STRATEGI DALAM PENCALONAN BUPATI & CALEG

Jogja_Rabu, 6 August 2008

Posisi jabatan Bupati atau Caleg adalah jabatan politik. Politik ini berusan dengan banyak orang. Itu berarti seorang yang ingin menduduki jabatan tersebut mereka harus benar-benar orang yang biasa tampil di depan orang banyak. Ia bisa menguasai audiens. Orangnya bisa berdiplomasi, bisa meyakinkan orang banyak, tidak gagap dalam berbicara. Untuk bisa memiliki sebagian cirri-ciri ini. Seseorang harus melibatkan diri dalam organisasi. Melalui organisasi ini, ia akan belajar banyak hal tentang hubungan bersosial.

Jabatan Bupati atau Caleg ini adalah jabatan politik yang diperoleh karena dukungan massa. Jadi dapat disebut juga sebagai jabatan social. Sehingga ketika ia mellaui Tim sukses memenangkan pemilihan tersebut maka si Bupati atau Anggota Legislatif itu harus bisa berbagi rejeki dengan keluarga intinya, partainya, tim pendukungnya, tim suksesnya dan massanya. Lain dengan jabatan yang bersifat individu seperti jabatan di kantor-kantor. Jabatan di kantor itu bukan jabatan politik. Jabatan itu di peroleh karena prestasi pribadi, golongan dan pangkatnya yang semakin tinggi. Bukan karena dukungan massa seperti pada pemilu. Jadi semua hasil yang diperoleh dari jabatan di kantor tersebut seluruhnya adalah hak pribadi. Jelas disini, bahwa sangat berbeda

Keberhasilan pemilu bagi yang memenangkan calon Bupati atau CaLegnya, biasanya kunci utamanya terletak pada “Tim Suksesnya”. Persoalan Bupati atau Calegnya tidak berpendidikan, tapi kalau Tim suksesnya militan dan loyal dalam bersosialiasi dan berkampanye maka akan menjadi penentu dalam memenangkan pemilihan tersebut. Pemilihan anggota Tim Sukses juga tidak asal-asalan. Kita harus melihat dan memilih orang-orang yang memang komit dan loyal dalam memperjuangankan calon Bupatinya atau Calegnya. Tim sukses adalah motor dan kunci dalam memenangkan pesta demokrasi ini yang hanya diselenggarakan empat tahun sekali.

Tim sukses biasanya terdiri dari beberapa “ring”. Ini adalah istilah yang dipakai pada para pendukung. Biasanya terdiri dari ;

  1. Ring I : Calon Bupati, atau calon legislatif
  2. Ring II : Pendukung (penyandang dana, pengusaha, intelektual dll)
  3. Ring III : Koord.Da (Ketua, sekretaris, bendahara dan koord. Lapangan)
  4. Ring IV : Koord.Cam (Tingkat kecamatan terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan koordintor lapangan)
  5. Ring V : Koord.Des (Tingkat Desa/Kelurahan. Komposisi pengurus sama)
  6. Ring VI : Koord.Kamp (Tingkat Kampung. Komposisi pengurus sama)
  7. Ring VII : Koord.RW (Tingkat RW. Komposisi pengurus sama)
  8. Ring VIII : Koord. RT (Tingkat RT : Komposisi pengurus sama)

Network ini harus dibentuk sebelum sosialisasi dilaksanakan. Dengan terbentuknya ring-ring ini akan sangat mempermudah gerakan tim sukses untuk menguasai lapangan dan mengumpulkan massa. Dalam membentuk tim untuk Network ini haruslah memilih orang yang militan benar. Sebab mereka akan menjadi ujung tombak dalam memenangkan pemilihan tersebut.

Untuk menjadi seorang pejabat daerah atau pemimpin kunci keduanya adalah harus bisa mengendalikan emosi. Mengapa? Karena mereka memimpin dan menangani orang banyak. Mengurus orang banyak ini, berpotensi untuk terjadinya demonstrasi dan sebagainya. Apalagi kalau sebagai seorang pemimpin dituduh atau dikritik kelemahannya. Ia harus bisa tetap tenang dalam situasi apapun. Sekalipun hatinya marah atau sakit atau jengkel. Di sinilah rahasianya, yaitu harus tetap tenang. Dengan tenang ia akan dapat menyelesaikan semua persoalan yang ada. Kalau Anda ingin menjadi pemimpin, itu adalah cita-cita luhur, pertahan dan capai impianmu. Dan jangan lupa kendalikan emosi, nyatakan wibawamu.

Dalam mencalonkan diri menjadi Bupati atau Caleg tapi Anda tidak punya modal uang, bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah Anda harus pandai menjual visi dan misi Anda. Kemas itu dengan baik, cari perhatian public. Dengan demikian, jika visi dan misi itu berbobot, maka dengan sendiri penyandang dana akan datang. Akan ada banyak orang yang akan menitipkan uang, tetapi disertai harapan-harapannya. Apabila Anda terpilih. Maka harapan-harapannya itu diperhitungkan di dalamnya. Sekalipun demikian, akan terjadi, Anda harus tetap jeli dalam memilih dan membuat kebijakan. Jangan melegalkan segala cara. Pikir dahulu pendapatan, sebab sesal kemudian di dalam buih tidak ada gunanya.

 

 

 

 

 

______________________

(Pilipus Kopeuw, M.Pd), Tulisan ini adalah hasil pembicaraan saya dengan seorang tokoh PDIP Kabupaten Sleman (Bpk. Supardioano-Leod) pada tanggal 6 August 2008 jam 02:00 wib dini hari seusai kami tugas ronda di Cupuawatu 2.

 

2 Tanggapan to “STRATEGI DALAM PENCALONAN BUPATI & CALEG”

  1. cara memilih tim sukses bagaimana ???? apa dari sosial ekonomi atau bagai mana ????

    • Tim sukses yang baik terbentuk dari nilai jual seorang bakal calon pemimpin. nilai jual bakal calon pemimpin tinggi di publik otomatis akan menarik banyak orang untuk menjadi tim sukses. kita juga harus pandai-pandai memilih. tim sukses teridiri dari penyandang dana, dan para cerdik pandai di ring satu. tim sukses lainnya adalah orang-orang di lapangan yang mencari masa. jelas dalam merekrut anggota tim sukses yang utama mereka adalah orang yang punya pengaruh dilingkungannya. tim sukses terdiri semua jenjang status sosial, tetapi penempatan tugas dan fungsinya yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: