menilai prestasi belajar meliputi unsur mengukur dan menilai. Mengingat pentingnya penilaian prestasi belajar peserta didik maka ujian merupakan salah satu alat yang dapat digunakan.

Mozes dan Yuhara (1986: 25) mengemukakan bahwa ujian dapat dikelompokan menjadi empat, yaitu: ujian tertulis, ujian buku terbuka atau tertutup, ujian lisan dan ujian praktikum. Ujian tertulis dapat dibuat menurut format subjektif, objektif maupun campuran.

Indek prestasi merupakan istilah yang digunakan pada perguruan tinggi untuk menunjukkan prestasi belajar dari seorang mahasiswa. Prestasi belajar yang dimaksud adalah prestasi belajar yang dihasilkan oleh proses pengukuran yang sesuai dengan aturan-aturan tertentu. Tinggi rendahnya prestasi seseorang dapat diketahui melalui pengukuran. Informasi ini dapat melalui ujian dan tugas-tugas, baik tugas praktikum, tugas penulisan, maupun tugas-tugas latihan pendalaman materi. Prestasi belajar yang diperoleh mahasiswa menggambarkan tingkat penguasaan mahasiswa atas pengetahuan yang diterimanya.

Prestasi belajar mahasiswa di Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen (PTTAK) dinyatakan dalam bentuk angka dan kemudian ditransfer ke huruf, dengan kategori sebagai berikut:

80 – 100                = A bobot 4 berarti sangat baik

70 – 79  = B bobot 3 berarti baik

60 – 69  = C bobot 2 berarti cukup

50 – 59  = D bobot 1 berarti kurang

< 50  = E bobot 0 berarti tidak lulus

Bobot nilai berguna untuk menentukan indeks prestasi mahasiswa, baik indeks prestasi pada setiap semester maupun indeks prestasi komulatif (IPK). Besarnya indeks prestasi merupakan prestasi mahasiswa dalam mata kuliah yang diambil pada setiap semester. Masing-masing mata kuliah mempunyai bobot satuan kredit semester atau SKS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: