SENTANI BUKANLAH NAMA SUKU TETAPI NAMA TEMPAT

SENTANI BUKANLAH NAMA SUKU TETAPI NAMA TEMPAT
Oleh Pilipus Kopeuw

Yogyakarta, Sabtu 19 Februari 2011 – Jam 02:28 wib
Saya membaca banyak artikel dan komentar-komentar baik dari orang asli Sentani, peneliti, para penulis artikel dan para wartawan, termasuk saya sendiri juga dalam sebutan terhadap orang asli Sentani disebut dengan sebutan “SUKU SENTANI”. Setelah melalui perenungan dan analisa terhadap artikel-artikel tentang “suku Sentani” saya mendapat temuan tentang adanya kesalahan dalam sebutan suku Sentani. Yang benar sebutannya adalah “MASYARAKAT ASLI SENTANI DARI PUAY SAMPAI YAKONDE”.atau SUKU-SUKU DI SENTANI. Sebutan SUKU SENTANI ITU SALAH. Sebab sesungguhnya tidak ada suku sentani, yang ada hanyalah masyarakat asli wilayah sentani atau penduduk asli daerah sentani. Penduduk asli wilayah sentani adalah orang-orang yang mendiami wilayah atau daerah yang bernama Sentani. Dalam bahasa Sentani, kata Sentani adalah “PHUYAKHA”. Phuyakha itu dua kata dari Phu dan Yakha. Phu artinya “air”. Dan Yakha artinya :terang, kelihatan, nampak. Saya katakan Sentani bukan nama suku tetapi nama tempat melalui analisis yang manjadi alasan penyataan dalam artikel ini sebagai berikut:

Pertama,sentani bukan suku tapi nama tempat yang kemudian disebut Phuyakha. Disebut PHUYAKHA karena dulu wilayah Sentani ini masih hutan ketika terjadi exodus dari arah Nyoah dan Moso di Papua New Guinea melewati Wutung, Kayu Batu, Nafri hingga masuk ke wilayah Sentani. Danau Sentani belum ada penghuninya. Danau sentani masih sangat alami. Setelah mereka mulai bermukim di danau Sentani, maka pohon-pohon ditebang, rumah-rumah mulai dibangun ditepi-tepi danau Sentani. Akhirnya danau Sentani kelihatan ada penghuni. Dari perkembangan ini akhirnya disebut “PHUYAKHA” yang artinya wilayah yang tadinya sepih tidak Nampak kini sudah menjadi Nampak karena sudah ada penghuninya. Jadi Phuyakha ini bukan suku tapi nama tempat.

Kedua, Sentani bukanlah suku karena di setiap kampong dari Waena, Sebeiburu, Puay, Ayapo, Asei Kecil dan Besar, Netar, Ifar Besar dan Ifar Kecil (Ifale), Hobong, Yobhe, Yabuay (Yahim), Putali, Abar, Atamali, Yoboi, SImporo, Babrongko, Dondai, Kwadeware, Yakonde, Sosiri, Doyo Empat Kampung masing-masing mempunya Ondofolo/Ondoafi dan Kose. Tiap Ondofolo (Kepala adat) memiliki suku sendiri, tiap Kose (Kepala Suku) memiliki nama suku sendiri-sendiri. Dalam satu kampong ada satu Ondofolo dengan lima Kose. Berarti dalam satu kampung bisa memiliki lebih dari lima suku. Kalau dihitung berdasarkan jumlah kampung yang ada di wilayah sentani berarti terdapat 23 kampung. Jadi, 23 kampung dikalikan 5 suku jadi ada 115 suku yang ada di wilayah Sentani. Sekali lagi saya tekankan bahwa salah kalauada yang menyebut atau menulis “Suku Sentani”. Di dunia ini tidak ada suku sentani, selama ini semua orang salah dalam penggunaan kata suku sentani sehingga kata “suku Sentani” kini jadi populer serta ditancapkan dalam benak setiap pembaca dan pendengar dengan pemahaman yang sama yaitu bahwa sebutan suku Setani menunjuk kepada masyarakat asli yang mendiami wilayah Sentani.
Walaupun demikian, Sentani bukanlah nama suku tetapi Sentani adalah nama tempat. Sebab di Sentani setiap kampung memiliki lebih dari lima suku. Sebagai contoh bukti penjelasan ini, saya ambil dari kampung Ifar Besar (Kabetlouw) terdapat Suku Nelem Aniyokhu, Suku Rakelebei, Suku Ibhu, Suku Wafi, Suku Aluwakha, Suku Bhulende dan Suku Phualo.

5 Tanggapan to “SENTANI BUKANLAH NAMA SUKU TETAPI NAMA TEMPAT”

  1. Dalam “Buletin Dafonsoro” yang terbit tahun 1960-an, nama “Sentani” dijelaskan secara mendetail oleh orang2 Belanda yang menyebut nama itu untuk pertama kalinya. Nama itu identik dengan kehidupan suku2 asli yang hidup di dataran Robonsolo pada jaman dahulu kala yang mengandalkan hasil pertanian atau hasil kebun sebagai makanan pokok yaitu orang2 yang hidup dari hasil pertanian (asal kata “tani”). Di jaman Belanda, Sentani direncanakan sebagai pusat perkebunan/pertanian untuk menyuplay kebutuhan sayur-mayur dan buah-2an bagi penduduk kota Holandia. Dengan demikian, kata Sentani juga menjadi singkatan dari “Sentral Pertanian” atau Pusat Pertanian. Di jaman itu, Belanda pernah mengusahakan penanaman kelapa, kopi, coklat dan sayur-mayur dalam skala besar, namun akibat banjir yang seringkali terjadi di musim hujan yang menyapu bersih hasil2 pertanian/perkebunan, maka daerah genyem yang menjadi alternatif.

  2. senang atas usaha saudara untuk mengangkat budaya kita khususnya budaya Sentani. sebagai orang asli papua dari Pegunungan sangat salut usaha saudara ini. Hanya satu hal yang harus menjadi perhatian adalah batasan tentang istilah Suku atau Suku bangsa itu. Suku bangsa Sentani dlm hal ini. harus ada “pembatasan’ tentang konsep Suku/ suku bangsa itu. jangan salah artikan antara lineage, klen dan atau moiety. sepertinya saudara masud suku di atas dalam batasan ini. Disebut suku/suku bangsa itu ada patokan jelas seperti batas geografis, bahasa, identitas diri dan karakteristik lain. Syalom. bangkitkan kebudayaan, bangkitkan bangsa untuk membangun “Nation Papua”. wa wa wa

  3. senang atas usaha saudara untuk mengangkat budaya kita khususnya budaya Sentani. sebagai orang asli Papua dari Pegunungan sangat salut usaha saudara ini. Hanya saja, satu hal yang harus menjadi perhatian adalah batasan tentang istilah “Suku” atau “Suku Bangsa” itu. Suku bangsa Sentani dlm hal ini. Harus ada “batasan’ yang jelas untuk menempatkan konsep Suku/ suku bangsa itu. Jangan salah menempatkan istilah suku / suku bangsa dalam pengertian dengan konsep: Lineage, klen dan fratri. Saya yakin yang dimasud Suku dalam tulisan sauda ini adalah dalam batas Lineage, Klen, atau Fratri. Disebut suku/suku bangsa, ada patokan yang jelas seperti batas geografis, bahasa, identitas diri dan karakteristik lain. Syalom. Bangkit budaya kita, bangkit bangsa kita, untuk membangun “Nation of West Papua”. wa wa wa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: