SENTANI PASCA GEREJA DAN PENDIDIKAN

Yogyakarta, Senin 6 Oktober 2008.Tulisan ini ditulis guna mengangkat kembali histori orang sentani. Sekaligus sebagai bahan refleksi generasi masa kini untuk bercermin dan kembali pulang menyelematkan Sentani yang menuju kepada krisis multidimensi.

Suatu pagi di tahun 1028, rombongan yang beberapa hari sebelumnya mengantarkan dua ekor babi dari Pulau Ajau di danau Sentani ke Genyem kembali ke Boroway. Bersama seorang guru bernama Daud Pekade, orang-orang Ajau dalam keadaan riuh-rendah menaiki perahu di pantai Boroway mengarah guru ke Ajau. Orang-orang Genyem tak tabah menahan isak tangis melepas guru dan pelayan yang di cintainya ke ladang pengabdian baru. Kampung-kampung: Dondai, Kwadeware, Babrongko, Simporo, Atamali, Yoboi, Putali, Abar, Yahim, Yobeh memadati danau yang dilintas lewatnya perahu yang ditumpagi guru. Sampailah kerumunan perahu di Purende. Guru dibiarkan tinggal diatas peragu. Makan dan kebutuhan lainnya diurus oleh warga kampung selama seminggu. Dalam minggu itu juga, rumah guru didirikan. Dan guru pindah dari perahu ke rumah tinggal. Minggu berikutnya masyarakat mendirikan rumah  sekolah dan sekolah pun dimulai dengan murid yang terdiri dari orang-orang dewasa, bahkan ada yang lebih tua usianya dari dari gurunya.. kira-kira 20 tahun kemudian anak-anak Sentani sudah ada yang menjadi guru, baik sebagai guru Injil, maupun guru sekolah, dan mengajar pada orang Sentani.

Orang sentani mengenal nama Felix Suebu, Thomas Suebu, Pdt. Thaime, Noack Kabey, kemudian Yustus Yokhu, Parmenas Yoku, Yoasap Ohee, dan lain-lain. Sekitar akhir 1930-an dan 1040-an terdapat sejenis pendidikan di Kota NICA (Kampung Harapan sekarang), dengan orientasi lebih banyak pada praktek-praktek lapangan. Ada banyak orang bersekolah disana, terutama kaum lelaki.

Sekitar tahun 1946, sebuah sekolah didirikan di Yoka, menampung siswa dari seluruh Tanah Papua, dengan mutu dan kurikulum yang lebih teratur. Pada tahun 1950-an, sekolah ini dikelola oleh satu Yayasan (Zending), yaitu Zending der Nederlandsche Geformde Kerk (ZNGK). Nama sekolah disebut Jongens Vervolog School (JVVS). JVVS Yoka mendistribusi siswa ke PMS, MULO, ODO, LTS, Sekolah Pertanian dan sebagainya. Pada waktu itu, mutu manusia Sentani yang berkualitas mulai terbangun. Sekolah-sekolah dasar menamatkan ratusan bahkan ribuan warga Sentani yang berpendidikan. Mutu pendidikan dan kualitas generasi Sentani tahun 1940-an – 1950-an dapat diukur dari lincah membaca dan menghafal dengan sangat baik.

Pendidikan juga bermaksud untuk memperkuat kedudukan Gereja Kristen dan Pekabaran Injil. Bila diwaktu sekarang dalam hal puji-pujian kepada Tuhan generasi kini dipaksa untuk terlibat dalam paduan suara, kelompok suling tambur dan sebagainya. Generasi Sentani sebelumnya menyanyikan semua lagu diluar kepala. Hidup mereka kaya dengan puji-pujian. Sekitar tahun 1957, dari tanah Papua yang besar ini, beberapa orang dari Sentani ikut terjaring dalam seleksi mengikuti pendidikan di negeri Belanda. Mereka adalah Ambrosius Suebu, Jaconias Deda, Orgenes Hokoyoku, Petrus Pangkatana, Adrianus Deda dan Nicolas Nere.

Terpilihnya orang-orang ini untuk mengikuti pendidikan di negeri Belanda, mengidentifikasikan tampilan kualitas orang Sentani di tengah-tengah 254 subetnis yang mendiami tanah Papua. Kita tak perlu menjadi bangga lebih dalam, hal ini tentang keberadaan kita secara suku Sentani, namun kita boleh bertanya, bagaimana dengan kami di era kemajuan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi? Apa peran kita secara pribadi untuk ikut menyemarakkan nama Sentani (Puyakha)?

Sebagai masyarakat yang hidup dalam satu solidaritas sun-etnis dan sub-kultur Puyakha, memiliki sentimen kelompok (Puyakha khena – Puyakha eare). Sebagai satu kelompok masyarakat, kita menganut dan mempraktekkan keharusan principle of reciprocity atau prinsip timbal balik (Yei – wahei) dan menganut prinsip gotong-royong dalam konteks tolong-menolong (rikei-hakhoi).

Kita memiliki ”Obe” untuk mewujudkan musyawarah dalam kehidupan bersama sebagai Puyakha fa. Lalu apa hikmah yang terbetik di dalamnya ketika kita hendak maju melampaui keinginan kita yang sedang dibangun dalam solidaritas Puyakha?

Perlu dipahami bersama era tahun 1928 – 1940-an adalah era pra pendidikan bagi orang Sentani. Pada era ini proses belajar hanya untuk mengenal hal-hal yang baru. Tak ada motivasi untuk meraih masa depan dalam suatu perubahan dan pembaharuan. Masyarakat dipersiapkan untuk bisa berkomunikasi dengan pihak lain terutama dapat menerima pendatang baru yang membawa berita keslamatan melalui Injil, dan agar Injil bisa di baca oleh tiap-tiap pribadi.

Pada era tahun 1940 – 1950-an dapat disebut era transisi. Masyarakat sentani terangkat ke dunia pendidikan yang lebih maju, pada waktu yang sama tuntutan agama pun memaksa untuk meninggalkan tradisi-tradisi yang dianggap kuno dalam adat istiadat orang Sentani. Kemajuan baru belum tercapai, tradisi dan adat istiadat pun belum ditinggalkan penuh. Di era ini adat-istiadat yang merupakan bagian kebudayaan sebagai sistem tingkah-laku dalam dadakan dan desakan Injil terjadi lonjakan yang cukup berarti, karena pada peiode ini generasinya terpaksa melupakan bagian lain dari tradisi-tradisi penting.

Banyak pranata-pranata adat baru diabaikan dalam tuntutan merubah perilaku sesuai kata-kata Injil. Diantaranya sistem religi dan ritus-ritus pendukung sosial kehidupan masyarakat. Generasi pada angkatan ini, akan balik mempelajari bagian dunia yang dilewatinya karena tuntutan perkembangan, setelah pensiun dari jabatan tertentu. Di era ini telah terjadi alih generasi, hak dan kekuasaan dari generasi As-leu kepada Alei (di Kabetelouw yo) dari Yali Keanggem kepada Romelam (Ibo Hokhou poye – Rukhang Hobong), Hiyakhelo kepada Yandi (di Ifale), Rohiyakhe kepada Namfela di Ayapo, dari Raasa kepada Hebea (di Oheikoi-Ohei Yonokhom) dan sebagainya. Bagian-bagian adat-istiadat orang Sentani yang harus hilang adalah Pulo (magi) sebagai alat kontrol sosial dari aspek pengetahuan tidak diketahui secara baik. Histori Yo, iyumea (suku), ritus di Obe dan khombo, bagian-bagian tertentu dari kesenian dan lain sebagainya hilang atau tak dipahami secara utuh.

Norma-norma adat dalam pranata-pranata dan sub-sub pranata yang saling berkaitan dalam sistem integral, terlepas punah tak berbekas. Akibat lanjut yang menimpa generasi sesudah Alei, Hiyakhelo, Namfela, Hebea, dan lain-lain adalah generasi yang posisi penegakan adat istiadat yang telah melemah daya kohesinya. Tindakan-tindakan menghabisi nyawa orang dalam hubungan kekerabatan luas orang Sentani. Bahkan jenis pembunuhan yang mengerikan dengan alat-alat tajam.

Periode tahun 1950 – 1960-an masyarakat Sentani telah mengalami era revolusi pendidikan, telah sadar bersaing dan memerangi kebiasaan adat yang cenderung mengikat untuk lepas meraih masa depan yang lebih menjanjikan kemajuan.

 

____________________________

Penulis adalah Dosen STAKPN Sentani yang sekarang sedang studi Tingkat Doktoral program studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (S3 – PEP) pada Universitas Negeri Yogyakarta. Tulisan ini akan menjadi wacana bagi generasi Sentani masa kini dan sekaligus sebagai persiapan data Disertasi.

4 Tanggapan to “SENTANI PASCA GEREJA DAN PENDIDIKAN”

  1. beberapa saran saya : ttg sejarah penginjilan dan pendidikan di Puyaka perlu diskusi lebih jauh, saya nilai ada beberapa kekurangan input validitas data, karena ada 3 bahkan lebih kelompok dari puyaka yang pergi minta guru Injil kepada Yakob Bijkerk dan G. Schneider di Gemebs, Mentiyano tahun 1926. perlu juga anda ketahui ttg alasan yg melatarbelakangi kelompok ini untuk minta Guru Injil, artinya mereka tahu sesuatu tentang Guru Injil dan Pos Zending UZV di Nimboran dalam kaitan dengan Guru Injil darimana?? ; Hal lain yang perlu sekali anda kembangkan dalam komentari analisa anda tentang Posisi Ahasweros Famai Nari di Nendali tahun 1916 s/d 1926 dalam masa pra UZV. apakah dalam gerakannya ada unsur pendidikan atau tidak, kalo ada apa anggapan anda tentang prinsip penginjilan dengan pendekatan pendidikan yang ia lakukan, dampaknya sangat meluas dari Nendali, Asei, Yobeh, Kwadeware dan beberapa perkampungan di Kemtuk. Sejarah Pendidikan pasca Famai terjadi di dua tempat, kampung Yakonde dan kampung Ifar Besar. tentang Daud Pekade, anda sudah harus memiliki semacam autobiografi ringkas tentang keberadaan Daud Pekade di lapangan Pelayanan dan Penginjilan bersama UZV, setidaknya, Daud Pekade sebelum ke Ifar Besar ia bertugas di kampung mana ; kemudian tentang kelompok yg meminta Guru Injil, apakah semua orang yg pergi itu dari Ifar Besar saja, atau ada dari kampung lain juga, kalo tahu nama-namanya adalah sangat baik juga, sertakan, lalu tentang babi, kira-kira tahu babi itu dari keluarga mana dan apa nama babi yang mereka bawa sewaktu hendak meminta Guru Injil, apakah babi itu kecil atau besar? ; apakah babi itu diserahkan kepada Bijkerk dan Schneider atau tidak, kemudian apa tanggapan Zending saat itu. Bila mengejar data dengan beberapa tanggapan demikian, maka kemungkinan tulisan ini akan anda ubah dengan senang hati. Beberapa bagian dari tulisan ini, menurut saya cukup baik hanya pada alinea ke-8 tentang proses belajar di tahun 1928 untuk mengenal hal-hal baru dan tidak ada motivasi untuk perubahan masa depan oleh pendidikan itu, meskipun tahun 1928 dalam pengertian yang lebih jujur bukan masa pra pendidikan. Dan hal lain yang saya sukai adalah niatmu untuk menulis ke publik di blog ini. saya harap beberapa saran saya bermanfaat bagimu, sebagai bagian dari perhatian saya untuk perkembangan blog ini. onomi foi, kaka ipar.

    • terima kasih… kritik dan saran Anda bagi saya sangat penting dalam menulis. dengan demikian saya dapat semakin detail dalam menyajikan data yang valid. saya pikir sudah waktunya kita mengungkap fenomena dan historis yang ada dan pernah terjadi di “phu Yakha phu”. soal isi tulisan ini masih kurang akurat di sana sini, bagi saya, saya sangat sadar atas kekurangan tersebut karena saya belum full dalam mengungkapkan seluruh data. walaupun masih kurang…. sekarang kita harus menulis, kekuarangan itu akan ditambahkan kemudian. kalau saja kita tidak menulis bagaimana potongan-potongan cerita itu bisa tersambung-sambung hingga menjadi kisah yang utuh. helem jangan bosan menilai dan mengkritik. orang pintar pasti menerimanya dati kaca mata positif. helem foi, onomi

      • Dr. F.C. Kamma menulis dalam bukunya ‘Ajaib di mata Kita’ (1994.448 -449); Ditepi danau Sentani bangkit gerakan besar yang dicetuskan oleh pemberitaan sinkretistis Pamai – Yakadewa dari Ormu yang mendapat penglihatan – penglihatan. Menjelang akhir tahun 1920-an ia memperoleh pengaruh besar. Seluruh Sentani menjadi bergolak, dan dari mana- mana datang permintaan akan guru. Sebuah pertanyaan yang muncul kemudian; darimanakah Pamay / Famay ini mendapat kekuatan tersebut, dan bagaimanakah bisa ia yang adalah orang Ormu memberitakan injil di Sentani?
        Berawal dari kehadiran Van Hasselt Jr. 1910 – 1913 didaerah Tanah Merah dan Ormu orang mulai percaya dan menerima Injil. Kebangkitan yang di motivasi oleh Injil terjadi di kalangan orang – orang Ormu dan tanah Merah. Banyak orang mulai menerima Yesus. Van Hasselt Jr. sendiri tidak terlalu menyadari akan kebangkitan ini. Ada orang yang senang dengan kehadirannya dan memberikan nama bagi anak mereka “pendeta” karena melihat pendeta Van Hasselt, bahkan ada juga yang diberi nama Kristen “Petrus” semua hanya karena dari mendengar saja apa yang dikatakan Van Hasselt.
        Dari hasil perjalanan Van Haselt mengunjungi daerah – daerah dipesisir Tanah Merah maka ada orang – orang yang merasakan pengaruh Injil kemudian secara spontanitas menjadi penginjil atau orang yang dikuasai oleh kekuatan Allah dan terdorong untuk menyampaikan injil. Diantara orang – orang di Ormu adalah seorang pemuda bernama Yeremias Yarona. Dia ini ketika mendengar firman yang disampaikan oleh pendeta kemudian menjadi percaya dan menginjil secara spontanitas kepada saudara – saudaranya di Ormu. Pemuda ini kemudian diambil oleh Van Hasselt untuk menjadi muridnya.
        Ketika menetap di Ormu “Dormena” segala yang dilakukan oleh pendeta diamati oleh Yarona. Yeremias Yarona ini selalu mengamati jam dan waktu berdoa dari pendeta Van Hasselt. Beberapa kali diamatinya Van Hasselt waktu memasuki ruang doa untuk berdoa. Dari balik lubang yang menembusi dinding, dilihatnya bahwa ketika pendeta duduk berdoa, bersamanya hadir bala tentara Allah yang mengawalnya dengan memakai jubah putih. Setiap kali diwaktu senjah Pendeta Van Hasselt berdoa, Yeremias ini selalu mencuri waktu untuk mengamatinya. Selain itu banyak juga mujisat yang dibuat oleh pendeta yang akhirnya membuat orang takut dan hormat kepada pendeta. Suatu ketika Yarona memanggil Famay dan berkata; kalau pendeta pergi berdoa dia biasa bicara dengan banyak orang yang berpakaian putih – putih. Suatu ketika di senja hari mereka berdua pergi mengamati pendeta Van Hasselt yang sedang berdoa. Ketika melihat bahwa benar ketika Van Hasselt berdoa ia dikelilingi oleh sejumlah besar malaikat Tuhan. Dan sejak saat itu Famay langsung percaya dan secara spontanitas pergi memberitakan tentang Kristen sebagai sebuah ajaran baru. Namun, Famay yang ketika itu memberitakan kekristenan tidak mengetahui benar tentang Alkitab secara menyeluruh dan Injil secara utuh. Famay hanya mengetahui tiga hal dari kekristenan dan juga berkait dengan Injil. Tiga hal tersebut adalah Doa Bapa Kami, 10 Hukum Tuhan dan 12 Pengakuan Iman rasuli. Tiga hal inilah yang diajarkan oleh Famay kepada orang – orang di Sentani. Ketenaran nama Famay mulai terkenal dan dipandang oleh masyarakat setempat sebagai sebuah kekuatan baru. Famay ini diceritakan oleh orang tua pernah sekali jatuh dari pohon matoa dan mati, tidak ada seorang pun yang menolongnya. Namun, dengan kuasa yang luar biasa ia bisa bangkit dan akhirnya pergi memberitakan tentang Yesus Kristus.
        Famay ini sesungguhnya adalah orang Ormu, namun bagaimana ia bisa datang ke Sentani? Orang – orang Ormu khususnya marga Nari dan Anari mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang Sentani khususnya marga Wali dari kampung Netar. Biasanya dalam kesempatan tertentu mereka saling melakukan kunjungan kekeluargaan apabila ada hajatan besar seperti perkawinan dan pesta kampung. Bersamaan dengan Injil mulai diberitakan di Ormu, di Sentani sedang berkecamuk perang saudara yang cukup hebat antara Netar dan Asei. Mereka berdua ini mempunyai hubungan Royau Akha Baekhae “saudara sepupu” karena ibu dari Ondofolo Asei (Heram) berasal dari Netar. Berawal dari kasus masalah tanah ‘Khani’, maka mereka pun terlibat dalam perang suku. Masing – masing Ondofolo mempertahankan pendapatnya bahwa tanah di areal kompleks pertanian pada waktu itu adalah milik mereka. Dalam kondisi yang mencekam dan cukup lama hidup dalam keadaan permusuhan kedua Ondofolo dari masing – masing kampung akhirnya berpikir tentang perdamaian. Ketika sedang berpikir tentang bagaimana melakukan perdamaian karena sesungguhnya batas tanah itu sudah jelas milik kampung Netar, hanya kesalah pahaman – kesalah pahaman kecil saja yang mengakibatkan peperangan terjadi.
        Ditengah sedang memikirkan upaya perdamaian itu, utusan Ondofolo Netar melakukan kunjungan ke Ormu untuk urusan keluarga. Ketika di Ormu ia mendengar dan melihat pengaruh dan kuasa yang dimiliki Famay. Pengaruhnya untuk bisa mendamaikan orang – orang yang sedang konflik dan bahkan mengajarkan tentang kehidupan yang berpusat pada suatu pribadi yaitu Yesus sebagai terang hidup. Utusan atau “Abu Akho” ketika melihat hal itu timbul keinginan untuk meminta Famay memfasilitasi perdamaian diantara kedua suku Sentani yang sedang berperang. Ketika pulang dan melaporkan hal itu kepada Ondofolo Netar maka Ondofolo menyetujui hal itu. Ondofolo Netar kemudian mengutus Abu Akhonya kembali ke Ormu dengan membawa ”Obo haei” bagian dari perut atau dada babi sebagai bahan kontak yang dalam adat Sentani memiliki simbol penghormatan tertentu kepada orang yang disampaikan. Setelah sampai kemudian Abu Akho ini menyampaikan maksud kedatangannya kepada Famay dan Famay pun menyanggupinya, dan akhirnya pada suatu kesempatan, sekitar tahun 1923 – 1924, ketika sedang diadakan pesta adat di kampung Ormu Besar Abu Akho ini kemudian mengajak Famay untuk datang ke Sentani.
        Dari kehadiran Famay inilah kemudian masuk pengetahuan baru tentang Kristen sebagai sebuah kekuatan baru manusia, dan Yesus Kristus sebagai terang hidup yang sesungguhnya. Inilah masa yang di golongkan sebagai masa Injil mulai masuk ke Sentani untuk pertama kali sebagai saman pra -Guru Injil. Famay setelah berhasil mendamaikan kedua Ondofolo ini terus mengajarkan tentang Kristen lewat tiga hal tadi di daerah Sentani Timur. Orang – Orang di Sentani Timur akhirnya mulai mengenal dan mengetahui Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli dan 10 Hukum Tuhan dengan bahasa Melayu yang serba sangat terbatas. Kehadiran Famay dengan ajarannya cukup dirasakan bermujisat di Sentani. Dicatat dalam ceritera orang tua bahwa suatu ketika pernah Ibu – Ibu dari kampung Ayapo pergi mencari ikan “Wau” ditengah – tengah perairan antara Ayapo dan Buki. Ketika mereka sedang asyik mencari tiba – tiba cuaca berubah; hujan lebat dan gelombang danau yang besar mengamuk. Para ibu – ibu ini dengan bahasa Melayu yang tidak karuan “kaki kepala” berdoa Doa Bapa Kami untuk memohon keselamatan dan meminta danau tenang dan akhirnya danau pun teduh. Selain itu, ketika berburu diawali dengan doa Bapa Kami mereka mendapat hasil buruan yang baik.
        Dari dasar pemberitaan Famay dengan mujisat – mujisat ini maka orang – tua di Sentani kemudian pergi ke daerah Nimboran dan Metu Debi dengan membawa babi yang masih hidup untuk meminta guru Injil. Dari perjalanan orang – orang tua itu kemudian hadir guru – guru Injil asal Ambon yang berbasis di Resor Nimboran dan di Metu Debi ke Danau Sentani. Di Sentani Timur orang kemudian mengenal nama Guru Kakisina yang diutus dari Resor Nimboran ke pulau Asei pada tahun 1926. Kemudian digantikan oleh pendeta Meda. Di Ayapo (Masyarakat Ayapo dan Yoka) mengenal nama Guru Samalo yang diutus dari pulau Debi pada tahun 1927. Di Sentani Tengah orang mengenal nama Daud Pakade sebagai guru Injil.
        Dalam cerita Injil di Sentani dikisahkan; berawal di suatu pagi di tahun 1920-an suatu rombongan dari pulau Adjauw yang telah berangkat ke Genyem dengan mengantarkan dua ekor babi kembali dengan membawa seorang guru. Mereka keluar dari Genyem diringi isak tangis karena orang – orang Genyem tidak merelakan guru pergi berpisah dengan mereka. Sebaliknya orang – orang Adjau dengan riuh rendah sukacita mengarak sang Guru kekampungnya. Sambil mengarak guru maka berkumpullah orang – orang menyambut guru. Mereka melintasi kampung – kampung seperti Dondai, Kwadeware, Babrongko, Simporo, Atamali, Yoboi, Putali, Abar, Yahim, Yobeh semuanya memadati danau yang dilintasi perahu sang Guru. Dan akhirnya rombongan yang mengantar guru tiba di Purenda. Sang guru dibiarkan tinggal dalam perahu, makan dan minum dan kebutuhan lainnya diurus oleh orang – orang kampung selama satu minggu. Dan setelah rumah guru dibangun maka gurupun di pindahkan dari perahu kerumahnya. Setelah rumah guru di dirikan kemudian masyrakat mendirikan rumah sekolah yang dijadikan tempat belajar bagi murid – murid yang adalah orang – orang dikampung itu sendiri.
        Hal -hal penting yang menjadi catatan seiring masuknya Injil di Sentani adalah tentang media yang digunakan untuk meminta guru atau meminta Injil. Media yang digunakan untuk mendapatkan Injil pada umumnya sama yaitu dengan menggunakan babi. Ketika Famay di undang ke Netar untuk menyelesaikan masalah sengketa tanah yang mengakibat permusuhan Netar dan Asei. Ondofolo Netar mengirim Obo Haei. Obo Haei mempunyai arti yang dalam bagi sistem kepemimpinan Ondoafi di tanah Tabi. Dengan diberikannya Obo haei, Famay selaku anak adat Tabi yang kebetulan mengenal Kristen memahami betul bagaimana ia dihargai. Ketika Ayapo, Asei Adjauw meminta guru Injil mereka mengantar dengan babi untuk ditukar dengan guru.

  2. Syalom Pak, saya membaca berita ini sangat terharu, saya ingin memperkenalkan diri ssb;
    Nama andrico pekade mempunyai 2 kakak perempuan dan 1 adik laki2 dan sodara-sodara saya masih tinggal di Jayapura di dok 5 bersama Ibu yang masih hidup.
    Saya adalah cucu dari Tete Daud Pekade dan saya bekerja di timika.
    Saya ingin berkomentar tentang artikel sejarah Orang Sentani yang hususnya tentang Daud Pekade yang mana tahun kedatangan ke tanah Papua 1916 waktu itu Tete Daud Pekade masih berumur 18 thn.
    Sebelum bertugas di Ajau Tete Pekade bertugas di seputaran Jayapura di Kayu pulo, Enggros Tobati, Yamna, Bukisi, dan setelah itu di tarik ke Genyem sebagai basis Guru-guru Pekebaran Injil, dan setelah itu Tete Daud Pekade di tugaskan ke Sentani tepatnya di Pulau Ajau.
    Demikian komentar saya dan untuk lebih lengkap dan jelas dapat bertemu Ibu saya di Jayapura tepatnya di Jl. Agats no. 11 dok 5 bawah telepon 0967 533609 HP.081344584088

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: