NILAI PEMBAYARAN DALAM ADAT SENTANI BEDA DENGAN NILAI RUPIAH

Oleh Philip Kopeuw
0270 -Flavouw, Sabtu 18 Februari 2012 – Jam 14:57 wit

Nilai adat Sentani yang dimaksud di sini adalah nilai-nilai budaya, dalam hal ini semua liturgi atau protokoler atau prosesi menyangkut budaya dan teradisi Sentani dalam hal pembayaran maskawin maupun pembayaran harta kepala. Dalam pembayar maskawin atau pembayar harta kepala, biasanya satu paket dengan mengantar aneka macam makanan. Kata lainnya, ada makanan yang diantar, berarti ada pembayaran. Tergantung pada tujuan makanan yang diantarkan tersebut. Apakah untuk pembayaran maskawin atau pembayaran harta kepala. Setelah makanan diantarkan, barulah dibuat deal-deal (persetujuan-persetujuan) untuk menetukan waktu pelaksanaan pembayaran. Dalam dunia pasar dapat kita katakan ada barang, ada proses transaksi.

Kalau kita kembali meninjau masa lalu, untuk melaksanakan budaya sentani masih sangat mudah dan agak ringan, karena nilai rupiah belum setinggi sekarang. Untuk mendapatkan seekor babi; pisang; sagu; beras; dan lain sebagainya masih sangat mudah. Sebab, masyarakat sentani masih berkebun sendiri serta masih kentalnya rasa kebersamaan/solidaritas dan gotong royong masih sangat tinggi. Masyarakat sentani pada waktu dulu masih memelihara babi sendiri. Sekarang, setelah perkembangan dan perubahan jaman dan krisis moneter yang menyebabkan rupiah dari 2500/dolar naik hingga 10.000-an/dolar. Ekonomi Indonesia goyang. Harga-harga barang berganti menjadi sangat tinggi. Belum lagi di sentani banyak tanah dan lahan produktif sudah dijual. Hewan babi yang dulunya tidak mahal kini sudah punya nilai jual/harga yang tinggi. Harga babi perekor antara 5 juta – 15 juta. Sedangkan penghasilan PNS atau swasta tidak mungkin membelinya. Harga beras 10.000/kilogram. Sedangkan tidak ada ketentuan dalam adat, harus membawa berapa beras kilogram atau berapa karung untuk pembayaran maskawin atau pembayaran harta kepala.

Beberapa kali, saya ikut prosesi pembayaran maskawin maupun pembayaran harta kepala, saya menilai bahwa dampak krisis global ini sudah mempengaruhi pikiran orang-orang Sentani. Apanya yang dipengaruhi? Pikiran mereka, orang Sentani mulai memikirkan untuk rugi antara nilai rupiah yang telah dikeluarkan untuk membeli babi, beras, pisang, dan sebagainya, hingga harga sewah transportasi darat-laut untuk mengantarkan makanan tersebut diperhitungkan. Jadi, untuk pembayaran harta maskawin atau harta kepala semua pengeluaran untuk makanan itu harus dihitung dan bayarkan kembali.

Kalau mau jujur, orang sentani yang tidak cukup penghasilan biasanya kredit, pinjam uang atau utang untuk membunuh satu ekor babi dan memesan atau membeli beberapa aneka makanan lainnya yang sesuai tradisi adat Sentani. Kondisi ini bukan hal baru, tapi sudah merupakan masalah klasik yang dialami orang-orang Sentani.

Hal yang dilupakan orang-orang Sentani adalah bahwa nilai pembayaran dalam adat Sentani berbeda dengan nilai rupiah. Dalam adat sentani, berapa pun banyaknya uang untuk pemgeluaran dalam membeli makanan berupa berapa ekor babi, pisang, beras, sagu dan lain sebagainya yang sudah antarkan kepada pihak perempuan, semuanya itu adalah menunjukkan harga dirinya. Bukan berapa nilai rupiah yang harus dibayarkan kembali oleh pihak pembayar. Oleh karena itu, melihat nilai rupiah yang keluarkan, hal ini selalu menjadi potensi persoalan dan keributan. Pikiran nilai adat sentani dan nilai rupiah harus dibedakan. Secara ekonomis jelas bahwa praktek adat Sentani ini sangat rugi dan tidak menguntungkan. Namun demikian, dari sisi nilai budaya, rupiah tidakada artinya, karena nilai budaya jauh diatas nilai rupiah. Nilai budaya menujukkan harga diri masyarakat asli Sentani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: